Isra’ Mi’raj Perjalanan Keluar dari Dimensi Ruang waktu


Isra' Mi'raj Perjalanan Keluar dari Dimensi Ruang waktu

Oleh: Anas Riyadi

Pada 27 Mei (27 Rajab) ini, kita akan memeringati Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW. Sebuah peristiwa penting dalam agama Islam yang di dalamnya berisi berisi perintah shalat. Suatu perjalanan yang digunakan untuk menunjukkan tanda-tanda kekuasaan Allah SWT. Peristiwa ini sekaligus menunjukkan adanya perjalanan keluar dari dimensi ruang waktu.

______________________________

Peristiwa Isra’ dijelaskan dalam dalam Al-Qur’an surat Al-Isra’ ayat 1, “Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya (Nabi Muhammad SAW) pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilignya, agar Kami perlihatkan kepadanya sebagai dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”

Sedangkan peristiwa Mi’raj dijelaskan dalam Al-Qur’an surat An-Najm 13-18. “Dan sesungguhnya dia (Nabi Muhammad SAW) telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yan lain, di Sidratul Muntaha. Di dekat (Sidratul Muntaha) ada surga tempat. (Dia melihat Jibril) ketika Sidratul Muntaha diliputi oleh suatu selubung. Penglihatannya tidak berpaling dari yang dilihatnya itu dan tidak (pula) melampauinya. Sesungguhnya dia telah melihat sebagian tanda-tanda (kekuasaan) Tuhannya yang paling besar.”

Beberapa istilah yang terkait dengan peristiwa Isra’ Mi’raj ini adalah: Sidratul Muntaha dan Buraq. Sidratul Muntaha secara harfiah “tumbuhan sidrah yang yang tak terlampaui,” suatu perlambang batas yang tak seorang manusia atau makhluk lainnya bisa mengetahui lebih jauh lagi.

Sedangkan Buraq adalah “binatang” berwarna putih yang langkahnya sejau pandangan mata. Dengan Buraq itu Nabi SAW melakukan Isra’ dari Masjidil Haram di Mekkah ke Masjidil Aqsha (Baitul Maqdis) di Palestina. Dengan Buraq itu pula Nabi SAW melanjutkan perjalanan memasuki langit dunia. Di sana dijumapainya Nabi Adm AS.

Perjalanan diteruskan ke langit ke dua sampai langit ke tujuh. Di langit ke dua dijumpainya Nabi Isa AS dan Nabi Yahya AS. Di langit ke tiga ada Nabi Yusuf AS. Nabi Idris dijumapai di langit ke empat. Lalu Nabi SAW bertemu dengan Nabi Harun AS di langit ke lma, Nabi Musa AS di langit ke enam, dan Nabi Ibrahim AS di langit ke tujuh. Di langit ke tujuh dilihatnya Baitul Ma’mur

Perjalanan dilanjutkan ke Sidratul Muntaha. Di Sidratul Muntaha itu pula Nabi SAW melihat wujud Jibril yang sebenarnya. Puncak dar perjalanan itu adalah diterimanya shalat wajib lima waktu.

Perjalanan Keluar Dimensi Ruang Waktu
Dalam salah satu tulisannya, Prof T Djamaluddin (peneliti bidang matahari dan lingkungan antariksa, Lapan, Bandung) mengungkapkan bahwa tujuh lapis langit sebagaimana diuraikan di atas tidak selalu menyatakan hitungan eksak dalam sstem desimal. di dalam Al-Qur’an ungkapan “tujuh” atau “tujuh puluh” sering mengacu pada jumlah yang tak terhitung. Misalnya, di dalam Al-Qur’an surat Al-Baqarah, ayat 261, Allah menjanjikan; “Siapa yang menafkahkan hartanya di jalan Allah ibarat mananam sebji benih yang menumbuhkan tujuh tangkai yang masing-masing berbuah seratus butir. Allah melipatgandakan pahala orang-orang yang dikehendaki-Nya….”

Juga di dalam Al-Qur’an surat Luqman, ayat 27: “Jika seandainya semua pohon di bumi dijadikan sebagai pena dan lautan menjadi tintanya dan ditambahkan tujuh lautan lagi, maka tak akan habis kalimat Allah….” Jadi “tujuh langit” lebih mengena bila difahamkan sebagai tatanan benda-benda langit yang tak terhitung banyaknya, bukan sebagai lapisan-lapisan langit. Lalu, apa hakikatnya langit langit dunia, langit ke dua, langit ke tiga, … sampai langit ke tujuh dalam kisah Isra’ Mi’raj?

Isra’ Mi’raj adalah mukjizat yang hanya diberikan Allah kepada Nabi Muhammad SAW. Isra’ Mi’raj adalah perjalanan keluar dari dimensi ruang waktu. Tantang caranya, Iptek tidak dapat menjelaskan. Tetapi bahwa Raslullah SAW melakukan perjalanan keluar ruang waktu, dan bukan dalam keadaan mimpi, adalah logika yang yang bisa menjelaskan beberapa kejadian yang diceritakan dalam dalam hadits shahiih. Penjelasan perjalanan keluar dimennsi ruang waktu setidaknya untuk memperkuat keimanan bahwa itu sesuatu yang lazim ditinjau dari segi sains, tanpa harus mempertentangannya dan menganggapnya sebagai suatu kisah yang hanya dapat dipercaya saja dengan iman.

Kita hidup di alam yang dibatas oleh dimensi ruang-waktu (tiga dimensi ruang—mudahnya kita sebut panjang, lebar, dan tinggi —, serta satu dimensi waktu). Sehingga kita selalu memkirkan soal jarak dan waktu. Dalam kisah Isra’ Mi’raj, Rasululah SAW bersama Jibril AS dengan wahana Buraq keluar dari dimensi ruang, sehingga dengan sekejap sudah berada di Masjidil Aqsha. Rasul bukan bermimpi karena dapat menjelaskan secara detal tentan Masjidil Aqsha dan tentang kafilah yang masih dalam perjalanan. Rasul juga keluar dari dimensi waktu sehingga dapat menembus masa lalu dengan menemui beberapa Nabi.

Sekedar analogi sederhana perjalanan keluar dimensi ruang waktu adalah seperti kita pergi ke alam lain yang dimensinya lebih besar. Sekedar ilustrasi, dimensi 1 adalah garis, dimensi 2 adalah bidang, dimensi 3 adalah ruang. Alam dua dimensi (bidang) dengan mudah menggambarkan alam satu dimensi (garis). Demikan juga alam tiga dimensi (ruang) dengan mudah menggambarkan alam dua dimensi (bidang). Tetapi dimensi rendah tidak akan sempurna menggambarkan dimensi yan lebih tinggi. Kotak berdimensi tiga tidak tampak sempurna bila digambarkan di bdang dimensi yang berdimensi dua.

Sekarang bayangkan ada alam berdimensi dua (bidang) berbentuk U. Makhluk di alam “U” itu bila akan berjalan dari ujung satu ke ujung lainnya perlu menempuh jarak jauh. Kita yang berada di alam berdimensi lebih tinggi dengan mudah memindahkannya dari satu ujung ke ujung lainnya dengan mengangkat makhluk itu keluar dari dimensi dua, tanpa perlu berkeliling menyusuri lengkungan “U”.

Alam malaikat (juga jin) bisa jadi berdimensi lebih tinggi dari diemnsi ruang waktu, sehingga bagi mereka tidak ada lagi masalah jarak dan waktu. Karena itu mereka bisa melihat kita, tetapi kita tidak bisa melihat mereka. Ibaratnya dimensi dua tidak dapat menggambarkan dimensi tiga, tetapi sebaliknya dimensi tiga mudah saja menggambarkan dimensi dua. Bukankah isyarat di dalam Al-Qur’an dan Hadits juga menunjukkan hal itu. Malaikat dan jin tiidak tidak dberi batas waktu umur, sehingga seolah tidak ada kematian bagi mereka. Mereka pun bisa berada di berbagai tempat karena tak di batas oleh ruang.

Perhitungan Matematis Kecepatan Buraq
Sementara itu, sebuah blog (Kanzun Qalam) menulis bahwa istilah Buraq mungkin berasal dari istilah barqu yang berarti kilat sebagaimana terdapat pada Al-Qur’an surat Al-Baqarah ayat 20, “Hampir saja kilat itu menyambar penglihatan mereka. Setiap kali (kilat itu) menyinari, mereka berjalan di bawah (sinar) itu, dan apabila gelap menerpa mereka, mereka berhenti. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya Dia hilangkan pendengaran dan penlihatan mereka. Sungguh, Allah Kuasa atas segala sesuatu.”

Dengan perubahan istilah barqu menjadi Buraq, Nabi Muhammad SAW hendak menyampakan kepada kita bahwa kendaraan itu memliki kecepatan di atas sinar. Suatu kendaraan dengan dengan kecepatan yang sangat jauh meningaglkan teknologi yang sudah kita capai sekarang.

Berdasarkan penyelidikkan, kilat atau sinar bergerak sejauh 186.000 mil atau 300.000 km per detik. Bila diketahui jarak matahari dari bumi sekitar 93.000.000 mil, maka diperlukan waktu dilintasi oleh sinar dalam 8 menit. Sedangkan untuk menerobos garis tengah jagat raya memerlukan waktu 10 milyar tahun cahaya, dengan melalui galaksi-galaksi, yang selanjutnya menuju kulit bola alam raya. Bagaimana dengan kecepatan malaikat? Seperti kita pahami, satu hari malaikat berbanding 50.000 ribu tahun waktu bumi. Ini ada di dalam Al-Qur’an surat Al-Ma’arij ayat 4: “Para malaikat dan Jibril naik (menghadap) kepada Tuhan, dalam sehari setara dengan lima puluh ribu tahun.”

Sementara, untuk jarak radius alam semesta hingga ke Sidratul Muntaha, dengan melewati angkasa raya yang disebut sebagai ‘Arsy Illahi setidaknya diperlukan waktu 10 milyar tahun cahaya (bahkan mungkin lebih dari itu). Artinya untuk perjalanan tersebut diperlukan waktu seperti perhitungan berikut ini:

1 hari malaikat = 50.000 tahun

200.000 hari malaikat = 10 milyar tahun (cahaya)

200.000 hari = 547,9 tahun (dengan perbandingan 365 hari = 1 tahun).

Berdasarkan data di atas, malaikat memerlukan waktu 547,9 tahun, untuk melintasi jagad raya. Namun pada kenyataannya, malaikat Jibril dalam peristiwa Mi’raj, menghabiskan waktu 1/2 hari waktu bumi (maksimum 12 jam). Jadi kecepatan Buraq, berkali-kali lipat dari daripada kecepatan kilat, bahkan melebihi kecepatan malaikat sekalipun. (*)

Misteri Edisi 581 Tahun 2014

About Iwan Lemabang
Aku hanya manusia biasa yang tak luput dari salah dan dosa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: