Usul Pergantian Nama Ampera


Jadi Jembatan Bung Karno

Usul Pergantian Nama Ampera
Indah: Jembatan Ampera di waktu malam. Ikon Kota Palembang ini terlihat begitu indah dengan penerangan cahaya lampu

• • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • •

PALEMBANG — Nama Jembatan Ampera, yang sudah mendunia, diusulkan diganti menjadi Jembatan Bung Karno. Adanya usulan ini terungkap dalam rapat di ruang Bina Praja Pemprov Sumsel, kemarin (25/2).

Menurut Staf Ahli Pemprov Sumsel Bidang Pembangunan, Ir Eddy Hermanto SH, rapat soal usulan pergantian nama itu digelar karena adanya surat dari petinggi Partai PDI Perjuangan , almarhum Taufik Kiemas, 27 Maret 2013 lalu. “Surat tersebut berisi usulan perubahan nama Jembatan Ampera menjadi Jembatan Bung Karno,” bebernya.

Surat itu tak hanya ditujukan kepada Pemprov Sumsel, tapi juga Pemkot Palembang. Sekedar mengingatkan, jembatan ini diresmikan oleh Letjen Ahmad Yani, pada 30 September 1965. Kemudian dinamai Jembatan Bung Karno.

Pada 1966, terjadi pergolakan anti Sukarno. Nama jembatan perang Jepang sepanjang 1.117 meter dan lebar 22 meter itu pun akhirnya diubah menjadi Jembatan Amanat Penderitaan Rakyat (Ampera). Dan kini, muncul lagi usulan mengembalikan nama jembatan itu ke nama semula. Menurut Eddy, penamaan jembatan itu ini karena berada di wilayah Kota Palembang, menjadi wewenang Pemkot Palembang.

“Setelah dipelajari, tidak ada peraturan daerah yang mengatur mengenai ini. Karenanya menjadi wewenang pemerintah kota,” ulasnya. Ditegaskannya, Pemprov Sumsel tidak dapat berpendapat banyak maupun megambil keputusan karena di luar kewenangan.

“Sesuai peraturan daerah (perda), itu wewenang Pemda (Pemkot Palembang). Jadi, silakan tanya pada pemkot,” ungkap Eddy. Karena itu, rapat kemarin tidak mendapatkan titik temu.

Kepala Satuan Non-Vertikal Tertentu (SNVT) Pelaksanaan Jalan dan Jembatan Metropolitan Palembang, Ir H Junaidi MT mengatakan, pihaknya tidak bisa mengomentari usulan nama Jembatan Ampera tersebut. “Walaupun untuk perawatannya kewenangan kami, tapi usulan nama itu menjadi tanggung jawab pemerintah daerah,” katanya.

Staf Ahli Wali Kota Palembang Bidang Pemerintahan, Politk, Hukum dan HAM, Prof Dr HM Edwar Juliartha SSos MM mengatakan, untuk mengubah nama sesuatu, baik bangunan maupun jembatan yang mengandung nilai sejarah untuk suatu daerah, harus ada perdanya.

“Tentu saja harus melalui berbagai kajian, baik akademis maupun historis terlebih dahulu oleh tim khusus yang dibentuk untuk itu,” ungkapnya. Katanya, dahulu nama jembatan kebanggaan Wong Kito ini memang Jembatan Bung Karno. Lalu, berubah nama menjadi Jembatan Ampera. Untuk pergantian nama, tidak mudah dan membutuhkan proses panjang. Apalagi bangunan monumental tersebut merupakan identitas Palembang dan Sumsel.

Jangan sampai pula pergantian nama menimbulkan polemik di masyarakat. Selain itu, perlu dipertimbangkan seberapa dekat dan penting dengan kondisi saat ini. “Ya pokoknya banyaklah yang harus dipertimbangkan. Yang pasti akan dicari yang terbaik,” tukas Edwar. (yun/ce4)

Perawatan Total Butuh Rp 100 M
• • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • •

Usul Pergantian Nama Ampera Usianya sudah 52 tahun. Namun, kondisi Jembatan Ampera yang menjadi ikon Kota Palembang itu bahkan Sumsel masih baik dan bisa bertahan beberapa tahun ke depan. Syaratnya, perlu perawatan intensif dan menyuluruh.

Untuk itu, diperlukan dana tidak sedikit. Untuk total perawatan, diperlukan setidaknya Rp 100 miliar. “Perawatan dilakukan secara bertahap, tidak bisa sekaligus karena belum ada jembatan alternatif. Kalau Ampera ditutup, maka akan terjadi kelumpuhan,” ungkap Kepala SNVT Pelaksanaan Jalan dan Jembatan Metropolitan Palembang, Ir H Junaidi MT. Kondisi itu diungkapnya dalam rapat pembahasan usulan perubahan nama Jembatan Ampera di ruang Bina Praja Pemprov Sumsel, kemarin (25/2). Diungkapnya, sejak dua tahun lalu, telah dilakukan perawatan bertahap.

“Tahun lalu, ada penelitian kondisi fisik dan perawatan Ampera dengan dana sekitar Rp 5 Miliar. Nah, tahun ini kembali dilakukan perawatan dengan alokasi anggaran Rp 12 miliar,” bebernya.

Bentuk perawatan yang dilakukan menyeluruh. Mulai dari dua tiang yang menjulang, pilar, dinding, besi, hingga lainnya. Salah satunya mencegah besi-besi yang menopang jembatan kebanggaan masyarakat Sumsel itu agar tidak korosi (karatan).

Diperlukan cat khusus yang mampu bertahan hingga 20 tahun lamanya. Junaidi mengungkapkan, tidak mungkin lagi untuk mengangkat bagian tengah Jembatan Ampera seperti dahulu. Keberadaan Ampera bukan lagi sekedar fungsi estetika, tapi penghubung antara dua daratan, Seberang Ulu dan Seberang Ilir.

“Kalau diangkat, dapat menimbulkan kemacetan parah. Lain halnya kalau sudah dibangun jembatan lain sebagai alternatif,” imbuhnya.

Ia juga mengingatkan, kendaraan yang terberat yang melintas di atas Ampera harusnya tidak boleh lebih dari 10 ton. Jika lebih dari itu, beban yang ditanggung Ampera akan berlebihan. Ini akan rawan untuk jembatan tua dengan volume kendaraan dalam kota yang semakin meningkat tiap tahunnya. “Karenanya, diperlukan adanya delapan jembatan alternatif yang menghubungkan Seberang Ulu dan Seberang Ilir,” ulasnya. (yun/ce4)

Sumatera Ekspres, Rabu, 26 Februari 2014

About Iwan Lemabang
Aku hanya manusia biasa yang tak luput dari salah dan dosa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: