Akui Selingkuhi Istri Korban


Oknum PNS Bunuh Debt Collector Bank

Akui Selingkuhi Istri Korban PALEMBANG — Pembunuhan terhadap debt collector sebuah bank, Heriansyah (31), di atas Jembatan Ampera pada Rabu dini hari (26/3), diungkap Aprat Satuan Intelkam Polresta Palembang. Pelakunya, M Ferdinal alias Fren alias Denal (34), oknum PNS di Badan Penanggulangan Bencana dan Pemadam kebakaran (BPBPK) Kota Palembang, Pos SU I, Jl KH Asyik, Kelurahan 3-4 Ulu.

Tersangka Denal diringkus di tempat persembunyiannya, dalam kebun kopi kawasan perbukitan Kecamatan Pendopo, Kabupaten Empat Lawang, Minggu dini hari (30/3) oleh jajaran Unit Kam pimpinan Iptu Sugiarto. “Semua alat bukti juga sudah didapat, baju dinas yang terdapat bercak darah dan pisau yang masih ada bercak darah,” kata Kanit Intelkam Polresta Palembang Kompol Iksan SIk, didampingi Kasubnit II Kam Bripka Aviv Sancoko.

“Tersangka dan barang buktinya telah kam amankan, segera akan kami koodinasikan dengan Polsekta SU I,” tambah Kompol Iksan. Pelaku pembunuhan korban Heriansyah mengarah ke tersangka Denol, dugaan itu sedari awal mulai diutarakan paman korban, Hanif (64). Dia sempat mengatakan, bisa jadi penyebabnya diduga gara-gara istrnya selingkuh, atau karena kerjaan korban sebagai debt collector bank, atau ada yang lain.

Tak ditampik lagi tersangka Denol, dia memang menjalin hubungan dengan istri korban. Kartini. Meski tersangka Denol sendiri sudah mempunyai istri dan tiga orang anak. “Dio (korban, red) itu lah cerai dengan istrinyo, aku lah jingok surat perjanjian pisahnyo tahun 2011 lalu (secara agama, red). Makonyo aku menjalin hubungan itu, tapi akhir-akhir ini hubungan aku dengan Kartini itu sudah mulai renggang. Aku jugo dak mau merusak rumah tangga aku, kalau lebih lamo lagi (menjalin hubungan dengan Kartini, red),” aku tersangka.

Tapi rupanya, lanjut tersangka Denol, korban masih tidak senang denganya dan terus menantang. “Dio (korban, red) menelpon aku sebelum kejadian itu. Katonyo nak cabut nyawo aku, aku jawab kau tu bukan Tuhan. Dio nak nemui aku di kantor, kato aku dak usah biar aku bae yang nemui dio,” ujar tersangka Denol yang mengontrak di Perumahan Top Amen Mulia, Kelurahan 15 Ulu, Kecamatan SU I.

Selain kesal kerap ditantang korban, tersangka juga resah karena rumah istrinya yang ada di kawasan Tangga Buntung, pernah didatangi korban sekitar dua bulan yang lalu. “Dio (korban, red) cak nak meras itu, na. Soalnyo tahu kalau aku ni PNS. Bahkan malem sebelum kejadian itu dio sempat nelpon aku tiga kali, baru kuangkat telponnyo yang ketigo,” tambah tersangka.

Merasa ditelepon terus, malam itu sekitar pukul 23.00 WIB tersangka mendatangi tempat kontrakan korban di Rusun Blok 45. “Di rumah itu cuma ado Kartini samo anaknyo, terus kuajak ke rumah uwong tuo aku di Musi II. Sudah itu aku jemput kawan aku, Beni. nak ke kantor. Malam itu aki piket dari jam 22.00-08.00 WIB. Di atas Jembatan Ampera itulah, aku liat korban jalan kaki mengarah ke Seberang Ulu. Aku putari dan kejadian itulah,” aku tersangka.

Usai menusuk korban, tersangka yang masih berseragam dinas langsung kabur ke luar. Menumpang travel, berpindah mobil sampai tiga kali menuju Empat Lawang. “Sempat sembunyi di Gunung Dempo, sebelum sampe dusun. Beni kawan aku itu idak tahu menahu, malah dio sempat ngomong dak usahlah. Tapi memang dak aku dengerke dio, kareno aku dalam pengaruh miras,” jelas tersangka Denol.

Terpisah, Kepala BPBPK Kota Palembang, Edison, ketika dikonfirmasi belum tahu ada anggotanya yang ditangkap polisi dalam kasus pembunuhan. “Belum tahu, karena saya beru pulang dari luar kota. Setahu saya, memang ada anggota kami bernama M Ferdinal yang bertugas di SU I. Tapi nanti saya cek dulu, status sebagai apa (honorer atau PNS, red) kata Edison, via ponselnya, kemarin sore.

Sepengetahuan Edison, Kinerja M Ferdinal selama bertugas di pos SU I termasuk rajin dan mengerjakan tugasnya sebagai anggota pemadam kebakaran. Sehingga dia belum tahu permasalahannya sampai nekad membunuh. “Soal sanksi, akan dibri sanksi tegas jika memang terbukti. Kalau pemecatan lihat kasusnya dulu, jika di pengadilan nanti yang bersangkutan divonis di atas lima tahun penjara, akan diberhentikan,” pungkas Edison.

Diberitakan sebelumnya, Heriansyah tewas tergeletak di atas Jembatan Ampera, arah Seberang Ulu, Rabu (26/3), sekitar pukul 00.00 WIB. Dari dompetnya, didapati uang sekitar Rp 1,5 juta, STNK motor Yamaha Mio atas nama Heriansyah, alamat Jl harapan, RT 42, RW 06, Kelurahan Silaberanti, Kecamatan SU I, Palembang. Dalam saku jaketnya, ditemukan ID card pegawai sebuah bank, korban bekerja sebagai debt collector. Hasil visum di RSUD Palembang BARI, korban menderita lima tusukan. Di bagian dada, pinggang, dan punggung. (aja/cj1/air/ce1)

Sumatera Ekspres, Senin, 31 Maret 2014

About Iwan Lemabang
Aku hanya manusia biasa yang tak luput dari salah dan dosa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: