Azab di Balik Sumpah Pocong


Azab di Balik Sumpah Pocong Pesohor Arya Wiguna membuat sensasi yang membahayakan dirinya. Hanya karena ingin meyakinkan publik jika tuduhan-tuduhan perselingkuhan Farhat Abbas benar adanya, mantan murid Eyang Subur itu melakukan sumpah pocong. Arya Wiguna menjalani ritual sakral itu di Pondok Pesantren Daarul Safa, Bojongsari, Depok, Jawa Barat, Jum’at 7 Februari lalu. Dengan penuh percaya diri Arya Wiguna melakukan seluruh tahapan sebagai syarat sumpah pocong termasuk tubuhnya dikafani lalu mengucapkan sumpah yang menggetarkan. “Demi Allah, saya Arya Wiguna dengan ini berjanji kepada diri saya dan keluarga saya serta seluruh masyarakat Indonesia bahwa semuanya ini benar tanpa ada rekayasa. Apabila saya berbohong maka saya siap diazab oleh Allah secepatnya di dunia atau pun di akhirat.”

Apakah Arya Wiguna serius mengucapkan sumpahnya? Sejumlah paranormal dan spiritualis menyakini sumpah sumpah tersebut benar adanya. Hanya saja azab yang akan diterima—jika terbukti Arya Wiguna berbohong, tidak serta-merta. Namun pasti akan terjadi dalam beberapa hari mendatang. Sebaliknya, jika sumpahnya benar, pihak seterunya—dalam hal ini Furhat Abbas, yang akan menanggung akibatnya. Siapa yang akan trkena azab? Azab seperti apakah yang akan diterima salah satu dari dua orang itu? Inilah plus-minus sumpah pocong serta ancaman azabnya yang sangat dahsyat.

Mengandung Azab Tuhan
• • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • •

Masyarakat dibuat terbelalak dengan aksi nekad yang dilakukan pesohor Arya Wiguna. Untuuk membuktikan jika klaim dan tuduuhannya terhadap pengacara kondang Furhat Abbas benar adanya. Arya Wiguna melakukan ritual sumaph pocoong di Pondok Pesantren Daarul Safa, Bojongsari, Depok, Jawa Barat.

Acara ritual itu mendapat perhatian besar karena melibatkan dua orang terkenal. Terlebih tuduhan yang dlontarkan Arya Wiguna turut menggoyangkan rumah tangga seterunya tersebut karena Furhat Abbas kemudian digugat cerai oleh sang istri Nia Daniaty.

Seperti apa sebenrnya konsekuensi sumpah pocong? Mengapa saat ini banyak orang dengan mudah melontarkan tantangan untuk melakukan sumaph pocong manakala ucapannya diragukan oleh lawannya. Untuk mengetahui hal tersebut, tim Misteri mewawancarai Abah Haji, salah seorang spiritualis di Semarang, berikut hasil wawancarainya:

Sebenarnya apa sumpah pocong itu?

Sumpah pocong tidak berbeda dengan sumpah lainnya yang diucapkan dengan sepenuh hati untuk menyakinkan lawan bicaranya atau pihak seterunya. Misalnya ada orang yang bilang. “Sumpah emi Allah….” Orang yang mengucapkan sumpah itu menghadirkan Tuhan sebagai saksi sekaligus yang akan memberinya azab manakala dia berbohong. Artinya dia tidak bersumpah kepada manusia tetapi kepada Tuhan.

Itu sebabnya, sumpah yang demikian tidak akan menerima hukuman dari manusia yang menjadi lawan bicara atau seterunya. Melainkan dari Tuhan Yang Maha Esa. Demikian juga dengan sumaph pocong. Bedanya ketika seseorang melakukan sumpah pocong, maka ada tata cara dan ritual yang harus dijalani sebelum mengucapkan sumpahnya.

Bagaimana tata cara sumpah pocong yang benar?

Orng tersebut harus dimandikan oleh orang lain sebagaimana memandikan mayat. Setelah dimandikan, lalu tubuhnya dibungkus dengan kafan sehingga wujudnya menyerupai mayat yang hendak dikubur atau yang kita kenal dengan pocong. Sumpah ini lebih beraroma mistis karena umumnya si pengucap sumpah diletakkan di dalam keranda seperti yang dilakukan Arya Wiguna beberapa waktu lalu.

Dalam pelaksanaannya juga harus dipandu oleh orang lan. Biasanya seorang kiyai atau paranormal yang paham akan hal itu. Dia ini yang memandu jalannya sumpah yang harus diucapkan setelah sebelumnya dibacakan ayat-ayat suci Al-Qur’an.

Mengapa disebut sumpah pocong?

Mungkin karena diucapkan dalam kondisi tubuh dibalut kain kafan layaknya pocong, maka sumpah ini kemudian dikenal dengan sebutan sumpah pocong. Azab yang akan diterima manakala sumpah yang diucapkan ternyata bohong, akan datang langsung dari Tuhan. Jadi sumpah pocong seperti mengandung azab dari Tuhan.

Bentuk azabnya macam-macam dari tertimpa musibah seperti mengalami kebangkrutan usahanya, karirnya mandek, menderita cacat seumur hidup, bahkan kematian. Nah, mungkin juga karena konsekuensi azabnya bisa sampai meninggal dunia, menjadi pocong, maka masyarakat menamakannya sumpah pocong. Jadi itu hanya nama saja.

Sejak kapan ada sumpah pocong?

Wah, tidak ada catatan sejarah yang menyebutkan secara spesifik terkait sejak ada sumpah pocong. Umumnya ritual sumpah pocong sering dilakukan oleh masyarakat agraris di pedesaan.

Sumpah pocong disepakati oleh kedua pihak yang berseteru, misalnya dalam kasus sengketa warisan atau lahan garapan, sumpah pocong dilakukan dengan disaksikan oleh masyarakat. Itu sebabnya banyak sumpah pocong dilakukan di tempat terbuka seperti lapangan atau balai desa. Namun saat ini umumnya dilakukan di dalam masjid.

Mengapa memilih sumpah pocong?

Biasanya karena di antara orang yang berseteru itu tidak tercapai titik temu. Masing-masing mengklaim sebagai pihak yang benar. Jaman dulu ‘kan belum ada sistem peradilan atau aparat penegak hukum sehingga cara-cara tersebut dinlai bisa menyelesaikan sengketa yang berkepanjangan. Biasanya setelah dilakukan sumpah pocong, masing-masing akan menerimanya sambil menunggu azab yang akan datang.

Siapa yang salah dan siapa yang benar benar-benar diserahkan kepada Tuhan. Jika kemudian azab tidak turun, masyarakat pun memakluminya dan tetap yakin pihak yang salah akan mendapatkan azab-Nya kelak sesudah mati atau terkena pada anak keturunannya.

Sebenarnya ini adalah puncak dari ketidak percayaan masyarakat pada penegak hukum. Ketika seseorang merasa benar tapi ia malah dipersalahkan maka ia akan meminta dilakukan sumpah pocong sebagi vonis akhir bahwa ia tidak salah.

Mengapa ada orang yang begitu gampang melakukan sumpah pocong?

Ini hanya latah saja. Dia menganggap ketika mengatakan berani disumpah pocong, tidak akan ada yang mau meladeninya atau memaksa agar dia benar-benar mau melakukannya. Jadi hanya sebagai gertak sambal saja, sebagai meyakinkan pihak lain bahwa dia sungguh-sungguh dengan ucapannya.

Dalam kasus korupsi misalnya, seseorang yang dituduh oleh pihak lain, akan mengatakan dirinya siap disumpah pocong jika memang aliran dana hasil korupsi. Nah, setelah dia mengucapkan tantangannya itu, masyarakat cenderung tidak lagi menyudutkannya.

Jadi hanya sebagai ungkapan verbal saja, trik untuk meyakinkan publik, bukan sungguh-sungguh mau melakukan sumpah pocong.

Ingat, bagi sebagian masyarakat kita, sumpah pocong merupakan ritual yang tidak bisa dijadikan main-main. Sangat sakral, itu sebabnya meski gampang diucapkan, tidak semua orang berani untuk melakukan ritual sumpah pocong.

Maka jika ada seseorang yang mengatakan dirinya berani disumpah pocong, masyarakat akan menilai dia tidak mungkin bohong dengan ucapan atau keterangan yang sudah diucapkan.

Jadi hanya pencitraan?

Fenomena itu yang saya tanggap dari para pejabat atau pesohor yang begitu mudah menantang untuk melakukan sumpah pocong. Barangkali mereka juga tidak tahu dan tidak paham apa itu sumpah pocong dan seperti apa konsekuensinya. Saya pernah mendengar ada pejabat yang mengatakan dirinya berani disumpah pocong jika benar melakukan korupsi. Belakangan dia terbukti melakukan korupsi dan ternyata tidak berani melakukan sumpah pocong.

Apa bukan hanya berupa ekspresi keputusasaan?

Mungkin juga begitu. Dia putus asa karena masyarakat dan juga lembaga penegak hukum tidak mempercayai ucapannya, dalih-dalihnya. Berbagai cara sudah dilakukan, tapi tetap saja asyarakat tida percaya dengan ucapannya sehingga ditengah keputuasaannya dia menantang dilakukan sumpah pocong. Hanya itu tadi, dia mungkin tidak paham apa itu sumpah pocong dan bagaimana nanti konsekuensinya jika benar-benar melakukan sumpah pocong tapi yang diucapkannya ternyata bohong.

Jika sumpah pocong terlanjur kita lakukan, tapi belakangan kemudian kita menyesal karena ternyata apa yang kita ucapkan tidak benar. Apa kita bisa mencabut sumpah tersebut?

Sumpah pocong ‘kan sumpah yang diucapkan kepada Allah. Jadi sebeum ajal menjemput, selalu terbuka pintu maaf-Nya. Sebab manusia memang tempatnya salah dan khilaf. Justru bagus jika kita bisa menyadari kesalahan kita sebelum Allah benar-benar menjatuhkan azab.

Apakah sumpah pocong efektif untuk menyadarkan seseorang dari kesalahannya?

Saya rasa itu tergantung keimanan masing-masing. Ada orang yang berani disumpah pocong lantaran takut kesalahannya terbongkar, takut mengakui kesalahannya. Tapi ia tidak sadar kalau ia berani melakukan sumpah itu berarti adzab sudah menunggu di depan matanya.

Beda dengan zaman dulu, ketika orang ditantang brsumpah pocng, jika memang ia salah maka ia tidak akan berani melakukannya. Lebih baik mengakui kesalahannya dan meminta maaf dengan menerima segala konsekwensi hukumnya. Karena orang zaman dulu sangat takut akan sakralnaya sumpah pocong itu sendiri.

Bagaimana pandangan Gus terhadap sumpah pocong?

Selagi ada jalan yang lebih elegan, sebaiknya jangan melakukan sumpah pocong. Islam tidak mengenal sumpah pocong meski dalam ritualnya menggunakan Al-Qur’an dan perangkat penguburan mayat bagi kaum muslimin. Jadi di samping membawa dampak yang sangat besar, juga tidak sesuai dengan acaran agama.

Jadi bagaimana cara meyakinkan orang lain terhadap ucapan kita yang dinilai bohong?

Berikan bukti-bukti pendukung yang meyakinkan. Kalau Anda tidak korupsi, mengapa harus sibuk membela diri? Biarkan saja hukum yang bicara. Jika masyarakat tetap tidak percaya, padahal proses hukum telah dijalani dan terbukti tidak korupsi namun teta ada yang menuduh Anda korupsi, bermunajatlah kepada Allah SWT. Serahkan semuanya pada Allah karena kebenaran hakiki hanya milik-Nya.

Sumpah Palsu Jadi Hantu
• • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • •

Azab di Balik Sumpah Pocong

Oleh: Firdaus HM

Sumpah pocong memiliki konsekuensi yang sangat dahsyat. Untuk itu praktisi sumpah pocong Gusti Prabu Dipoalam menasehati agar sumaph pocong jangan dibuat main-main. “Jangan main-main dengan sumpah pocong. Bila bermain-main, akan menjadi pocong betulan. Dalam waktu 3 kali 24 jam akan mati dan menjadi pocong. Setelah dikubur, pocongnya bangkit lagi lalu menjadi hantu, roh si pesumpah palsu, akan bergentayangan, berkeliling kampung mendatangi warga untuk meminta maaf, mita maaf karena sumpah pocongnya sumpah palsu,” ungkap Gusti Prabu Dipoalam, 67 tahun, pada Misteri.

• • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • •

Gusti Prabu Dipoalam adalah warga Rambutan Alas, Kabupaten Ogan Komering Ilir, yang beberapa kali memimpin ritual sumpah pocong. Jika sumpah pocong Arya Wiguna di pesantren dan Katno-Yati, Natar, Lampung di masjid, Gusti Prabu Dipoalam melakukan sumpah pocong di makam keramat. Makam keramat Rimau Jalang di Bukit Bakatul, Tugumuda, Ogan Komering Ilir, Sumatera Selatan.

Gusti Prabu Dipoalam adalah paranormal pinggiran yang punya kemampuan linuwih. Dia pernah menjadi tukang santet kejam dan kini menjadi guru tangkap santet. Dia juga ahli guna-guna, pelet dan ilmu hitam lain. Bahkan banyak didatangi para caleg, cabup, cawalkot bahkan cagub. Rumahnya misterius, ada di dalam pohon kayu tua umur 3000 tahunan di perbatasan antara Ogan Komering Ilir dan OKU Timur.

“Bukan sumpah mimbar atau sumpah kitab suci saja yang banyak sumpah palsu di pengadilan. Sumpah pocong pun, ada yang palsu. Berani-beranian saja karena rasa malu, maka itu melakukan sumpah pocong palsu. Akibatnya, gaib, makam Rimau Jalang akan marah dan Tuhan pun akan murka. Akibatnya, sangat berat, akan menjadi pocong betulan dan bergentayangan karena tidak diterima bumi. Kuburannya akan meledak menjelang azan Maghrib dan jenazah bangkit lagi berkeliling wilayah, mendatangi semua saksi ritual sumpah untuk meminta maaf. Maka itu, jangan mudah pula menjadi saksi sumpah pocong, karena niscaya akan didatangi pocong itu di malam hari. Bukan datang untuk menganiaya, tapi hanya untuk minta maaf karena kebohongannya di saat sumpah pocong itu,” ungkap Gusti Prabu Dipoalam, serius.

“Bila Arya Wiguna sumaph pocong di pesantren Bojonggede, Depok, Bogor itu palsu, maka Arya akan mati, jadi pocong betulan dan dia akan bangkit lagi berkeliling pesantren untuk minta maaf kepada para saksi. Namun jika sumpah Arya Wiguna itu benar, artinya apabila dia memang mengetahui Farhat Abbas melakukan hubungan asmara dengan Regina yang disaksikan oleh matanya, maka Arya Wiguna akan selamat,” desis Prabu Dipoalam.

Diakui Gusti Prabu bahwa sumpah pocong itu bukan ajaran Islam. Sumpah pocong itu tidak diatur dalam Al-Qur’an dan Hadits. Maka itu, Majelis Ulama Indonesia meminta ritual sumpah pocong dihentkan, karena menjurus kepada syirik. Sebab orang akan lebih percaya azab datang dengan sumpah pocong, daripada azab dari Allah SWT.

Belakangan, sumpah pocong begitu mudah dilakukan. Sementara dahulu kala, sumpah pocong sangat takut dilakukan karena pelakunya, bila sumpah palsu, akan dilaknat oleh Allah Azza Wajalla. Laknat itu sangat berat dan akan menerakakan orang-orang yang melakukan sumpah pocong palsu.

Sumpah di pengadilan, baik tersangka maupun saksi yang disumpah, banyak yang palsu. Bila agama Islam, disumpah dengan Al-Qur’an, tapi karena sumpah palsu, salah satu kaki, terutama kaki kiri, diangkat sedikit, ang berarti sumpahnya palsu. Dalam dunia sumpah menyupah, jika satu kaki diangkat, maka sumpah itu batal. Misalnya seseorang bersumpah sambil mengucap: Demi Allah, saya bersumpah, saya tida melakukan pencurian itu. Sumpah Demi Allah itu, diyakini batal karena satu kaki diangkat. Kaki itu diangkat tidak banyak, hanya sedikit saja, tetapi diyakini batal, sumpah dengan menyebut nama Sang Maha Pencipta, Allah SWT itu.

“Padahal apa yang dikatakan batal itu, tidak benar batal. Tidak ada istilahnya, sumpah akan batal hanya karena mengangkat kaki sedikit, tidak betul itu. Sumaph ya sumpah, sudah terucap dengan nama Allah dan sumpah itu sudah didengar Allah dan akan menjadi pertimbangan Allah untuk melaknat yang bersumpah,” tutur Gusti Prabu. Sumpah pocong itu sumpah yang paling berat. Semua sumpah berat, tapi sumpah pocong itu sumpah terberat, maka itu jangan dipermainkan. Sumpah pocong bukan dari agama apapun, bukan juga dari Islam. Sumpah pocong adaah tradisi lokal, utamanya terjadi di Tanah Melayu, Malaysia, Sumatera, Kalimantan, dan Jawa.

Di dalam dunia hukum, sumpah dibenarkan. Bahkan diutamakan agar seseorang memberikan keterangan dan kesaksian secara apa adanya. Tida direkayasa dan tidak dibuat-buat. Di dalam kitab hukum, ada dua sumpah. Sumpah Supletoir dan Sumpah Decisior. Sumpah supletoir itu artinya sumpah tambahan, sedangkan decisior itu sumpah pemutus.

“Kedua jenis sumpah di peradilan pidana dan perdata ini, tidak ada sumpah pocong. Sumpah pocong adalah warisan nenek moyang kita dulu, sekitar abad 12 Masehi, pada zaman kerajaan, kesultanan di nusantara. Masa transisi antara kerajaan Hindu-Buddha dan kesultanan serta kerajaan Islam. Tidak betul sumpah pocong itu impor dari Arab, karena di Arab sendiri tidak ada sumpah pocong,” terang Gusti Prabu.

Kenapa banyak orang Islam yang melakukan sumpah pocong? “Pocong itu maksudnya kain kafan dan hanya agama Islam yang kebanyakan, jika mati, dimakamkan dengan memakai kain kafan. Orang beragama Nasrani ‘kan pakai jas, dasi dan sepatu. Kalau sumpah pocong, tidak pas dong? ‘Kan jenazahnya pakai jas, sumpah jas lah namanya. Begitu juga dengan agama Hindu/Buddha yang dikeremasi, diabukan, dijadikan abu, tidak mungkin sumpah pocong. Sumpah abu namanya,” jelas Gusti Prabu.

Misteri Edisi 577 tahun 2014

About Iwan Lemabang
Aku hanya manusia biasa yang tak luput dari salah dan dosa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: