Air Kedung Kali Leuwi Lisung


Air Kedung Kali Leuwi Lisung Oleh: Restoe Prawironegoro Ibrahim

Malam begitu gelap. Berkas sinar lampu yang keluar dari celah-celah dinding rumah yang tebuat dari belahan-belahan bambu, berjatuhan di atas permukaan sampai seperti ular-ular merah yang dengan lincah bermain-main diluapan air Kali Leuwi Lisung.

• • • • • • • • • • • • • • • • • •

Seperti malam-malam sebelumnya. Kedung tampak sunyi. Hujan yang terus brrjatuhan dari langit membuat air bertambah coklat, kotor. Satori masih berdiri dekat tanggul Kedung. Rumpun bambu di sebelah kanannya bergemerisik keras mengayun-ayunkan batangnya.

Suara yang kontras dengan bunyi gemuruh arus sungai yang sumbang. Satori batuk-batuk lalu dengan kasar dia melemparkan puntung rokoknya ke air. Matanya menatap ke permukaan Kedung. Dengan wajah muram kembali menghela napas. Uaahh … betapa gelisah dan bingungnya dia. Perempuan yang menjadi calon istrinya telah menjadi korban keganasan dari penghuni Kedung. Dia masih ingat kejadian sore, ketika ia duduk di ruang depan rumahnya tempat ia membuka praktek. Dia adalah satu-satunya mantri kesehatan di kota kecamatan itu.

Pikirannya kacau memkirkan hilangnya Surma tunangannya. Sampai sekarang mayatnya belum diketemukan. Sejak dua hari yang lalu ia telah menghilang, menjadi korban buaya-buaya yang sedang marah. Sudah hampir tiga bulan terakhir ini antara penduduk di sepanjang kali dan Kedung Leuwi Lisung terjadi saling balas dendam. Beberapa orang penduduk telah menjadi korban. Bau kali coklat yang sudah amis bertambah sengit dengan bangkai-bangkai buaya dan manusia.

Kejadian bermula ketiak pada suatu malam Pak Dedi yang bekerja sebagai penangkap ikan, menangkap dua ekor anak buaya yang masih kecil-kecil. Buaya-buaya itu terdampar di tepi sungai yang berpasir, dan Pak Dedi membawanya pulang. Dua hari sejak tertangkapnya dua ekor buaya-buaya kecil itu, tidak terjadi apa-apa. Tapi pada hari ketiga anak laki-laki Pak Dedi telah menghilang etika buang air di sungai. Penduduk mejadi gempar ketika dua hari kemudian menemukan mayat nak laki-laki Pak Dedi terapung di permukaan kedung dalam keadaan yang mengerikan.

Dengan perasaan dendam dan marah Pak Dedi dan penduduk Kampung Baros membunuh dua ekor anak buaya yang tak berdosa itu, dan kemudian potongan-potongan bangkainya dibuang ke dalam kedung. Pak Dedi tahu pasti anaknya dibunuh buaya. Bukan kaena mati tenggelam.

Seiring dengan turunya hujan deras, air Kali Leuwi Lisung meluap membawa sampah-sampah dari hulu sungai. Penduduk yang sudah dicekam takut banjir, tiba-tiba terkejut dan bertanya-tanya dalam hati ketika dari arah kedung terdengar suara pekikan histeris yang memilukan.

“Auuwwww………” Tapi suara yang seperti raungan kematian itu kemudian hilang ditelan gemuruhnya Sungai Leuwi Lisung. Keesokan harinya barulah pertanyaan itu terjawab. Pak Abbas yang rumahnya paling deat dengan Sungai Kedung itu, talah hilang. Lima hari kemudian penduduk menemukan mayatnya yag sudah rusak tersangkut di batang-batang kayu. Dendam Pak Dedi dan penduduk Kampung Baros semakin memuncak. Pada malam Jumat Kliwon di tepi kedung diadakan suatu upacara untuk membunuh buaya-buaya penghuni Kedung Kali Leuwi Lisung.

Udara tampa mendung Di tempat Kedung tampak berpuluh-puluh obor dari bambu menerangi permukaan air, dengan sesajen-sesajen, seorang dukun tua mulai membaca mantera sambil menari-nari, di tangannya tergenggam sebuah parang yang tajam. Suara gendang dan gong mengalun di antara suara gemuruh air kali. Suara mantera terdengar begitu menggema dan syahdu. Dan tiba-tiba dari arah kedung terdengar suara air menyibak dengan dahsyatnya. Beberapa ekor buaya tampak mengambang dengan tenang. Suasana semakin tegang. Penduduk menyiapkan parang dan tombak, tapi dukun tua itu tenang memandang ke arah gerombolan buaya-buaya itu.

Di api ungun dia dia membakar parangnya sampai merah membara. Lalu parang itu diacung-acungkannya ke arah kedung sambil berteriak dengan suara yang serak melengking.

“Heiii penghuni kedung Kali Leuwi Lisung. Malam ini dengan parang, kami menyatakan perang. Semerah parang yang membara ini semangat kami!”

Bersamaan dengan jeritnya yang mengerikan, parang itu dilemparkan ke dalam kedung, tepat ke arah gerombolan buaya tadi. Seketika itu juga tersengarlah jeritan yang mengerikan. Disusul sorak para penduduk penuh dendam.

Bunyi gong dan gendang semakin gencar, ketika air kedung yang berwarna coklat kotor berubah kemerah-merahan. Beberapa ekor bangkai buaya mulai mengambang. Tetapi tiba-tiba dari dalam kedung terdengar air menyibak dengan dahsyatnya. Dari pinggir terdengar suara jeritan Pak Dedi. Ia terpelanting oleh kibasan ekor buaya, kemudian jatuh ke dalam kedung. Air muncrat bercampur darah.

“Auuwww…. jangan…. jangannn,” orang-orang kampung terdiam seperti terpukau menyaksikan pemandangan yang mengerikan di hadapan mereka. Tapi dukun tua itu dengan tenang menyambar parang dari tangan seorang penduduk yang terbengong-bengong, dan langsung melemparkan senjata itu ke arah buaya yang menyeret tubuh Pak Dedi. Parang dengan tepat menancap di kaki buaya disusul suara jerit kesakitan yang memilukan.

“Auuwwwwchk… aaakkkkhhhh…..” Air bergolak lagi dengan dahsyatnya. Untuk kemudian kembali tenang. Malam kembali sunyi. Hanya suara gemuruh air kedung yang terus menemani waktu yang berjalan menurut kodratnya.

Malam itu telah terenggut nyawa dua orang penduduk dan lima ekor buaya. Sampai pada suatu malam di minggu ketiga sejak Malam Jumat Kliwon yang membawa maut itu. Suara angin yang lembut membuat suasana malam begitu tenang. Angin dingin yang menyelimuti daerah perkampungan di sepanjang Sungai Leuwi Lisung membuat penduduk enggan keluar dari selimutnya. Sekali-sekali di ujung jalan terdengar suara lolongan anjing. Surimah masih membolak-balikkan badannya. Aneh, udara di kamarnya serasa panas dan pengap. Malam sudah bertambah larut. Namun mata Surimah masih nyalang memandang langit-langit kamar yang berwarna putih.

Pelan-pelan pikirannya menerawang membayangkan kejadian dua hari lalu, Surimah tersenyum bahagia, Satori dan keluarganya dengan resmi telah meminangnya. Oh, betapa bahagianya ia. Bunga-bunga, bulan, matahari, semuanya…. semua seperti tersenyum padanya. Ya. Saat itu memang yang selalu dtunggu-tunggunya. Sudah hampir lima bulan ia pacaran dengan emuda yang pendiam yang kadang-kadan kelihatan angkuh, yang menjabat sebagai mantri kesehatan. Kembali Surimah tersenyum. Lalu sambil menghela napas, dibetukan letak rambutna yang bertebaran di keningnya. Dan gulingnya didekapnya dengan gemas seperti ketika mereka berpangutan dikaki bukit dekat batu-batu.

Tetapi tiba-tiba lamunannya buyar. Sayup-sayup ia seperti mendengar suara air kedung dengan suara lolong anjing yang terdengar tersendat-sendat. Lalu antara terdengar dan tidak, ia seperti mendengar ketukan-ketukan di jendela kamarnya. Surimah mengangkat kepalanya. Disingkirkannya guling di tepi ranjang. Suara ketukan sudah hilang… Surimah masih duduk di tempat tidurnya. Kemudian kembali berbaring, mengira salah dengar.

Tapi tidak lama kemudian kembali terdengar suara-suara ketukan. Ahh, siapakah malam-malam begini mengetuk jendela, pikirnya. Dengan berjingkat-jingkat Surimah mendekati jendela sambil memasang kuping. Tetapi ia hanya mendengar suara air yang gemuruh bercampur dengan suara lolong anjing. Surimah kembali ke tempat tidurnya. Namun baru saja ia meletakkan kepalanya di atas bantal, suara ketukan tadi kembali terdengar dan kini semakin nyata disusul dengan panggilan.

“Surimah, Surimah, buka pintu….” Surimah kaget mendengar suara di luar itu seperti suara Satori. Lalu perlahan-lahan Surimah kembali mendekati jendela.

“Surimah, Surimah, buka pintu. Kau dengar suarauku, adikku?”

Satori… Kak Satorikah?”

“Ya, aku Surimah, bukalah…” Kini Surimah yakin bahwa orang yang di luar adalah Satori. Dengan suara berderit, jendela terbuka.

“Ohhh, Kak Satori. Ada apa malam begini?” Satori tersenyum lalu menjawab. “Malam ini aku merasa bahagia sekali Surimah. Aku tak dapat menahan hatiku untuk bertemu denganmu. Tidak bahagiakah kau melihat kedatanganku?” Surimah mengangguk.

“Aku… ehh, aku bahagia sekali Kak. Surimah bahagia…”

“Surimah ayolah keluar. Marilah kita jalan-jalan. Betapa indah dan sunyinya malam ini. Hanya kita berdua Surimah…” Surimah ragu, dan terdiam sejenak.

“Tapi Surimah takut ketahuan ayah, Kak Satori. Dan aku takut keluar malam-malam begini. Tidak ingatkah kau pada buaya-buaya yang ganas itu? Tidakkah…”

“Percayalah Surimah…” Satori memotong. “Kan ada aku. Lagi pula tentu Ayah dan Ibu sudah tidur.”

Surimah kembali diam. Di dalam hatinya berperang antara perasaan takut, sayang, cinta, dan wajah Ayahnya, Ibunya. Tapi ah dia tidak mau mengecewakan Satori. Dia tidak mau menyakiti hatinya. Surimah mengangguk perlahan. Tak lama kemudian mereka sudah berjalan bergandengan tangan. Perlahan-lahan mendekati pinggir kedung. Tidak terasa embun-embun pagi mulai membalut tubuh mereka. Surimah mulai gelisah.

“Kak Satori, mari kita pulang, Surimah dingin juga takut.” Satori diam saja.

“Coba lihat air itu, Kak. Surimah seperti melihat buaya-buaya yang ganas itu sedang memperhatikan kita…..” Surimah menghentikan kata-katanya ketika tiba-tiba Satori tertawa ngakak.

“Surimah. Ha… ha… ha Surimah, Surimah… ha… ha.. ha..!” Surimah kaget dan menoleh.

“Eh mengapa Kak, mengapa kau? Kau.. kau siapa… siapa?” Dia menjerit ngeri. Tiba-tiba saja Satori yang tadi ada di sampingnya telah berubah menjadi seorang laki-laki tua dengan wajah yang sangat mengerikan tanpa alis mata, dengan lidah yang menjuntai keluar dari mulutnya yang hampir menyerupai buaya.

“Siapa… siapa kau…. Tolong…!” Surimah menjerit dan berusaha lari, tapi dengan kasar lelaki tua berjubah putih itu menariknya.

“Percuma kau lari Surimah, ha… ha… ha…. Kau mau tahu siapa aku? Aku adalah raja kedung Kali Leuwi Lisung. Sudah berabad-abad kami tinggal di sana,” katanya sambil menuding ke arah kedung. Seketika itu juga Surimah seperti melihat beberapa puluh ekor buaya mengambang di permukaan kedung.

“Jangan, jangan, lepaskan… lepaskannnnnnnnn…” dia menjerit dan meronta-ronta.

“Malam ini kau harus ikut aku Surimah, harus ikut. Sudah lama aku tidak menyantap daging semuda dan segurih dagingmu. Ha… ha… ha…. Kalian telah membinasakan cucu-cucuku, anak-anakku, ha.. ha.. ha.. dan kalian juga telah melukai kakiku, ha.. ha.. ha.. ha..

Tanpa disadarinya Surimah melirik ke kaki kanan laki-laki tua berjubah putih itu. Terlihat luka yang mengerikan seperti bekas bacokan atau tikaman senjata tajam. Surimah terus meronta-ronta.

“Jangannn… jangan… auww lepaskan aku. Satori… Satori tolong aku… Ayaaaah tolong aku… ach…”

“HA.. ha.. ha.. ha.. kau harus ikut kami Surimah, harus Surimah….”

“Tidaaak… tidak…. Aaauwwwww…”

Jeritan yang terakhir meraung dari mulut Surimah, menggema dan memecah kesunyian malam di kedung Kali Leuwi Lisung. Sayup-sayup ia seperti mendengar suara-suara seperti memanggilnya dari arah kampung. Lalu terlihat seperti ada api-api obor mendatangi tempat itu. Tapi bayang-bayang itu hilang bersamaan dengan rasa sakit yang menyengat seluruh tubuhnya. Air kedung memercik keras etika tubuh Surimah terpelanting ke dalamntya. Bergegas Ayah Surimah dan orang-orang kampung berlari ke arah kedung tempat mereka seperti mendengar suara jeritan Surimah.

“Surimah… Surimah… dimana kau Surimah…” tapi suara panggilan Ayah Surimah tidak pernah terjawab lagi. Air kedung yang berwarna coklat kotor diam membisu. Membawa Surimah untuk selama-lamanya.

Satori kembali menghela napas panjang teringat cerita Ayah Surimah yang mengerikan itu. Tapi tiba-tiba lamunannya dikejutkan oleh suara langkah mendatangi. Lalu di pintu muncul seraut wajah laki-laki tua yang berjalan tersuruk-suruk, dengan sebuah tongkat bambu untuk menyangga kaki kanannya yang luka besar menganga.

“Bapak dari mana? Oh mengapa sampai luka begini? Sudah lama?” Tanya satori kemudian. Laki-laki tua itu hanya mengangguk.

Dengan cekatan Satori membersihkan luka itu kemudian menyiapkan alat suntiknya karena dia takut luka itu akan infeksi.

“Mengapa baru ke sini, Pak?” katanya sambil menusukkan jarumnya. Tapi tiba-tiba jarum suntiknya patah. Satori terkejut sejenak segera mengira hanya kebetulan saja. Tapi kemudian ketika kembali menusukkan jarum itu patah kembali, tanpa disadarinya ia berseru kaget, lalu heran karena laki-laki itu malah tertawa penuhb misteri.

“Ha.. ha.. ha.. ha.. Pak Mantri, mungkin jarum bapak kurang tajam. Lebih baik beri saya obat luar saja.” Satori tidak menjawab jugs tidak mengangguk. Dengan cepat ia mengambil obat-obat yang diperlukan. Dalam kepalanaya penuh dengan pertanyaan-pertanyaan yang tak terjawab. Mungkinkah laki-laki tua itu kebal atau mungkin orang sakti.

“Minumlah obat ini dua kali sehari Pak. Ini obat luarnya dan perban ini harus bapak ganti setiap hari.” Orang tua itu mengangguk dan menerima obat pemberian Satori.

“Aku tak punya uang, tapi kukira barang dalam kantong ini berharga juga untuk bapak…” katanya sambil menyerahkan sebuah kantong kecil dari kain. Tanpa melihat isinya Satori memasukkan kantong kecil ke dalam saku celanannya. Laki-laki tua berjubah putih itu meninggalkan rumah Satori tanpa permisi sambil terpincang-pincang menjauhi rumah Satori.

Tapi, tanpa diketahui oleh tamunya Satori mengikuti orang tua yang tampak misterius itu. Ia tertarik pada keanehan-keanehan yang merupakan kenyataan pada diri orang tua itu. Mungkinkah dia kebal? Atau orang sakti seperti yang banyak terdapat di pedalaman daerah Baros dan Segarantan. Laki-laki tua itu trus berjalan dengan terpincang-pincang tanpa menoleh ke belakang. Suasanan senja telah berganti malam. Samar-samar orang tua itu dikutinya meyeberang jembatan dan menuju ke arah kedung. Tiba-tiba menyelinap perasaan takut pada diri Satori.

Tapi ia terus mngikuti dari belakang. Ketika tiba di pinggir kedung, laki-laki tua berjubah putih itu berhenti. Sejenak ia memandang ke arah langit. Kemudian dengan terdengarnya suara tawanya yang mengerikan, dengan tenang ia terjun ke arah kedung.

“Paaak!” tanpa disadarinya Satori menjerit. Ia lari ingin menolong, tapi kemudian tersentak mundur ketika dengan tiba-tiba air bergolak dengan dahsyatnya dan dari dalam kedung muncul seekor buaya besar berwarna putih.

“Pak Mantri, ha.. ha.. ha.. ha.. Aku berterima kasih atas bantuanmu…” Bagai terkena aliran setrum bervoltase tinggi Satori terdiam dengan wajah pucat kebiru-biruan seperti tak berdarah.

Buaya itu bisa bicara. Satori ingin berkata namun tidak satu patah kata pun yang keluar dari mulutnya.

“Aku adalah raja kedung ini. Tak kusangka masih ada juga manusia yang baik hati seperti Pak Mantri.” Satori hanya terdiam.

“Baikalh, aku akan membalas kebaikanmu. Aku akan mempertemukan kembali kau dengan calon istrimu. Aku menyesal mengambilnya jadi korban.

“Aku benar-benar menyesal. Datanglah pada malam Jumat Kliwon yang akan datang. Rakyatku akan menjemputmu.” Belum sempat Satori berkata apa-apa, air kedung kembali bergolak dengan dahsyatnya dan buaya putih itu lenyap dari permukaan kedung. Tanpa disadari Satori meraba saku celananya dan dikeluarkannya kantong pemberian buaya tadi. Isinya ternyata sebuah mutiara yang berkilat gemerlap.

Malam Jumat Kliwon yang dijanjikan tiba. Tanpa setahu siapa pun Satori pergi ke tepi kedung. Angin malam semilir dingin di sekeliling tubuhnya. Sayup-sayup dari arah kampung terdengar suara lolong anjing. Satori gelisah. Sudah tiga jam ia menunggu. Namun ta ada yang terjadi. Dan hatinya mula ragu-ragu ketika tiba-tiba air kedung yang semula tenang bergolak keras, disusul dengan munculnya buaya putih yang dikenali Satori.

“Satori, aku datang menepati janjiku. Seperti yang sudah kukatakan, kami telah menyesal mengambil calon istrimu. Sekarang dia kam kembalikan kepadamu.”

Selesai buaya puth itu berkata, dari belakang muncul beberapa ekor buaya lain. Dan mata Satori terbelalak kaget, ketika melihat buaya-buaya itu ternyata seperti memanggul seorang wanita. Surimah!

Satori tak mampu mnahan hatinya lagi. Ia segera melompat ke tepi kedung, lalu berjalan menyusul kekasihnya. Surimah dibawa buaya itu makin ke tepi dan kemudian ditinggalkan di air yang sudah sebatas pinggang. Tanpa memperdulikan buaya-buaya itu lagi, Satori segera memegang tangan Surimah dan menuntunnya k darat. Tetapi belum sampai di tepian tubuh Surimah limbung, Satori cepat-cepat bertindak menggendongnya.

“Aku telah menepati janjiku, Satori. Surimah sudah kami kembalikan. Sekarang kami akan pergi dan maafkan kehilapan kami semua.” Kata buaya putih tadi.

Lalu, bersamaan dengan gejolak air yang memercik tinggi buaya-buaya itu lenyap menyelam ke bawah kedung. Satori masih tegak takjub mendukung tubuh Surimah. Ia masih seperti orang yang tak sadarkan diri, berdiri di dalam air setinggi pinggangnya, ketika orang-orang kampung muncul membawa obor-obor bambu.

Semuanya tertegun ketika melihat keadaan Satori. Tetapi kemudian beberapa orang laki-laki segera turun ke air dan mereka lebih terkejut lagi melihat tubuh perempuan yang digendong Satori ternyata Surimah.

Setelah dibawa ke tepi, barulah Satori seperti sadar dari suatu mimpinya. Semula ia tak mau melepaskan Surimah dari gendongannya. Tetapi ia kemudian menurunkan dan membaringkan tubuh kekasihnya itu ke tanah. Lalu perlahan-lahan ia berkata:

“Surimah… Surimah… bangun,” tetapi tubuh Surimah tetap diam. Makin lama suara Satori makin keras. Makin lama tangannya makin kuat mengguncang-guncangkan tubuh tunangannya itu. Namun Surimah tetap tidak menjawab, tetap tidak bergerak.

“Surimah… Surimah…. Oh tidak… tidak!” Suara jerit Satori menggema dan hilang ditelan gemuruh air kedung Kali Leuwi Lisung.

Perlahan-lahan matahari sudah menyorotkan sinarnya ke permukaan kedung. Air Kali Leuwi Lisung terus mengalir, membawa misteri-misteri yang sampai kini belum terpecahkan. Setiap setahun sekali korban pasti ada, entah dia anak-anak atau pun orang dewasa. Walaupun tenang airnya tapi sewaktu-waktu menghanyutkan. (*)

Sumber: Misteri Edisi 562 Tahun 2013

About Iwan Lemabang
Aku hanya manusia biasa yang tak luput dari salah dan dosa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: