Bangga Jadi Wong Kito


Bangga Jadi Wong Kito

Oleh: Rosihan Arsyad
—————————————–

Anda bangga jadi wong Palembang? Yang pasti saya bangga. Ada banyak alasan, tapi memang Sumsel patut dibanggakan. Tidak ada daerah lain di Indonesia yang memiliki icon sebanyak Palembang (baca Sumsel)

• • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • •

Ada songket Palembang, jumputan Palembang, batik Palembang, pempek Palembang, kerupuk Palembang, nanas Palembang, duku Palembang. Sampai-sampai duku dari Condet pun dinamai duku Palembang agar laku dan dapat dijual mahal.

Bahkan pernah para pejabat di Jakarta heboh menggunjingkan gubernur Sumsel yang suka model, membayangkan wanita cantik yang melenggang-lenggok di catwalk. Padahal saya memang lebih suka model dibanding tekwan. Ada komedi Dulmuluk, lagu Gending Sriwijaya, Jembatan Ampera. Ada pula panganan khas Palembang seperti pindang patin, mie celor, kue delapan jam, engkak ketan, dan bolu kojo.

Palembang adalah provinsi pertama di luar Jawa yang menyelenggarakan Pekan Olahraga Nasional pada masa modern dengan sanction internasional. Artinya, penyelenggaraan PON di Palembang sesuai standar organisasi olahraga internasional.

Ada keraguan sebagian masyarakat tahun 1999 saat saya mengumumkan bahwa Sumsel akan menjadi tuan rumah PON XVI. Yang berkembang di sebagian masyarakatsaat itu memang bukan “can do spirit” tapi “dak pacak”. Masyarakat Sumsel seharus dibangun keyakinannya bahwa mereka memiliki kemampuan untuk melakukan hal besar, dan hal ini terbukti dan membanggakan kita semua.

Sumsel mencatat sejarah sebagai satu-satunya provinsi di luar Jakarta yang pernah menjadi tuan rumah SEA GAmes dan provinsi pertama di Indonesia yang sukses menyelenggarakan Islamic Solidarity Games (ISG). Entah karena banyaknya icon yang mereprestasikan Sumsel, sampai-sampai mall mewah yang hampir selesai dibangun di Palembang pun dinamakan Palembang Icon. Yang jelas dengan bangga kita mengatakan; “Wong Kito Galo”.

Pertanyaannya sekarang adalah, apakah Sumsel sudah mampu memanfaatkan semua icon dan ketenaran tersebut untuk mengangkat kesejahteraan rakyat? Sungguh, masih banyak yang harus dilakukan, mengingat saat ini masih ada penduduk miskin baik di kota maupun di desa.

Angka kemiskinan di Sumsel tidak lebih baik dari rata-rata nasional. Menurut statistik Provinsi Sumsel pada 2 Januari 2013, jumlah penduduk miskin di Provinsi Sumsel pada September 2012 sebanyak 1.042.035 orang atau sebesar 13,48 persen. Tingkat pengangguran terbuka di Sumsel hanya sebesar 5,49 persen. Tapi bila menyimak statistik 6 Mei 2012, sampai Februari 2013 lebih dari separuh penduduk Sumatera Selatan bekerja pada sektor pertanian, perkebunan, kehutanan, perburuan dan perikanan, dan sebanyak 2.435.800 orang (66 persen) pekerja di Provinsi Sumsel bekerja pada sektor informal!

Satu-satunya cara bagi pemerintah untuk menurnkan kemiskinan dan mengatasi pengangguran adalah dengan menciptakan lapangan kerja dan kesempatan berusaha. Sangat penting memberi rakyat kesempatan kerja dan berusah, karena lebih baik memberi kail daripada memberi ikan. Program pembangunanseharusnya diutamakan pada investasi di bidang infrastruktur dan litrik yang sangat penting bagi kepentingan penanaman modal. Dengan kemampuan keuangan yang terbatas, rasanya pemerintah harus menemukan prioritas pembangunan yang tepat dibanding melaksanakan program yang membuat rakyat menjadi tergantung pada pemerintah dan tidak membuat mereka mandiri.

Selain mendorong peningkatan pertanian dan perkebunan, sudah waktunya pemerintah daerah mendorong investasi di bidang industri. Investasi yang semata merupakan upaya ekstraksi kekayaan alam hendaknya dihentikan. Sumsel hanya dibuka untuk investasi yang memberi nilai tambah berupa industri pengolahan sumber daya alam yang mengandung kreativitas, inovasi dan teknologi, walaupun masih pada tahap awal dan sederhana. Kiranya, industri kreatif dengan mengangkat dan menyempurnakan beberapa icon Sumsel di atas juga merupakan prioritas.

Dalam era dimana pemerintah saat ini lebih banyak mengemudi daripada mengayuh, peranan masyarakat sangat menentukan, baik dalam partisipasi maupun pengawas pembangunan. Kebanggaan sebagai wong kito harus diterjemahkan sebagai kerjja keras, semangat tinggi, rela berkorban dan melaksanakan kewajiban seperti membayar pajak dengan baik dan menaati peraturan. Mari kita wujudkan Sumsel yang lebih membanggakan. (*)

• • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • •

Penulis adalah Laksamana Muda TNI (Purn), Gubernur Sumsel 1998-2003, President United in Diversity Forum, anggota Institute for Maritime Studies, dan Advisory Board Member Conservation International Indonesia.

• • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • •

Sumatera Ekspres, Kamis, 27 Februari 2014

About Iwan Lemabang
Aku hanya manusia biasa yang tak luput dari salah dan dosa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: