Menyusuri Jejak RRI Palembang


Siaran Pertama Dari Lorong, Perang Dengan Belanda Via Radio

Menyusuri Jejak RRI Palembang
Foto by: Sumeks Minggu

Bicara Radio Republik Indonesia (RRI) tak bisa dilepaskan dari perjuangan kemerdekaan RI. Ini juga ditunjukan oleh RRI Palembang yang kini berkembang menjadi Lembaga Penyiaran Publik (LPP) dan bermarkas di Jl Radio Km 4. Cikal bakal RRI ini, berasal dari sebuah lorong kecil kawasan 9 Ilir. Dari lorong ini, Tahun 1946 RRI Palembang pertama kali mengudara.

Tidak banyak masyarakat di lorong Kebangkan, Jl Segaran, Kelurahan 9 Ilir mengetahui jika kawasanya merupakan pusat penyiaran radio pertama para pejuang era kemerdekaan. Keterangan banyak di dapat para orang tua yang sudah cukup lama tinggal di kawasan tersebut.

Hermanto (71), salah satu warga setempat mengingat, saat ia kecil, di RT 7 RW 02 saat ini terdapat rumah panggung besar. Rumah panggung ini merupakan tempat berkumpulnya para pejuang usai kemerdekaan sekitar tahun 1946. Dari rumah itulah, para pejuang menyiarkan berita seputar perjuangan membakar semangat masyarakat untuk mempertahankan kemerdekaan karena datangnya Belanda usai proklamasi.

Hanya saja, kini rumah panggung tersebut berubah total. Dibangun perumahan oleh warga setempat. “Waktu saya kecil, dulu memang ada empat tiang bambu untuk pemancar. Disini memang tempat RRI pertama kali,” ucap salah seorang nenek.

Menyusuri Lrg Kebangkan, ternyata tembus ke Jl Veteran. Masuk dari jalan Veteran, terdapat lorong yang kini dinamai lorong RRI Pertama. Mengisyaratkan, kawasan tersebut sebagai tempat penyiaran RRI pertama kali.

Keterangan Nuntcik AB (90), rumah panggung digunakan pejuang sebagai tempat penyiaran dulunya samasekali tidak mempunyai nama. Seingat pria yang lahir tahun 1921 ini, tak lama diproklamirkanya kemerdekaan, rumah panggung yang dulunya kosong digunakan Nur Hasim Umar. Orang pertama yang diketahui Nuntcik sebagai penyiar.

“Namanya dulu bukan RRI. Tapi saat mengudara menyebutkan ini merupakan siaran radio Palembang,” ungkap Nuntjik.

Blak-blakan, Nuntcik mengaku tidak pernah secara langsung mendengarkan siaran radio Palembang tersebut. Alasanya sederhana, hanya segelintir masyarakat kala itu memiliki radio. Ketika siaran, masyarakat berkumpul di salah satu rumah dan mendengarkanya bersama-sama.

“Cuma dari keterangan yang saya dapat, siaranya memang untuk memberitakan dan mengibarkan semangat perjuangan. Saya sendiri, lebih suka datang ke kantor ledeng mendengarkan pidato langsung Pak AK Gani atau Pak Abdul Rozak,” tandas Nuntcik.

Kepala Stasiun RRI Palembang, Drs H Herman Zuhdi MSi membenarkan cikal bakal berdirinya RRI dari lorong Kebangka, 9 Ilir. Dari data RRI sendiri, pemancar radio ini diambil alih dari tangan Jepang, Maret 1946. Dengan gelombang 37 meter, kekuatan 300 watt.

Secara nasional, pemancar radio kebanyakan diambil alih dari tangan Jepang, seiring kekalahan tentara negeri Matahari Terbit ini dari tentara sekutu. Bahkan, malam tanggal 17 Agustus 1945, teks proklamasi menyatakan kemerdekaan RI, dibacakan kembali oleh pejuang melalui radio di relay ke beberapa kota besar.

Keberadaan siaran radio di lorong Kebangkan tidak bertahan lama. Awal Januari 1947, Belanda menyerang tempat ini. Membuktikan adanya ketakutan Belanda siaran dari Lrg Kebangkan ini membayakan keberadaan mereka. Alhasil, dari lorong Kebangkan siaran dipindah ke Muara Enim. Juli 1947 siaran kembali dipindah ke kota Curup.

Tahun 1949, pemuda tergabung dalam AURI dan PTT bekerja sama membangun pemancar baru dengan kekuatan 150 watt dengan panggilan “Disini Radio Perjuangan Bukit Barisan”, berkedudukan di Muara Aman.

Saat inilah dikenal namanya perang antar radio. Belanda yang menguasai Palembang dan menguasai radio resmi Palembang selalu mendapat gangguan. Radio Bukit Barisan milik pejuang kemerdekaan dengan gelombang 61,2 meter pun diincar untuk di bumi hanguskan.

Setelah beberapa kali mengalami perpindahan, kantor studio dan peralatan kemudian kembali masuk ke dalam kota seiring perpindahan kekuasan. Tahun 1962, gedung studio RRI di jalan Radio Km 4 selesai dibangun, kemudian diresmikan oleh presiden Soekarno. Hingga kini markas RRI Palembang dengan coverage Sumsel berada di jalan Radio. (wwn)

Written by: Samuji | Sumeks Minggu

About Iwan Lemabang
Aku hanya manusia biasa yang tak luput dari salah dan dosa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: