Mistik hingga Money Politic


Pemilu Makin Dekat, Politisi Adu Kekuatan

Mistik hingga Money Politic

Kian dekatnya pemilu 9 April 2014, para politisi memanfaatkan apa pun agar dirinya terpilih. Bahkan dari yang berbau mistik hingga money politic. Selain untuk mendulang suara, ada juga untuk menambah rasa percaya diri mereka.

• • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • •

Tak bisa dipungkiri, sebagian masyarakat Indonesia masih mempercayai mistik. Inilah yang kerap dimanfaatkan sebagian politisi yang bakal bersaing di pemilu legislatif 9 April mendatang. Alasannya beragam, agar terpilih menjadi anggota dewan, baik tingkat kabupaten, provinsi, maupun pusat.

Bagi sebagian orang mempercayai mistik adalah hal wajar. Umumnya, mereka mendatangi orang yang dianggap pintar untuk meminta doa atau amalan. Namun, tidak sedikit dari politisi yang fokus pada langkah-langkah sesuai logika atau perhitungan ilmiah saja. Misalnya gencar sosialisasi untuk mengunjungi konstituen dan kegiatan sosial lainnya.

Pantauan Koran Ini, sejumlah orang pintar yang kerap menerima kedatangan calon anggota legislatif (caleg). Umumnya, mereka minta didoakan agar terpilih menjadi caleg pada pemilu 9 April mendatang. Seperti yang diutarakan Ds, seorang tokoh supranatural. Menurutnya, kerap didatangi politikus menjelang pemilihan caleg.

Kebanyakan mereka mminta bantuan agar masyarakat bisa terpesona dengan sang calon. Memang kata dia, rata-rata di antara mereka banyak yang lolos. Tapi, tidak sedikit yang tidak lolos karena tak mengikuti saran yang harus dilaksanakan. “Waduh, soal caleg minta bantuan sudah biasa. Tak terhitung lagi berapa orang yang datang kemari untuk minta bantuan. Alhamdulillah, selagi saya masih bisa bantu, saya bantu,” ungkap Ds.

Lain halnya dengan Bk, tokoh masyarakat yang terbilang berpengaruh di desanya ini mengaku, banyak yang mndatanginya menjelang pemilu 2014 ini. Bahkan, tidak hanya caleg yang bertarung di Sumsel saja, tapi juga antarprovinsi. “Ada caleg dari Lampung yang datang, begitu juga dari Jakarta dan sebagainya. Saat malam tertentu, banyak yang datang. Bahkan, halaman sampai penuh dengan mobil mewah,” katanya seraya mengatakan, dirinya hanya perantara, yang menentukan adalah Yang Maha Kuasa.

Sejumlah pengamat politk menilai, fenomena kepercayaan tentang perdukunan, dunia gaib, dan makhluk halus ada daam setiap bangsa dunia ini dengan versi masing-masing. Ya, politik namanya. Tak ada yang tak mungkin. Apalagi, tujuan politik adalah kepentingan. Hanya saja, sungguh disayangkan jika dalam kompetisi untuk memperebutkan suara rakyat, harus dilakukan dengan cara-cara yang di luar nalar.

Tetapi, tak semua caleg yang memiliki pandangan eperti itu (percaya dengan mistk). Artinya, banyak juga yang menggunakan cara sesuai logika. Seperti yang dituturkan Endang Fikri. Caleg DPRD Kota Palembang ini memilih turun langsung ke masyarakat menghadri pengajian ibu-ibu dan tokoh masyarakat. Ia pun tidak bergantung kepada tim sukses.

Turun langsung lebih efektif. Seperti gotong royong dan membantu warga. Sekaligus menyerap aspirasi. Saya memang memiliki tim sukses, tapi memilih terjun langsung,” katanya.

Dalam pencalegan ini. Endang tidak menggunakan konsultan, melainkan hanya meminta tanggapan teman satu partai saja. Sedangkan praktik mistik, sama sekali tidak dijalani Endang karena percaya dengan usaha dan doa. “Paling saya meminta restu dan doa kiyai atau tokoh masyarakat. Intinya, ikhtiar dan tawakkal saja,” katanya.

Masih menurut Endang, suka duga selama mencalonkan diri ini lebih kepada waktu yang tersita hampir 24 jam untuk sosialisasi. Baik datang ke rumah maupun melalui telepon. “Pencalegan jelas butuh dana, yang sudah saya laporkan saja Rp 30 juta ke KPU. Perkiraan akan lebih besar memasuki masa kampanye dan mencapai Rp 100 juta. Tidak ada dana khusus sehingga ada kekhawatiran kekurangan,” pungkasnya.

Bagaimana dengan money politic? Karena tidak menutup kemungkinan, perilaku politik uang bisa saja dilakukan oleh caleg untuk mendulang suara. Inilah yang dilansir Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK), yang mencatat adanya peningkatan potensi penggunaan politik uang dalam pelaksanaan pemilu 2014.

Berdasarkan catatan PPATK pada 2005 hingga 2012, terjadi lonjakan transaksi mencurigakan di antara para caleg. Informasi ini diungkapkan Ketua Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu), Muhammad, setelah menerima masukan dari PPATK. “Dalam riset yang mereka lakukan terkait kepemiluan, PPATK menemukan 125 persen peningkatan potensi money politic. Itu dilihat dari banyaknya transaksi mencurigakan para caleg, baik yang baru maupun yang incumbent,” ujarnya.

Menurut Muhammad, peningkatan ini diketahui setelah PPATK melakukan riset untuk membandingkan transaksi keuangan pemilu sejak tahun 2005 sampai 2012. Dari situ diketahui, laporan transaksi para caleg dan calon kepala daerah, khususnya incumbent, meningkat signifikan hingga 125 persen. Peningkatan ini yang dcatat PPATK sebagai potensi munculnya money politic.

Sayangnya, Lanjut Muhammad, Bawaslu belum secara resmi memperoleh data hasil riset PPATK itu. Karenanya, ia belum dapat menjelaskan lebih detail soal temuan itu. Muhammad hanya mengatakan, Bawaslu masih berkoordinasi dengan PPATK.

Selain hasil riset PPATK, Bawaslu juga menerima laporan dari Bawaslu Provinsi maupun Panitia Pengawas Pemilu (Panwaslu) di kabupaten/kota terkait dengan adanya money politic. “Kemungkinan upaya-upaya itu juga terjadi di daerah, jadi bukan hanya di tingkat pusat saja. Kami dapat laporan juga terjadi di sejumlah provinsi terkait tahapan pemilu kita yang sudah masuk dalam tahapan kampanye,” katanya.

Muhammad menambahkan, indikasi money politic itu terlihat dalam berbagai cara. Di antaranya melalui program-program bantuan. “Sekarang kan ada beberapa menteri yang menjadi caleg. Jadi terkait masalah penggunaan dana, kita berharap tidak mengedit-edit pengeluaran negara untuk pencalegan mereka. Dan untuk itu, kita beri perhatian lebih, selain tentunya teknis-teknis lain soal incumbent atau caleg baru yang kalau ditemukan adanya indikasi, akan kita proses,” katanya. (gir/roz/asa/ce4)

Tak Percaya, Pilih Sosialisasi
• • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • •

Beragam komentar terucap dari sejumlah caleg yang bakal bertarung di pemilu legislaitf 9 April nanti. Umumnya, mereka memilih gencar melakukan sosialisasi kepada masyarakat ketimbang percaya dengan hal berbau mistik ataupun money politic

Caleg DPR RI dari PKB, Irma Muthoharoh misalnya. Ia memilih gencar sosialisasi dengan langsung bertemu masyarakat untuk menggaet pemilih. Misalnya, dengan mnghdiri acara-acara keagamaan, pertemuan dengan tokoh masyarakat, tokoh agama, dan pemuda.

“Selain itu, sosialisasi melalui media dan atribut, seperti baleho, kalender, stker, dan lainnya,” kata Irma. Masih kata dia, dalam pencalonan ini, diniatkan sebagai bagian dari ibadah. Karena perjuangan ini bukan untuk diri sendiri, melainkan untuk masyarakat, sehingga tidak melakukan hal berbau mistik apalagi harus pergi ke dukun.

“Sebagian diri kita adalah milik umat. Oleh karenanya, saya hanya ihtiar dan berdoa serta berdzikir kepada Allah. Jika kita yakin dan sungguh-sungguh, maka penjuru pintu akan terbuka dan alam akan mengamini serta kemenangan itu ada di pihak kita,” kata Irma.

Dia juga mengaku tak menggunakan jasa konsultan politik dalam pesta demokrasi ini, karena berkeyakinan masyarakat adalah konsultan terbaik dan bisa dipercaya. Selama menjalani sosialisasi, Irma mengaku telah mengunjungi daerah terpencil di salah satu Kabupaten Muba.

Metode dengan langsung menemui masyarakat jua dilakukan caleg DPRD Provinsi Sumsel, Yudi F Bram. Menurutnya, masyarakat sudah pintar memilih mana caleg yang dekat dengan mereka dan punya kemampuan untuk masyarakat banyak. “Oleh karena itu, saya langsung turun ke masyarakat menyosialisasikan visi, misi, dan rencana program kerja ke depan,” katanya.

Sementara, Ketua DPP Partai Demokrat, Sutan Bhatoegana mengatakan, para caleg yang menggunakan jasa dukun politik tidak layak untuk dipilih. Menurutnya, caleg yang percaya pada dukun politik tidak pancasilais.

“Gak boleh percaya dukun politik, berarti dia gak pancasilais. Lewat barang itu, gak usah dipilih, bagaimana macam itu barang,” ujar Sutan dengan nada khasnya, belum lama ini.

Sutan mengimbau kepada publik agar tidak memilih caleg dan calon pejabat yang menggunakan jasa dukun politik. “Gak usah dipilih itu barang. Bagaimana seorang pemimpin percaya dukun, itu syirik,” tandasnya. (mik/roz/ce4)

Sudah Jadi Kultur
• • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • •

Dalam politik, apa pun bisa terjadi, karena kepentingan yang bicara. Untuk meraih “sesuatu,” tidak ada yang tak mungkin. Idealnya, politik harus dilakukan dengan cara santun. Terpenting, jauh dari berbau mistik ataupun money politic.

Joko Siswanto, pengamat politik mengatakan, sebenarnya praktik dukun politik itu sudah lama ada di Indonesia. Karena merupakan bagian dari kultur dan budaya bangsa sejak zaman dahulu, terutama di wilayah Jawa.

Bahkan, praktik dukun politik ini bukan cuma di wilayah-wilayah Indonesia, tetapi di negara lain juga memiliki praktik sama yang dinamakan shaman. “Zaman dahulu, dukun politik menjadi penashat spiritual para raja,” ungkap Joko.

Jelang pileg di tahun politik ini, praktik dukun politik semakin merebak. Jika dulu praktik dukun politik masih samar-samar dan tertutup, maka di zaman sekarang banyak dukun politik yang memasang iklan di media. “Bahkan, dalam pemilihan kepala desa (pilkades), calon kades mengundang para dukun sebagai penasihat spiritual,” jelasnya.

“Saya heran di zaman modern yang mengedepankan rasionalitas, justru semakin banyak timbul praktk dukun politik ini,” ucapnya. Rata-rata para caleg melakukan dua upaya untuk lolos sebagai anggota dewan. (roz/ce4)

Sumatera Ekspres, Jumat, 21 Februari 2014

About Iwan Lemabang
Aku hanya manusia biasa yang tak luput dari salah dan dosa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: