Tahun Kuda Penuh Makna


Kulit Kuda Melayang

Tahun Kuda Penuh Makna Menurut penanggalan lunar di tahun 2014 ini adalah tahun kuda kayu yang berawal dari tanggal 31 Januari 2014 dan berakhir tanggal 18 Februari 2014. Dalam budaya Tionghoa, kuda merupakan hewan yang mempunyai filosofi dan manfaat yang sangat banyak bagi manusia, sehingga kuda merupakan hewan yang dihormati. Sejak zaman dahulu, hewan kuda ini mempunyai cerita unik di awal musim semi. Setiap musim semi setiap pemilik kuda menempelkan couplet (ri xiang qian li lu ye zou ba bai cheng) yang artinya “siang hari berjalan ribuan mil, malam hari berjalan ratusan jalur”.

Dalam melewati tahun baru Imlek pun pemilik kuda bisa memberi makan kuda rumput yang bagus untuk ikut merayakan tahun baru Imlek. Ini melambangkan betapa berharganya kuda itu untuk kehidupan manusia. Sejak zaman dahulu kuda merupakan salah satu hewan yang sangat membantu kehidupan manusia, misalnya untuk di pabrik dalam memproduksi (sheng chan), transportasi (jiao tong), perang (zhan zheng) dan lain-lain.

Mencintai dan menghormati kuda sudah menjadi budaya sejak zaman dahulu dan tradisi untuk menghormati kuda (ma shen) sejak zaman chun qiu (770-476 SM). Dewa kuda adalah Tian Si Xiang atau lebih dikenal orang dengan nama Shui Cao Ma Ming Wang. Konon menurut legenda, dewa kuda ini mempunyai empat lengan dan tiga mata sehingga dijuluki Ma Wang Ye San Zhi Yan. Dewa kuda ini juga sangat dihormati oleh pemelihara kuda (yang ma), penjual kuda (fan ma), pemakai kuda (yong ma), pembawa barang dengan kuda (tuo yun bang), toko kereta kuda (che ma dian), bahkan tentara (jun dui) dan lain-lain yang menggunakan tenaga kuda.

Pada zaman dinasti Han (han dai) setiap bulan pertama musim semi tahun lunar hari keenam (zheng yue chu liu) diperingati sebagai hari kuda (ma ri), karena pada hari ini di kalangan masyarakat mengharapkan cuaca cerah untuk memulai bekerja dengan bantuan tenaga kuda. Secara filosofi maksudnya adalah sebuah pengharapan di awal musim semi, sehingga bisa bekerja dengan baik dan lancar.

Legenda Gadis Kuda

Ada cerita rakyat tentang “gadis kuda (ma tou niang)” adalah cerita tentang gadis yang berkulit kuda. Menurut legenda, dahulu kala ada seorang laki-laki yang istrinya sudah lama meninggal dan mempunyai seorang anak gadis. Untuk mencari nafkah, laki-laki ini pergi berusaha dan meninggalkan rumah yang cukup lama.

Di rumahnya tinggal anak gadis dan seekor kuda jantan peliharaan. Waktu yang cukup lama ditinggalkan oleh ayah gadis ini, membuat suasana rumah menjadi sangat sepi. Suatu ketika, gadis ini berkata kepada kudanya: “(ni ya, ru guo neng qu ba wo de fu qin zhao hui lai. wo jiu jia gei ni zuo qi zi) yang artinya: jika kuda ini bisa pergi mencari ayah si gadis dan membawa pulang kembali ke rumah, maka gadis ini akan menikah dengan kuda.”

Setelah kuda mendengar perkataan dari gadis ini, maka segera pergi mencari ayah dari gadis ini. Sekian lama berjalan dan mencari selama tujuh hari tujuh malam, akhirnya kuda pun menemukan majikannya. Ayah dari gadis ini pun heran dan merasakan ada sesuatu yang tidak beres atau aneh, kenapa kuda miliknya bisa mencari dan menemukan dirinya.

Akhirnya laki-laki pemilik kuda dan kudanya pun pulang ke rumah dan bertemu dengan anak gadisnya. Setelah sampai di rumah, anak gadis ini pun menceritakan kepada ayahnya perihal apa yang dikatakan kepada kuda miliknya. Ayah gadis ini murka setelah mendengarkan keinginan anak gadisnya, dan mengurungnya di kamar tidak boleh kemana-mana dalam tiga hari. Kuda merasa sangat sedih dan marah, berdiri di depan jendela kamar gadis tersebut sambil menendang-nendangkan kakinya ke tanah, juga tidak mau makan dan minum. Ayah dari gadis ini pun kesal dan marah, secara diam-diam memanah kuda ini dan akhirnya kuda mati.

Setelah mati, kuda tersebut dikuliti, kulit dari kuda tersebut dijemur di depan rumah. Lewat tiga hari kemudian, gadis ini keluar rumah, melihat kulit kuda yang dijemur, betapa sedihnya gadis ini. Tidak lama berselang, angin kencang bertiup, kulit kuda melayang dan jatuh di tubuh gadis ini. Dalam sekejap gadis ini terbang ke langitbersama kulit kuda, melihat kajadian ini ayah gadis ini langsung mengejarnya.

Setelah mencari sampai tujuh hari tujuh malam, akhirnya laki-laki ini menemukan anak gadisnya di bawah pohon yang terletak di gunung Xi (Xi Shan). Tapi sayang sekali, kondisi gadis ini sudah menjadi seekor serangga yang menggeliat (ru dong) dan menggeleng-gelengkan kepalanya. Lalu kemudian, dari mulutnya keluar enang halus berwarna putih yang mengelilingi ranting pohon tersebut. Gadis yang berubah menjadi serangga ini tidak bisa lagi berbicara, dan lama kelamaan wujudnya berubah wujud menjadi serangga yang kemudian diberi nama ulat sutera (can). Pohon tempat berubahnya gadis ini menjadi serangga disebut pohon murbai (sang shu).

Sejak saat itu cerita tentang kuda dan ulat sutera tidak dapat dipisahkan. Jika dilihat dari bentuk kepala ulat sutera mirip dengan kuda, kepala ulat sutera juga sering diangkat ke atas. Cara makan ulat sutera juga sama dengan cara kuda makan rumput. Cerita ini turun temurun sehingga muncul kalimat yang menjadi suatu kepercayaan bahwa: “men qian bu zai sang, wu hou bu zai liu, yuan zhong bu zai gui pai shou (yang shu), yang artinya: depan rumah jangan menanam pohon murbai, belakang rumah jangan menanam pohon willow, di tengah rumah jangan menanam pohon poplar. (henky honggo)

Tribun Sumsel, Minggu, 2 Februari 2014

About Iwan Lemabang
Aku hanya manusia biasa yang tak luput dari salah dan dosa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: