Pasang, Air Musi Naik 3,2 Meter


56 Miliar Kubik Air Lari ke Sungai-Laut

Pasang, Air Musi Naik 3,2 Meter
• Pasang: Air Sungai Musi di kawasan Ampera naik cukup tinggi dibanding biasanya. Tiang-tiang Plaza BKB yang biasa terlihat jelas, kini terendam

• Banjir: Ruas jalan di kawasa Pegayut terendam air, menyulitkan kendaraan melintas. (foto bawah) Paparan BMKG, awan hujan menaungi sebagian besar wilayah Indonesia

PALEMBANG — Banjir di beberapa daerah hulu Musi disikapi cepat Pemprov Sumsel. Kemarin (20/1), digelar rapat terpadu dengan tim dari Pemkot Palembang, Balai Besar Wilayah Sungai Sumatera (BBWSS) VIII, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) serta berbagai pihak terkait.

Rapat dipimpin Asisten II Bidang Ekonomi, keuangan, dan pembangunan Pemprov Sumsel, Ir H Eddy Hermanto SH. Dalam rapat itu, Kepala Pappeda Kota Palembang, Safri H Nungcik Dipl HE, mengatakan, saat pasang ketinggian air di muara Sungai Musi naik hingga 3,2 meter. Ia berharap curah hujan tidak lebih tinggi dari saat ini.

“Kalau ditambah hujan deras, bisa-bisa naiknya lebih dari itu,” bebernya. Naiknya ketinggian air itu sudah sedikit turun dari sebelumnya yang mencapai 3,7 meter. Kata Safri, mengurangi genangan air, saat ini Pemkot Palembang sedang membangun kolam retensi di dua titik, yakni di kawasan simpang Patal (belakang Sekolah Kusuma Bangsa) dan Tanjung Sari.

Menurutnya, dibutuhkan 48 kolam retensi agar Palembang bebas banjir. “Sekarang yang sudah ada baru 20 kolam retensi,” ucapnya. Karena itu, mulai 2015 ada rencana untuk membuat kolam-kolam penampungan air di tiap kelurahan. “Mana tanah kosong atau daerah rawa konservasi akan ditingkatkan statusnya menjadi kolam penampungan,” imbuh Safri.

Kepala Balai Besar Wilayah Sungai Sumatera (BBWSS) VIII, Ir Bistok Simanjuntak Dipl HE, menjelaskan, potensi air di wilayah Sumsel per tahun mencapai 66,95 miliar kubik. “Yang digunakan hanya 13 persen, untuk irigasi delapan persen lainnya untuk rumah tangga, kota dan industri,” katanya.

Dengan kata lain, ada 89 persen atau sekitar 56 miliar kubik air yang dimanfaatkan. Nah, air inilah yang kemudian mengalir ke sungai dan laut. Panjang sungai di Sumsel sekitar 750 km. Ada sembilan anak sungai yang juga mengalirkan airnya ke Sungai Musi.

Kata Bistok, saat ini air laut naik tinggi (pasang), air sungai dan anak-anak sungai tidak bisa masuk, maka terjadilah banjir. Khususnya di daerah sepanjang pinggiran aliran sungai. Kondisi akan semakin parah jika curah hujan tinggi. “Sebagai contoh, air Sungai Komering rata-rata debit 300 milimeter kubik. Tapi jelang Desember naik hampir 1.000 milimeter kubik,” imbuhnya.

Pihaknya tidak mungkin membuat tanggul sepanjang sungai. Satu anak sungai saja panjangnya 200-300 kilometer. Meski begitu, bukannya tidak ada program dari BBWSS VIII untuk menekan dampak banjir di wilayah Sumsel. “Kami akan buat 13 waduk. Itu program kerja sampai 2030,” ungkap Bistok.

Setidaknya waduk-waduk itu akan mampu menampung sekitar 800 juta meter kubik air yang tidak termanfaatkan. BBWSS VIII juga akan membangun kolam retensi di kawasan muara Sungai Bendung. Untuk membebaskan lahan sekitar satu hektare, diperlukan dana yang cukup besar.

Untunglah, dari Pemkot Palembang siap membantu Rp 10 miliar dan Pemprov Sumsel mengalokasikan dana Rp 34 miliar. Kata Bistok, di kawasan kolam retensi itu akan dipasang enam pompa air. Dengan itu, genangan di kawasan Veteran, PTC dan sekitarnya dapat ditarik ke kolam retensi. “Itu membuat banjir teratasi sekitar 30-40 persennya,” cetusnya.

Dengan adanya kolam retensi dan pompa itu, genangan air yang selama ini bertahan lama, bisa habis hanya dalam waktu 1-2 jam saja. Mengantisipasi banjir, BBWSS VIII juga memiliki portable water pump 16 unti dengan kapasitas 10 meter kubik per jam. Ada juga mobil pump dengan kapasitas 250 meter kibuk per jam.

“Kami punya 1.490 kawat beronjong untuk menahan longsor, perahu karet enam unit dan lainnya. Kalau dibutuhkan, bisa dipakai,” bebernya. Bistok juga mengungkap rencana pembangunan kolam retensi di kawasan simpang bandara yang akan bekerja sama dengan Pemkot Palembang. (tha/ce1)

Curah Hujan Tinggi sampai April
Kepala Stasiun Klimatologi Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Kelas II Kenten, M Irdham, mengungkapkan, curah hujan tinggi yang melanda Sumsel diprediksi akan terus terjadi hingga April mendatang. Menurutnya, kondisi ini hampir sama dengan tren tiga tahun terakhir.

“Tiga tahun terakhir trennya begitu. Biasanya, curah hujan tinggi itu Desember, Januari, Februari dan berakhir Maret. Ini malah sampai April nanti tetap tinggi,” bebernya.

Namun ada sedikit “keanehan” yang harus jadi pemikiran bersama. Kata Irdham, dibandingkan tahun lalu, curah hujan saat ini justru lebih rendah, “Tapi kok dampaknya seperti banjir yang terjadi malah lebih parah,” tuturnya. Ada banyak faktor yang mungkin jadi penyebabnya. Seperti gundulnya hutan di hulu sungai, penimbunan rawa dan lain sebagainya.

Tingginya curah hujan saat ini karena pengaruh suhu laut naik dan hangat. Terjadi penguapan tinggi sehingga awan hujan pun melingkupi udara di atas wilayah Sumsel, Sumatera, bahkan sebagian besar Indonesia. “Curah hujan saat ini rata-rata 201-300 milimeter. Bahkan April nanti diprediksi 301-400 milimeter,” imbuh Irdham.

Gelombang besar, seperti di perairan Selat Bangka saat ini karena imbas angin kencang. Kecepatan angin saat ini terdeteksi mencapai 20 knot. Padahal, idealnya hanya 5-10 knot. Ada dua badai yang mengintai saat ini, yakni badai ling-ling di utara dan badai jun di selatan, tepatnya timur laut Australia. “Kondisi sekarang kategori waspada. Hujan sebarannya merata,” tukasnya. (tha/ce1)

Buffer Stock per Daerah 5 Ton Beras
Kepala Dinas Sosial (Dinsos) Sumsel, Drs H Apriyadi MSi, mengungkapkan, pihaknya sudah mengantisipasi dampak dari bencana, termasuk banjir di wilayah Sumsel. “Tiap daerah sudah siap buffer stock 5 ton beras,” katanya.

Kesiapan ini di luar cadangan beras pemerintah kabupaten/kota, masing-masing 100 ton. Sedangkan untuk Pemprov Sumsel, mencapai 200 ton. Katanya, hasil pantauan lapangan personel Tagana, mulai terjadi banjir di kawasan Petaling.

Penyebabnya, pertemuan air dari Sungai Batanghari Leko dan Sungai Musi. Palembang harus waspada. Kata Apriyadi, bukan tidak mungkin dalam dua hari ke depan banjir tersebut mencapai wilayah Palembang. “Kawasan Kemas Rindo (Kertapati) harus siap-siap,” ungkapnya.

Sebelumnya, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumsel telah menggelar berbagai rapat mengantisipasi bencana alam di Sumsel. Selain rapat lintas sektor, juga telah digelar apel siaga bencana, khususnya banjir dan longsor. Terhitung 1-20 Januari 2014, sudah ada 24 kasus bencana yang terjadi di Sumsel. Sebanyak 15 kasus di antaranya adalah banjir. Asisten II Bidang Ekonomi, Keuangan dan Pembangunan Pemprov Sumsel Ir H Eddy Hermanto SH, mengatakan, dari rapat terpadu tersebut telah diketahui persiapan dinas/instansi terkait di Sumsel. “Masing-masing telah bersiap. Jika kekurangan perahu karet tahu harus ke mana. Kalau butuh buffer stock Dinsos sudah siap dan lainnya,” beber Eddy.

Diketahui pula kalau Pemkot Palembang telah bersiap mengantisipasi banjir kiriman dari hulu. Pemprov hanya meminta program kerja yang sudah direncanakan, salah satunya pembangunan kolam retensi segera dilaksanakan. “BBWSS, Dinas PU sudah siap. Dana juga telah kami alokasikan, tolong segera dilaksanakan agar ada manfaatnya,” tukasnya. (tha/ce1)

Sumatera Ekspres, Selasa 21 Januari 2014

About Iwan Lemabang
Aku hanya manusia biasa yang tak luput dari salah dan dosa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: