Kedigdayaan Sriwijaya


Kedigdayaan Sriwijaya

Oleh: Farida R. Wargadalem
————————————————–
Dosen Unsri dan Ketua Umum Masyarakat Sejarawan Indonesia (MSI) Cabang Sumsel.

Sriwijaya adalah salah satu kerajaan di Nusantara yang dikenal masyarakat intrnasional di zamannya sejak abad ketujuh. Selama ratusan tahun Sriwijaya tidak saja menguasai jalur perdagangan dunia, tetapi juga melakukan ekspansi kekuasaan ke berbagai negara di masanya.

Masyarakat politik Sriwijaya adalah masyarakat terbuka karena sebagai kerajaan maritim, banyak pedagang dari penjuru mancanegara, seperti Cina, Persia, Timur Tengah, masyarakat Nusantara dari kerajaan lainnya berdagang di Palembang. Mereka tidak saja berdagang, tetapi juga menetap di wilayah ini.

Jika melihat para pedagang yang melakukan transaksi perdagangan di Palembang, ini memperlihatkan msyarakat Palembang waktu itu sangat kosmopolit dan bersilang budaya antara satu pedagang dengan pedagang lainnya. Dalam masyarakat seperti ini penduduk lokal telah terbiasa berkomunikasi dan menerapkan saling silang budaya sehingga menyemaikan penguatan budaya lokal.

Kedigdayaan Sriwijaya Saling silang budaya asing dengan budaya lokal membuat masyarakat setempat menerima kehadiran dan keberadaan orang lain yang mempunyai posisi-posisi tertentu dalam masyarakat. Inilah model kultural masyarakat maritim.

Kejayaan dan kebesaran Sriwijaya sebagai kerajaan yang mampu mengharungi Samudera Hindia, Cina, dan sebagainya menjulangkan nama salah satu kerajaan dari Nusantara ini dalam jagad perdagangan dunia. Namun, meski pun terdapat silang pendapat soal pusat Sriwijaya ini, dan ada pula mengaku di wilayah tertentu menjadi pusat kerajaan ini. Sriwijaya tetaplah berjaya dan menyejarah menjadi emporium besar di Nusantara raya.

Sebagai kerajaan maritim Sriwijaya dikenal sebagai penguasa lautan yang menjelajah sepertiga bumi. Salah satu bukti dari dari sekian banyak bukti sebagai penguasa lautan terlihat dari kemudi kapal yang panjang mencapai delapan meter dengan panjang kapal mencapai enam puluh meter yang tersimpan di Musium Sriwijaya. Demikian pula prasasti Sriwijaya yang berbahasa Melayu, merupakan bukti tertua tentang keberadaan bahasa tersebut bermula dari Sriwijaya.

Keberadaan Palembang sebagai pusat Sriwijaya tak terbantahan, setidaknya ada tiga prasasti yang menjadi bukti penting dari sekitar 25 prasasti yang terdapat di Sumatera Selatan. Pertama: Prasasti Kedukan Bukit (682) yang memuat tentang pendirian wanua Sriwijaya. Kedua: Prasati Talang Tuo yang memaparkan tentang hadiah taman Srisetra bagi penduduk. Pendirian taman umumnya diperuntukkan bagi rakyatnya yang berada di pusat kekuasaan. Ketiga: Prasasti Telaga Batu, ciri khusus prasasti ini adalah dimuatnya struktur pemerintahan dengan nama-nama pejabat tinggi di Sriwijaya. Semua itu menjadi bukti sejarah Palembang yang tak terbantahkan adalah pusat Sriwijaya, setidaknya dari abad ketujuh sampai abad ke sembilan.

Kebanggaan sebagai pusat kerajaan tentu tidak sampai di situ, ada tugas besar menanti, yaitu menunjukkan bukti-bukti autentik atas “klaim” tersebut. Apa yang harus dilakukan? Yang pertama dan utama adalah “menyelamatkan, melestarikan, dan mengembangkan” semua situs yang sudah ada. Penyelamatan mutlak dilakukan, mengingat sebagian dari situs Sriwijaya sudah pindah tangan ke pihak-pihak yang tidak semestinya, di antaranya menjadi milik pribadi.

Ambil contoh untuk kawasan barat Kota Palembang, tepatnya dari Bukit Siguntang hingga TPKS Karang Anyar setidaknya terdapat sebelas situs Sriwijaya. Dari seluruh kawasan Palembang, situs belahan barat ini terbanyak jumlahnya. Jumlah sebanyak itu setidaknya sudah bisa mewakili Sriwijaya yang layak dijual kepada semua pihak yang berkeinginan melihat, dan membuktikan keberadaan Sriwijaya.

Kebesaran dan kedigdayaan Sriwijaya ini perlu dibangkitkan kembali agar generasi berikutnya tidak melupakan kerajaan ini. Sebagai upaya membangkitkan kebesaran Sriwijaya ini belum lama ini Wakil Menteri Kebudayaan Wiendu Nuryanti menggagasi seminar internasional tentang Sriwijaya dan pendirian pusat kajian Sriwijaya di Palembang.

Gagasan ini beroleh sambutan positif dari Universitas Sriwijaya (Unsri), Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, Balai Arkeologi, dan perorangan yang duduk bersama menjabarkan gagasan tersebut. Pada 2 Oktober 2013 diadakan pertemuan dan menghasilkan rancangan pusat kajian yang berada di Unsri. Inilah cikal bakal gagasan kelahiran Pusat Kajian Sriwijaya.

Setela sekian bulan, kemudian rencana pendirian Pusat Kajian Sriwijaya ini beroleh dukungan dari Hasan Wirayudha, mantan Menteri Luar Negeri, yang kini menjadi salah satu tim penasehat Presiden SBY. Sebagai orang yang sudah malang melintang di dunia internasional, terungkap bahwa beliau merupakan salah seorang anggota Dewan Penyantun Universitas Nalanda India.

Konon universitas ini merupakan universitas tertua di dunia, di sana terdapat enam belas gedung asrama yang diperuntukkan bagi mahasiswa mancanegara pada masanya. Bangunan pertama adalah asrama yang dibangun oleh penguasa Sriwijaya Raja Balaputera Dewa bagi mahasiswa Sriwijaya yang belajar di sana.

Sebagai salah satu super power pada wakti itu tentunya Sriwijaya tidak mau ketinggalan di baris terdepan dalam menyediakan asrama bagi mahasiswa-mahasiswanya. Hebatnya, kini dari ke empat belas bangunan kuno tersebut, satu-satunya bangunan milik Sriwijaya yang relatif utuh, sedangkan bangunan lainnya tinggal puing-puing. Tentu sebuah pemandangan yang lua biasa. Sangat layak jika para pemimpin daerah ini datang langsung ke sana menyaksikan kehebatan Sriwijaya. Semua ini akan menumbuhkan rasa cinta yang luar biasa untuk terus meningkatkan gairah menggali, melestarikan, dan mengembangkan segala sesuatu yang berkait dengan Sriwijaya.

Acungan jempol dan rasa syukur yang tak terhingga atas upaya membangkitkan kembali kejayaan Sriwijaya. Sriwijaya “hidup” dengan segala kemegahannya yang ujungnya akan berkontribusi besar terhadap kemaslahatan umat. Dengan adanya tinggalan-tinggalan yang terpelihara baik membuka peluang besar datangnya pelancong dari dalam dan luar negeri untuk datang ke sini, guna menyaksikan dan belajar tentang keberadaan Sriwijaya. (*)

Sumatera Ekspres, Rabu, 19 Maret 2014

About Iwan Lemabang
Aku hanya manusia biasa yang tak luput dari salah dan dosa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: