Kisah Keluarga Korban Kecelakaan KM Mahakam di Sungai Musi (2)


Jebol Jendela, Tak berhasil Selamatkan Istri

Kisah Keluarga Korban Kecelakaan KM Mahakam di Sungai Musi (2)
Berduka: Sutiono didampingi anaknya Kartika Fajar Kuncahyo menunjukkan foto almarhumah semasa hidup

Bunyi suara ledakan terdengar sangat keras. Kapal Motor (KM) Mahakam naik vertikal dengan sudut 90 derajat. Setelah itu kapal tenggelam. Seluruh penumpang berteriak histeris dan berusaha menyelamatkan diri. Begitu juga pasangan suami istri Sutiono dan Magdalena. Seperti apa?

================================
================================

Wajah Sutiono (48) terlihat kuyuh. Senyum yang mengembang di bibirnya seolah tak mampu menghapus duka mendalam atas meninggalnya istri tercinta, Magdalena (49), korban tenggelamnya KM Mahakam setelah menabrak tonggak di depan Dermaga Bagus Kuning, Jumat (3/1) lalu.

Dari puluhan penumpang KM Mahakam, Magdalena merupakan salah satu dari enam korban tewas lainnya. Ia dimakamkan di pemakaman umum desanya, sekitar pukul 09.00 WIB. Sabtu (4/1). “Silakan masuk, Mas. Tapi maaf mash berantakan. Karena kami beru selesai menguburkan ibu (Magdalena, red),” kata Sutiono (48) kepada koran ini di kediamannya, Jembatan 4 Desa Sidomulyo, Kecamatan Muara Padang, Kabupaten Banyuasin, Sabtu (4/1).

Mengenakan kaos olahraga warna merah. Sutiono saat wawancara ditemani anak bungsunya Kartika Fajar Kuncahyo (17) yang kini duduk di kelas XI MAN 3, Palembang. Sedangkan anak sulungnya Yulian Romasyanti (21), mahasiswa Universitas Malahayati, Lampung Tengah berada di dalam rumah bersama pentakziah lain.

“Kami hanya dikaruniai dua anak. Ibu kepala SDN 17 Muara Padang. Kalau saya mengajar di sekolah yang sama, jadi wali kelas 2,” tutur Sutiono sembari menunjukkan foto-foto aktivitas istrinya semasa hidup. Mulai dari foto bersama para guru dengan mantan Gubernur Sumsel, Syahrial Oesman hingga foto istrinya menjadi peserta Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG) di Universitas Sriwijaya tahap VII, Palembang, 21-30 November 2013 lalu.

Selain aktivitas mengajar, Sutiono dan almarhumah istrinya punya usaha sampingan. Buka toko pecah belah hingga pakaian. Lokasi usaha persis di samping rumah permanen yang mereka tempati. “Saya sama Ibu ke Palembang mau tranfer uang kuliah ke anak kami, Yulianti (21) dan ngantar Kartika Fajar Kuncahyo segera masuk sekolah. Sudah itu, juga akan belanja keperluan isi toko. Banyak pesanan ke ibu. Bahkan ibu ke Palembang bawa uang sekitar Rp30 jutaan. Semua uang dan surat-surat penting dalam tas ibu hilang saat kejadian,” beber Sutiono sembari menatapi foto sang istri di tangannya.

Tatkala ditanya bagaimana keduanya ketika KM Mahakam yang mereka tumpangi tenggelam, Sutiono terdiam sejenak. “Setelah kapal berangkat dari Dermaga Benteng Kuto Besak (BKB), semua tidak ada masalah yang berarti,” tuturnya lirih.

Hanya saja, beberapa menit kapal berangkat, terdengar bunyi ledakan yang cukup keras dari arah mesin. Setelah itu, kapal langsung karam dengan posisi bagian depan terangkat. “Bunyi ledakan sangat keras dan langsung membuat kapal naik vertikal dengan sudut 90 derajat. Kapal kemudian tenggelam.”

Sebelum kapal tenggelam, Sutiono berusaha memecahkan jendela belakang sebelah kiri KM Mahakam yang terbuat dari plastik tebal, namun tidak berhasil. Kapal pun tenggelam dan gelembung udara sudah keluar dari mulutnya.

Sutiono yang terus mendorong jendela itu dengan tangannya hingga berhasil. Ia sembulkan kepalanya ke permukaan air sembari terus berusaha menarik badan dari jendela kapal. Giliran Sutiono menyelamatkan istrinya. Ia pegang dan tarik tangan istrinya, namun tetap tak berhasil melewati pintu tempat dia keluar tadi. “Badan ibu ‘kan besar, sehingga tidak muat. Maaf bu, bapak tidak bisa selamatkan ibu dari kecelakaan ini,” terang Sutiono yang terus teringat detik-detik terakhir bersama istrinya tersebut.

Bukan hanya Sutiono yang berjuang menyelamatkan istrinya. Penumpang lain juga terus berteriak minta tolong. Hanya saja, karena lalu lintas Sungai Musi ketika itu sepi, tak satu pun ada yang mendengar teriakan para korban.

Barulah setelah kapal tenggelam, ketek pasir melintas. Tak lama setelah itu datang ketek berisi penumpang. Nah, serang ketek itulah yang menyelamatkan penumpang yang lain. “Saya sendiri bisa berenang, tapi ibu tidak bisa berenang. Dan ibu meninggal sebelum ketek tadi datang,” sesalnya.

Selain rutin ke Palembang untuk menjenguk maupun transfer uang kuliah anak, almarhumah Magdalena juga rajin kontrol penyakit darah tinggi (hipertensi)-nya ke RS AK Gani. “Setelah transfer dan ketemu anaknya di MAN Pakjo, ibu juga habis kontrol darah tinggi di RS AK Gani. Obat-obat ibu semua hilang bersama barang belanjaan. Tak ada yang tersisa. Malah sepatu saya juga hilang satu. Padahal sepatu itu sistem tali seperti sepatu satpam, tapi tetap bisa terlepas. Pas di rumah sakit, saya juga dikasih sarung oleh orang,” terangnya.

Atas kejadian tersebut, Sutiono berharap agar penyidik bisa mengusut tuntas penyebab kecelakaan. Sedangkan kepada pemerintah agar dapat memberikan perhatian serius terutama daerah-daerah rawan kecelakaan dengan memasang rambu-rambu termasuk di peraian. “Memang jumlah penumpang sudah lebih kapasitas. Belum lagi banyak bawa barang belanjaan, akibatnya saat kecelakaan banyak korban tewas,” ulasnya.

Sutiono juga minta Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Banyuasin dapat merealisasikan pembangunan jalur darat yang menghubungkan ke wilayah lain. “Saya sendiri trauma dengan kejadian ini. Sebab itu terjadi tepat di dapan mata saya dan istri saya sendiri yang jadi korban,” tuturnya.

Memang, tidak gampang menjangkau kediaman para korban, salah satunya rumah Sutiono. Butuh waktu tiga jam lebih menggunakan speedboat. Ada akses jalur darat, namun sudah rusak karena jalannya maih terbuat dari tanah timbunan. Belum ada aspal. “Jalur darat harus melalui daerah perkebunan karet dan sawit. Saat musim hujan tidak bisa dilalui.”

Dimata, Kartika Fajar Kuncahyo, ibunya dekat dengan semua orang. Tak hanya dengan wali murid dan para siswa, tapi juga dengan para tetangga. “Ibu dengan anak-anaknya sendiri sangat disiplin termasuk dengan para siswa. Kalau kesehariannya, ibu orangnya periang, ramah dan supel dengan semua orang,” bebernya.

Kartika Fajar sendiri tahu kalau kedua orang tuanya mengalami kecelakaan setalah ayahnya menghubungi. Lantas dia menjemput ayahnya dengan motor dan langsung menuju ke RSMP. Tiba di RSMP, ibunya sudah meninggal. “Kami hanya bisa berdoa semoga ibu bisa mendapat tempat terbaik di sisi Allah SWT. Dan kami mewakili ibu minta maaf atas kesalahan dan kekhilafan yang pernah dibuat ibu selama ini,” pungkasnya.

Sementara itu, pihak Satpolair Polresta Palembang terus melakukan pendalaman dalam penyelidikan terkait kecelakaan KM Mahakam, Jumat (3/1). Setelah menetapkan Eka Trisna (24) warga Jalur 18, Kecamatan Muara Padang, Banyuasin, sebagai tersangka, surat perintah penahanan (SPHan) telah diterbitkan untuk menyidiknya lebih dalam.

“Dibuat dengan waktu 21 hari, dan dapat diperpanjang. Kita juga dalami keterangan lima orang saksi, tiga penumpang dan dua anak buah kapal (ABK),” kata Kasat Polair Kompol Junaidi SIk, melalui Kanit Penegakkan Hukum (Gakkum) AKP Benny Wijaya SH.

Lanjutnya, pihaknya juga telah melayangkan surat panggilan untuk memintai keterangan dari PT Pertamina RU III dan Dishub Kota Palembang terkait ini. “Apakah akan dipotong, dicabut, atau dipasangi tanda akan dikoordinasikan lebih lanjut.”

Lalu, terkait keterangan pihak PT Pertamina RU III yang seolah lepas tangan, mengatakan tonggak Ponton di dermaga itu dikelola oleh pusat, Satpolair punya jawaban sendiri. “Nanti kita mintai keterangan dan kejelasan. ada tidak arsipnya, karena belum tentu dipakai untuk Ponton, biar jelas juga status dan posisinya,” lanjut Benny.

KM Mahakam terbalik setelah bagian lambung kapal menabrak tonggak besi di kawasan Dermaga Bagus Kuning, persis di belakang Stadion Patra Jaya. Enam orang tewas dalam kejadian ini dan kasus tengah diusut oleh Sat Polair Polresta Palembang. Polisi kini telah memasang police line diareal sekitar TKP.

Lebih lanjut, demi keselamtan penumpang dan serang di perairan Sungai Musi, Benny mengibau untuk menggunakan life jacket yang selama ini kerap disepelekan. “Begitu juga dengan jumalah penumpang serta angkutan yang kita himbau untuk tidak melebihi batas,” tukasnya. (*/aja/ce1)

Sumatera Ekspres, Senin, 6 Januari 2014

Advertisements

About Iwan Lemabang
Aku hanya manusia biasa yang tak luput dari salah dan dosa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: