Di antara Kebersamaan dan Kemeriahan Tahun Baru Imlek


Lestarikan Tradisi

Di antara Kebersamaan dan Kemeriahan Tahun Baru Imlek
Memukau: Aksi barongsai yang memberi daya tarik tersendiri setiap ada kegiatan, termasuk dalam momentum Tahun Baru Imlek

Tahun Baru Imlek (Sincia) menjadi bagian warga Tionghoa. Bahkan, menjadi hari paling penting di antara hari lainnya dalam tradisi Tionghoa. Bahkan dari masa ke masa, ada kebiasaan yang melekat dalam perayaan Cinsia yang tetap dipertahankan

• • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • •

Tradisi tersebut masih dipercaya dan dilakukan hingga saat ini. “Kami punya kepercayaan dan tradisi turun-temurun. Jadi walaupun tidak berada langsung di Tionghoa, namun jiwadan keinginan melestarikan tradisi itu selalu tetap ada,” ujar salah satu tokoh Tionghoa, Tjik Harun.

Tradisi menyambut Sincia biasanya dimulai 15 hari sebelumnya. Di mana, ibu rumah tangga mempersiapkan diri dengan membersihkan rumahnya dari debu, dan memperbaharui perabot rumah tangga yang sudah rusak maupun mengecat ulang rumah agar tampak lebih segar dan bersih.

“Membersihkan rumah memiliki arti untuk membersihkan segala ketidakberuntungan dan nasib buruk dari rumah rumahnya. Ini menandakan keinginan dan doa pemilik rumah untuk meninggalkan hal-hal buruk di masa lalu dan menyambut kedatangan masa depan lebih baik,” katanya.

Menempelkan puisi Cinsia (chun lian) juga masuk dalam tradisi yang dipasang saat momen Imlek. Chun lian adalah sepasang kalimat berbentuk puisi yang ditempelkan samping kiri dan kanan pintu, tiang, jendela maupun dinding. “Kalimat itu berisi tulisan penuh dengan harapan dan hikmat. Kertas yang dipakai untuk menuliskan chun lian biasanya berwarna merah dengan tulisan warna emas maupun hitam di atasnya,” tuturnya.

Bagi orang-orang yang merayakan Sincia, biasanya menyadari untuk tidak tidur pada malam itu. Ini merupakan salah satu tradisi yang dilakukan dalam menyambut Sincia. Dijelaskan, setelah makan malam bersama, semua anggota keluarga berkumpul dan mengobrol dengan santai menunggu detik-detik pergantian tahun dengan suka ria.

“Di sini ada dua arti yakni bagi orang yang sudah lanjut usia, tidak tidur pada malam Sincia menandakan mereka sudah melewati tahun yang lama dan harus bersyukur serta menghargai waktu yang akan datang. Sedangkan pemuda dan anak-anak, untuk mendoakan supaya orang tuanya panjang umur,” bebernya.

Selain itu, ada juga tradisi saling mengunjungi (pai nian). Biasanya pada hari Sincia, setiap orang bangun pagi dan memakai pakaian baru, kemudian berkunjung ke rumah-rumah saudara dan teman-teman, mengucapkan kata-kata penuh harapan.

Nah, lanjut Harun, biasanya generasi yang lebih muda akan melakukan kunjungan ke keluarga ataupun saudara-saudaranya yang lebih tua untuk memberikan hormat. Tradisi yang paling penting, yakni makan bersama keluarga (tuan yuan fan). Malam Sincia merupakan malam berkumpulnya semua angota keluarga dan makan bersama. Salah satu makanan khasnya yaitu kue keranjang yang dibuat dalam berbagai ukuran dan disusun dalam keranjang.

Bagaimana dengan pengamanan? Kabid Humas Polda Sumsel, Kombes Pol Djarod Padakova mengaku siap menjaga perayaan Imlek. Aparat dari Polda Sumsel nanti akan mengerahkan tiga Satuan Setingkat Kompi (SSK) Brimob Polda Sumsel guna mengamankan perayaan Imlek yang jatuh pada 31 Januari 2014 nanti. (wi/cj1/ce5)

Momen Berkumpul Bersama Keluarga
Momen Tahun Baru Imlek dijadikan masyarakat Tinghoa sebagai sarana berkumpul bersama keluarga. Bahkan, karena dijadikan momen spesial, anggota keluarga yang berada di luar kota pun rela pulang ke rumah orangtuanya demi bisa berkumpul.

Hermanto Wijaya, salah satu tokoh Tionghoa menuturkan, ia pun memanfaatkan momen Tahun Baru Imlek untuk bisa menyatu dengan keluarganya. Seperti diketahui, Hermanto di Palembang menetap dengan sang istri, Siswati Wijaya.Sementara itu, tiga anaknya yakni Frengki Hermanto, Reni Wijaya, dan Agus Karya Wijaya berada di Jakarta. “Mereka sedang sekolah dan kuliah, jadi saya dan istri, di Imlek tahun ini akan merayakannya di Jakarta. Bisa bertemu anak-anak, makan bersama dan lain-lain,” ujar pria bernama mandarin Kwee Kian Hoa itu.

Baginya, Tahun Baru Imlek di 2014 jatuh pada 31 Januari nanti merupakan hari pertama di bulan pertama berdasarkan kalender Tionghoa, sekaligus merayakan datangnya musim semi. “Kami selalu melestarikan tradisi yang telah turun-temurun. Sama dengan yang lain, kami jaga akan mempersiapkannya dengan merencanakan kumpul dengan keluarga di satu rumah di sana (Jakarta),” ungkapnya.

Dijelaskan Hermanto, momen Imlek dimulai pada tanggal 30, bulan ke 12 atau 31 Januari 2014 dan berakhir pada tanggal 15 bulan pertama (Cap Go Me) atau 14 Februari mendatang. Ia pun melakukan tradisi yang biasa dijalani seperti sembahyang Imlek, sembahyang kepada Thien, dan perayaan Cap Go Me. Tujuan dari persembahyangan ini adalah sebagai wujud syukur dan doa harapan agar di tahun depan mendapat rezeki lebih banyak, untuk menjamu leluhur, dan sebagai sarana silaturahmi dengan kerabat dan tetangga. Masih kata dia, Imlek merupakan momen pertemuan seluruh anggota keluarga sekali dalam setahun. (wia/ce5)

Percantik Tempat Ibadah
Tahun Baru Imlek 2.565 jatuh pada 31 Januari nanti. Sejumlah persiapan pun terus dilakukan pengurus-pengurus tempat ibadah di Palembang. Seperti, salah satunya Keleteng Chandra Nadi atau biasa disebut Kelenteng Dewi Kuan Im di 10 Ulu Palembang.

Ketua Majelis Rohaniawan Tridharma Indonesia Komda Sumsel Chandra Husein menuturkan, ia dan seluruh pengurus kelenteng tengah bersiap membenahi serta mempercantik tempat ibadah tersebut demi member kenyamanan kepada umat lainnya.

“Kami sedang melakukan pembershan di sekitar kelenteng, pengecatan kembali pagar-pagar, hingga pintu gerbang, membersihkan altar dewa, dan menambah perlengkapan sembahyang,” ujar Chandra. Diakatakan, tahun baru Imlek adalah waktu yang tepat untuk bersyukur kepada sang pencipta, serta berdoa dan memohon perlindungan, kesehatan, keselamatan, dan kebahagiaan di hari mendatang.

Karenanya, sebagai salah satu tempat ibadah, kelenteng tersebut akan dibersihkan kembali dan dibuat senyaman mungkin. Pihaknya juga memasang 2.0000 lampion merah di seputar kelenteng, sebagai tanda untuk memeriahkan momen Imlek tersebut.

Adapun jadwal kebaktian tahun baru Imlek, seperti pada 30 Januari pukul 22.00 WIB akan ada ritual pertobatan menyambut tahun baru Imlek 2.565. Kemudian pada 31 Januari pukul 10.30 WIB semua umat akan melakukan ritual puja persembahan kepada Buddha. (wia/ce5)

Buah Nada Diburu
Di antara Kebersamaan dan Kemeriahan Tahun Baru Imlek Menjelang perayaan Imlek yang jatuh 31 Januari nanti, sejumlah pedagang buah di Metropolis mengaku dagangannya, terutama buah naga, diburu konsumen yang mayoritas masyarakat Cina.

“Seperti tahun sebelumnya, kalau menjelang perayaan Imlek, pasti permintaan buah naga meningkat. Bahkan melebihi 100 persen dari hari biasanya,” kata Adi, salah seorang pedagang buah di Pasar Km 5.

Ningsih (56), penjual buah yang ada di Pasar Cinde mengatakan. “Menjelang Imlek, permintaan buah naga biasanya mengalami peningkatan sekitar 50 persen dari hari biasa,” katanya. Hanya saja, sekarang stok buah banyak kosong karena bencana banjir yang terjadi si sejumlah wilayah.

“Karena banjir, jadi pedagang buah dari pusat sulit mengirimkan stok buah. Kami pun terpaksa menjual buah seadanya, sekarang saja stok buah naga hanya sedkit,” katanya. (cj6/ce1)

Sumatera Ekspres, Jumat, 24 januari 2014

About Iwan Lemabang
Aku hanya manusia biasa yang tak luput dari salah dan dosa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: