Putri Tandampalik


Putri Tandampalik

Oleh: Bek Kuru

Tanpa diduga, Putri Tandampalik dan Putra Mahkota Kerajaan Bone langsung jatuh cinta pada pandangan pertama….

______________________________

Hatta pada zaman dahulu, Kerajaan Luwu yang kala itu duperintah La Busatana Datu Maongge atau biasa disapa dengan Raja Luwu atau Datu Luwu, tumbuh menjadi kerajaan besar dan makmur. Semua rakyat hidup dengan gemilang kesejahteraan. Selain arif dan bijaksana dalam memimpin, Datu Luwu juga dikaruniai seorang putri yang cantik jelita dan menuruni segala sifat-sifat ayahandanya. Putri Tandampalik, demikian ia akrab disapa.

Kecantikan dan kehalusan budi sang putri membuat banyak lelaki tergetar karenanya….

Hingga pada suatu hari, Raja Bone berniat untuk menikahkan putranya dengan putri Tandampalik. Setela segala sesuatu dipersiapkan dengan matang, ia pun memerintahkan beberapa orang kepercayaan untuk melamar sang putri. Dan setibanya di Istana Luwu, setelah sejenak menanyakan kesehatan, maka, Raja Luwu pun menanyakan apa keperluan utusan Raja Bone.

Dengan takzim dan santun, utusan Raja Bone pun menjawab; “Ampun Baginda! Perkenankan kami untuk menyampaikan lamaran Raja Bone bagi putranya kepada putri Baginda yang bernama Putri Tandampalik.

Sejenak Raja Luwu terdiam. Betapa tidak, menurut adat, seorang gadis Luwu tidak dibenarkan menikah dengan pemuda dari negeri lain. Raja Luwu bak makan buah simalakama. Setelah sejenak merenung, akhirnya, Raja Luwu pun berkata; “Wahai, Utusan! Perlu kalian ketahui, di Kerajaan Luwu berlaku suatu hukum adat … yakni, putri Luwu tidak diperkenankan menikah dengan pemuda dari negeri lain. Untuk itu aku mohon diberi beberapa waktu untuk memikirkannya.”

Mendengar pengakuan tulus itu, akhirnya, para utusan pun kembali ke Bone…

Esoknya, seluruh negeri menjadi geger. Tanpa sebab yang jelas, mendadak, sekujur tubuh Putri Tandampalik mengeluarkan cairan kental yang berbau anyir dan sangat menjijikkan. Belum lagi hilang kekhawatiran sang raja, para tabib istana pun mengingatkan bahwa Putri Tandampalik terserang penyakit menular yang sangat berbahaya.

Raja dan seluruh rakyat Kerajaan Luwu menjadi sedih karenanya. Setelah mengumpulkan orang kepercayaan dan penasihatnya, akhirnya, raja pun menutuskan untuk mengasingkan putri kesayangannya ke suatu tempat yang jauh. Ketika hal tersebut disampaikan, sang putri pun menjawabnya dengan mantap; “Jika itu adalah yang terbaik, maka, ananda akan menerimanya dengan senang hati.”

Setelah segala sesuatu dipersiapkan, pada hari yang telah ditentukan, Datu Luwu memberikan sebilah keris pusaka kepada Putri Tandampalik sebagai tanda, bahwa ia tidak pernah melupakan apalagi membuang anaknya. Selanjutnya, beserta dengan beberapa pengawal kepercayaan, Putri Tandampalik pun berlayar kke laut lepas.

Entah berapa lama mereka terkatung-katung di samudera luas tak bertepi itu. Hingga akhirnya, Putri Tandampalik dikejutkan oleh suara salah seoang pengawalnya yang mengatakan; “Tuan Putri, di depan sana ada daratan!”

Ia segera memerintahkan untuk segera mendarat. Dan benar mereka menginjakkan kaki di pulan nan indah tak berpenghuni. Pengawal yang pertama menjejakkan kaki di pulau itu menemukan buah wajao … ia segera memetiknya beberapa buah dan memberikan kepada junjungannya.

“Pulau ini kuberi nama Pulau Wajo,” demikian kata Putri Tandampalik setelah menerima buah itu.

Sejak itu mereka bermukim di pulau itu dan hidup dengan penuh kesederhanaan. Tak terasa setahun, setahun sudah mereka mereka tinggal di pulau itu. Hingga pada suatu hari, ketika sang putri sedang duduk ditepian danau yang aa di tengah-tengah pulau itu, mendadak, ada seekor kerbau putih yang menghampiri dan menjilati seluruh tubuh sang putri dengan lembut.

Mulanya sang putri mengusirnya. Tetapi apa daya, sang kerbau seolah asyik dengan pekerjaannya. Keajaiban pun terjadi …

Beberapa waktu kemudian, penyakit kulit sang putri sembuh, bahkan, kecantikannya semaikn bertambah. Dengan perasaan haru, Putri Tandampalik menghaturkan rasa syukur kepada Tuhan, dan berpesan kepada segenap pengawalnya; “Mulai saat ini, kalian dlarang menyembelih atau menyantap kerbau putih, karena hewan itu telah menyembuhkan penyakitku.”

Hingga pada suatu hari, dengan didampingi oleh pengawal setia dan Panglima Kerajaan Bone, Anreguru Pakanranyeng, putr mahkota berburu ke Pulau Wajo. Saking asyiknya, putra mahkota pun terpisah dari rombongannya. Walau telah berteriak puluhan kali, namun suaranya seoleh hilang ditelan kelebatan hutan. Menjelang malam ia pun memutuskan untuk beristirahat di bawah sebatang pohon besar.

Malam semakin larut, tetapi berbagai suara binatang malam membuatnya harus terjaga. Sehingga, ia melihat seberkas cahaya. Dengan erasaan gembira, sang putra mahkota berusaha untuk mencari sumber cahaya. Akhirnya, ia sampai di suatu perkampugan — dan sumber cahaya itu terdapat di sebuah rumah yang nampak kosong. Perlahan langkahnya terayun mendekati dan bahkan memasuki rumah itu. Hatinya langsung tersentak dan tergetar ketika di depannya tampak seorang gadis jelita sedang memasak air.

Merasa ada sesuatu yang mendekat, Putri Tandampalik pun menoleh. Hatinya langsung tercekat dan tergetar melihat ketampanan putra mahkota. Dengan erasaan tidak menentu, keduanya langsung saling memperkenalkan diri — dalam waktu singkat, keakraban pun terjalin d antara keduanya.

Keduanya langsung jatuh cinta pada pandangan pertama. Tetapi, sang putra mahkota tidak bisa berlama-lama di pulau Wajo. Ia harus kembali untuk menyelesaikan bberapa kewajibannya di Istana Bone.

Anreguru Pekanyareng yang lebih dulu tiba di negeri Bonesetelah terpisah dengan putra mahkota di Pulau Wajo, sering melihat putra mahkota duduk termenung seorang diri di tepi telaga. Karena tak ingin melihat tuannya terus bersedih, maka ia pun segera menghadap dan menceritakan semua kejadian yang dialami di Pulau Wajo.

“Ampun Baginda Raja! Hamba mengusukan agar Paduka segera melamar Putri Tandampalik,” demkian usul Anreguru Pakanyareng.

Raja Bone mafhum, ia segera mengutus beberapa pengawalnya mendampingi putra mahkota untuk melamar Putri Tandampalik di Pulau Wajo.

Singkat kata, di sana Putri Tandampalik tidak langsung menerima lamaran sang putra mahkota. Ia hanya memberikan keris pusaka Kerajaan Luwu yang diberikan ayahnya ketika diasingkan.

“Maaf, aku belum bisa menerima lamaran kalian. Bawalah keris ini, jika ayahandaku menrimanya, maka lamaran kalian diterima,” ujar sang puteri sambil nyerahkan keris pusaka itu.

Setelah bermusyawarah dengan para pengawalnya, putra mahkota memutuskan untuk berangkat sendiri ke Kerajaan Luwu. dan setibanya di Kerajaan Luwu, ia pun menceritakan pertemuan dengan Putri Tandampalik dan menyerahkan keris pusaka itu pada Datu Luwu.

Datu Luwu dan permaisuri sangat gembira karena mendengar putri tercintanya dalam keadaan sehat. Ia Bahkan kagum dengan kesantunan sang putra mahkota — sehingga, tanpa berpikir panjang, Datu Luwu menerima keris pusaka itu dengan tulus. dan lamaran sang putra mahkota diterima…!

Tanpa menunggu lama dan permaisuri egera berangkat ke Pulau Wajo untuk menemui anaknya. Pertemuan yang sangat mengembirakan pun trjadi.

“Anakku … maafkan ayah dan bunda yang telah membuatmu jad menderita,” ujar Datu Luwu dengan air mata berurai.

“Tidak ayah, ananda bersyukur karena rakyat Luwu terhindar dari penyakit menular yang menimpaku,” sahut sang putri dengan haru.

Dan beberapa waktu kemudian, Putri Tandampalik menikah dengan putra mahkota Raja Bone di Pulau Wajo. Pesta pernkahan mereka berlangsung meriah. Seluruh keluarga dan masyarakat dari dua kerajaan besar itu amat bersukacita — dan pasangan itu akhirnya hidup dengan bahagia. Beberapa tahun kemudian, sang putra mahkota pun naik tahta. Ia menjadi raja yang arif lagi bijaksana, sehingga seluruh rakyatnya hidup dalam damai dan sejahtera. (*)

Dari berbagai sumber terpilih
Mister, Edisi 581, Tahun 2014

About Iwan Lemabang
Aku hanya manusia biasa yang tak luput dari salah dan dosa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: