Aku tidak Mampu Selamatkan Anakku


Baru Lima Menit Tabrak Tonggak lalu Tenggelam

Aku tidak Mampu Selamatkan Anakku Hariyatun Gagal Raih Tangan Fahri

Speedboat Mahakam Tabrak Tonggak

Enam Tewas, 12 Luka

Speedboat Mahakam pukul 15.00 WIB berangkat dari Dermaga 16 Ilir Palembang menuju Jalur Banyuasin. Speed diserangi (dinakhodai) Eka Trisna (25), dengan penumpang sekitar 70 orang (tidak terdata rinci), sejumlah sepeda motor barang bawaan penumpang.

• • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • •

PALEMBANG — Awal tahun 2014 perairan, Sungai Musi menelan sebanyak enam korban jiwa yang tewas tenggelam. Speedboat Mahakam, kapal yang mengangkut sekitar 70 penumpang dari Palembang tujuan Jalur 18 Muara Padang Banyuasin, karam dan tenggelam di perairan Sungai Musi kawasan Bagus Kuning Palembang, Jumat (3/1) pukul 15.00 WIB.

Lantai dasar kapal yang berada di tengah-tengah kursi penumpang, tiba-tiba bocor setelah menabrak tonggak yang berada di tengah sungai. Lantaran melihat air masuk kapal, puluhan penumpang mendadak panik dan berusaha meyelamatkan diri masing-masing. Akibatnya dasar kapal jebol dan membuat kapal karam, dalam sekejap kapal pun tenggelam.

Puluhan penumpang pria dan wanita, tua dan muda pun saling sikut menyelamatkan diri yang terkurung di dalam dek kapal. Enam nyawa penumpang tak terselamatkan akibat tenggelam. Hariyatun (42), salah satu penumpang yang selamat, menangis histeris mengetahui Fahri, anaknya yang berumur tujuh tahun meninggal dunia. “Air itu tba-tiba masuk kapal dekat kursi kami terus tenggelam. Waktu tenggelam, saya keluar karena bisa berenang, sedangkan anak saya Fahri tidak bisa berenang. Waktu itu saya tidak bisa meraih tangan Fahri karena keburu tenggelam,” ujar Hariyatun yang tak henti-hentinya menangis.

Diakui Hariyatun, saat kapal menabrak tonggak, terdengar suara yang sangat keras. Namun belum sempat mengetahui suara sumbernya dari mana, air sungai sudah masuk dengan deras ke dalam kapal melalui dasar. “Fahri anakku…,” tangis Hariyatun yang terus mengalirkan air matanya.

Kesedihan juga dirasakan penumpang kapal lainnya, seperti halnya. Terutama keluarga korban meninggal dunia yang tak henti-hentinya berurai air mata. “kapal itu tabrak tiang, terus pecah. Kami semuanya tenggelam dan menyelamatkan diri masing-masing, Fahri itu keponakan saya, tadi (kemarin) duduk bersama Yogi anakku. Tapi, Yogi bisa berenang dan keluar dari kapal,” ujar Nurhamidah (33) warga Jalur 18 KTM Telang yang merupakan salah satu penumpang kapal yang selamat.

Sementara puluhan penumpang lainnya mengalami trauma saat menjalani perawatan medis di IGD RS Muhammadiyah Palembang.

“Kami berangkat dari Benteng bawah Jembatan Ampera. Sekitar 15 menit jalan, kapal menabrak tiang dan bunyinya kruukkkk…. Saya sebenarnya sudah ada firasat, speedboad banyak beban. Penumpang saja ada sekitar 70 orang dan di atas speedboad itu ada tujuh motor. Waktu tenggelam, Jembatan Ampera masih terlihat jelas, karena baru jalan sebentar,” ujar Suparjo (62), salah satu korban yang selamat ketika dirawat di IGD RS Muhammadiyah Palembang.

Masih tak Percaya
Usai speedboad 200 merk Mahakam yang ia serangi menabrak tonggak di wilayah perairan Sungai Musi yang ada di belakang Lapangan Patra Jaya, Eka Trisna (25) langsung diamankan Polair Polresta Palembang untuk dimintai keterangannya.

Dari informasi yang diberikan tim penyidik, pria asal Jalur 18 Belitang, Banyuasin ini masih syok dengan dengan kejadian naas yang baru menimpanya.

“Dari informasi yang diberikan tim penyidik, Eka masih terlihat cemas. Mukanya pucat dan nada bicaranya putus-putus. Ia juga masih tidak percaya dengan kejadian ini,” kata Kasad Polair Polresta Palembang, Kompol Junaedi.

Diungkapkan Junaedi, dari keterangan yang sudah didapat dari Eka, kejadian bermula saat speedboad bernama Mahakam yang diserangi Eka hendak berangkat dari Palembang menuju Jalur. Di dalam speedboad, terdapat sekitar 50 penumpang dengan membawa tujuh sepeda motor dan berbagai jenis barang lainnya.

Begitu tiba di lokasi kejadian, Eka ditengarai tidak menyadari keberadaan tonggak yang ada di depan speedboad. Speedboat yang tengah melaju cukup kencang, ditambah dengan arus sungai yang deras, membuat speedboat menabrak tonggak cukup telak.

Akibat kejadian tersebut, beberapa bagian dari speedboat pun hancur. Lambung spedboat bocor dan menyebabkan air masuk ke dalam speedboat.

Dilanjutkan Junaedi, Eka saat ini belum berstatus tersangka, ia diperiksa sebagai saksi. Namun, tidak menutup kemungkinan, status itu bisa didapati Eka jika terbukti ada kelalaian saat Eka mengendarai speedboat. “Dia saat ini masih dalam pemeriksaan intensif. Untuk sementara, belum diperkenankan untuk bertemu dengan siapa pun,” tuturnya. (mg19/mg2/cr10)

Saya tidak Kuat Jalani Hidup Lagi

Speedboat Mahakam membawa warga yang umumnya berprofesi sebagai guru. Selain tujuh sepeda motor dan sembako, para penumpang juga dokumen. Seperti ijazah dan SK PNS. Sutiono, sala satu korban yang selamat menerangkan dirinya sama sekali tidak mengetahui asal muasal kejadian. Menurut pria yang berprofsi sebagai guru ini, kapal yang ditumapanginya tiba-tiba kandas di Sungai Musi dan membuat semua penumpang panik.

“Saya sempat menarik badan istri melalui jendela, tapi karena badanya besar akhirnya tidak lolos dri jendela triplek tersebut dan tidak terselamatkan. Saya sudah tidak tahu lagi harus bagaimana, rasanya tidak kuat menjalani hidup ini lagi, ditambah semua dokumen penting milik saya hilang entah ke mana,” ujar Sutiono sembari meneteskan air mata.

Sementara Dewi (27), penumpang kapal yang selamat, masih bersyukur meskipun barang-barangnya tenggelam. Dewi yang berangkat bersama anak dan bapaknya, selamat setelah bersusah payah berenang ke tepian sungai. “Anak saya Wildan ini baru tujuh tahun dan tidak bisa berenang. Untung ada mbahnya bernama Suparjo yang menariknya dari dalam kapal. Saya waktu itu ikut juga tenggelam. Tapi bapak saya Suparjo kembali lagi datang menarik saya dari dalam kapal,” cerita Dewi yang sedikit syok dan trauma menceritakan karamnya kapal. (mg19/cr10)

Korban Tewas Tenggelam

1. Mahdalena (49) perempuan, warga Desa Sidomulyo, Jalur 18 Muara Padang. 2. Sri Kadarwati (48) perempuan, warga Jalur 18 Muara Padang. 3. Fahri (7) laki-laki, warga Desa Sikam 3 Gelumbang Muara Enim. 4. Tunjiah (50) perempuan, warga Jalur 16 Jembatan 2, Kecamatan Muara Sugihan. 5. Dian Lestari (29) perempuan, warga Desa Daya Makmur Jalur 18 Muara Padang. 6. Kartini (15) perempuan, warga Jalur 16 Jembatan 2 Kecamatan Muara Sugihan.

Korban Selamat yang Sempat Dirawat di IGD RS Muhammadiyah Palembang: 1 Husnul (P) 14 tahun. 2. Habib Akbar (L) 3 tahun. 3. Nurhamid (P) 33 tahun. 4. Hengki (L) 29 tahun. 5. Yogi (L) 13 tahun. 6. Sutiono (L) 48 tahun. 7. Sukardi (L) 46 tahun. 8. Suparjo (L) 61 tahun. 9. Wildan (L) 7 tahun. 10. Heru Samudra (L) 7 tahun. 11. Hariyatun (P) 40 tahun. 12. Misbahul Munir (P) 28 tahun. 13. Dewi (P) 27 tahun. 14. Yesi (P) 28 tahun. 15. Muslim (L) 40 tahun. 16. Almer (L) 2,5 tahun. 17. Lia (P) 24 tahun. 18. Zamara (P) 5,5 tahun. 19. Anggi (P) 14 tahun. 20. Sikem (P) 47 tahun. 21. Aldi (L) 3 tahun.

Sriwijaya Post, Sabtu, 4 Januari 2014

About Iwan Lemabang
Aku hanya manusia biasa yang tak luput dari salah dan dosa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: