Hentikan Makan Tahu-Mi Basah


Imbauan BBPOM Pasca-Sidak Enam Pasar Beduk

Hentikan Makan Tahu-Mi Basah
Cek Jajanan Berbuka: Petugas dari BBPOM Palembang membeli sejumlah makanan dan minuman berbuka puasa di Pasar Cinde. Dua tim yang turun lapangan mendatangi enam pasar beduk. Hasilnya, hampir seluruh tahu dan mi basah kuning mengandung formalin, termasuk cincau

________________________________________

PALEMBANGPanganan berbuka puasa yang dijual di pasar beduk benar-benar tidak aman. Khususnya yang mengandung tahu, mi basah kuning, dan cincau. Ketiga makanan itu terbukti mengandung formalin. Hasil ini terungkap dalam inpeksi mendadak (sidak) dua tim dari Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) Palembang ke enam pasar beduk di Metropolis, kemarin sore.

Tim pertama mendatangi pasar beduk Balayudha, Palima, dan Sekip. Sedangkan tim dua mendatangi pasar beduk Monpera, Masjid Agung, dan Cinde.

Kepala BBPOM Sumsel, Dra Indriaty Tubagus Apt Mkes mengatakan, pihaknya mulai kemarin turun berkeliling ke beberapa pasar beduk mengerahkan dua mobil laboratorium. “Kami lakukan pengawasan ke enam pasar beduk. Kami ambil sampel dari keenam pasar. Kami yakin produsen dan penjual akan melakukan kecurangan dengan mencampurkan bahan berbahaya dalam makanan yang dijualnya,” bebernya.

Dan terbukti, hampir seluruh sampel mi basah dan tahu yang kami beli di pasar beduk positif menggunakan formalin. “Ini jelas berbahaya bagi tubuh jika dikonsumsi. Masyarakat harus tahu, formalin itu untuk mengawetkan mayat dan bukan bahan campuran untuk makanan,” tutur Indriaty.

Pihaknya juga menemukan ada kandungan rhodamin B (pewarna sintetis bukan untuk makanan) pada kue apem warna pink. Juga ditemukan formalin pada cincau. Ke depan pihaknnya akan menyidak jajanan di pasar beduk pada kawasan Plaju, Kertapati, Bukit Besar, Perumnas, dan sekitar Celentang.

Turun tangannya BBPOM menyidak jajanan berbuka puasa ini sebagai bentuk perlindungan terhadap konsumen. “Kami minta masyarakat Palembang untuk sementara menghentikan konsumsi mi basah dan tahu. Sidak ini juga dilakukan untuk memberikan efek jera kepada produsen makanan yang nakal,” tegas Indriaty.

BBPOM akan meminta makanan yang mengandung bahan berbahaya tersebut untuk kemudian dimusnahkan. “Hasilnya (berita acara) akan disampaikan kepada pemerintah setempat untuk bisa ditindaklanjuti. Perlu pelajaran kepada produsen makanan yang nakal hingga ke jalur hukum,” cetusnya.

Pedagang yang menjual makanan mengandung zat berbahaya diimbau dan diadakan perjanjian untuk tidak lagi menjual makanan tersebut. BBPOM Palembang juga bekerja sama dengan instansi lain untuk melanjutkan pengawasan makanan lebih ketat.

Peredaran formalin tidak bisa dihentikan karena memang bahan itu diperlukan untuk tujuan lain. Hanya saja, tidak diperbolehkan untuk makanan, apa pun bentuknya. Ini sangat sulit diawasi. Butuh bantuan pemerintah dan masyarakat untuk mengawasi di lapangan,” tuturnya.

Indriaty mengatakan, pihaknya menyerahkan tindak lanjut dari hasil sidak mereka kepada pihak terkait. “Kami (BBPOM) tidak ada wewenang melakukan tindakan selanjutnya,” tandas Indriaty.

Terkait sampel tahu berformalin hasil zaria gabungan Satpol PP Sumsel bersama Satpol PP Palembang, Disperindag, dan Dinkes Sumsel masih dalam pengujian pihaknya. “Hasilnya nanti akan kamiserahakan kepada pihak yang meminta sampel itu diuji. Sedangkan untuk gypsum yang ditemukan, itu memang untuk makanan, diperbolehkan. Yang diuji hanya kandungan formalinnya,” tukasnya.

Terpisah, Kasat Pol PP Sumsel, Riki Junaidi, melalui Kasi Sidak dan Lidik, Murry mengatakan, pihaknya masih menunggu hasil uji laboratorium dari sampel tahu yang mereka kirim ke BBPOM. “Mungkin masih dalam proses, kita tunggu saja,” katanya. (wia/ce4)

Pedagang Sudah Resah

Adanya kandungan formalin pada tahu, mi basah, dan cincau langsung disikapi serius panitia pasar beduk Masjid Agung Palembang. Penyelenggara meminta para pedagang tidak menjual makanan dan minuman yang mengandung zat-zat berbahaya untuk kesehatan.

“Setiap pedagang diharuskan menjual makanan yang bersih dan sehat. Kami bekerja sama dengan BBPOM Palembang. Jika memang diketahui ada bahan makanan berbahaya yang dijual di pasar beduk ini, kami akan bertindak,” kata ketua panitia pasar beduk Masjid Agung Palembang, Sapta.

Tindakan yang dilakukan panitia, yakni memberikan pengarahan kepada semua para pedagang. Ia yakin tidak semua pedagang mengetahui adanya makanan zat berbahaya dalam makanan dan minuman yang dijualnya.

Adelia, salah seorang pedagang di pasar beduk Masjid Agung Palembang menuturkan, dirinya memang menjual makanan berupa pempek, kerupuk, dan lain-lainnya. Tapi dia tidak menjual pempek yang menggunakan bahan tahu.

“Kami suah khawatir kalau tahu itu mengandung formalin atau bahan berbahaya lainnya. Sekarang sedang heboh tahu mengandung formalin,” tuturnya. Pempek yang dijualnya adalah buatan sendiri sehingga dijamin bebas zat berbahaya.

Pedagang pempek tahu memang sudah resah. Seperti Kartini, pedagang pempek tahu di Pasar Cinde, dia mengaku pernah didatangi BBPOM Palembang. “Saya memang pernah diimbau untuk tidak menjual pempek tahu. Hanya saja, kemarin pas beli tahu, kata pedagang tahunya, ini (tahu) bagus. Jadi saya beli dan saya buat pempek. Saya tidak tahu kalau mengandung formalin,” ungkapnya.

Ia meminta, seharusnya pemerintah menindak pedagang tahu yang berbuat curang itu. Ia ikhlas jika pempek tahunya diamankan BBPOM. “Rela saja, jika memang itu (tahu) barbahaya untuk masyarakat. Amankan saja. Walau rugi, tapi lebih baik bagi kesehatan orang banyak,” tandasnya. (wia/ce4)

Sumatera Ekspres, Rabu, 2 Juli 2014

About Iwan Lemabang
Aku hanya manusia biasa yang tak luput dari salah dan dosa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: