Pakai Senpira, Pidana Menanti


Pakai Senpira, Pidana Menanti PALEMBANG — Ulah oknum polisi “koboi,” Bripda MH yang memaninkan senjata api (senpi) hingga terjatuh dan meletus, pelurunya mengenai betis kanan cleaning service RS RK Charitas, Erbudi Agus Prihantono (38), pada Rabu petang (15/1), berbuntut panjang. Pasalnya, selain ancaman sanksi disiplin dan pidana atas kelalaiannya membuat orang lain terluka, ternyata senpi yang dimilikinya belakangan diketahui rakitan alias ilegal.

Dimana sesuai Pasal 1 Ayat 1 UU Darurat No 12/1951 tentang Senpi, oknum polisi tersebut terancam hukuman mati atau hukuman penjara seumur hidup, atau hukuman penjara 20 tahun bagi yang membuat, menerima, memperoleh/menyerahkan, menguasai, membawa, memiliki, menyimpan, mengangkut, menggunakan senpi, amunisi atau bahan peledak tanpa hak.

“UU Darurat Nomor 12 Tahun 1951 tentang Kepemilikan Senpi, jelas dikenakan dengan ancaman pidana penjara di atas 10 tahun. Belum lagi kelalaian yang menyebabkan orang lain terluka, tanpa menunggu delik aduan dari korban, bisa langsung dipidanakan,” tegas Kapolresta Palembang, Kombes Pol Sabaruddin Ginting SIk MSi, kepada awak media, kemarin (16/1).

Sekedar mengingatkan, saat kejadian Rabu (15/1), sekitar pukul 15.00 WIB, oknum Dalmas Satuan Sabhara Polresta Palembang itu sedang membesuk keluarganya di lantai II Sal Kebidanan RS RK Charitas Palembang. Diduga, oknum polisi itu memain-mainkan senpinya hingga dan meletus. Pelurunya muntah mengenai betis kanan korban Budi yang tengah bekerja.

Ginting menegaskan, Bripda MH kini sudah ditahan di sel provos. Untuk kasus pidananya, penyidik Satuan Reskrim sudah memintai keterangan saksi dari rumah sakit, keluarga pelaku. “Segera telah berkas lengkap, akan diajukan pidananya. Sementara untuk disiplin dan kode etik, masih menunggu proses lebih lanjut,” ucap Ginting, yang tampak kesal dengan ulah anak buahnya itu.

Dari catatan kepolisian, pelaku Bripda MH baru satu tahun empat bulan berdinas sebagai anggota Polri. Begitu selesai pendidikan di SPN Betung, dia berdinas di Dalmas Direktorat Sabhara Polda Sumsel. Sempat ditugaskan ke Kabupaten Muara Enim, bawah kendali operasi (BKO) pengamanan pemilihan gubernur (pilgub) Sumsel beberapa waktu lalu.

Di Kabupaten Muara Enim itulah, dia mengaku membeli senpi rakitan itu seharga Rp 3 juta. Informasinya, senpi rakitan itu terdapat sebutir peluru amunisi kaliber 9 mm. Baru empat bulan terakhir ini, Bripda MH bertugas di Dalmas Satuan Sabhara Polresta Palembang. “Sebagai (anggota, red) Dalmas, ia tak dibekali senpi. Hanya tongkat dan tameng saat menghadapi aksi massa. Untuk hal ini, kami tentu sangat menyayangkan. Apalagi untuk gagah-gagahan atau tidak, masih didalami,” sesal Ginting.

Di sisi lain, lanjut Ginting, untuk biaya perawatan korban, pihaknya akan bertanggung jawab. “Secara institusi, kami akan memberikan santunan biaya perawatan. Meski di samping itu juga, telah dilakukan oleh pihak keluar pelaku,” jelasnya. Informasi lainnya, pascainsiden polisi “koboi” itu, sempat diamankan anggota Intel Kodam II Sriwijaya yang kebetulan berada di lokasi kejadian. Sempat pula terlibat adu mulut, tak lama kemudian datang anggota Polsekta IT I menyerahkan pelaku ke Mapolresta Palembang.

Dikomfirmasi soal informasi tersebut, Kasi Propam Polresta Palembang, AKP Iksan SH, enggan menjelaskannya secara gamblang, termasuk tahanan pemeriksaan terhadap pelaku. “Ada hukumannya, dan kami akan buka (hasil pemeriksaan, red) secara transparan kepada teman-teman media,” akunya. Sementara pascakejadian, Iksan sempat memberikan keterangan, pelaku masih dalam pengejaran. Identitasnya belum diketahui. Padahal, malam itu pelaku sudah diamankan di ruang provos.

Ditemui di ruang Pavilium Yosep, kamar nomor 2 tempatnya dirawat, korban Agus mengaku tidak tahu kejadiannya karena begitu cepat. “Waktu itu aku lagi mengepel, tibo-tibo ado suaro letusan dan kaki aku keno peluru,” ucap korban yang kemarin tampak masih syok.

Kakak korban, Budi (43), menambahkan, saat adiknya sedang mengepel lantai di Sal Kebidanan atau Pavilium Maria itu, datang okmun polisi tersebut membesuk keluarganya. “Sembari memainkan pistol, tibo-tibo pistol yang dimainkan polisi itu jatuh dan meledak. Pelurunyo keno semen, terus mental keno betis kaki kanan adik aku,” jelas Budi.

Dijelaskan Budi, adiknya bekerja sebagai cleaning service di RS RK Charitas sejak 12 tahun. “Polisi itu sempat bawa adik aku ke IGD RS RK Charitas. Pas dio nak pergi diamankan satpam rumah sakit, terus dateng anggota Provos Polda ke sini (RS RK Charitas, red),” ujarnya. (cj1/aja/air/ce4)

Sumatera Ekspres, Jumat, 17 Januari 2014

About Iwan Lemabang
Aku hanya manusia biasa yang tak luput dari salah dan dosa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: