Tenaga Dalam dan Pengendalian Nafsu Amarah


Tenaga Dalam dan Pengendalian Nafsu Amarah

Oleh: M Yusup

Hakikat dari pelatihan tenaga dalam adalah melatih kemampuan atau konpetensi untuk mengendalikan nafsu ammarah (anger management). Mengendalikan nafsu amarah bukan berarti kita sudah sama sekali tidak bisa marah, bukan seperti itu. Tetapi mereka dapat mengelola energi amarah untuk hal-hal yang tepat dan berguna serta sesuai dengan koridor sistem nilai dan moralitas yang berlaku di masyarakat. Serta untuk menegakkan kebenaran dan nilai-nilai luhur yang ada di masyarakat.

____________________________________________________________

Di kalangan praktisi tenaga dalam, kondisi ammarah yang sudah terkendali tersebut biasanya disebut kekuatan ammarah suci. Dan dalam pelatihan tersebut sangat terlihat, betapa siswa yang masih belum bisa mengendalikan kekuatan ammarahnya. Maka dia akan menjadi permainan lawan.

“Kendalikan dirimu dan musuhmu, dalam 100 pertempuran engaku tidak akan kalah. Kenali dirimu, tapi tidak kenal musuhmu, akan ada 1 kemenangan untuk 1 kekalahan. Tidak kenal diri dan tidak kenal musuh, dalam semua pertempuran sudah pasti kalah.” –Sun Tzu, The Art of War–

Marah adalah manusiawi. Marah yang bisa berdampak buruk adalah marah yang tidak dikelola. Sebaliknya bila Anda mampu mengelola amarah dengan tepat, maka ekspresi kemarahan Anda justru tidak akan menyehatkan. Hal ini sudah terbukti pada sebuah penelitian yang menyatakan marah akan lebih baik daripada memendam perasaan jengkel. Marah juga merupakan satu bentuk komunikasi. Karena adakalanya orang lain baru mengerti maksud yang ingin disampaikan ketika kita marah. Bentuk penyampaian marah berbeda-beda bergantung pada lingkungan dan kondisi sosial budaya yang membentuknya. Di Jepang, orang sering diam saat marah karena memang orang-orang Jepang tidak terbiasa mengekspresikan perasaannya. Berbeda dengan orang Amerika yang lebih berterus tersng mengungkapkan perasaannya atau sama halnya dengan Suku Batak di tanah air kita.

Kita mungkin sering melihat bagaimana rasa marah itu berkobar dalam berbagai bentuk. Terkadang kita memiliki bentuk sendiri ketika mengekspresikan rasa marah, yaitu bentuk yang selalu kita gunakan secara otomatis ketika kita berada dalam masalah dan menjadi kebiasaan. Kebiasaan adalah kekuatan yang akan menguasai kita, ketika kita bereaksi secara spontan.

Marah itu sendiri bukanlah hal yang buruk maupun baik, marah hanyalah perasaan dan perasaan adalah sesuatu yang muncul dalam diri kita tanpa kita sadari. Yang paling penting adalah apa yang kita lakukan terhadap perasaan itu yang akan menentukan kualitas dari hidup kita. Kebanyakan dari kita tidak tahu bagaimana mengekspresikan rasa marah dengan benar, kita sangat sulit untuk belajar mengontrolnya. Marah biasanya muncul dari ketakutan, penolakan, ejekan. Sering kali orang-orang mengekspresikan rasa marah dengan dengan tindakan ekstrim hingga kekerasan.

Sering kali, terutama dihubungan, karena ketidak mampuan untuk mengekspresikan rasa marah dengan benar, bisa merujuk pada kekerasan. Kalau kita banyangkan marah sebagai suatu spektrum, maka pada baris bawah (yang dasar) kita akan melihat ocehan, negatif, kritik, dendam, dan perilaku mengadili. Memang ada marah ada yang sedikit lembut, namun itu sebenarnya setingkat dengan contoh yang di atas. Masyarakat kita biasanya lebih toleran dengan bentuk marah yang sedikit lebih lembut, begitu juga dengan kehidupan dalam berkeluarga.

Mungkin karena itu sudah merupakan hal yang umum terjadi. Bagi orang yang mengekspresikan rasa marahnya dengan sedikit lembut, biasanya mereka sedikit menahan dan menyembunyikannya, sehingga mereka hanya mengeluarkan rasa frustasinya sedikit, menolak rasa marah itu dan kemudian mulai memikirkan hal yang lain. Kemudian di atasnya lagi, ada ekspresi marah yang jauh lebih kasar dari kekerasan. Ketika rasa marah itu menuju ke sisi yang lain, kita akan melihat ekspresi marah yang lebih besar seperti amukan, kegeraman, dan kemurkaan. Jadi, dimana rasa marah Anda sekarang?

Rasulullah SAW bersabda: “Orang kuat itu bukanlah yang menang dalam gulat tetapi orang kuat adalah yang mampu menahan nafsu amarahnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dari Ibnu Mas’ud RA, Rasulullah SAW bersabda: “Siapa yang dikatakan paling kuat diantara kalian? Sahabat menjawab; yaitu diantara kami yang palng kuat gulatnya. Beliau bersabda: “Bukan begitu, tetapi dia adalah yang paling kuat mengendalikan nafsunya ketka marah.” (HR. Muslim)

Al Iman Abu Dawud rahimahullah mengeluarkan hadits secara makna dari sahabat Nabi, bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Tidaklah seorang hamba menahan kemarahan karena Allah SWT kecuali Allah SWT akan memenuhi baginya keamanan dan keimanan.” (HR. Abu Dawud dengan sanad Hasan).

Dalam kehidupan kita selalu saja ada sisi positif dan negatif dalam interaksi kita dengan sesama. Positif kita interaksi kita tidak membawa kekecewaan, bahkan yang ada adalah saling tolong menolong sesama mukmin, saling sayang menyayangi sesama mukmin. Dan negatif akan timbul, saat interaksi kita dengan orang lain membuahkan kekecewaan yang tidak jarang disertai kemarahan. Tidak ada manusia yang tak memiliki sifat amarah berapapun kadarnya. Hanya saja, seberapa jauh, setiap orang memiliki kemampuan menahan dan mengendalikan sifat amarah dalam dirinya. Sebagian orang mengatakan marah adalah manusiawi, karena marah adalah bagian dari kehidupan kita. Tapi alangkah baiknya bila kita bisa menjadi pribadi yang bisa menahan marah dan kalaupun kita marah, maka marahnya kita tidak berlebihan.

Syeikh Imam Al-Ghazalidalam kitab Ihya’ Ulumuddin nya mengatakan; “Barangsiapa tidak marah, maka ia lemah dari melatih diri. Yang baik adalah, mereka yang marah namun bisa menahan diri.”

Tiga hal termasuk akhlak keimanan yaitu, orang yang jika marah, kemarahannya tidak memasukkannya ke dalam perkara batil, jika senang maka kesenangannya tidak mengeluarkan dari kebenaran dan jika dia mampu dia tidak melakukan yang semestinya. Maka wajib bagi setiap muslim menempatkan nafsu amarahnya terhadap apa yang dibolehkan oleh Allah SWT, tidak melampaui batas trhadap apa yang dilarang sehingga nafsu amarahnya tidak mengarah kepada kemaksiatan, kemunafikan apalagi sampai kepada kekafiran. Kita harus melatih diri kita agar tidak menjadi orang yang mudah marah dan menahan marah kita agar kemarahan kita tidak berlebihan.

Perhatikan firman Allah SWT berikut ini: “Dan bersegeralah kamu kepada ampunan Tuhanmu dan kepada surga yang seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya serta memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (QS. Ali Imran (3): 133-134)

Orang yang bertakwa adalah mampu menahan marah dengan tidak melampiaskan kemarahan walaupun sebenarnya ia mampu melakukannya. Kata al-kazhimiin berati penuh dan menutupnya degan rapat, seperti wadah yang penuh dengan air, lalu ditutup rapat agar tidak tumpah. Ini mengisyaratkan bahwa perasaan marah, sakit hati, dan keinginan untuk menuntut balas masih ada, tapi perasaan itu tidak dituruti melainkan ditahan dan ditutup rapat agar tidak keluar perkataan dan tindakan yang tidak baik (Quraisy Shihab, Tafsir al-Misbah, II, hal. 207).

Menurut Charles Spielberger, Ph.D, seorang ahli psikologi yang mengambil 3 spesialisasi studi tentang marah. Marah adalah suatu perilaku yang normal dan sehat yakni sebagai salah satu bentuk ekspresi emsi manusia. Seperti bentuk ekspresi emosi manusia. Seperti bentuk emosi lainnya, marah juga diikuti dengan perubahan psikologis dan biologis. Ketika Anda marah, denyut nadi dan tekanan darah meningkat, begitu juga dengan level hormon, andrenalin dan noradrenalin.

Mark Gorkin—seorang konsultan pencegah stres dan kekerasan—membagi marah dalam empat kategory; marah yang disengaja, marah spontan (marah yang dilakuka secara tiba-tiba), marah konstruktif (marah yang disertai ancaman terhadap orang lain) dan marah destruktif (marah yang ditumpahkan tanpa rasa bersalah).

Peneliti dari Universitas Valencia di Spanyol tertarik dengan apa yang terjadi pada tubuh manusia ketika sedang marah. Dan temuan ini muncul untuk mendukung teori psikologi umum yang menyatakan bahwa ‘ventilasi’ emosi lebih untuk kesehatan mental ketimbang membiarkan tetap terkunci alias dipendam.

Penelitian ini menemukan bahwa mengekspresikan kemarahan dapat meningkatkan aliran darah ke bagian otak yang terlibat dengan perasaan bahagia. Untuk melakukan penelitian ini, peneliti mengumpulkan 30 orang di sebuah laboratorium, perlahan-lahan meningkatkan tingkat kemarahan mereka dan mengamatinya. Detak jantung, tekanan darah serta level dari dua hormon stres partisipan yaitu testoteron dan kortisol, diukur semuanya. Otak juga di skrining, dari awal hingga akhir penlitian.

Temuan yang sudah dipublikasikan dalam jurnal Hormones and Behaviour ini menunjukkan bahwa bagian kiri dari otak lebih terstimulasi ketika partisipan sedang marah.

“Daerah frontal otak kiri umumnya terlibat dalam emosi positif, sedangkan bagian kanan berkaitan dengan emosi negative,” ujar Dr Neus Herrero, dari Universitas Valencia di Spanyol, yang memimpin penelitian, seperti dilansir dari Telegraph.

Dr Herrero juga menuturkan bahwa marah dapat mendorong perubahan besar dalam tubuh manusia, yaitu mengendalikan kerja jantung dan hormon. Dia menunjukkan bahwa tingkat kortisol turun dan kadar testosteron meningkat. Selain itu, juga terjadi perubahan dalam aktivitas otak, terutama di bagian lobus frontal dan temporal.

Namun, studi ini menemukan bahwa marah juga bisa memiliki efek negatif pada tubuh, yaitu tekanan darah para partisipan ternyata meningkat ketika marah. Peneliti dari University of Jena di Jerman menemukan bahwa orang yang suka melampiaskan kemarahan dan emosi negatif lain ternyata lebih lama hidup sehat.

Menurut hasil penelitian Marcus Mund dan Kristin Mitte yang dipublikasikan dalam jurnal Health psychologies, orang-orang Italia dan Spanyol yang bertemperamen lebih tinggi cenderung hidup setidaknya dua tahun lebih panjang dibandingkan orang Inggris yang suka menahan emosi. Bahkan, menurut hasil riset dua peneliti itu, karakter orang Inggris yang suka mengendalikan diri justru bisa menimbulkan gangguan terhadap kesehatan fisik dan mental.

Mereka melakukan penilaian terhadap 6.000 pasien dan menemukan bahwa pasien yang tidak mengekspresikan kekhawatiran denyut jantungnya meningkat. Kondisi ini menyebabkan tekanan darah naik dan meningkatkan peluang menderita berbaga penyakit, dari jantung koroner hingga kanker dan kerusakan ginjal.

Selama penelitian, Marcus Mund dan Kristin Mitte, juga mengidentifikasi kelompok yang disebut “repressor” yaitu berisiko mengalami gangguan itu. Orang-orang ini dikenal dari cara mereka menyembunyikan ketakutan dan perilaku mempertahankan diri, kata Mund seperti dikutip laman DailyMail.

Untungnya kondisi ini tdak selalu buruk bagi orang-orang yang berusaha mengendalikan diri. Meski mereka lebih berisiko menderita penyakit tertentu, namun mereka punya kemampuan lebih cepat untuk memulihkan diri dari berbagai kondisi. “Karena kebutuhan mereka untuk mengendalikan diri, kaum repressor sangat disiplin dan lebih termotivasi untuk beradaptasi dengan pola hidup,” ata Mund.

Sebuah penelitian juga sudah membuktikan bahwa mengekspresikan rasa marag dengan dengan benar akan memberikan hasil yang positif. Beberapa contohnya adalah meningkatkan kesehatan, mempererat hubungan, meningkat kreatifitas, dan juga mengatasi ketidak adilan. Rasa marah ini juga akan membuat kita merasa lebih bersemangat karena sudah menggantikan rasa lesu, raa bersalah dan ketidakberdayaan. Rasa marah memberikan kita cukup energi untuk memberikan jalan hidup, yaitu energ yang akan membuat kita keluar dari tempat kita sekarang, menuju ke tempat yang selalu kita inginkan.

Kita setiap hari berhadapan dengan hal yang bisa membuat kita marah. Jika kita bereaksi setiap hal itu dengan rasa marah, maka kita akan selalu marah ketika hal itu terjadi lagi. Bayangkan seseorang yang sensitif, ia selalu marah pada setiap hal yang menyinggungnya. Bukankah ini sedikit memalukan? Begitu juga dengan orang yang tidak sensitif. Seperti yang kita ketahui, marah bukanlah hal yang buruk maupun baik, namun kita harus bisa menggunakannya agar bisa bermanfaat.

Rasa marah adalah salah satu bentuk nafsu, dan jika kita tidak tahu bagaimana mengekspresikannya dengan sehat, dengan cara yang tepat, kita akan melakukannya dengan menggunakan spektrum dasar dari marah tersebut.

Hal itu juga membuat emosi positif kita tersudut. Pada akhirnya, hal itu hanya akan membuat kita tidak bahagia, menurunnya energi dan kreatifitas. Memang membutuhkan kesabaran yang luar biasa untuk membiasakan memisahkan rasa marah dengan kehidupan nyata. Rasa marah adalah kesempatan yang sangat bagus untuk kita berubah, mungkin selama ini kita ingin menjadi enterpreneur, dan keluar dari hidup yang biasa-biasa saja. Rasa marah ini bisa memberikan motivasi kepada kita yang luar biasa karena marah merupakan energi alami yang berasal dari dalam tubuh kita.

Poet Eric Hopper pernah berkata; “Rasa marah adalah awal dari keberanian.”

Dan mungkin dia perlu memperbaiki, bahwa rasa marah juga merupakan awal dari eratnya hubungan, kreatifitas, dan semangat hidup. Bukankah keberanian merupakan awal dari kesuksesan? Mari kita gunakan rasa marah sebagai suatu perasaan yang akan membantu kita menjadi lebih baik dan memberikan kita keberanian untuk mengambil resiko, karena jarang sekali ada keberanian yang bisa muncul dengan kuat dalam diri kita kecuali rasa marah (*)

Mistri Edisi 581, Tahun 2014

Advertisements

About Iwan Lemabang
Aku hanya manusia biasa yang tak luput dari salah dan dosa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: