Politik Dagang, Dagang Politik


Politik Dagang, Dagang Politik

Oleh: Rosihan Arsyad
=============================

Pemilu sudah dekat. Berbagai pihak menyikapi pemilu dengan pola pikir, sikap, dan tindakan berbeda. Anggota dewan yang sedang menduduki jabatan tentu melihat pemilu sebagai kesempatan memperpanjang masa bakti. Yang belum duduk melihatnya sebagai peluang untuk mendapatkan kedudukan dan hak istimewa sebagai anggota dewan, bahkan sebagai lapangan pekerjaan, bukan wadah pengabdian.

Perlombaan menarik hati rakyat sudah dimulai, baik dengan janji muluk, muka manis, dangan iming-iming uangatau sembako, bahkan menggunakan organisasi masa menekan pemilih. Baleho, spanduk, dan billboard bertebaran, dan walaupun sudah ada aturannya, semua cenderung melanggar ketentuan.

Sebagian masyarakat melihat pemilu sebagai kesempatan untuk mendapat uang tunai tanpa bekerja dan menerima sembako gratis. Ada pula oknum yang mendekati para caleg dengan janji membawa sejumlah massa dan meminta imbalan. Ada pula yang seolah memaksa ingin menjadi tim sukses. Ujung-ujungnya tim yang sukses, calegnya gigit jari.

Semua ulah tingkah tersebut adalah konsekuensi dari sistem pemilihan langsung yang kita anut sekarang. Kita meyakini bahwa inti dari demokrasi adalah pemilihan langsung, satu orang satu suara atau one man one vote. Dalam demokrasi, memang keinginan rakyat berada di atas segalanya, sampai ada pepatah “vox populi vox dei”. Demokrasi lebih lanjut kita terjemahkan sebagai keharusan untuk melaksanakan pemilihan wakil rakyat, presiden, gubernur, bupati, atau wali kota secara langsung. Kita terlena, lupa bahwa demokrasi bukan tujuan, tetapi cara untuk mewujudkan masyarakat yang adil dan makmur.

Hasil Pemilihan Langsung
Banyak pengalaman yang menunjukkan bahwa pemilihan langsung dan prinsip majority rules sering kali pelan-pelan tapi pasti membawa akibat buruk dalam penyelenggaraan Negara. Contoh, Stalin dan Hitler setelah memegang kekuasaan, berkali-kali memenangkan pemilihan umum dengan selisih suara yang sangat besar, tentunya dengan menggunakan segala cara.

Kita tahu dari buku sejarah bagaimana mereka memerintah secara represif dan menjadi tirani. Di negara asal demokrasi yang menjadi kiblat kita, yaitu Amerika Serikat, sistem pemilihan langsung juga hanya menghasilkan pemimpin yang mediocre, biasa-biasa saja. Di Indonesia, bahkan hal yang burk terjadi.

Coba bandingkan kualitas pemerintahan Indonsia dari masa ke masa. Sekarang korupsi lebih masif, terencana dan melibatkan lebih banyak pihak. Hasil pemilu langsung, menghasilkan banyak kepala daerah yang akhirnyamenjadi tersangka dan jumlah terus berkembang.

Banyak kepala daerah menjadi seperti raja kecil, membangun dinasti dan memperkaya diri. Ada pula yang menjadi tirani dan tidak memperhatikan nasib rakyat kecil. Sepertiga pejabat di daerah sudah menjadi tersangka. Dari 33 gubernur, sudah 19 menjadi tersangka. Belum lagi mantan menteri, bahkan menteri dan anggota DPR dan DPRD yang menjadi tersangka, terdakwa, bahkan terpidana.

Dengan demikian menjadi pertanyaan bagaimana seharusnya kita menyikapi sistem pemilihan langsung yang kita anut saat ini agar membawa manfaat yang tinggi dalam mencapai tujuan bernegara.

Menyikapi Pemilu
Prinsip utama yang harus kita pegang dalam berdemokrasi adalah “Pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat”. Dari rakyat berarti yang memerintah adalah yang dipilih leh rakyat. Oleh rakyat berarti yang dipilih adalah di antara calon yang memenuhi persyaratan, kompetensi, dan integrasi untuk mencalonkan diri dan kemudian yang terpilih adalah yang terbaik.

Untuk rakyat berarti kekuasaan yang diperoleh benar-benar untuk kepentingan masyarakat, bukan kepentingan pribadi atau golongan. Masalah yang terjadi saat ini adalah masih rendahnya kesadaran masyarakat akan demokrasi. Pendidikan politik masyarakat sangat kurang, bahkan nyaris tidak ada.

Kelompok menengah yang seharusnya turut memberikan pendidikan politik pada masyarakat seolah tidak peduli, dan cenderung memikirkan diri sendiri> Media massa pun cenderung menjadi alat politik dan mengejar keuntungan sehingga tidak memberi ruang yang sama bagi setiap partai dan calon legislatif.

Yang membayar diekspose, yang tidak mampu nanti dulu. Mereka lupa fungsi hakiki pers sebagai teacher, watcher dan forum, atau pendidik, mengawasi dan sebagai tempat bertemu dan berkembangnya pendapat dan pemikiran. Dengan demikian tidak heran bila rakyat kehilangan panutan, tidak mempunyai pegangan sehingga tersesat dan bingung mengadapi pemilu.

Masih cukup banyak masyarakat yang mengartikan demokrasi sebagai kebebasan individu tanpa batas sehingga bebas berbuat apa pun, termasuk melanggar hukum, tidak perlu disiplin dan kurang bertanggung jawab. Politik uang dianggap wajar, menyebabkan yang terpilih sering bukan calon yang mumpuni.

Karena terpilih dengan memaki uang, mereka sering bertindak seperti “dagang sapi”. Suara mereka beli, sehingga berbuat sekehendak mereka, jauh dari tanggung jawab dan kewajiban melaksanakan kekuasaan untuk kepentingan masyarakat.

Rasanya sudah saatnya kita membangun kesadaran bersama bahwa demokrasi hanya akan berjalan dengan baik bila ada akuntabilitas seperti yang dikatakan seorang pakar politik: “There is one quality, perhaps above al athors, which is essential if a state is to be democratic and that is accountability”. Menurut hemat saya, inti akuntabilitas adalah tanggung jawab, keterbukaan, kejujuran, keadilan, dan kebenaran dari seluruh masyarakat.

• • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • •

Penulis adalah Laksamana Muda TNI (Purn), Gubernur Sumsel 1998-2003, President United in Divercity Forum, anggota Institute for Maritime Studies dan Advisory Board Member Conservation International Indonesia.

• • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • •

Sumatera Ekspres, Selasa, 18 Februari 2014

About Iwan Lemabang
Aku hanya manusia biasa yang tak luput dari salah dan dosa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: