Penghormatan Kepada Orang Tua dan Leluhur


Penghormatan Kepada Orang Tua dan Leluhur
Sembahyang: Masyarakat Tionghoa berdoa di Kelenteng 10 Ulu Palembang saat Tahun Baru Imlek 2565 yang jatuh pada 31 Januari kemarin

• • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • •

Tradisi Tahun Baru Imlek di Indonesia masih kental dengan kebiasaan masyarakat di Tiongkok. Hal tersebut dikemukakan Darwis Hidayat sebagai salah satu tokoh Tionghoa di Palembang yang menuturkan mengenai tradisi dan kebiasaan masyarakat Tionghoa di hari special tersebut.

Seperti, di pagi hari yakni tanggal 1 bulan 1 kalender Imlek atau tepat pada 31 Januari 2014 kemarin, seluruh bagian keluarga memulai aktivitas dengan sembahyang dan berdoa kepada Thien ataupun Tri Ratna di altar leluhur yang berada di rumah.

“Di altar itu, biasanya kami meletakkan buah-buahan seperti apel, jeruk dan sebagainya. Kami juga menyalakan garu dan pelita sebelum memulai aktivitas di luar rumah,” ujarna.

Usai sembahyang, masyarakat Tionghoa bersiap melakukan kegiatan Bai Gu atau sungkeman kepada orang tua, seperti anak yang sungkeman kepada ibu dan ayahnya. Dalam kegiatan tersebut, sang anak akan mengucapkan selamat Tahun Baru Imlek atau Gong Xi Fa Cai sekaligus berlutut di hadapan orang tua. Lalu, anak akan diberikan angpau oleh orang tuanya dibarengi dengan cium kening dan pipi kanan dan kiri anak.

“Kegiatan ini sebagai tanda sembah dan sujud anak kepada orang tua. Si anak juga bisa mengucapkan selamat merayakan tahun baru kepada ibu dan ayahnya. Jadi tradisi sungkeman ini sebagai adat untuk menghormati orang-orang yang disayangi dan sebagai bentuk wujud bakti anak kepada orang tuanya,” jelasnya.

Selanjutnya, kata Darwis, keluarga di rumah secara bersama-sama akan mendatangi rumah keluarga yang paling dituakan, kakek nenek atau kerabat lainnya. Nah, kata Darwis, setelah prosesi sungkeman itu, satu keluarga biasanya (khusus agama Buddha) akan menuju ke wihara atau kelenteng untuk bersembahyang sekaligus silaturahmi dengan pengurus wihara.

“Sebagian masyarakat juga membagikan angpau kepada anak-anak yatim dan jalanan yang dianggap cocok menerimanya,” tandasnya. (wia/ego/ce1)

Tradisi Angpau
• • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • •

Dari Permen hingga Uang Genap
Pembagian angpau atau hong bao saat momen Imlek menjadi hal yang ditunggu masyarakat Tionghoa. Pasalnya, hal tersebut sudah kebiasaan yang dilakukan setiap tahun dan merupakan kebahagiaan, khususnya anak-anak dan remaja yang belum menikah.

Tokoh masyarakat Tionghoa Tjik Harun menuturkan, angpau adalah bingkisan dalam amplop merah yang biasanya berisikan sejumlah uang sebagai hadiah menyambut Tahun Baru Imlek. “Sebenarnya angpau tidak hanya diberikan pada tahun baru Imlek saja karena angpau melambangkan kegembiraan dan semangat yang akan membawa nasib baik. Sehingga angpau juga ada di acara-acara penting seperti pernikahan, ulang tahun, masuk rumah baru dan lain-lain yang bersifat suka cita,” ujarnya.

Namun, kata dia, angpau memiliki sejarah yang tidak seperti saat ini kebanyakan. Harun mengatakan, angpau biasanya berupa manisan(permen), bonbon dan makanan. Namun, seterusnya berkembang hingga akhirnya menjadi beralih menjadi uang tunai.

“Uang tunai dianggap mudah dan simpel karena bisa dimanfaatkan untuk membeli beragam kebutuhan. Dibanding jika diberikan makanan karena bisa dirasa tak sesuai keinginan,” ungkapnya.

Jumlah uang dalam sebuah angpau berbeda-beda, angka ganjil biasanya dipakai untuk kematian, maka untuk acara yang bersifat suka cita angpau biasanya berisi angka genap, kecuali angka 4. Karena angka 4 dalam mandarin kalau dilafalkan berarti “mati”, maka jumlah uang dalam amplop angpau tidak berisi 4. “Kalau angka 8 terasosiasi untuk keberuntungan. Pelafalan angka 8 berarti kekayaan. Makanya jumlah uang dalam angpau seringkali kelipatan 8, seperti Rp 18.000, Rp 28.000, dan Rp 80.000,” tuturnya.

Kata Harun, angpau adala pemberian wajib dan yang berhak memberikannya orang yang telah menikah karena pernikahan dianggap peralihan dari anak-anak ke dewasa, dan ada anggapan bahwa orang yang telah menikah dan telah mapan secara secara ekonomi. (wia/ego/ce1)

Makan Malam saat Imlek
• • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • •

Suka Cita, Kumpul Bersama Keluarga
Perayaan Tahun Baru Imlek yang jatuh pada 31 Januari kemarin dilaksanakan dengan suka cita oleh masyarakat Tionghoa di Indonesia, khususnya Palembang. Mereka merayakan dengan beragam tradisi yang sudah ada, mulai dari sembahyang hingga makan malam bersama.

• • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • •

Tradisi dalam Tahun Baru Imlek begitu banyak, mulai dari sembahyang dan memberikan persembahan di altar leluhur, menyalakan lampion, hingga makam malam bersama keluarga. Biasanya di momen Imlek semua keluarga akan kembali ke rumah orang tua untuk berkumpul dan mempererat tali silaturahmi.

Sama halnya di Palembang, anak atau bagian keluarga yang belajar atau bekerja di daerah lain akan pulang kampung untuk bertemu anggota keluarganya. “Untuk merayakan momen Imlek sekaligus berkumpulnya semua anggota keluarga, maka masyarakat Tionghoa melakukan tradisi makan malam bersama, baik di rumahnya sendiri atau di restoran lain,” ujar Tjik Harun, salah satu tokoh Tionghoa di Palembang.

Dikatakan Harun, makan malam itu dilakukan pada 30 Januari atau hari terakhir di bulan 12 dalam penanggalan tahun Lunar. Malam Tahun Baru adalah malam khusus yang disebut juga chuxi yang dalam bahasa Tiongkok berarti menghapus yang lama dan jahat juga berdoa untuk menyongsong kedatangan tahun baru yang lebih baik.

Makan malam saat malam tahun baru bersama keluarga itu sangat penting. Maknanya sebagai ungkapan kebersamaan dan keutuhan keluarga dalam menyambut tahun baru Imlek,” ungkapnya. (win/ego/ce1)

Sumatera Ekspres, Sabtu, 1 Februari 2014

Advertisements

About Iwan Lemabang
Aku hanya manusia biasa yang tak luput dari salah dan dosa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: