Negara yang Membahagiakan Seluruh Masyarakat


Sebuah Harapan di Awal Tahun 2014
• • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • •

Negara yang Membahagiakan Seluruh Masyarakat Oleh: Rosihan Arsyad

Semua manusia pasti ingin hidup bahagia, namun kita sering bingung, apa sejatinya kebahagiaan itu? Apakah harta benda, mobil bagus, rumah mewah dan harta berlimpah, ataukah ada hal lain yang lebih berarti? Keberhasilan dalam karier dan uang memang dapat membawa kesenangan, tapi kebahagiaan itu sendiri adalah sesuatu yang sama sekali berbeda.

John Helliwell, Richard Layard, dan Jeffrey Sachs dalam World Happiness Report 2012 yang dikeluarkan oleh The Earth Institute, Columbia University, atas permintaan United Nations Conference on Happiness menemukan bahwa saat ini manusia hidup dalam sebuah kontradiksi yang tajam dan tak terhindarkan. Dunia menikmati kemajuan teknologi yang dahsyat, namun pada sisi lain, paling tidak terdapat satu miliar manusia yang setiap hari kurang makan. Ekonomi dunia melejit dengan produktivitas yang sangat tinggi melalui aplikasi dan pengembangan teknologi serta kemajuan dalam berorganisasi, namun, dalam proses pruduksi merusak kelestarian alam.

Banyak negara mengalami kemajuan ekonomi dalam ukuran konvensional, namun masyarakatnya terperosok ke dalam krisis baru, yaitu kelebihan berat badan, kebiasaan merokok, penyakit diabetes, narkoba, depresi dan semua penyakit yang dibawa gaya hidup modern. Artinya, kemajuan ekonomi saja belum tentu membawa kebahagiaan yanf sesungguhnya dan cenderung artifisial.

Gemah Ripah Loh Jinawi, Toto Tentrem Karta Raharja
Bansa Indonesia sejak dahulu memiliki konsep tentang kebahagiaan. Kita fasih mengucapkan pepatah “gemah ripah loh jinawi, toto tentrem karta raharja,” yang berarti kekayaan alam yang berlimpah dalam tatanan kehidupan yang damai akan membawa ketentraman dan kesejahteraan. Di dalam sesanti tersebut terdapat pesan moral untuk menjaga lingkungan dan memelihara kehidupan yang wajar agar bumi tetap dapat memberikan kesejahteraan dan kebahagiaan bagi generasi yang akan datang.

Ada pula pepatah Melayu yang berbunyi “Isi perut selebar talam, isi dada selebar alam.” yang pada hakikatnya berupa pesan untuk lebih mementingkan kehidupan masyarakat dan orang lain, bukan kepentingan sendiri, karena sebanyak-banyaknya kekayaan yang kita miliki, makan sepiring saja sudah cukup. Banyak hasil penelitian yang membuktikan bahwa kekayaan hanya membawa kebahagiaan kalau dimanfaatkan untuk orang lain, sehingga saat ini banyak orang kaya yang menjadi philanhropy atau mendirikan yayasan amal serta menyumbang harta mereka untuk kebaikan masyarakat dan kelestarian alam.

Sayangnya, semua petuah lama tersebut tdak lagi kita jadikan pedoman. Kita cenderung mengejar pertumbuhan ekonomi dan rapor bagus kondisi ekonomi makro serta menumpuk harta pribadi, bahkan dengan cara yang tidak halal. Banyak pejabat yang terlibat korupsi, memperkaya diri di tengah kesengsaraan rakyat kecil yang tak berdaya.

Pada sisi lain, kita ikut serta larut dalam era baru yang disebut sebagai Anthropocene, saat umat manusia yang berjumlah sekitar tujuh miliar dengan kedahsyatan teknologi yang dimilikinya menjadi pemeran utama dalam perusakan sistem dn kondisi fisik bumi, mengubah iklim melalui emisi karbon yang tak terkendali, merusak kualitas air dan udara dan memusnahkan keanekaragaman alam. Secara sadar kita merusak lingkungan melalui eksploitasi yang berlebihan terhadap sumber daya dan lingkungan alam.

Kita hidup dalam planet yang memiliki sumber daya yang terbatas, namun rakus, sehingga melakukan eksploitasi jauh di atas daya dukung alam. Indonesia dinobatkan sebagai negara perusak hutan tercepat di dunia. Dari total luas hutan di Indonesia hanya tinggal sekitar 23 persen atau setara 43 juta hektare saja yang masih hutan primer. Bahkan, karena mengejar pertumbuhan, kita mengabaikan keadilan. Akibatnya, walaupun pertumbuhan ekonomi cukup tinggi, kesenjangan menjadi-jadi. Harta orang kaya tumbuh pesat, yang miskin tetap banyak, bahkan bertambah jumlahnya.

Jumlah penduduk miskin di Indonesia pada Maret 2012 mencapai 29,13 juta orang (11,96 persen). Selama Maret 2011-Maret 2012, garis kemiskinan memang naik sebesar 6,40 persen, yaitu dari Rp233.740 per kapita per bulan pada Maret 2011 menjadi Rp248.707 per kapita per bulan pada Maret 2012. Namun, dapat dibayangkan apa yang dapat dilakukan sebuah keluarga, yang katakanlah memiliki dua anak saja dengan uang sejumlah itu? Dengan ukuran pendapatan dan pengeluaran sebesar 1,5 juta rupiah sebulan pun, rasanya untuk menyewa atau mencicil rumah, makan sehari-hari dan menyekolahkan anak tidak cukup, belum lagi kalau ada yang sakit.

Saat ini, banyak rakyat Indonesia rentan jatuh miskin. Gagal panen karena perubahan iklim dan bencana alam, sakitnya anggota keluarga dan kehilangan pekerjaan dengan mudah menjatuhkan sebagian besar rakyat Indonesia ke bawah garis kemiskinan. Kita belum memiliki sistem jaminan keamanan sosial yang memadai dan berlaku permanen, padahal ayat 2 Pasal 27 UUD 1945 menyatakan bahwa “Tiap-tiap warga negara berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan” dan Pasal 34 menegaskan bahwa “Fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh Negara”?

Angka kemiskinan di Sumsel lebih buruk dari rata-rata nasional. Menurut Berita Resmi Statistik Provinsi Sumatera Selatan No. 05/01/16/Th.XV, 2 Januari 2013, jumlah penduduk miskin di Provinsi Sumatera Selatan pada bulan September 2012 1.042.035 orang atau sebesar 13,48 persen. Memang, dibandingkan dengan penduduk miskin pada bulan Maret 2012 yang berjumlah 1.057.031 (13,78 persen), jumlah penduduk miskin di Sumsel turun 14.996 orang, namun angka kemiskinan tersebut masih belum menggembirakan.

Sumatera Ekspres, Selasa, 14 Januari 2014

Penduduk miskin di daerah perkotaan di Sumsel turun sebanyak 21.013 orang, atau sebesar 0,87 persen, namun di daerah pedesaan justru mengalami kenaikan sebanyak 6.017 orang, atau sebesar 0,01 persen.

Tingkat pengangguran terbuka di Sumsel hanya sebesar 5,49 persen. Ironinya, Asian Development Bank menyebutkan bahwa Indonesia termasuk negara kontributor tertinggi bagi prtumbuhan kekayaan global. Total kekayaan individu di Tanah Air meningkat pesat, bahkan tertinggi di antara negara ASEAN. Sebanyak 20 persen penduduk Indonesia menikamti 48 persen pendapatan nasional. Di Indonesia terdapat sekitar 60 ribu orang dengan kekayaan bersih di atas satu juta US dollar. Sebuah angka yang sangat menakjubkan dan cukup untuk memperlihatkan bahwa pembangunan ekonomi di negara ini sangat tidak merata. Konglomerasi merajalela, demikian pula merebaknya raja-raja kecil di daerah dengan segala kroninya, belum lagi ketimpangan antardaerah, antarwilayah, dan antargolongan yang cenderung meningkat. Dengan kondisi seperti ini apakah warga Indonesia merasa bahagia? Yang jelas orang miskin tentu sulit, bila tidak dikatakan mustahil untuk bahagia. Bukankah kemiskinan itu dekat dengan kekufuran?

Meningkatkan Kebahagian Nasional
Penghasilan ekonomi sebuah keluarga memang menjadi unsur utama dalam kepuasan hidup. Namun, banyak hal yang juga penting sebagai ukuran kebahagiaan masyarakat, seperti saling percaya, tolong menolong, tingkat kesehatan mental dan jasmani, kualitas pemerintahan dan kesamaan hak dan kewajiban di depan hukum. Rasanya, sampai saat ini, semua faktor tersebut belum mampu diberikan pemerintah lokal maupun nasional secara mencukupi. Kenaikan pendapatan terutama di kalangan berpenghasilan rendah dapat meningkatkan kebahagiaan mereka. Namun, kerja sama dan solidaritas komunitas seperti gotong royong juga dapat membuat bahagia, bahkan menjadi social safety net.

Oleh karena pendapatan ekonomi bukan satu-satunya faktor untuk memperoleh kebahagiaan, maka seyogianya pemerintah juga menegakkan kebijakan untuk mengejar kebahagiaan masyarakat. Upaya tersebut seharusnya sejajar, bahkan di atas upaya menaikan pendapatan nasional.

Bhutan adalah negara yang dengan pertimbangan yang bijaksana sejak 1972 memperkenalkan gross national happiness sebagai prioritas yang lebih tinggi dibanding upaya mencapai kesejahteraan melalui ukuran gross domestic product (GDP). Pada 2006, berdasarkan survei global, Business Week menobatkan Bhutan sebagai negara yang paling bahagia di Asia, nomor 8 di dunia.

Dalam The World Happiness Report 2012, 151 negara dibandingkan, dan kembali Kosta Rika menjadi juara diikuti oleh Vietnam, Kolombia, Belize, dan El Salvador. Negara dengan nilai terburuk tahun 2012 adalah Botswana, Chad, dan Qatar.

Indonesia berada di urutan yang cukup baik yaitu nomor 14, dengan nilai total 55,5 terdiri dari nilai kemakmuran 5,5, usia harapan hidup rata-rata 69,4 dan ecological footprint 1,1. Kita tidak perlu skeptis ataupun terlalu berbangga hati terhadap penempatan Indonesia pada urutan 14. Rasanya sudah waktunya Indonesia mengadopsi dan mengimplementasikan cara revolusioner dalam melaksanakan pembangunan nasional. Kita bukan hanya wajib mengentaskan rakyat dari kemiskinan dengan cara mengakhiri kemiskinan absolut sekitar 30 juta penduduk miskin Indonesia, tetapi juga memperhatikan hal-hal non-material yang dapat menyumbang pada kebahagiaan nasional.

Pelestarian alam yang sesungguhnya melekat pada local wisdom di banyak daerah dan suku di Indonesia perlu ditegakkan kembali. Ada batas daya dukung alam atau carrying capacity yang tidak boleh dilanggar, walaupun itu berarti mengurangi laju pertumbuhan ekonomi. Masyarakat perlu dibina untuk kembali mementingkan keluarga, lingkungan, masyarakat, persahabatan, kekeluargaan, dan solidaritas kelompok. Hidupkan kembali gotong royong dan tolong-menolong.

Kesetaraan masyarakat secara sosial juga harus diartikan sebagai komitmen pemerintah dan masyarakat untuk mendorong akses bagi semua orang, termasuk kaum wanita dalam menikmati kemajuan ekonomi, perkembangan teknologi dan kepemerintahan yang adil dan baik. Sesungguhnya, tata kelola pemerintahan yang baik yang bebas kolusi, korupsi dan nepotisme, serta sepenuh hati melayani masyarakat adalah kunci utama menciptakan keadilan, kemakmuran, dan kebahagiaan.

Setiap penyelenggara negara harus membuka hati dan pikiran mereka untuk memberikan pengabdian terbaik. Selain itu, upaya menyusun Kurikulum Pendidikan 2013 seharusnya dipakai untuk membangun sebuah kurikulum yang lebih mementingkan keakraban keluarga dan kesadaran bermasyarakat, berbangsa dan bernegara ketimbang hanya mementingkan ukuran-ukuran penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi semata.

Kebahagiaan bukan milik kelompok tertentu. Tujuan pendirian Republik tercinta ini adalah kebahagiaan untuk semua, seperti yang tertera secara jelas dalam pembukaan UUD 1945. (**)

• • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • •

*) Penulis adalah Laksamana Muda TNI (Purn), Gubernur Sumsel 1998-2003, President United in Diversity Forum (www.unitedindeversity.org), anggota Institute for Maritime Studies, Advisory Member Conservation International Indonesia

• • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • •

Sumatera Ekspres, Rabu, 15 Januari 2014

About Iwan Lemabang
Aku hanya manusia biasa yang tak luput dari salah dan dosa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: