Mengenal Perkampungan Muslim


Mengenal Perkampungan Muslim
Tionghoa di kawasan 3-4 Ulu (foto by: Sumeks Minggu)

Dampak Asimilasi, Keturunannya Lebih Sreg Disebut Baba-Nona
Banyak masyarakat Palembang memiliki kulit putih serta mata sipit layaknya orang China. Bisa jadi, mereka merupakan keturunan masyarakat Tionghoa yang sejak lama berasimilasi dengan penduduk lokal sejak zaman Kesultanan Palembang Darussalam. Salah satu alasan mudahnya mereka diterima penduduk lokal hingga Sultan kala itu, karena masyarakat China yang mengungsi ke Palembang akibat dampak perang telah memeluk agama Islam. Pemukiman mereka kala itu tersebar di kawasan Seberang Ulu, khususnya di perkampungan 3-4 Ulu. Sedangkan keturunan mereka saat ini lebih sreg dipanggil dengan istilah Baba serta Nona.

Para pengungsi China di Palembang diyakini cukup banyak. Bagi para pendatang seperti ini, pada zaman Kesultanan biasanya diminta untuk tinggal di rumah rakit, tepian sungai Musi. Dengan alasan keamanan, para pendatang kala itu akan lebih mudah diawasi.

Ada juga yang mendapat keistimewaan oleh Sultan. Seperti dialami tiga saudara, pengungsi dari Cishuan, Tiongkok Selatan. Mereka adalah Kapitan Asing Minal Muslimin, Kapitan Bela Minal Muslimin serta Kapitan Hong Su (Bong Su) Minal Muslimin.

Akibat peperangan hebat di negeri asal mereka, ketiganya kemudian mengungsi ke Palembang pada awal abad ke 16. Sayang, saat memasuki perairan Musi, Kapitan Hong Su Minal Muslimin tewas dalam pertempuran melawan bajak laut.

Kedatangan dua orang China ini ternyata mendapat sambutan hangat oleh Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) I. Selain faktor keturunan bangsawan Tiongkok, keduanya merupakan muslim. Oleh Sultan, keduanya malah dinikahkan dengan putri-putrinya.

“Setelah dinikahkan dengan putri Sultan, keduanya pun diberi jabatan,” ungkap Sejarawan Drs H Mirza Fansyuri MPd kepada Sumeks Minggu dibincangi belum lama ini.

Kapitan Bela dijadikan Demang (setingkat Gubernur, red) di kawasan pulau Bangka. Sedangkan saudaranya Kapitan Asing menjadi Demang di Palembang, berkedudukan di Kampung Gedong Batu, kawasan 3-4 Ulu saat ini.

Pada perjalanannya, anak Kapitan Bela bernama Nona Besar dinikahkan dengan anak Kapitan Asing bernama Kho Cing (Yu Cin). Mereka kemudian memiliki anak bernama Baba Muhammad Najib yang kemudian menikah dengan putri Sunan Palembang, Nyai Den Ayu. Setelah naik sebagai pejabat di Kesultanan ia bergelar Kyai Demang Wiro Guno.

Dari lima orang anak Demang Wiro Guno, salah seorang anaknya Wiro Laksono menggantikan posisi Wiro Guno sebagai Demang Palembang, dengan tugas mempertahankan Kesultanan Palembang dari gangguan Belanda. Akibat kelicikan Belanda, Demang Wiro Laksono terbunuh pada tahun 1820, dimakamkan di dusun Belido, Muara Enim.

Namun, salah satu keturunan Wiro Laksono bernama Baba Muhammad Najib yang setelah pelariannya malah diangkat oleh Belanda sebagai Kepala Divisi Komering Ilir dibawah Residen Palembang atas persetujuan Perdana Menteri Kesultanan Palembang.

Setelah diangkat sebagai pejabat, ia bergelar Demang Jayo Laksono. Namanya hingga kini diabadikan sebagai nama lorong di kawasan Kelurahan 3-4 Ulu. Yakni, lorong Jaya Laksana. Semasa hidup, ia membangun rumah limas bertempat di kawasan Gedong Batu 3-4 Ulu. Bersama Syekh Muhammad Azhary Palimbani menyebarkan agama Islam melalui jalur pendidikan, bertujuan memberantas buta Al-Qur’an.

“Di rumah limas miliknya, Jaya Laksana juga mengajar dengan sistem tradisional. Warga yang ingin belajar Al-Qur’an, tauhid datang ke rumahnya. Ya, seperti pesantren,” jelas Mirza yang juga Dosen Sejarah di Universitas PGRI Palembang.

Dengan uraian tersebut pula, Mirza menyimpulkan, kawasan 3-4 Ulu, khususnya di lorong Jaya Laksana merupakan kawasan muslim Tionghoa yang sudah ada sejak berabad abad lalu. “Kawasan rumah MBR yang sekarang dibangun Pemkot, itu diperkirakan juga masuk perkampungan muslim Tionghoa. Dirunut berdasarkan sejarah, sayang jika dirombak menjadi MBR,” tandasnya.

Pengungsi Dari Dinasti Ming
Sementara itu, Abdul Azim Amin MHum, Dosen Fakultas Adab dan Humanaria IAIN Raden Fatah Palembang, keturunan kelima Demang Jayo Laksono menanggapi datar istilah perkampungan Tionghoa di kawasan 3-4 Ulu. Azim membenarkan jika leluhurnya, terutama Kapitan Asing Minal Muslimin pertama kali tinggal di kawasan tersebut.

Hanya saja, sejak Kapitan Asing hingga turunan kebawah telah banyak berasimiliasi dengan penduduk lokal. Azim tampaknya kurang sreg dengan istilah Tionghoa yang diakuinya memang melekat pada dirinya serta keluarga besarnya. “Waktu saya kecil, ada kebiasaan yang sempat saya lihat dan bernuansa China. Waktu bulan Ramadhan, di kampung saya sering saya lihat lampion-lampion merah di rumah penduduk,” jelasnya.

Lantas apa julukan yang tepat bagi keturunan seperti mereka? Menurutnya, keturunan seperti mereka lebih cocok disebut dengan istilah baba (keturunan muslim China laki-laki, red) dan nona (keturunan muslim China perempuan, red).

“Waktu saya sekolah SMA di Jawa, teman-teman saya banyak memiliki silsilah keluarga. Tahun 1971, dari cerita serta data yang peroleh saya mulai menyusun silsilah keluarga. Apalagi zaman internet seperti ini, banyak keluarga saya ditemukan. Dari silsilah kami, istilah baba dan nona lebih tepat. Istilah itu juga digunakan oleh keturunan muslim China di nusantara,” jelasnya dibincangi Sumeks Minggu, di Fakultas Adab dan Humanaria IAIN Raden Fatah, Rabu (27/2) lalu.

Komunitas muslim China seperti leluhurnya Asing Minal Muslimin beserta saudaranya pada awal abad ke 16 yang datang ke Palembang menurut Azim cukup banyak. Alasannya, saat itu merupakan berakhirnya kekuasaan Dinasti Ming, sebuah kerajaan Islam besar di dunia kala itu. Dinasti Ming sendiri berkuasa pada abad ke 13 hingga abad ke 16, digantikan Dinasti Qing.

“Selain faktor bangsawan, pemeluk Islam, hubungan antara China dan Palembang pada masa itu sangat baik. Hal lumrah jika bangsawan China kala itu meminta perlindungan pada Kesultanan Palembang. Apalagi, sebelum kedatangan mereka, Laksamana Cheng Ho sempat datang ke Palembang pada abad ke 15 untuk meredam perampok di perairan Musi,” urai Azim.

Yang menarik adalah analisa Amin terkait kehancuran Dinasti Ming. Menurutnya, saat Dinasti Ming berkuasa, Indonesia merupakan wilayah kekuasaan China, khususnya masalah perdagangan. Pada abad ke 15, Dinasti Ming menurutnya lebih memfokuskan untuk mempertahankan wilayah nusantara dari gangguan Belanda.

“Saat itu kan ada persaingan antara China, Belanda, Portugis terkait daerah kekuasaan. Karena lebih memfokuskan mempertahankan nusantara, mengamankan perdangangan rempah-rempah, dari Belanda, masyarakat di China sendiri terbengkalai. Mulailah, para Jendral Dinasti Ming melakukan pemberontakan,” cetusnya.

Itu juga dilihatnya dari catatan sejarah. Leluhurnya mengungsi ke Palembang pada tahun 1618. Tiga tahun kemudian (1622, red) Belanda menguasai Banten. Lalu menguasai selat Malaka pada tahun 1641. “Tak lama, baru Belanda melakukan kerjasama dengan Palembang. Kesultanan kala itu menerima kerjasama karena tidak memiliki banyak pilihan,” tandasnya. (wwn)

Written By: Samuji
Sumeks Minggu, Rabu, 06 Maret 2013

Advertisements

About Iwan Lemabang
Aku hanya manusia biasa yang tak luput dari salah dan dosa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: