Fenomena Isap Aibon di Kalangan Anak-Anak Mengkhawatirkan


Beredar Luas, Tak Bisa Dipidana

Fenomena Isap Aibon di Kalangan Anak-Anak Mengkhawatirkan
Ngelem: Dengan mata menerawang ke depan, seorang anak terlihat mengisap lem aibon alias ngelem pada pada salah satu kawasan di Metropolis, tanpa menghiraukan suasana sekitarnya.

_____________________________________________________

Belum adanya aturan dalam KUHP tentang penyalahgunaan lem aibon, bisa menjadi pintu masuk pelaku “ngelem” berbuat semaunya. Padahal, tindakan tersebut merusak mental dan kesehatan.

• • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • •

Budaya ngelem (isap aibon, red) kini bukan sesuatu yang asing lagi. Ini menjadi keprihatinan tersendiri. Apalagi, kegiatan seperti itu kerap diperlihatkan anak-anak di pinggir jalan umum. Tak heran, salah satu bahan kimia yang dijadikan sarana untuk mabok ini menjadi konsumsi kalangan anak di bawah umur, termasuk siswa sekolah dasar (SD).

Yang menjadi masalah, perilaku tak patut dicontoh itu tidak hanya terjadi d Metropolis, melainkan sudah merambah hingga daerah. Kondisi inilah yang patut diperhatikan. Karena akan berdampak terhadap kualitas penerus bangsa. Oleh karenanya, dibutuhkan sanksi tegas untuk memberi efek jera kepada pemakai.

Fenomena Isap Aibon di Kalangan Anak-Anak Mengkhawatirkan Kepala Dinas Sosial (Kadinsos) Palembang, Faizal AR, mengatakan, perilaku ngelem oleh anak-anak memang patut diwaspadai karena berdampak terhadap pertumbuhan mereka. Memang, kata dia, istilah ngelem ini sudah tidak asing lagi bagi sebagian anak-anak yang terpengaruh oleh lingkungan. Untuk itu, petugas gencar melakukan razia rutin untuk memberantas perilaku seperti itu (ngelem).

Menurut Faizal, jumlah anak ngelem ini diprediksi lebih besar ketimbang yang didapatkan saat razia. Hal ini disebabkan karena jangkauan Dinsos terhadap anjal (anak jalanan) ngelem ini hanya terbatas pada lokasi fasilitas umum, seperti jalan, jembatan, dan lainnya. Sementara masih banyak anak-anak yang ngelem yang berada di dalam gang-gang sempit, lorong-lorong, serta kampung-kampung yang sulit dijangkau petugas.

“Kalau Dinsos kan lebih pada razia di fasilitas umum, nah kalau yang berada di pinggir-pinggir dan pedalaman kota seperti kampung-kampung yang lebih berperan sebenarnya adalah lurah, ketua RT, dan tokoh masyarakat untuk memberikan pengarahan dan pembinaan,” terang Faizal.

Meski malakukan razia 24 jam, tapi kendala yang dihadapi Dinsos adalah jumlah personel yang hanya sedikit dibandingkan dengan anjal yang terkena razia. Butuh bantuan dari masyarakat, terutama orang tua, tokoh agama dan kalangan pendidik untuk memberantas kegiatan ngelem yang melanda sebagian anak-anak di Palembang.

Menurutnya, saat mendapatkan anjal ngelem ini, pihaknya akan meminta surat perjanjian tertulis kepada anjal yang bersangkutan dengan orang tua anjal tersebut. Dalam surat perjanjian itu, anjal berjanji tidak akan mengulangi kegiatan ngelem tersebut. “Biasanya kalau anjal ngelem itu kita lakukan pembinaan dengan membawa mereka ke panti sosial, waktunya antara 4-5 hari. Tapi terkadang mereka kembali lagi melakukan kegiatan tersebut. Jadi peran orang tua sangat penting mengawasi mereka,” jelasnya.

Sementara itu, tercatat, sejumlah kasus anjal yang terkena razia kepolisian hanya diberi teguran dengan surat pernyataan agar tidak melakukan perbuatannya. Selain itu, para pecandu lem ini dikembalikan kepada orang tuanya saja untuk dilakukan pembinaan. Para pecandu lem ini bahkan, telah berulang kali diciduk dan mendapatkan pembinaan kepolisian tanpa ada jerahnya.

“Kalau untuk pengguna lem aibon (ngelem) tentu kami tidak bisa memproses hukum para pelaku lem karena tidak ada KUHP yang mengatur. Biasanya yang kita proses jika saat menggunakan lem aibon itu terjadi tindak kriminal di dalamnya baru bisa kita amankan. Jadi kita hanya melakukan pembinaan, karena belum ada undang-undanga yang mengaturnya,” kata Kasat Reskrim Polresta Palembang Kompol Djoko Julianto.

Aparat kepolisian yang menangani kasus isap lem tersebut tidak bisa melanjutkan ke tingkat proses hukum, meski menemukan pecandu lem di pinggir jalan saat razia bersama Dinsos dan Satpol PP. Melihat fenomena ini perlu ada perhatian khusus oleh pihak aparat penegak hukum, Dinas Kesehatan, dan tokoh agama untuk mensosialisasikan dampak dari penggunaan lem sebagai sarana untuk mabuk.

“Peran orang tua dan seluruh lapisan masyarakat sangat diperlukan untuk memantau hal itu karena mengisap lem sama halnya dengan narkoba dan akan menyebabkan candu yang merusak kesehatan dan moral generasi muda,” ujarnya.

Berdasarkan pantauan Koran Ini, komunitas anjal ngelem ini biasa nongkrong di Simpang Charitas, Simpang Polda, Simpang Jakabaring, dan dijembatan penyeberangan Internasional Plaza (IP). Mayoritas dari mereka pengemis hingga anjal yang tidak ada kegiatan. Bahkan, ada di antaranya pengamen.

Salah satunya bernama Yn (19), pengamen di seputaran Simpang Charitas Jalan Jenderal Sudirman Palembang. Dia mengaku sudah terbiasa ngelem sejak 5 tahun lalu atau ketika mulai main di jalanan. Hal ini lantaran terpengaruh perilaku teman-teman seprofesinya yang juga pecandu lem aibon.

Bagi dia, ngelem merupakan kegiatan paling menyenangkan dan badan pun terasa tenang dan nyaman. “Lagian enak, Kak. Masalah juga seakan hilang. Teman-teman juga sama, jadi tidak gaul kalau tidak isap aibon,” ungkapnya. Dalam sehari, ABG yang hanya lulus SMP ini bisa menghabiskan 2 hingga 3 kaleng. Bagi dia, untuk membeli lem tersebut tidaklah sulit. (roz/asa/ce1)

Bisa Merusak Otak dan Mental
• • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • •

Lem aibon merupakan unsur kimia berbahaya,, lem itu sebenarnya zat perekat yang dipakai untuk merekatkan berbagai benda seperti sandal, sepatu dan sebagainya. Namun, zat tersebut disalahgunakan oleh manusia.

Penyebaran pengetahuan negatif tentang mengisap lem aibon terhadap anak-anak dan remaja menjadi momok di Metropolis ini. Menurut dr H M Zainie Hassan AR SpKJ (K) dari RSMH Palembang, fenomena penggunaan atau mengisap lem aibon kini sudah bukan sesuatu yang asing lagi bagi kalangan remaja. Kegiatan seperti itu sudah menjadi hal yang lazim dan sering diperlihatkan anak-anak remaja jalanan di muka umum.

“Apapun aktivitas, jika sifatnya negatif pasti membuahkan dampak negatif. Dampak pada anak pengisap lem aibon sangat luas terutama terganggunya kesehatan tubuh,” ujar ahli kejiwaan yang bertugas di RS Muhammadiyah ini.

Penggunaan Aica Aibon dengan dihisap melalui hidung termasuk inhalant volatile hydrocarbon seperti toluene, n-hexanen metil buatil ketone, trichlor etilen, dichlorometan, gasoline dan butan. “Ketika mengisap melalui hidung, kemudian masuk aliran darah melalui paru-paru akhirnya menuju otak,” paparnya.

Pada otak, sambungnya, akan menekan pusat susunan syaraf. Dalam jangka lama akan bergantung dengan “Inhalant” tersebut dan terjadi peningkatan takaran untuk mencapai rasa “tenang”. Supaya tidak “sakau”, ketika terjadi keracunan. Pemakai akan menimbulkan perubahan perilaku yag salah, menarik diri dari pergaulan sosial, salah penilaian, perilaku inpulsif, perilaku agresif.

“Kalau lebih berat, kesadaran akan terganggu hingga menjadi stupor (tidak ada kontak, seperti pandangan kosong atau seperti patung,” cetusnya. Selannjutnya akan menjadi amnesia (lupa) akan siapa dirinya.

Diakui dr Zaini, ia pernah mendapati anak jalanan dua saudara yang dikonsulkan oleh Dinas Sosial. “Ditanya siapa namanya, umurnya berapa, siapa orang tuanya semua tidak bisa dijawab, tidak ada kontak sama sekali. Hal tersebut akibat kerusakan otak berat sehingga fungsi kognitifnya terganggu sangat berat, tidak menganal dirinya sendiri,” pungkasnya. (cj3/asa/ce1)

Pintu Masuk Narkoba
• • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • •

Fenomena anak-anak jalanan (anjal) di Palembang yang mengisap (ngelem, red) patut diperhatikan. Karena, dampaknya membahayakan kejiwaan si pemakai. Dimana, ngelem ini juga disebut akan menjadi pintu masuk bagi anak-anak untuk menggunakan narkoba dan obat terlarang.

Tindakan ngelem ini menjadi favorit di kalangan anjal, karena barang yang murah meriah, mudah didapat dan praktis. Hal ini berbeda dengan narkoba, baik jenis sabu-sabu, ekstasi, ganja yang sulit dicari dan mahal hargannya. Meski tidak dikategorikan sebagai narkoba, namun efek lem aibon akan merusak kesehatan layaknya narkotika.

Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) Provinsi Sumsel Kombes Pol Bontor Hutapea mengatakan, pihaknya tidak menangani kasus pemakaian lem aibon di kalangan anjal. Sebab, kata Bontor, BNN fokus pada pemberantasan narkotika.

Sedangkan dalam UU No 35/2009 tentang Narkotika, lem aibon yang dipakai dan beredar luas tidak bisa dikategorikan sebagai bahan narkotika. “Kalau anjal yang pakai lem aibon itu adalah tugas Dinas Sosial dan Dinas Kesehatan. Sedangkan BNN fokus pada narkotika saja,” tegas Bontor.

Meski bukan menjadi kewenangan BNN, namun kasus ngelem ini kemungkinan bisa ditangani Polda Sumsel karena ada Direktorat yang meneliti zat-zat yang berbahaya di masyarakat. Menurut Bontor, fenomena ngelem ini sangat mengkhawatirkan banyak pihak karena mengancam kualitas generasi muda. Terutama anak-anak yang notabene-nya duduk di sekolah dan mendapat pendidikan baik dari orang tua maupun guru.

Masyarakat, tambahnya, harus lebih peduli dalam soal seperti ini karena dilihatnya sebagai persoalan yang diremehkan. Sebab kegiatan iseng anak-anak ngelem ini akan membahayakannya. (roz/asa/ce1)

Efek dari “Ngelem”
• • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • •

Denyut jantung meningkat
Mual-muntah
Halusinasi
Mati rasa atau hilang kesadaran
Susah bicara atau cadel
Kehilangan koordinasi gerak tubuh
Kerusakan otak
Otot melemah
Depresi
Sakit kepala dan mimisan
Kerusakan syaraf

Jumlah anjal ngelem di Pelembang triwulan Januari-pertengahan April 2014 mencapai 27 orang

Rata-rata per bulan ditemui anjal ngelem di fasilitas umum 6 orang

Anjal ngelem tidak bisa dipidana, tapi bisa dilakukan pembinaan oleh Dinsos Palembang

Anjal ngelem yang terkena razia membuat surat perjanjian untuk tidak mengulangi perbuatannya

Sumatera Ekspres, Jumat, 18 April 2014

Advertisements

About Iwan Lemabang
Aku hanya manusia biasa yang tak luput dari salah dan dosa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: