Kisah Batu Mesu di Bulukumba Sulawesi (bag. 2/tamat)


Oleh: Nur Ismah Yasib

Pada saat itu tiba-tiba hujan deras turun dari langit yang semula cerah disertai gemuruh bersahutan. Petirpun menyambar-nyambar. Semua makhluk ketakutan dibuatanya. Sepasang kerbau dan petani yang sedang membajak sawah tidak meninggalkan tempat di mana mereka berada.

______________________________

Mereka bertiga tetap duduk dalam posisi merintangi jalan. Tidak perduli dengan hujan yang turun tak henti-hentinya diiringi petir. Semkin lama hujan kian deras, tubuh petani dan dua kerbaunya itu menggigil kedinginan. Namun karena telah mengeluarkan janji akan membantu kerbau yang telah berlari ke arah tebing dari kejaran kerbau besar yang ganas itu, mereka tidak beranjak sedikitpun hingga hari menjelang malam. Keesokan harinya ke empat makhluk berkaki empat tersebut menjadi kaku kedinginan, demikian pula dengan petani itu.

Kerbau yang semula dikejar oleh kerbau besar dan berlari ke arah barat itulah yang kemudian disebut Batu Sanronroko. Konon disebut demikian karena banyak orang datang berobat ke depan kerbau yang sudah membatu itu dan pada saat datang berobat mereka melakukan pengobatan dengan cara membungkukkan badan ke hadapan kerbau itu sehingga orang menyebutnya Sanronroko yang bermakna dukun membungkuk.

Adapun halnya dengan petani dan dua kerbau yang menghalangi kerbau besar, keesokan hari penduduk menemukan petani dan sepasang kerbau bajaknya itu dan membangunkan petani itu, namun kerbaunya tidak bergerak sama sekali. Tubuh kerbaunya sudah mengeras dan lambat laun berubah menjadi batu. Akhirnya muncullah sebutan Tedong Mangampang, artinya kerbau melintang yang kemudian disebut Batu Mangampang.

Kini Batu Mangampang menjadi bagian dari Dusun Buhung Pute letaknya tidak jauh dari poros jalan yang menghubungkan antara Kabupaten Sinjai dan Kabupaten Bulukumba. Dusun ini terletak pada km 177 dari Kota Makassar, berbatasan dengan Dusun Sapa Bassi Desa Bulo-bulo, dan Dusun Balle Anging, Kelurahan Balla’ Saraja.

Dari arah Makassar, Batu Mangampang terletak pada bagian kiri jalan sedangkan Batu Ma’denreng berada pada sekira 500 meter di sebelah kanan jalan. Sementara kerbau besar yang datang ingin menyeruduk dua kerbau yang kemudian disebut Batu Ma’denreng itu terletak di seberang jalan poros jalan posisinya di belakang deretan rumah penduduk di tengah sawah jauh dari rumah penduduk.

Setelah berada beberapa saat di Batu Mangampang itu, penulis melanjutkan perjalanan menuju tepi sungai Anynyorang dimana terdapat Batu Mesu yang terletak pada perbatasan Kampung Pulonggo Desa Bulo-bulo dan Kampung Barana Desa Palampang, saat ini masih dalam satu wilayah pemerintahan tingkat kecamatan Bulukumpa.

Saat berjalan seorang diri penuulis melihat lelaki yang menggiring dua ekor sapinya tadi sudah sangat jauh dan bahkan mulai menuruni tebing. Penulispun mempercepat langkah takut ketinggalan karena darinyalah nanti akan diperoleh petunjuk letak Batu Mesu. Wilayah di mana batu besar yang disebut Btu Mesu berada disebut Kampung Batu Mesu.

Jalan menuju Batu Mesu cukup terjal dengan kemiringan 45 derajat itu lebih mudah dilalui tanpa alas kaki, namun penulis tidak berani membuka sandal jepit yang penulis kenakan mengingat sepanjang jalan banyak duri juga binatang kaki seribu yang cukup besar dan berbisa tampak merayap dimana-mana. Dan karena berjalan lambat, sekitar 15 menit baru penulis tiba di tepi sungai yang bisa ditempuh cukup lima menit.

Ternyata posisi Batu Mesu batu melintang di tepi sungai Anyorang seolah hendak menyeberang. Letaknya tidak jauh dari muara sungai bernama Sungai Bo’die yang menyatu dengan sunga terpanjang di bagian utara Kabupaten Bulukumba. Penulis mengambil gambar batu tersebut beberapa kali dan dari balik kamera batu besar yang panjang dan lebarnya lebih dari duua meter itu tampak memang seperti bentuk seekor kerbau hitam.

Seingat penulis, saat penulis dibawa berkunjung ke Batu Mesu sekitar 20 tahun silam, batu besar itu letaknya di tengah sawah yang berlumpur tidak berada pada tepi sungai di antara bebatuan sungai. Saat itu penulis masih balita namun masih ingat betul karena ketika ketika itu penulis ke sana bersama rombongan murid SDN Palampang dimana penulis saat itu ibu Nandong seorang tante penlis mengajar di sekolah itu dan ketika rombongan mendekati Batu Mesu, penulis digendong olehnya melintasi pematang sawah dan karena berada di tengah sawahyang adinya belum berbuah, rombongan SDN itu dilarang mendekati Batu Mesu. Mereka cukup melihat dari jauh saja. Jadi kedatangan penulis pagi itu adalah yang kedua kalinya. Penulis memotret beberapa kali dengan kamera Olimpus karenanya hasilnya tidak dapat dilihat saat itu juga.

Tiga hari kemudian penulis datang ke sana lagi melalui jalan berbeda yaitu melewati pematang sawah milik Puang Toto, saudara sepupu Puang Hajah Siti Hawang. Dari posisi sawah yang tampak padinya baru beberapa hari ditanam, di seberang sungai penulis melihat dari jauh dua orang lelaki sedang mencongkel batu pada tanah luas yang tampak gersang. Lalu penulis mendekati mereka, setelah mengobrol agak lama, ppenulispun tahu kalau mereka masih kerabat Puang Hajah Siti Hawang.

Dari mereka berdua penulis memperoleh informasi bahwa ketika terjadi peristiwa banjir dan tanah longsor pada Juni 2006 yang melanda 4 wilayah di Pulau Sulawesi, Sungai Anyorang di mana Batu Mesu berada, sungai inipun sempat terlanda banjir besar pula. Sawah penduduk yang berada di wilayah itu terkena imbas tanah longsor dan menyisakan penderitaan bagi petani pemilik sawah yang ketika itu baru ditanami bibit padi, semua tanaman padi habis tersapu banjir dan batu gunung.

Setelah banjir berlalu pasir dan bebatuan yang hanyut dari gunung menumpuk di sawah wilayah Batu Mesu yang luasnya sekira 2 ha. Berhari-hari para petani mencongkel batu yang berserakan di sawah mereka, menyingkirkannya ke pematang sawah agar dapat ditamani kembali. Namun karena terlalu banyaknya batu yang menumpuk, mereka belum sempat menyingkirkan semua sehingga tiba musim hujan masa-masa petani seharusnya menebar bibit padi kemudian menanamnya. Karena persawahan mereka masih tertimbun batu, sawat tiidak dapat dibajak seperti biasa. Bibit padi ditanam dengan cara memasukan ke dalam lubang-lubang yang dicucuk dengan ujung kayu runcing. Akibatnya para petani tidak dapat hasil panen padi seperti biasanya.

Menurut mereka pula, pada hari-hari biasa air yang mengalir di Sungai Anyorang sangat sedikit sehingga penduduk setiap saat dapat berjalan di sungai itu meniti bebatuan. Sesudah peristiwa banjir dan longsor, mereka dan orang-orang yang berjalan dari Kampung Barana ke Kampung Pulonggo dan melintas di dekat Batu Mesu menemukan letak Batu Mesu itu berbeda dari sebelumnya. Posisnya lebih ke pinggir, mendekati sebatang pohon kayu besar yang tumbuh di sana. Menurut mereka, jika bebatuan lain yang terdapat di sungai itu banyak yang hanyut tersapu banjir, berbeda dengan Batu Mesu. Batu ini malah menepi seolah memberi jalan pada air sungai dan bebatuan yang hanyut.

Dalan bahasa Konjo (Makassar Kabupaten Bulukumba), Batu Mesu berarti batu beringsut, konon Batu Mesu tersebut merupakan batu jelmaan kerbau yang berlari kencang dari Kampung Sarajoko kerena takut ditanduk oleh kawannya. Batu Mesu inilah kerbau yang dikejaroleh kerbau besar dan garang yang kemudian berubah dan dikenal dengan nama Batu Ma’denreng.

Kerbau itu terus berlari kencang menghindari kejaran kerbau besar yang mengejar dengan marah. Kerbau itu berlari menerobos hutan belantara, menerjang rumput berduri, mnuruni lembah, menyeberangi beberapa sungai, mendaki bukit-bukit, menyusur jalan setapak yang berkelok-kelok kemudian sampailah pada suatu Kampung bernama Pulonggo.

Kedua lelaki di tepi sungai Anyorang itu berkisah, “Ketika sudah sangat jauh berlari dari Sarajoko dan menempuh perjalanan jauh, pada persawahan di Kampung Pulonggo, kerbau itu bertemu seorang petani dan sepasang kerbau (Batu Mangampang) yang sedang membajak sawah. Melihat kedatangan seekor kerbau ke tempat mereka, petani dan kerbaunyaberhenti membajak. Begitu juga kerbau yang berlari itu ia berhenti sejenak dan ia minta tolong agar mereka menghalangi kerbau besar yang mengejarnya. Lalu kerbau yang dikejar itu berlari kencang menuruni lereng tebing yang curam. Pada saat itu, hujan turun dengan derasnya. Langit yang semula cerah tiba-tiba terdengar suara gemuruh dan petir yang tak henti-hentinya menyambar. Setelah berjalan dengan susah payah, sampailah kerbau itu pada tepi sungai yang bernama Sungai Anyorang. Sungai yang sangat panjang, hulu sungai berada di lereng Gunung Bawa Karaeng dan bermuara ke laut.”

Setelah kembali ke rumah Hajah Siti Hawang, penulis menceritakan hal yang penulis dengar tadi lalu ia menambahkan kisahnya, bahwa “ketika hujan lebat turun terus menerus air Sungai Anyorang meluap. Arusnya pun sangat kencang akibat air hujan yang mengalir deras dari hulu. Ketika sampai ke tepi sungai dan berusaha berenang menyeberangi sungai, petir menyambar ke arah tubuh kerbau. Kerbau itupun manarik langkah kakinya dan diam tak dapat bergerak karena takut terkena sambaran petir.

Hujan terus mengucur dengan derasnya. Dan air yang mengalir pada sungai itu semakin lama terasa semakin dingin. Setelah lama berendam dalam air sungai, kerbau itu mencoba menggerakkan kakinya kembali. Ke empat kakinya menggapai-gapai air sungai untuk segera berenang. Namun sia-sia. Sangat sulit baginya menempuh perjalanan ke seberang sungai.

Kerbau ini gelisah, ia sangat khawatir bila kerbau besar segera sampai di tepi sungai itu dan menyeruduknya. Berkali-kali kakinya mencoba digerakkan, akan tetapi tubuhnya tidak dapat melawan arus air sungai yang sangat deras. Puluhan jam hujan terus mengucur dari langit, dan arus air sungai semakin deras. Kerbau malang yang berendam dalam air sungai menggigil kedinginan.

Tubuh kerbau kemudian menjadi kaku, dingin membeku dan lambat laun mengeras. Ketika hujan berhenti, air sungai normal kembali namun kerbau itu tidak dapat berlari menyeberangi sungai. Tubuhnya kaku membatu. Kerbau itupun berusaha bergerak dengan cara a’mesu’ (ngesot) atau beringsut.”

Semenjak itu penduduk sering menemukan batu yang mirip kerbau itu sering berada di tempat yang berbeda. Terkadang berada di lereng tebing yang sudah menjadi sawah luas, kadang pula maju kembali ke tepi sungai. Karena seringnya batu tersebut ditemukan pada tempat berbeda, orang kampung menyebutnya sebagai batu mesu atau batu a’mesu’ yaitu batu bergerak dengan cara beringsut (batu ngesot).

Bila berpikir secara logika, mana ada benda mati bisa berpindah tempat begitu saja. Atau mungkin saja letak aliran sungai yang bergeser akibat banjir, namun menurut dua petani yang penulis temui, bahwa sawahnya itu sejak dahulu berada di situ, dan luasnya tidak pernah berkurang atau bertambah lebarnya akibat banjir. Demikian pula tanah sawah Puang Haji Toto dimana Batu Mesu itu berada, sawah itu tidak pernah berubah lebarnya, dan ujungnya tetap berada di sisi kanan sungai.

Proses perpindahan batu sebesar itu memang tidak pernah terlihat oleh mata masyarakat setempat, demikian pula kapan saatnya batu itu berpindah, tahu-tahu mereka melihat batu besar itu sudah berubah posisi, kadang berada sedikit ke atas di tepi tebing, kadang di tengah sawah dan kadang berada di tepi sungai.

Yang tidak pernah berubah adalah arah menghadap dari Batu Mesu selalu arah menuju ke selatan namun tidak pernah berada di tengah sungai ataupun di seberang sungai yang sudah merupakan area Desa Palampang Kecamatan Rilau Ale’ bukan lagi wilayah Desa Bulo-bulo Kecamatan Bulukumpa. (*)

Sumber: Misteri Edisi 582, Tahun 2014

About Iwan Lemabang
Aku hanya manusia biasa yang tak luput dari salah dan dosa.

One Response to Kisah Batu Mesu di Bulukumba Sulawesi (bag. 2/tamat)

  1. Harriet says:

    I see a lot of interesting content here, i know
    writing articles is time consuming, but i know unlimited source of content for
    your site , just search in google – rewriter creates an unique
    article in a minute

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: