Kisah Keluarga Korban Kecelakaan KM Mahakam di Sungai Musi (4/selesai)


Selamatkan Anak, saat Kembali Istri Sudah Pingsan

Kisah Keluarga Korban Kecelakaan KM Mahakam di Sungai Musi (4/selesai)
Kenangan: Foto pernikahan Hengki (29) dan Dian Lestari (almarhumah), korban tenggelamnya KM Mahakam Jumat lalu.

Kapal Motor (KM) Mahakam hampir tenggelam. Hengki (29) berhasil mengeluarkan dan mengantarkan anaknya, Habib Akbar (3,2 tahun) ke tepi sungai. Hanya, ketika kembali untuk menyelamatkan sang istri Dian Lestari (29), malah sudah pingsan.

================================
================================

Mata Hengki terlihat memerah. Air mata terus mengalir. Bibinya juga bergetar tatkala menceritakan kembali KM Mahakam yang menimpa dia bersama istri dan anaknya, serta puluhan penumpang lain. “Istri saya Tari (sapaan Dian Lestari) meninggal. Dia tdak bisa saya selamatkan,” ujar Hengki kepada wartawan koran ini saat ditemui dikediaman mertuanya yang juga orang tua almarhumah istrinya, Jumali (66) dan Mislatin (48) di Jl Angkatan 66, Lr Kelinci, RT 3/01, No 269, Kelurahan Pipa Reja, Kecamatan Kemuning, Sabtu (4/1), lalu.

Hengki, yang mengenakan baju kaos putih plus celana panjang warna krem, mukanya tampak kuyuh. Pukul 10.00 WIB, hari itu, almarhumah Tari sudah dimakamkan di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Lebong Siarang. Keluarga, kerabat, dan tetangga berusaha menguatkan dan meminta Hengki mengikhlaskan kepergian istrinya. “Saya ingat anak saya yang ditinggal sendirian di tepian Lapangan Patra Jaya dalam kondisi telanjang. Saya balik ke kapal, istri saya malah tidak bisa diselamatkan,” katanya sembari mengepalkan tangannya.

Hengki bersama istri dan anaknya ke Palembang hanya menghabiskan waktu libur tahun baru dan tinggal di rumah orang tua Tari. Hengki dan keluarganya tinggal di Jembatan 3, Jalur 18, Desa Daya Makmur, Muara Padang, Banyuasin. Hengki bekerja sebagai tenaga bantu penyuluh pertanian di sana. Sedangkan Dian Lestari menjadi guru SMA swasta di Muara Padang.

“Waktu mau pamit pulang ke bAnyuasin, tingkah Tari memang sedikit aneh,” Tutur Hangki. Ceritanya, ketika hendak berpamitan dengan kedua orang tuanya, Tari tak hanya mencium ibunya, tapi juga pipi kanan dan kiri bapaknya. “Biasanya Tari tidak begitu. Dia kalau pamitan hanya cium ibunya. Sempat juga menasihati ibu supaya menjaga kesehatan,” ungkap Hengki lagi.

Setelah pamitan, mereka langsung menuju Dermaga Pasar 16 Ilir. Waktu menunjukkan pukul 14.20 WIB. Sekitar lima menit KM Mahakam bertolak, tiba-tiba terdengar benturan cukup keras dan mesin kapal berhenti. Air dengan cepat masuk. Posisi mereka berada di barisan tengah, anak mereka di dekat jendela sebelah kanan dipangku oleh istrinya. Sementara Hengki berada di sampingnya.

Hengki langsung mengambil anaknya. Volume air dalam kapal terus naik. Sambil meraba-raba jendela dalam genangan air, Hengki mendorong anaknya agar bisa keluar dari jendela. Setelah berhasil, Hengki berenang sembari menjunjung anaknya dengan tangan agar tak terminum air. Ia berusaha terus menuju tepian.

Tiba di tepian, ia letakkan anaknya di Lapangan Patra Jaya sembari dititpkan dengan penumpang selamat lain. Lalu, Hengki sudah kembali ke KM Mahakam lagi untuk menyelamatkan istrinya. Saat itu, terlihat ada beberapa orang membantu mengeluarkan para penumpang. “Orang kedua saat dikeluarkan dari kapal oleh warga yang menolong ialah istri saya. Dia sudah pingsan dan dibawa ke ketek. Saya tidak berpikir apakah sudah meninggal atau belum, tapi saya sudah berusaha untuk memberikan napas buatan,” ujarnya lagi.

Hengki sendiri yang mengantarkan istrinya ke rumah sakit dan dokter menyatakan sdah tak bisa diselamatkan lagi. “Saya benar-benar sedih. Ketika kembali untuk mengambil Habib, saya lihat dia telanjang dan dalam pikiran saya, dia juga sudah piatu. Saya tak bisa menahan tangis,” cerita Hengki memegangi dadanya dan terus menangis.,br />
“Bukannya saya tidak mau menyelamatkan Tari. Tapi saya pikir, anak saya masih kecil dan belum bisa berpikir bagaimana menyelamatkan diri. Kalau bagi Tari, mungkin dia bisa berusaha menyelamatkan dirinya. Saya benar-benar menyesal tak bisa menyelamatkan istri saya,” ujarnya. Tari ia nikahi 2009 lalu. Dari pernikahannya itu, mereka baru dikaruniai anak semata wayang Habib Akbar.

Hengki bertekad haus tetap semangat. Ini demi anak semata wayangnya. “Saya harus kuat untuk membesarkan buah hat saya bersama Tari ini,” ucapnya. Dia pun berusaha mengikhlaskan kepergian Tari. Ucapan terima kasih ditujukan kepada semua pihak yang telah membantunya dari atministrasi rumah sakit hingga Tari bisa dibawa pulang ke rumah. Rencana ke depan, Hengki akan memasukkan anaknya ke PAUD di Palembang. Karena tidak mungkin baginya mengajak anaknya ke Jalur, tempatnya bekerja. (*/nur/ce2)

Sumatera Ekspres, Rabu, 8 Januari 2014

Advertisements

About Iwan Lemabang
Aku hanya manusia biasa yang tak luput dari salah dan dosa.

2 Responses to Kisah Keluarga Korban Kecelakaan KM Mahakam di Sungai Musi (4/selesai)

  1. Kapan kejadiannyo ini mang? sedeh nian eee…

  2. kejadiannyo, Juma’at tanggal 3, sekitar jam 2 lewat mang….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: