Temukan Bukti Abad ke-10


Struktur Bangunan Candi dan Batu Napal,
Di Desa Lesung Batu Muda, Muratara

Temukan Bukti Abad ke-10
Gali: Tim Arkeologi Palembang, masih melakukan penggalian di Desa Lesung Batu Baru, Kecamatan Rawas Ulu, Muratara. Di perkebunan karet milik warga, kembali ditemukan struktur pondasi bangunan Candi Lesung Batu, dan Batu Napal

• • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • •

MURATARA — Balai Arkeologi Palembang, kembali menemukan sejumlah struktur pondasi bangunan Candi Lesung Batu di Desa Lesung Batu Muda, Kecamatan Rawas Ulu, Muratara. Berupa gundukan batu, dari arah selatan pondasi awal, berjarak 200 meter berukuran 8×10 meter.

Tim Arkolog yang diketuai Sondang M Silegar, bersama delapan anggotanya, menduga temuan struktur bangunan candi tersebut merupakan lokasi induk tempat peribadatan atau pemujaan bagi umat Hindu di abad ke-10. Pihaknya juga menduga, itu merupakan lokasi kompleks candi.

Lokasinya berada di pinggir jalan lintas Sumatera (Jalinsum) berjarak sekitar 500 meter dari area kebun karet milik warga, seluas dua hektare. “Kami terus melakukan penggalian ke arah selatan, yang mana ada kemungkinan lokasi merupakan komplek candi dari Lesung Batu Baru,” kata Sondang.

Selain itu, pihaknya juga menemukan gundukan struktur Batu Napal zaman megalitikum abad ke-10. Berukuran 2,60 meter di arah selatan, berjarak sekitar 400 meter dari arah struktur awal pondasi bangunan Candi Lesung Batu. Diduga Batu Napal itu digunakan sebagai tempat meletakkan alat pemujaan bagi umat Hindu dan Buddha.

“Menariknya struktur itu ada hiasan batu napal yang berlubang di bagian tengahnya. Dan kemungkinan sebagai tempat meletakan alat pemujaan,” jelasnya. Termasuk ditemukan alat tempayan kubur atau tempat jenazah dikuburkan yang merupakan peninggalan budaya pra sejarah umat Buddha di abad ke-10 di arah selatan berjarak 600 meter dari struktur pondasi awal dari struktur Candi Lesung Batu.

“Itu peninggalan budaya pra sejarah umat Buddha. Bisa saja mereka mengubur, bersamaan dengan adanya pemujaan agama Hindu,” terangnya. Sondang mengungkapkan, kegiatang penggalian dan survei yang dilakukan timnya sudah berjalan tiga hari sejak kemarin, dan direncanakan akan berjalan selama 12 hari atau dua minggu ke depan.

Pihaknya akan fokus ke tata ruang lokasi komplek candi atau bangunan induk. “Biasanya bangunan Hindu konsepnya, ada bangunan induk dan perwara. Makanya kami lakukan penggalian sebelah selatan,” ungkap dia.

Dikatakanya, proses kegiatan penggalian sudah bejalan sejak tahun 1993 di awal temuan dan laporan warga sekitar yang mengatakan adanya temuan batu candi. Langsung ditindaklanjuti dengan berkoordinasi pusat penelitian arkeologi nasional dan membuka gundukan tanah di dalamnya hingga menemukan struktur awal candi yang di tengah pondasinya terdapat Yoni atau sarana pemujaan bagi umat Hindu.

Penelitian dan penggalian berlanjut di tahun 1996. Dilanjutkan tahun 2000 Balai Arkeologi Palembang kembali melakukan penlitian dan survei lokasi. Serta melakukan penggalian sebelah tenggara daripada candi dan menemkan sebaran pragmen, tembukar dan keramik kuno sekitar abad 12 keatas. “Di 2013 hingga saat ini, kami penelitian dan membuka kembali gundukan struktur bangunan candi hingga menemukan struktur pondasi dan alat peninggalan megalitikum lain di arah selatan,” ujarnya.

sejauh ini, Sondang mengaku, pihaknya mengalami sejumlah kendala lapangan. Yakni ada beberapa penduduk yang tidak menginginkan lahannya dijadikan sebagai tempat penelitian. “Mengatasi hal itu, kami ikut sertakan mereka dalam penelitian agar mereka mengerti,” terangnya.

Sementara itu, Anida (35), pemilik kebun karet seluas dua hektare sekitar Candi Lesung Batu, mengatakan, dirinya sudah tinggal di lokasi tersebut dua tahun lalu. Selama mendiami lokasi, dirinya menemukan alat tempayan kubur yang tertanam di dalam tanah samping rumahnya. “Kami mendukung upaya penelitian yang dilakukan pemerintah. Dan tidak keberatan (adanya penelitian di lahan kebunnya, red),” kata Anida, didampingi suaminya, Abdullah (76).

Diungkapkannya, lokasi Candi Lesung Batu sering didatangi pengunjung yang datang langsung dari Jambi, Lubuklinggau, dan Bengkulu. Dimana, dia bersama suami dan seorang anaknya juga selaku pengawas lokasi yang ditunjuk oleh pemerintah. “Setiap hari hampir empat sampai lima orang yang datang ke sini untuk melihat candi,” pungkasnya. (wek/air/ce2)

Sumatera Ekspres, Senin, 10 Februari 2014

About Iwan Lemabang
Aku hanya manusia biasa yang tak luput dari salah dan dosa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: