Kisah Batu Mesu di Bulukumba Sulawesi (bag. 1)


Oleh: Nur Ismah Yasib

Di pulau Andalas (Sumatera) dikenal legenda Malin Kundang yang dikutuk menjadi batu dan kisah Batu Menangis dan ada pula kisah Batu Badaon yang kisahnya sangat melegenda. Bagaimana dengan kisah Batu Mesu?

______________________________

Sebenarnya kisah ini ditulis tahun 2007 silam. Namun baru saat ini terpikir untuk mngirimkan kisahnya ke media. Tujuannya adalah untuk mengangkat rahasia alam yang selama ini hanya diketahui penduduk setempat agar diketahui khlayak ramai sebagai salah satu ekayaan Budaya Nusantara.

kisah makhluk hidup berubah menjadi batu juga ada di Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan. Dan semenjak kecil penulis mengetahui cerita tutur tentang enam kerbau yang menjadi batu itu, keenamnya berada pada kebun dan sawah. Salah satu nama batu jelmaan kerbau itu yaitu Batu “Mesu” berlokasi di tepi sungai yang menjadi tempat wisata lokal, terutama murid SD masa lampau (tahun 1970-an).

kisah batu jelmaan dari enam kerbau itu kemudian menarik perhatian penulis untuk mengangkatnya ke media agar orang di luar kampung tersebut mengetahui bahwa di wilayah Sulawesi bagian selatan juga terdapat satu keajaiban dunia tidak kalah dengan yang ada di Sumatera atau temapt lain. Maka pada Januari 2006, saat berada di Kampung Bulo-bulo, Desa Bulo-bulo, Kecamatan Bulukumba, Kabupaten Bulukumba, penulis mencoba menelusuri kisahnya. Langkah pertama yang penulis lakukan adalah menemui Puang Haji Sitti Hawwang (65 tahun), seorang wanita yang dituakan di Kampung Bulo-bulo dan mengetahui betul kisah enam kerbau tersebut.

Sarajoko, Pohon Beringin raksasa
Dikisahkan pada zaman dahulu di suatu kampung dekat hutan terdapat satu pohon beringin yang sangat besar. Usia pohon itu sangat tua karenanya pohon itu tumbuh menjadi pohon beringin raksasa. Penduduk setempat menyebut pohon itu Kayu Erasa. Menurut cerita rakyat di sana, pohon Erasa itu sangat besar. Tangkai pohon dapat mencapai panjang 15 meter. Karena demikian panjang dan lebatnya dedaunan pohon itu, tangkai pohon beringin itu kemudian merunduk sehingga orang menyebutnya “a’joko”, yang berarti merunduk.

Di dekat pohon raksasa itu terdapat kubangan kerbau dan sapi, hewan ternak peliharaan seorang petani. Semula tempat di bawah pohon Erasa itu merupakan tempat merumput dan berlindung binatang-binatang dari teriknya matahari dan derasnya air hujan pada musim penghujan. Pada suatu musim hujan yang berkepanjangan, area di bawah pohon Erasa itu lama kelamaan menjadi becek. Kerbau, sapi dan binatang lain yang berlindung di sana membuang kotoran di tempat itu. Tanah pun berubah menjadi lumpur dan semakin lama lumpur itu semakin dalam. Keadaan ini membuat senang binatang yang suka berada dalam kubangan seperti kerbau dan sapi. Akhirnya terjadilah kubangan besar.

Tahun berganti tahun, penduduk kampung itu semakin ramai. Dan orang-orang waktu itu menybutkan tempat tinggal mereka di sekitar Kayu Erasa A’joko, pohon beringin besar yang tangkainya merunduk. Sebutan Erasa Joko ini terus berkembang hingga ke kampung lain. Lama-kelamaan sebutan itu menjadi “Sarajoko” dan dalam kepemimpinan Presiden RI ke 6 menjadi nama kelurahan yaitu Kelurahan Ballassaraja singkatan nama Balleanging dan Sarajoko. Kelurahan Ballassaraja terletak antara Desa Bulo-bulo dan Kelurahan Tanete, Ibu kota Kecamatan Bulukumpa.

Di kampung Sarajoko ini dahulu konon terdapat sebuah rumah yang disebut Balla Lompo, rumah yang merupakan tempat tinggal pemimpin adat yang disebut Gallarang. Salah seorang Gallarang yang pernah memerintah di wilayah Bulo-bulo dan bermukim di Sarajoko bernama Bodo Daeng Rannuang. Bodo ditunjuk sebagai Gallarang Bulo-bulo meneruskan kepemimpinan Gallarang sebelumnya yaitu Galla’ Supu dan Galla’ Baroho. Galla’ Bodo Daeng Rannuang tersebut adalah kakek dari Puang Hajjah Siti Hawang yaitu ayah Puang Saleha ibunya dari kakak Galla’ Tajibu, pemimpin adat Bulo-bulo Sapa Bassi ke 6 yang memimpin pada masa menjelang terbentuknya NKRI dan berakhir sebelum Pemilu pertama tahun 1955.

Menurut cerita rakyat setempat, Kampung Sarajoko memliki cerita yang menjadi legenda hingga saat ini, cerita tutur yang disampakan kepada pada anak cucu dari generasi ke generasi tentang kisah Batu Kakkalua, yang memiliki kaitan dengan Batu Mesu, Batu Mengampang, Batu Ma’denreng dan Batu Sanronroko.

Kisah Enam Kerbau Menjadi Batu
Di Kampung bernama Sarjoko itu terdapat sebongkah batu hitam yang menyerupai binatang memamah biak, yaitu seekor kerbau yang sedang merapatkan tubuhnya di atas tanah. Batu tersebut dikenal sebagai jelmaan seekor kerbau dan disebut Tadong Kakkalua. Dikisahkan bahwa dahulu di dalam kandang kerbau milik petani di Kammpung Sarajoko terdapat empat ekor kerbau yang saling menanduk kemudian berlari ke sana kemari saling kejar mengejar hingga ke tempat yang sangat jauh dari kampung tersebut. Konon, setelah empat ekor kerbau milik petani itu berlari kencang, petani tersebut berusaha mengejar dan mencegat namun ia tdak mampu menahan kerbau peliharaannya itu. Akhirnya ia kembali dengan sia-sia.

Begitu petani itu kembali, ia menemukan seekor kerbaunya tidak jauh dari kandang, maka dengan gembira ia segera menarik tali kekang leher kerbau itu kemudian kemudian dengan kencang mengikat kakinya sehingga kerbau itu jatuh terduduk ke atas tanah tidak dapat bergerak apalagi melepaskan diri. Saat itu tiba-tiba hujan turun dengan deras disertai gemuruh dan petir. Petani itupun berlari naik ke rumahnya.

Selama berhari-hari hujan turun tidak mereda, karenanya petani itu enggan ke sawah atau ke kebun. Ia pun tidak melepasan ikatan tali pada kaki kerbau yang terikat kuat. Ia hanya memberi rumput pada kerbau itu dan sesekali memerika tali pengikat kaki kerbau. Akibat hujan turun terus menerus siang malam itu, suhu udara menjadi sangat dingin dan banyak bnatang menjadi kaku kedinginan demikian pula kerbau petani yang terikat dalam kandang.

Beberapa hari kemudian barulah hujan derasa berhenti, matahari mulai bersinar terang kembali dan petani itu mulai membershkan kandang kerbaunya serta melepaskan tali pengikat kaki binatang piaraannya itu. Namun apa yang ditemukan petani itu, satu-satunya kerbau yang ada di kandang itu tidak dapat bergerak sama sekali, tubuhnya kaku dan keras bagai batu. Berbagai upaya yang dilakukan petani itu agar binatang piaraannya dapat segar kembali.

Tapi upaya itu tdak berhasil, bahkan tubuh kerbau yang mengeras benar-benar berubah menjadi batu. Demikianlah akhirnya penduduk Sarajoko menyebut kerbau yang terikat kakinya dengan sebutan Tedong Kakkalua, maksudnya kerbau yang kakinya terbelit tali. Dan karena kerbau itu berubah menjadi batu mereka menyebutnya Batu Kakkalua yang berarti batu terbelit tali.

Adapun ke ttiga kerbau petani yang berlari keluar dari wilayah Sarajoko itupun nasibnya sama seperti rekannya berubah menjadi batu yang dikenal dengan sebutan Batu Mesu, Batu Sanronroko dan Batu Ma’denreng. Ketiga batu tersebut berada pada tempat berbeda Batu Mesu terletak di tepi Sungai Anyorang wilayah Dusun Buhung Pute Desa Bulo-bulo. Batu Sanronroko dan Batu Ma’denreng terdapat pada Dusun Buhung Pute dan nama setia batu ini kemudian menjadi nama kampung, yaitu Kampung Batu Mesu dan Kampung Batu Ma’denreng.

Setelah mendapat banyak informasi dari Puang Hajjah Sitti Hawang dan anak saudara lainnya, suatu pagi yang masih berkabut penulis memohon izin untuk untuk pergi ke lokasi Batu Mesu yang letaknya berada cukup jauh dari rumah penduduk dan harus menempuh jalan terjal di antara hutan bambu.

Ketik berjalan seorang diri di pematang sawah menuju tepi sungai dimana Batu Mesu berada, penulis bertemu seorang lelaki yang menuntun dua ekor sapi. Penulis menyapanya dan rupanya ia masih kerabat ibunda penulis. Saat itu penulis lupa menanyakan namanya, meski ia masih kerabat Puang Hajjah Sitti Hawang.

Lelaki itu menunjukkan letak dua buah batu besar yang disebut “Batu Mangampang”, yang berarti batu melintang atau batu yang menghalangi. Jika memperhatikan dari bentuk kedua batu tersebut memang tampaknya mirip dua ekor kerbau yang sedang merapatkan tubuhnya ke atas tanah. Konon, kedua batu besar itu merupakan jelmaan dua ekor kerbau.

Dan karena saat itu sawah sedang kosong belum ditanami bibit padi, keberadaan batu itu dapat terlihat jelas. Penulispun mendekati batu yang cukup besar itu dan memotret dengan kamera. Dan bila diperhatikan dari balik kamera, tampakanya batu itu memang ada kemiripan dengan bentuk dua ekor kerbau yang duduk merapat ke tanah dalam posisi saling berdekatan namun keduanya menghadap arah berbeda. Bagian kepala kerbau yang satunya sejajar bagian ekor kerbau lainnya. Seraya memperhatikan bentuk Batu Mangampang itu penulis mengingat-ingat informasi yang telah penulis peroleh.

Seperti dikiahkan Hj Sitti Hawwang, bahwa pada masa itu, manusia dan binatang piaraannya saling berbicara karena mereka masih saling memahami bahasa satu dangan yang lainnya demikian pula terhadap tumbuh-tumbuhan. Ketika itu seorang petani sedang membajak sawah dengan menggunakan dua ekor kerbau yang akhirnya menjadi batu itu. Sedang sibuknya mereka membajak sawah tiba-tiba dari kejauhan berlarilah seeokr kerbau sambil berteriak minta tolong pada petani dan kerbaunya.

Kerbau itu berteriak, “Hampangi… hampangi, hampangi sai,” yang bermakna, “Halangi, halangi, tolong halangi”. Maksudnya minta tolong pada orang yang membajak sawah agar menghalangi kerbau besar yang mengejar dirinya. Mendengar teriakan itu, petani dan kedua kerbaunya berhenti sejenak. Mereka memerhatikan kerbau yang berlari kencang dengan napas tersengal di hadapan mereka.

“Di mana kerbau yang kamu maksudkan?” Tanya petani pada kerbau yang baru saja muncul di hadapannya itu.

“Nanti akan kelihatan. Sebentar lagi mereka tiba. Saya takut sekali. Tolong halangi mereka,” kata kerbau itu.

“Mengapa engkau dikejar temanmu?” Tanya kerbau yang membajak di sebelah kiri.

“Kerbau besar mengajak saya bermain tanduk tapi saya capek dan kesakitan terkena tanduknya,” jawab kerbau yang minta tolong itu.

“Bagaimana cara menghalanginya?” Tanya kerbau yang di kanan.

“Hampangi, rintangi saja jalannya. Buatlah agar tidak dapat meneruskan langkah untuk mengejar saya,” ucap kerbau yang minta tolong itu.

Tidak lama tampaklah seekor kerbau besar berlari kencang ke arah petani dan kedua kerbaunya itu. Di belakang kerbau tersebut terseret pula seekor kerbau yang bertubuh lebih kecil. Rupanya tali di leher kerbau tersebut tersangkut pada ujung tali kerbau yang lebih besar sehingga kemanapun kerbau besar itu pergi, kerbau yang satu itu terus terbawa.

Melihat kedatangan kerbau besar yang kelihatan angat sangar itu, petani dan kedua kerbaunya berupaya merintangi jalan dengan cara duduk melintang pada jalan yang akan dilalui. Melihat itu kerbau besar yang berlari dengan marah itu mendengus dan bermaksud menyeruduk ketiga makhluk yang merintanginya.

“Akan aku seruduk kalau menghalangiku!!.” Bentaknya marah.

“Kita saling seruduk!! Kalau kau menyeruduk kami!” Tantang ke dua kerbau yang duduk menghalangi. Mendengar jawaban tersebut, kerbau besar itu dengan sigap melakukan aksinya.

Sementara itu kerbau yang talinya terikat ujung tali kerbau besar itu meronta-ronta berusaha melepaskan diri. Ia bergerak ke arah yang berlawanan. Ditarknya tali yang mengikat di lehernya dengan kencang seraya berteriak, “Iya, halangi terus supaya saya bisa lepas!!” Kerbau besar terus berlari kearah kerbau yang menghalanginya, dan menerjang penghalangnya itu.

Akibat serangan kerbau besar kepada dua kerbau yang duduk menghalangi, tubuhnya terpelanting jauh dan terjerembab di tanah namun keduanya dapat berdiri kembali. Sedangkan kerbau besar yang mnerjang, kakinya tersanduung pada pematang sawah kemudian terjerembab ke tanah, sementara kerbau yang terikat oleh tali kekang kerbau besarpun ikut terbanting dan tali yang tersangkut pada tali kerbau besarpun terlepas maka larilah ia. Melihat itu kerbau besar itu semakin marah dan berbalik arah mengejar kerbau yang dianggapnya bertingkah di belakangnya itu, namun kerbau yang dikejar itupun berlari sekencang-kencangnya ke arah barat (*)

Sumber: Misteri Edisi 581, Tahun 2014

About Iwan Lemabang
Aku hanya manusia biasa yang tak luput dari salah dan dosa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: