Setop Berlayar Lima Hari


Setop Berlayar Lima Hari
Terombang Ambing: Sebuah perahu nelayan tampak terombang-ambing oleh ombak besar di Selat Bangka, kemarin siang. Hingga 25 Januari, ombak perairan ini diprediksi 4-5 meter

PALEMBANG — Ekstrimnya cuaca di perairan Selat Bangka membuat aktivitas pelayaran dari Tanjung Api-Api (TAA) menuju Tanjung Kalian, Muntok (Bangka) terpaksa dihentikan. Penyetopan berlangsung lima hari, mulai hari ini (21/1) sampai 25 Januari mendatang. “Larangan berlayar itu sesuai maklumat yang dikeluarkan syahbandar hari ini (kemarin),” ungkap Kepala Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD) Penyelenggaraan dan Pembinaan Angkutan Laut, Sungai Danau, dan Penyeberangan (PPALSDP) Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informasi (Dishubkominfo) Sumsel, Mangasi Sinaga SE SH MM, kepada koran ini, kemarin.

Menurut Mangasi, pelayaran terpaksa dihentikan untuk sementara waktu karena kondisi cuaca begitu ekstrim. “Bahkan gelombang tingginya mencapai empat meter, malah bisa lebih. Kami tidak mau ambil risiko,” katanya kepada koran ini.

Seluruh penumpang yang menurut rencana akan diberangkatkan kemarin terpaksa pulang ke rumah masing-masing. Kata Mangasi, pihaknya tidak terlalu memikirkan nilai kerugian yang dialami lantaran tugas mereka memberikan pelayanan kepada masyarakat. “Di sini tidak menghitung untung rugi karena sebagai sebuah instansi, kami berorientasi pada pelayanan publik. Calon penumpang juga mengalami kerugian akibat penundaan jadwal keberangkatan ini,” bebernya.

Kepala Pelabuhan TAA sudin Saputra menambahkan, pihaknya telah mendapatkan maklumat dari syahbandar terkait larangan berlayar tersebut. “Kami tidak bisa berbuat banyak karena harus mengikuti regulasi yang ada.”

Hanya saja, cuaca selalu berubah-ubah. Ada kemungkinan diluar prediksi manusia. “Kami berharap kondisi sekarang bisa membaik dengan cepat,” cetusnya. Pantauan wartawan Sumatera Ekspres, ombak di perairan Selat Bangka memang sangat tinggi.

KMP Jembatan Musi I dengan kapasitas berlayar dari Tanjung Kalian sekitar pukul 14.00 WIB harus terombang-ambing di lautan dan berjuang melawan ombak tinggi. Air hempasan ombak masuk melalui sisi depan kapal. Butiran air sampai mengenai penumpang di dalam kapal.

Nayla, seorang penumpang kapal feri itu mengungkapkan, biasanya penumpang cukup ramai saat cuaca normal. “Mungkin sepi seperti ini banyak yang takut berangkat karena ombaknya tinggi,” katanya.

Nakhoda KMP Jembatan Musi I, Matius, mengatakan, pihaknya telah mendapatkan arahan tidak hingga 25 Januari. “Kemungkinan pada 26 Januari baru berlayar lagi,” terang dia.

Dengan tidak berlayar, Matius mengaku ada hal positif yang ia dapatkan. Setidaknya ada waktu liburan. “Ini saya jadi libur dan kebetulan kontrakan ada di Palembang. Jadi bisa beristirahat,” pungkasnya.

Dalam maklumat pelayaran yang dikeluarkan Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan Kelas II Palembang, disebutkan pada 20-25 Januari akan terjadi angin kencang, hujan lebat disertai petir dan gelombang tinggi di perairan Indonesia.

Khusus untuk perairan Kepulauan Bangka Belitung (Babel), ketinggian gelombangnya 4-5 meter. “Sehubungan dengan perkiraan cuaca tersebut, diintruksikan kepada nakhoda kapal agar menunda keberangkatan,” kata Kepala Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan Kelas II Palembang, Jeffry Tondang, dalam maklumatnya.

Kepals Swksi (Kasi) Teknis UPTD Penyelenggaraan dan UPTD Penyelenggaraan dan Pembinaan ALSDP Dishubkominfo Sumsel, Fahri, mengatakan, informasi terbaru tentang larangan barlayar ini mereka dapatkan dari syahbandara pukul 14.00 WIB, kemarin (20/1).

Meski begitu, pihaknya tetap standby di pelabuhan. “Tidak ada petugas yang pulang, kami tetap bekerja seperti biasa. Mungkin saja ada pemberitahuan berikutnya,” ungkapnya.

Ada tiga kapal feri yang diberangkatkan dari Pelabuhan TAA, kemarin. Yakni KMP Srikandi berangkat pukul 04.00 WIB, KMP Permata Lestari berangkat pukul 06.00 WIB, dan terakhir KMP Mulia Nusantara berangkat pukul 09.00 WIB.

Saat koran ini tiba bersama penumpang lain di Pelabuhan TAA, suasana ruang tunggu bagian atas pelabuhan sepi. Tidak terlihat ada aktivitas yang berarti. Beberapa toko yang biasa buka 24 jam juga memilih tutup sementara. Begitupun dengan halaman parkir yang biasa dipenuhi truk maupun mobil pribadi tadi malam terlihat lengang. (rip/uni/ce1)

Sumatera Ekspres, Selasa, 21 Januari 2014

Advertisements

About Iwan Lemabang
Aku hanya manusia biasa yang tak luput dari salah dan dosa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: