Nabi Khidir AS dan Imajinasi Manusia


Nabi Khidir AS dan Imajinasi Manusia

Oleh: Fadil

Siapakah Khidir itu? Apakah ia seorang Nabi atau wali? Apakah ia hidup sampai saat ini sebagaimana dikatakan oleh banyak orang? Apabila ia masih hidup, dimana ia tinggal?

______________________________

Pertanyaan tersebut sering diperbincangkan. Khidir merupakan sosok controversial yang selalu menarik dikaji. Beragam cerita dan dongeng Khidir yang datang dan hadir menemui seseorang yang hidup di era sekarang menimbulkan polemik yang tidak ada habisnya. Termasuk diantaranya adanya sebuah amalan yang konon pemberian dari Khidir. Siapa sesungguhnya Khidir?

Al Khidir
Al Khidir (Khidr, Khadr, Khader, Khadir) adalah seorang Nabi misteruis yang dituturkan oleh Allah SWT dalam Al-Qur’an Surat Al-Kahfi ayat 65-82. Selain kisah tentang Nabi Khidir yang mengajarkan tentang ilmu dan kebijaksanaan kepada Nabi Musa AS, asal-usul dan kisah lainnya tentang Nabi Khidir tdak bayak diebutkan.

Dalam bukunya yang berjudul; “Mystical Dimensons of Islam,” oleh penulis Annemarie Schimmel, Khidir diianggap sebagai salah satu Nabi dari empat Nabi dalam kisah Islam dikenal sebagai “sosok yang tetap hidup” atau “abadi.” Tiga lainya adalah Nabi Idris, Nabi Ilyas, dan Nabi Isa AS. Khidir abadi karena ia dianggap telah meminum air kehidupan (maul hayat).

Ada beberapa pendapat yang menyatakan bahwa Khidir adalah masih sama dengan seseorang yang bernama Elia. Ia juga diidentifikasikan sebagai St. George. Di antara pendapat awal para cendikiawan Barat, Rodwell menyatakan bahwa “karakter Khidir dibentuk dari yitro.”

Dalam kisah literatur Islam, satu orang bisa bermacam-macam sebutan nama dan julukan yang telah disandang oleh Khidir. Bberapa orang nengatakan Khidir adalah gelarnya, yang lainnya menanggapi sebagai nama julukan. Khidir telah disamakan dengan St. George, dikenal sebagai “Elia versi Muslim” dan juga dihubungkan dengan pengembara abadi. Para cendikiawan telah menganggapnyadan mengkarakterkan sosoknya sebagai orang suci, Nabi, pembimbing Nabi yang misterius dan lain-lain.

Al Khidr secara harfiah berarati “seseorang yang hijau” melambangkan kesegaran jiwa, warna hijau melambangkan kesegaran akan pengetahuan “berlarut langsung dari sumber kehidupan.” Dalam situs Encyclopedia Britannica, dikatakan bahwa Khidir nama, yang paling terkenal adalah Balya bin Malkan.

Diriwayatakan bahwa Khidir adalah sepupu Raja Dzul Qarnain dari pihak ibu. Menurut Ibnu Abbas, Khidir adalah seorang anak cucu Nabi Adam AS yang taat beribadah kepada Allah dan ditangguhkan ajal. Ibunya berasal dari Romawi sedangkan bapaknya keturunan bangsa Parsi.

Kisah Musa AS dan Khidir dituturkan dalam Al-Qur’an Surat Al-Kahfi ayat 65-82. Menurut Ibnu Abbas, Ubay bin Ka’ab menceritakan bahwa beliau mendengar Nabi Muhammad SAW bersabda: “Sesungghnya pada suatu hari, Musa berdiri di khalayak Bani Israil lalu beliau ditanya; “Siapakah orang yang paling berilmu?” Jawab Nabi Musa; “Aku.” Lalu Allah SWT menegur Nabi Musa dengan firman-Nya; “Sesungguhnya di sisi-Ku ada seorang hamba yang berada dipertemuan dua lautan dan dia lebih berilmu daripada kamu.”

Lantas Musa pun bertanya; “Wahai Tuhanku, dimanakah aku dapat menemuinya?”

Allah pun berfirman; “Bawalah bersama-sama kamu seekor ikan di dalam sangkar dan sekiranya ikan tersebut, disitulah kamu akan bertemu akan bertemu dengan hamba-Ku itu.” Sesungguhnya teguran Allah itu mencetukan keinginan yang kuat dalam diri Nabi Musa untuk menemui hamba yang shaleh itu. Di samping itu, Nabi Musa ingin sekali mempelajarai ilmu dari hamba Allah tersebut.

Itulah kisah pertama tentang Nabi Khidir yang menjadi guru hakikat pembimbing Nabi Musa mengenal ilmu-ilmu yang selama ini belum pernah diketahui.

Khidir Masih Hidup
Dalam beberapa riwayat, Nabi Khidir AS pernah datang bertakziah ketika Rasulullah SAW wafat. Riwayatnya sebagai berikut; Berkata Ibnu Abu Dunia, yang didengarnya dari Kamil bin Talha, dari Ubad bin Abdul Samad, dari Anas bin Malik, mengatakan: “Sewaktu Rasulullah SAW meninggal dunia, berkumpullah sahabat-sahabat beliau di sekeliling jenazahnya menangisi kematin beliau. Tiba-tiba datang kepada mereka seorang lelaki yang bertubuh tinggi memakai kain panjang. Dia datang dari pintu dalam keadaan menangis. Lelaki itu menghadap kepada sahabat-sahabat dan berkata; “Sesungguhnya dalam agama Allah ada pemberi takziah setiap trjadi musibah, ada pengganti setiap yang hilang. Bersabarlah kamu karena sesungguhnya orang yang diberi musibah itu akan diberi ganjaran.”

Kemudian lelaki itu menghilang dari pandangan para sahabat. Abu Bakar RA berkata: “Datang ke sini lelaki yang memberi takziah.” Mereka memandang ke kiri dan kanan tetapi lelaki itu tidak nampak lagi. Abu Bakar RA berkata: “Barangkali yang datang itu adalah Khidir, saudara Nabi kita. Beliau datang memberi takziah atas kematian Rasulullah SAW.”

Jumhur Ulama berpendapat bahwa Khidir, hayyun maujudun baina adzharina (hidup dan wujud di kalangan kita, yakni di masa kita ini) dan pendapat ini telah disepakati oleh para ahli tasawuf dan ahlush sholah wal ma’rifah (orang-orang ahli kebajikan dan ma’rifah).

Dia (Khidir AS) hidup menurut jumhur ulama dan orang-orang shaleh, dan orang-orang awam adalah beserta mereka dalam pegangan ini.”

Beliau mengomentari sebagian ahli hadits yang menyatakan Khidir telah wafat: “Adalah suatu pandangan yang ganjil dari sebagian muhadditsin yang mengingkari hal ini.” (Abu ‘Umar bin Ash Sholeh).

Pendapat Khidir masih hidup berserta jasad dan rohnya, telah disepakati oleh mayoritas ulama ahli sunnah, para wali, ahli ma’rifat, ahli tasawauf, dan orang-orang shaleh yang mengikuti pendapat mereka. Hanya sebagaian “kalangan sensasionis” saja yang coba melemahkan ijma’ ulama tentang masih hidupnya Khidir AS.

Pendapat Dr. Yusuf Al Qardhawi
Dr Yusuf Al Qardhawi adalah seorang ulama terkenal masa kini yang berasal dari Mesir. Beliau mengemukakan pendapatnya tentang sosok Khidir AS.

Khidir adalah hamba yang shaleh dan disebutkan oleh Allah Ta’ala dalam Surat Al-Kahfi, yaitu sebagai teman Nabi Musa AS. Dimana Nabi musa AS belajar kepadanya. Khidir mensyaratkan kepadanya agar bersabar. Maka Musa menyanggupinya. Khidir berkata; “Bagaimana kamu dapat bersabar atas sesuatu yang kamu belum mempunyai pengetahuan yang cukup tentang hal itu?”

Khidir tetap menyertai Musa. Ia adalah seorang hamba yang diberi rahmat oleh Allah SWT dan ilmu dari sisi-Nya. Musa terus berjalan bersamanya dan melihat Khidir telah melubangi perahu. Maka Musa berkata: “Apakah engkau melubanginya supaya penumpangnya tenggelam?”

Cerita selanjutnya telah disebutkan dalam surat Al-Kahfi. Musa merasa heran atas perbuatannya, hingga Khidir menerangkan kepadanya sebab-musabab dari perbuatan yang dilakukannya itu. Pada akhir pembicaraannya, Khiidir berkata; “Bukanlah aku melakukan itu menurut kemauanku sendiri. Demikian itu adalah penjelasan dari perbuatan-perbuatan yang kamu tidak dapat bersabar atasnya.” Maksudnya, semua perbuatan itu hanyalah karena kemauan Allah Ta’ala.

Sebagian orang berkata tentang Khidir, ia hidup sesudah Musa hingga zaman Isa, kemudian zaman Nabi Muhammad SAW, ia sekarang masih hidup, dan akan hidup hingga kiamat. Dituliskan orang kisah-kisah, riwayat-riwayat dan dongeng-dongeng bahwa Khidir menjumpai si fulan dan memakainkan kirqah (pakaian) kepada si fulan dan memberi pesan kepada si fulan. Sama sekali tidak adil pendapat yang mengatakan bahwa Khidir masih hidup, sebagaimana anggapan sementara orang, tetapi sebaliknya, ada dalil-dalil dari Al-Qur’an, Sunnah, akal dan ijma, di antara para ulama dari ummat ini bahwa Khidir sudah tiada.

Saya anggap cukup dengan mengutip keterangan dari Kitab Al-Manarul Munif fil-Haditsish-Shahih wadl-Dla’if karangan Ibnul Qayyim.

Ibnul Qayyim Rahimahullah menyebutkan dalam kitab itu ciri-ciri dari hadits maudlu, yang tidak diterma dalam agama. Di antaranya cirinya ialah “hadits-hadits yang menceritakan tentang Khidir dan kehidupannya.” Semua adalah dusta. Tidak satu pun hadits yang shahih.

Di antara hadits maudlu, itu ialah hadits yang berbunyi: “Bahwa Rasulullah SAW sedang berada di masjid, ketika itu beliau mendengar pembicaraan dari arah belakangnya, kemudian beliau melihat, ia adalah Khidir.” Juga hadits, “Khidir dan Ilyas berjumpa setiap tahun.” dan hadits, “Jibril, Mikail dan Khidir bertemu di Arafah.” Ibrahim Al Harbi ditanya tentang umur Khidir yang panjang dan bahwa ia masih hidup. Maka beliau menjawab; “Tidalah ada yang memasukkan paham ini kepada orang-orang, kecuali setan.”

Imam Bukhari ditanya tentang Khidir dan Ilyas, apakah keduanya masih hidup? Maka beliau menjawab; “Bagaimana hal itu terjadi? Nabi SAW telah brsabda, “Tidaklah akan hidup sampai seratus tahun lagi bagi orang-orang yang berada di muka bumi ini.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Banyak imam lainnya yang ketika ditanya tentang hal itu, maka mereka menjawab dengan menggunakan Al-Qur’an sebagai dalil; “Kami tidak menjadikan hidup abadi bagi seorang manusia pun sebelum kamu (Muhammad), maka jika kamu mati apakah mereka akan kekal?” (QS. Al-Anbiyaa: 34)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullah ditanya tentang hal itu, maka ia menjawab; “Andaikat Khidir masih hidup, tentulah ia wajib mendatangi Nabi SAW dan berjihad bersamanya, serta belajar darinya.” Nabi SAW telah bersabda ketika perang Badar; “Ya Allah, jika pasukan ini binasa, niscaya Engkau tidak disembah di bumi ini.” Pada waktu itu mereka berjumlah 313 orang laki-laki yang dikenal dengan nama-nama mereka, nama-nama dari bapak-bapak mereka dan suku-suku mereka. Maka, dimanakah Khidir pada waktu itu?

Al-Qur’an dan Sunnah serta pembicaraan para peneliti ummat menyangkal masih adanya kehidupan Khidir seperti anggapan mereka. Sebagaimana firman Allah SWT di atas. Jika Khidir itu manusia, maka ia tidak akan kekal, karena hal itu ditolak oleh Al-Qur’anul Karim dan Sunnah yang suci. Seandainya ia masih hidup tentulah ia datang kepada Nabi SAW. Nabi SAW telah bersabda; “Demi Allah, andaikata Musa masih hidup, tentu ia akan mengikuti aku.” (HR. Ahmad, dari Jabir bin Abdullah)

Jika Khidir seorang Nabi, maka ia tidak lebih utama daripada Nabi Musa AS, dan jika seorang wali, tidaklah ia lebih utama daripada Abu Bakar RA.

Apakah hikmahnya sehingga ia hidup hingga kini (sebagaimana anggapan orang-orang) di padang luas, gurun, laut dan gunung?

Apakah faedahnya syar’iyah maupun akilah dibalik ini? Sesungguhnya orang-orang selalu menyukai cerita-cerita ajaib dan dongeng-dongeng fantastis. Mereka menggambarkannya menurut keinginan mereka, sedangkan dari imajinasinya, mereka gunakan sebagai baju keagamaan. Cerita ini disebarkan di antara sebagian orang awam dan mereka menganggapnya berasal dari agama mereka, padahal sama sekali bukan berasal dari agama. Hikayat-hikayat yang diceritakan tentang Khidir hanyalah rekayasa manusia dan tidak diturunkan oleh Allah hujjah untuk itu.

Adapun mengenai pertanyaan: Apakah ia seorang Nabi atau wali? Para ulama berbeda pendapat mengenai hal itu. Tampaknya yang lebih tepat Khidir adalah seorang Nabi, sebagaimana tercantum pada ayat yang mulia dari surat Al-Kahfi; “… dan bukanlah aku melakukannya menurut kemauanku sendiri …” (QS. Al-Kahfi: 82).

Perkataan itu adalah dalil bahwa ia melakukan itu berdasarkan perintah Allah SWT dan wahyu-Nya, ukan dari dirinya. Lebih tepatnya dia adalah seorang Nabi, dan bukan wali. (*)

Misteri Edisi 581, Tahun 2014

About Iwan Lemabang
Aku hanya manusia biasa yang tak luput dari salah dan dosa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: