Billboard Roboh Lagi, Roboh Lagi


Audit Ulang Kontruksi

Billboard Roboh Lagi, Roboh Lagi
Lepas: Tiang billboard milik AXA Finance di Jalan R Soekamto yang lepas dari pndasi. Kondisi inlah yang diduga memicu robohnya papan reklame tersebut.

• • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • •

Billboard menjadi sarana jitu bagi pelaku usaha mempromosikan produknya. Papan iklan jenis itu dipasang di lokasi strategis agar menjadi pusat perhatian publik. Lantas bagaimana dengan kekuatan kontruksinya?

——————————————————–

Robohnya billboard di Jl R Soekamto, tepatnya di depan hotel MaxOne pada Jumat lalu (28/3), sekitar pukul 16.00 WIB, harus menjadi pelajaran. Terlepas faktor cuaca sebagai penyebabnya, pemerintah dan pihak terkait harus bertanggung jawab manakala ada korban dalam insiden tersebut.

Dimana, papan iklan raksasa berukuran sekitar 6 x 12 meter persegi dengan ketinggian 15 meter milik Axa Finance tersebut ambruk. Ada korban? Pasti. Inilah yang mencemaskan warga Metropolis. Terutama saat melintas dalam kondisi cuaca ekstrim. Jika tidak segera diantisipasi, tidak menutup kemungkinan warga selalu dibayang-banyangi rasa takut. Pengamat Ekonomi Universitas Sriwijaya (Unsri), Yan Sulistyo, mengatakan, peristiwa robohnya billboard di depan PTC mall harus menjadi peringatan semua pihak, terutama Pemerintah Kota (Pemkot) Palembang dan perusahaan advertising.

Selama ini, pemkot selaku pemberi izin pemasangan billboard mendapatkan keuntungan dari pungutan restrebusi pajak iklan reklame untuk menambah pendapatan asli daerah (PAD). Tetapi, hal itu harus diimbangi dengan jaminan keamanan terhadap publik. Karena, jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, seperti halnya ambruk, maka masyarakat yang menjadi korban.

Sayangnya, pemkot dinilai hanya memperhatikan segi keuntungan saja. Sementara, dari sisi penerapan standarisasi keamanan kekuatan kontruksi belum maksimal. Contohnya saja, banyak billboard baik dalam ukuran sedang maupun besar yang roboh saat hujan deras disertai angin kencang.

Kondisi ini harus menjadi perhatian. Terutama ada ruas jalan umum yang padat kendaraan. Selain itu, masyarakat harus lebih kritis, apalagi rutin membayar pajak sehingga punya hak untuk melintas di jalan dengan nyaman dan aman.

Fakta di lapangan dari sisi pemasangan sering diserahkan kepada perusahaan advertising, sehingga billboard yang membentang di jalan tidak memenuhi standar keamanan. “Saya melihat, pemkot selama ini menyerahkan bulat-bulat pemasangan billboard kepada perusahaan adversiting. Seharusnya pemkot membuat standarisasi desain pemasangan billboard terkait tinggi, lebar, berat serta perhitungan andaikata terjadi angin kencang,” jelasnya.

Ia menyarankan, pembuatan billboard jangan terlalu besar. Sebab besarnya kontruksi sangat membahayakan pengguna jalan. Apalagi ada juga papan iklan yang hanya satu atau dua tiang. Sebab, dengan satu tiang kekokohannya tidak dijamin tahan angin dan ini angat membahayakan.

Untuk itu, sebuah langkah nyata, ia menyarankan pemkot segera mengaudit ulan semua kontruksi billboard, baik ukurang besar, sedang, kecil yang sudah terpasang di ruas jalan umum. Ia juga mengingatkan kepada perusahaan advertisinguntuk meninjau kembali dan segera memperkuat kontruksi billboard yang suda terpasang. Dan itu harus dilakukan secara berkala terutama pada saat cuaca ekstrim saat ini. “Billboard adalah media yang sangat efektif dan digunakan untuk promosi produk, tapi harus selalu diperhatikan keamanannya.”

Antisipasi ini sangat penting supaya peristiwa robohnya billborad depan PTC tidak dialami di lokasi lainnya. Menurutnya, tiang bilborad patah, biasanya ketika hujan deras disertai angin kencang. Nah, masyarakat yang menjadi korban robohnya billboard, disarankan untuk segera mengajukan gugatan kepada tiga pihak. Yakni Wali kota Palembang, Dinas Tata Kota Palembang, dan perusahaan advertising yang memasang billboard. “Masyarakat yang menjadi korban sebaiknya mengajukan gugatan ecara hukum. Ini penting sekali sebagai efek jera agar kejadian seperti ini tidak terulang lagi,” pungkasnya.

Sebelumnya Owner Davis Adversiting, Anton, mengatakan, pemasangan billboard sudah sesuai standar. “Perkiraan saya angin ekstrim saat hujan menyebabkan billboard tidak kuat. Akibatnya billboard tersebut roboh, tapi kita rutin melakukan pengecekan,” katanya. Terkait klaim asuransi, lanjut dia, pihaknya akan bertanggung jawab dan segera menyelesaikan masalah tersebut.

Sementara itu, Regional Sales Director AXA Financial, Deny Priyadi mengaku, pihaknya tidak mengetahui peristiwa tersebut. “Bukan tanggung jawab AXA tetapi vendor yang bersangkutan.”

Kelapa Seksi Reklame Dinas Tata Kota Palembang, Cory menegaskan, pihaknya rutin melakukan pengawasan terhadap reklame jenis bilboard berukuran di atas 4 x 6 (reklame berukuran besar). Caranya dengan menyurati penelola dalam hal ini adversiting agar rutin melakukan penecekan karena mereka yang bertanggung jawab terhadap kontruksi.

“Malahan Februari lalu kami sudah menyurati owner para adversiting untuk melakukan pengecekan ulang,” ujar Cory lagi. Mengingat, ihwal reklame roboh itu sudah beberapa kali terjadi. Sebelumnya di Jl Kolonel H Barlian tepatnya di depan RS Myria. “Izin memang kami yang mengeluarkan. Tapi, teknis pembangunan menjadi tanggung jawab mereka (adversiting, red).”

Menurut Cory, ada sekitar 10 adversiting yang tercatat. Meski begitu, setiap perizinan baleho ataupun billboard harus memenuhi syarat keamanan. Karenanya saat pengajuan izin, pihaknya mewajibkan penyelenggara reklame untuk melampirkan kajian kontruksi dari reklame yang akan dipasang. Mulai dari ketebalan besi yang akan dipergunakan hingga ketinggian besi karena itu terkait dengan keamanan.

Tidak hanya itu, sambung dia, advertising harus membuat pernyataan “bertanggung jawab jika reklame tersebut gagal kontruksi (roboh).” Artinya setiap reklame besar ini harus diasuransikan (all risk), termasuk karena angin kencang. “Korban karena reklame berukuran 6 x 12 meter persegi gagal kontruksi tersebut dapat mengajukan klaim pada adversitinng bersangkutan (Davis Advertising, red),” ujar Cory.

Harus Punya Lisensi
Ketua Himpunan Ahli Kontruksi Indonesia (HAKI) Provinsi Sumsel, Imron Fikri, menilai, peristiwa robohnya papan reklame atau billboard di Jl R Soekamto bisa saja disebabkan karena salah perhitungan terhadap struktur kontruksi bangunan reklame seblum dipasang.

Karena salah perhitungan kontruksi tersebut, diduga membuat ponddasi billboard tidak kuat menahan tekanan angin kencang hingga ambruk. Untuk itu, kata Imron, seharusnya perusahaan advertising memiliki pengetahuan mumpuni terhadap desain reklame yang standar dengan UU Jasa Kontruksi Nomor 18 Tahun 1999.

“Ibaratnya kalau layar semakin besar, maka angin yang menerpanya semakin kencang pula,” katanya. Selain itu, para tukang yang melakukan pemasangan harus memiliki lisensi dan keahlian di bidangnya, tidak asal-asalan orangnya.

Menurutnya, papan reklame yang dibangun setidaknya mampu menahan kekuatang angin dalam kecepatan 40-50 km per jam. Pembangunan pondasi dan tiang penyangga harus diperhitungkan secara matang, yakni minimal sepertiga dari panjang tiang yang menancap kuat di dalam tanah.

Selain itu, semua papan reklame pondasinya juga harus sepertiga dari tiang reklame yang dipasang. Tujuannya agar tahan terpaan angin dan hujan. Jika menghadapi musim penghujan seharusnya perusahaan advertising melakukan penguatan kontruksi 20 persen dari biasanya. “Sehingga kalau kena angin tidak roboh,” tambahnya. (roz/yun/ce1)

Turunkan Tim, Selidiki Penyebab Utama
• • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • •

Robohnya billboard di Jl R Soekamto menjadi perhatian tersendiri Pemkot Palembang. Dimana, tim yang diterjunkan saat ini tengah menyelidiki penyebab utama robohnya bilboard tersebut. Demikian disampaikan Wali Kota Palembang H Romi Herton melalui Staf Ahli Bidang Ekonomi Pembangunan (Ekbang) dan Investasi, ir Sudirman Teguh MM.

“Kita sudah menurunkan tim investigasi yang bertujuan menyelidiki apa penyebab utama robohnya reklamme itu semata-mata karena angin kencang atau adanya unsur kesalahan (human erorr, red) dalam pemasangan kontruksi,” ungkap Sudirman.

Menurutnya, memang saat kejadian cuaca dalam keadaan ekstream di atas normal. “Saat itu memang hujan dengan angin yang sangat kencang dan bisa dibilang separuh badai, tapi kita masih butuh hasil yang akurat seputar penyebab robohhnya papan iklan itu,” terang mantan Kepala Dinas Pertanian, Perikanan, dan Kehutanan (DP2K) Palembang itu.

Pihaknya juga akan menyelidki standardisasi perusahaan advertising yang memasang billbord tersebtu, apakah kompeten dan memiliki syarat-syarat dalam pemasangan billboard. Sementara, anggota DPRD Sumsel, Yuswar Hidayatullah berharap kepada Pemerintah Kota Palembang untuk mengevaluasi kembali syarat-syarat perizinan kepada perusahaan-perusahaan iklan reklame ini.

“Perusahaan iklan reklame ini harus segera diaudit dan harus memenuhi standardisasi perizinan. Jangan asal diberikan izin, jika perusahaan itu tidak memenuhi syarat,” ujar politisi PKS ini. (roz/ce1)

Korban Bisa Ajukan Gugatan
• • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • •

Manakala ada billboard yang roboh hingga menelan korban, maka pemerintah dalam hal ini Pemkot Palembang dan perusahaan advertising harus bertanggung jawab. Demikian disampaikan pengamat hukum Sumsel, Bambang Hariyanto SH MHum.

Meskipun peristiwa itu sebuah musibah, namun dimungkinkan adanya unsur kelalaian dalam pemasangan billboard raksasa tersebut. Dikatakannya, warga yang menjadi korban memiliki hak mengajukan gugatan ganti rugi secara hukum terhadap pemkot dan prusahaan advertising tersebut. Akan tetapi, hal itu tergantung dari keinginan pihak korban sendiri.

Bambang yang juga ketua DPC Peradi Sumsel ini mengungkapkan, gugatan bisa dilakukan secara perdata dan pidana apabila ditemukan adanya unsur kelalaian dalam pemasangan papan reklame tersebut. Misalnya, pemasangan billboard dilakukan sembarangan tanpa mengindahkan standar keamanan.

“Dalam peristiwa seperti ini, jika warga ingin mengajukan gugatan, lebih tepatnya gugatan secara perdata dengan melayangkannya ke pengadilan,” ungkapnya. Apakah bisa dilakukan gugatan secara class action, Bambang menilai dari kasus yang terjadi ini lebih tepatnya ialah gugatan secara pribadi dari masyarakat yang menjadi korban. “Peristiwa ini harus menjadi pelajaran karena pemkot selaku pemberi izin pemasangan baleho bisa bertanggung jawab terhadap warganya sendiri yang menjadi korban,” pungkasnya. (roz/ce1)

Beberapa Lokasi Billboard Roboh

18 November 2013 Billboard Hatta Rajasa di Jl Kol H Barlian depan RS Myria

24 Januari 2014 Billboard Club Milddi Jalan Ilir Barat I 28 Maret 2014 Billboard Milik Axa Finance di Jl R Soekamto depan hotel MaxOne

28 Maret 2014 Billboard di Jalan Basuki Rahmat

Sumatera Ekspres, Minggu, 30 Maret 2014

About Iwan Lemabang
Aku hanya manusia biasa yang tak luput dari salah dan dosa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: