Kisah Keluarga Korban Kecelakaan KM Mahakam di Sungai Musi (3)


Semapt Kirim SMS Ingatkan Suami Berhati-hati

Kisah Keluarga Korban Kecelakaan KM Mahakam di Sungai Musi (3)
Kenang: Suminta melewati jenazah istrinya, Tunjiah sebelum dimakamkan, kemarin. (foto kanan) Tunjiah bersama suami dan anaknya semasa hidup

Ketika hendak pulang ke Desa Daya Bangun Harjo, Banyuasin, alharhumah Tunjiah (50) diajak suaminya Suminta (46), pulang naik motor. Hanya, guru agama SDN 2 Muara Sugihan itu menolak. Ia memutuskan untk naik Kapal motor (KM) Mahakam yang mengalami kecelakaan, Jumat (3/1) lalu. Bagaimana kisahnya?

================================
================================

Suasana duka masih menyelimuti keluarga besar almahumah Tunjiah, tetangga maupun warga Desa Daya Bangun Harjo, Jalur 16< Kecamatan Muara Sugihan, Banyuasin, saat wartawan koran ini bertandang ke sana pukul 14.00 WIB, Sabtu (4/1) lalu. Terutama Suminta, suami korban terlihat sangat berduka.

Sembari menyeka air mata, Suminta dan keluarga dekatnya sempat melakukan tradisi berjalan di bawah jenazah. Orang sana meyakini tradisi itu, sebagai ungkapan mengikhlaskan kepergian almarhumah.

Hanya saja, tatkala jenazah istrinya hendak dibawa dengan mobil pick up milik warga menuju tempat pemakaman umum (TPU) di desa tersebut, Suminta menangis histeris. “Ibu… Ibu…, jangan tinggalkan bapak, bu,” suaranya lantang. Tangan kananna hendak merangkul keranda.

Warga memapah dan menenangkan Suminta ke dalam rumah. Khawatir lebih shock lagi saat di pemakaman, warga meminta Suminta tidak ikut. Yang mengantar jenazah ke liang lahat hanya anak almarhumah beserta ratusan pelayat lain.

“Ia, Dek. Saya sampai saat ini sangat menyesal, kenapa saya menyuruh ibu libur ke Palembang,” kata Suminta sembari menyeka air mata yang terus mengalir. Matanya terlihat sembab. “Ibu itu orangnya lugu, tidak mau gaya-gayaan seperti orang zaman sekarang. Bahkan kalau ada acara yang menghadirkan artis terkenal di depan rumah, ibu paling lihat sekali di depan rumah dan langsung pulang,” kenang Suminta lagi.

Baginya, almarhumah semasa hidup juga taat beribadah. Dari perkawinannya mereka dikaruniai tiga orang anak, Dewi (26), saat ini bekerja di salah satu rumah sakit di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Sefti (25), guru di Madrasah Aliyah (MA) Alfatuhiyah, dan terakhir Agusmi (23) baru menyelesaikan kuliah S-1 di Universitas PGRI Palembang Jurusan Bahasa Inggris.

“Saya sangat menyesal ajak ibu liburan ke Palembang,” kata Suminta berulang kali. Almarhumah ke Palembang Selasa (31/12/2013). Berangkat sendirian dari desanya, sementara Suminta sudah berada di Palembang karena sedang menyelesaikan kuliah S-1 di Stisipol Candradimuka.

Di Palembang keduanya menginap di rumah Kepala Desa (Kades) Daya Bangun Harjo, Supriono, di Perumnas Talang Kalapa, Palembang. “Malam tahun baru kami bakar jangung. Besoknya, kami jalan-jalan ke OPI naik perahu bebek. Setelah itu keliling PS Mal,” ingat Suminta. Lantas, Kamis (3/1) mereka pergi ke kontrakan Suminta di Silaberanti, Kecamatan Seberang Ulu (SU) II bersama keponakannya untuk beristirahat.

Ketika hendak pulang ke desa, almarhumah tidak mau diajak naik sepeda motor bersama Suminta dan Kades Supriono. “Ibu pengen naik speedboat saja karena barang-barang bawaan banyak. Saya sudah sarankan supaya barang saja yang dinaikan di speedboat tapi ibu tetap mau naik speedboat,” ujar Suminta lalu mengizinkan istrinya pulang ke desa melalui jalur perairan, sedangkan Suminta juga pulang ke desa menggunakan jalur darat yang cukup lama perjalanannya.

Setelah berpisah di dermaga bawah Jembatan Ampera, Suminta bersama Supriono lebih dulu berangkat menuju desa. Almarhumah sempat mengirimkan pesan SMS ke ponsel suaminya sekitar pukul 13.30 WIB. Bunyinya, “Bapak hati-hati di jalan, jalan licin.” Lalu di balas Suminta, “Ia bu, ini sudah hati-hati, bapak kan bawa jaket.” Dibalas lagi oleh almarhumah “Ibu ‘kan sampainya cepet, bapak lama.” Setelah itu ekitar pukul 15.00 WIB Suminta mendapat telepon dari keluarganya bahwa kapal yang dinaiki istrinya tenggelam.

“Saya lagi di jalan kawasan Desa Sebokor, Kecamatan Rambutan, Banyuasin dapet telepon dan saya tanya balik ibu ada tidak? Kondisinya bagaimana? Tapi hanya dijawab ibu ada di rumah sakit. Saya langsung balik ke rumah sakit dan ternyata ibu sudah meninggal,” ujar staf UPTD Kecamatan Muara Sugihan ini.

Ia pun berterima asih kepada anggota DPRD yang sudah membantu. “Kalau barang yang hilang banyak beras skripsi saya, stempel-stempel, arsip-arsip, dan lainnya. Barang belanjaan seperti baju, anak ayam titipan anak saya, dan satu cincin emas yang ada di jari ibu juga hilang,” kata Suminta mengikhlaskan semuanya.

Soal fisarat, kata Suminta, dia tidak merasakan pertanda apa-apa terkait kepergian istri tercinta. Hanya saja, sejak istrinya datang ke Palembang hingga naik KM Mahakam, paha kanan Suminta sering bergetar dengan sendirinya. “Saya tanya sama ibu, kenapa paha saya bergetar terus bu? Ibu jawab, orak opo-opo, Pak,” ingat Suminta.

Anak kedua almarhumah, Sefti juga mengaku tidak tidak merasakan firasat apapun. Ketika ibunya pergi, ia sempat minta belikan anak ayam potong untuk diternak di rumah yang bersebelahan dengan rumah orang tuanya.

“Saya tidak ada firasat apapun. Tapi ada keluarga dari bapak, Arni (30), mimpi rumah bapak ramai lagi hajatan. Namun Arni cari ibu, ibu tidak ada,” jelas Sefti sembari menggendong anaknya yang terus menangis.

Dikatakan Sefti, ibunya berniat melanjutkan kuliah di Pascasarjana Universitas Gajah Mada (UGM) Jogjakarta, namun belum tercapai. “Mungkin adik saya kerja dulu, setelah ada rezeki bisa melanjutkan kuliah,” pungkas Sefti. (*/ce1)

Sumatera Ekspres, Selasa, 8 Januari 2014

About Iwan Lemabang
Aku hanya manusia biasa yang tak luput dari salah dan dosa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: