288 Ribu Ton Sampah Sehari


30 Persen dari Pasar

288 Ribu Ton Sampah Sehari
Menggunung: Tumpukan sampah di tempat pembuangan akhir (TPA) Sukawinatan tampak menggunung tinggi. Alat berat terlihat merapikan sampah yang masuk diangkut truk-truk sampah

PALEMBANG — Badan Lingkungan Hidup (BLH) se-Sumsel sebaiknya sudah memikirkan dampak negatif dari sampah yang tidak terkelola dengan baik. Berdasarkan data BLH Provinsi Sumsel, ada 288.807,30 ton sampah per hari yang dihasilkan masyarakat Sumsel.

Hampir 50 persen sampah tersebut disumbang dari masyarakat di lingkungan perkotaan. Volumenya sekitar 111.685,61 ton per hari. Kepala BLH Provinsi Sumsel, H Bakhnir Rasyid SE MM MSi mengatakan, dari total volume sampah tersebut, hanya 1.897 ton yang dibawa ke tempat pembuangan akhir (TPA). “Sedangkan yang dijadikan pupuk kompos oleh masyarakat hanya 385 ton,” ungkapnya, kemarin (7/1).

Katanya, dari total volume sampah per hari itu, ada 42 persen yang berhasil diolah kembali. Sisanya ditimbun, dibuang, dan dibakar lantaran tidak memiliki nilai ekonomis bagi masyarakat.

Pihaknya, ucap Bakhnir, mengimbau seluruh elemen lain masyarakat untuk membudayakan pola reduce, reuse, and recycle (3R). Pola ini menerapkan pemanfaatan sampah sebaik mungkin. “Sistem itu sudah sesuai dengan UU Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah,” jelas Bakhnir.

Katanya, BLH Sumsel akan melakukan pembinaan intensif serta berupaya memperbanyak bank sampah. Menilik program 3R, reuse berarti menggunakan kembali sampah yanf masih dapat digunakan. Sedangkan reduce yakni mengurangi segala sesuatu yang dapat mengakibatkan sampah.

“Untuk recycle, mengolah kembali sampah menjadi barang atau produk baru yang bermanfaat,” jelasnya. Diungkapnya, ada beberapa perusahaan yang punya kegiatan pengelolaan sampah dengan pola 3R. Perusahaan itu melakukan identifikasi sampah dari eksternal perusahaan, menyusun program pengelolaan sampah yang mengadopsi prinsip 3R, dan menerapkan konsep tanggung jawab sosial lingkungan.

“Hal lain yang bisa dilakukan yakni melaksanakan program pengembangan pemberdayaan masyarakat melalui peningkatan nilai ekonomis sampah. Juga membantu pengembangan, perancangan, dan pemasaran produk berbahan baku sampah,” bebernya.

Sebelumnya Kepala BLH Kota Palembang, M Tabrani mengatakan, masyarakat perlu diberikan sosialisasi tentang sampah. Terutama perbedaan sampah organik dan anorganik. “Banyak yang belum memahami perbedaan sampah organik dan anorganik. Seringkali mereka mencampurkannya jadi satu dan ini menyulitkan pengelolaan sampah,” katanya.

Padahal, sampah yang telah dipisahkan memudahkan proses pengomposan, khususnya terhadap sampah organik. “Selain memisahkan sampah, membuang sampah pada tempatnya juga penting untuk mencegah banjir dan membuat kota menjadi lebih indah,” kata Tabrani.

Direktur Utama PD Pasar Palembang Jaya, Apriadi S Busri mengungkapkan, hampir 30 persen yang masuk ke TPA berasal dari pasar. “Sangat banyak sampah yang dihasilkan aktivitas di pasar. Agar sampah yang ada terangkut maksimal, kami membutuhkan motor sampah untuk tiap pasar,” ucapnya.

Menurutnya, PD Pasar Palembang Jaya kini mengelola 21 pasar. Karena itu, setidaknya dibutuhkan 21 unit motor sampah. Saat ini, sampah di pasar masih bisa ditanggulangi petugas DKK dengan personel kebersihan yang dimiliki oleh pasar sekitar 5-10 orang.

Sampah dari pasar ada yang basah dan kering. Ada sampah organik dan anorganik. Saking banyaknya, semua sampah dari pasar baru bisa selesai diangkut sore hari. “Kami sudah mengusulkan kepada wali kota agar diadakan mobil khusus untuk mengangkut sampah dari pasar ke TPA. Kami sedang mencari dana corporate social responsibility (CSR) dari pihak ketiga,” imbuh Apriadi. (yun/rip/ce4)

40 Persen Tempat Sampah tak Layak
Khusus di Kota Palembang, baru ada 27 titik yang ditempatkan tempat pembuangan sampah (TPS) organik dan anorganik secara berdampingan. Hal itu diungkap Kepala DKK Palembang, Agung Nugroho melalui Kabid Penanggulangan Kebersihan, Nasution Rozy, kemarin (7/1).

Ke-27 titik TPS organikdan anorganik yang berdampingan itu mayoritas di tempat umum seperti pasar tradisional, puskesmas, kantor camat, kantor lurah, kantor pemerintahan, sekolah, dan perguruan tinggi. Masalah lain, saat ini, sekitar 40 persen dari total tempat sampah di Palembang sudah berumur tua dan tidak layak pakai lagi. “Tahun ini, kami menganggarkan dana untuk penggantian tempat sampah yang baru,” ujar Nasution. Selain mengganti tempat sampah yang sudah uzur dan tak layak pakai tersebut, DKK juga akan menambah tempat sampah organik dan anorganik secara berdampingan.

“Nantinya, di setiap kantor, lurah, camat, perguruan tinggi, dan kantor pemerintahan lainnya harus mempunyai tempat sampah organik dan anorganik yang letaknya berdekatan,” bebernya. Nasution menilai, kesadaran masyarakat akan pentingnya kebersihan dan membuang sampah pada tempatnya sangatlah kurang. 50 persen pun masih sulit dicapai.

“Apalagi mau membuang sampah dengan membedakan tempat antara sampah basah, kering, organik dan anorganik pada tempatnya,” cetusnya. Meski begitu, DKK akan terus melakukan sosialisasi sekaligus memberikan teguran kepada masyarakat tentang pentingnya menjaga kebersihan lingkungan. (cj6/ce4)

Sumatera Ekspres, Rabu 8 Januari 2014

About Iwan Lemabang
Aku hanya manusia biasa yang tak luput dari salah dan dosa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: