Peserta BPJS Masih Bingung


Peserta BPJS Masih Bingung
Antre: Warga antre mengurus kartu Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), di hari kedua berlakunya Badan Penyelenggaraan Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan, kemarin. Mereka mendatangi kantor
BPJS di Jl R Soekamto

Saat Daftar Anggota Baru JKN

Kartu Lama Berlaku hingga April 2014

PALEMBANG — Hingga hari kedua berlakunya Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan, masih banyak masyarakat yang mengaku bingung untuk menjadi anggota baru program yang diluncurkan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) pada 31 Desember 2013 lalu. Akibatnya, sedikit yang tercatat mendaftar dalam Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) tersebut.

Meski demikian, warga antusias dengan program anyar ini. “Saya mau masuk Program JKN, makanya datang ke kantor BPJS Palembang. Tapi, belum bawa syaratnya apa saja. Masih mau tanya dulu ke petugas,” ujar Yanto (32), yang datang ke kantor BPJS di Jl R Soekamto, kemarin.

Cukup banyak yang datang ke kantor BPJS kemarin. Mereka rela antre untuk dilayani petugas. “Tercatat sekitar 200 orang yang datang langsung ke kantor BPJS. Mereka antusias mendaftarkan diri menjadi peserta BPJS,” ungkap Kepala BPJS Kesehatan Devisi Regional III, dr H Handaryo MM, kemarin.

Yang mendaftar menjadi peserta, tidak hanya masyarakat umum, tapi ada juga dari perusahaan yang belum bergabung. Kantor BPJS Kesehatan sendiri buka mulai pukul 08.00-17.00 WIB. Setelah mendaftar di kantor BPJS, peserta melakukan pembayaran di bank atau via ATM.

Menurut Handaryo, melihat antusias masyarakat mendaftar sebagai peserta, pihaknya akan menyiapkan ATM mobile. Syarat pendaftaran, cukup bawa kartu keluarga (KK), KTP, foto 3×4 cm satu lembar serta membayar iuran dengan nominal sesuai kelas perawatan yang diinginkan. Menurutnya, banyak warga yang tidak tahu kalau kantor BPJS tetap buka meski 1 Januari lalu libur. Ada yang datang mendaftar, tapi tidak seramai kemarin.

Handaryo mengungkapkan di sejumlah rumah sakit pihaknya juga membuat loket BPJS. Hanya, di RSMH misalnya sempat terjadi gangguan internet (bandwidth, red) lantaran jaringan internet BPJS Kesehatan digunakan untuk video converence (komunikasi nasional). “Tapi setelah itu lancar lagi,”

Bagaimana sebetulnya pelaksanaan program ini di rumah sakit? Pantauan Koran Ini di RSMH misalnya, keluarga pasien yang mengurus berkas administrasi perawatan terlihat antre. Salah seorang dari mereka, Drs A Rasjid Marim (63). Ia sebelumnya perserta Askes. Dibincangi kemarin, dia mengeluhkan pelayanan di loket BPJS Kesehatan justru lebih lambat dibandingkan dengan menggunakan Askes. “Hari ini (kemarin) jadwal pemeriksaan penyakit jantung saya. Sudah menunggu dari pukul 09.00-11.30 WIB ini belum dipanggil lagi. Counter yang berfungsi kelihatannya hanya dua,” keluhnya.

Ia menilai, program JKN ini sama dengan Askes. “Hanya nama dan wadahnya yang berbeda. Soal pelayanan dan sistemnya tidak ada perubahan. Kartunya saja masih menggunakan kartu Askes, belum diganti kartu BPJS,” ucap Rasjid tersenyum.

Kepala Instalasi Hukum dan Humas RSMH Palembang, Dra Emma Huzaimah, menjelaskan, di hari kedua berlakunya BPJS Kesehatan, pasien memang membludak. Pasalnya, hari pertama program ini dilaunching 1 Januari lalu, loket pelayanan masih tutup. “Hanya pelayanan emergency yang tetap berjalan,” katanya.

Ia mengatakan, yang agak lama hanya saat pelayanan pendaftaran dan verifikasi peserta di loket. Tapi setelah terdaftar, pasien langsung menuju poliklinik tanpa ada hambatan lagi. “Malah mereka lebih nyaman dengan poliklinik baru,” jelas Emma.

Koordinator BPJS Center RSMH Palembang, dr Adiwan Qodar AAAK mengungkapkan, pasien rawat jalan, peserta BPJS memang banyak. Sedang pasien rawat inap lebih sedikit. Soal keluhan pasien, dr Adiwan mengatakan, dibutuhkan penyesuaian data pasien BPJS pada aplikasi baru. Apalagi kepesertaannya bertambah.

Sebenarnya, disediakan empat counter pelayanan di RSMH Palembang. Tapi saat evaluasi, empat counter tidak cukup menangani 187 pasien. “Kami menghitung satu counter menangani 50 pasien sehingga dengan empat counter mampu melayani 200 pasien.”

Melihat antrean yang menumpuk, dr Adiwan mengungkapkan pihaknya akan meningkatkan pelayanan dengan menambah dua counter lagi. Jadi nanti akan ada enam counter BPJS Kesehatan. Ia memastikan semua pasien BPJS di RSMH terlayani dengan baik. “Hari ini (kemarin) jumlah pasien lebih sedikit, hanya sekitar 180 pasien. Biasanya per hari mencapai 200 pasien,” tutur dia.

Pelaksana tugas (Plt) Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Sumsel, dr Hj Fenty Aprina Mkes, mengatakan, pemegang kartu Asuransi Kesehatan (Askes), Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas), Tentara Nasional Indonesia (TNI), Polri, dan Jaminan Sosial Tenaga Kerja (Jamsostek) JPK masih tetap bisa menggunakan kartu lama untuk mendapatkan JKN yang dikelola BPJS Kesehatan. “Kartu itu masih berlaku hingga April 2014. Diharapkan kartu BPJS bisa selesai dicetak pada bulan itu,” ungkapnya.

Terpisah, Kepala BPJS Kesehatan, Fahmi Idris usai mendampingi Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat (Menko Kesra) Agung Laksono membagikan kartu JKN di Pasar Johar Baru, Jakarta Pusat mengakui kalau masyarakat masih kebingungan dengan sistem baru ini. Sehingga minimnya jumlah pendaftar akan mungkin masih terjadi dalam beberapa waktu ke depan.

Sadar dengan masih belum sempurnanya sistem BPJS Kesehatan ini, Fahmi juga mengingatkan pihak rumah sakit untuk tidak menolak pasien yang datang tanpa membawa Kartu BPJS Kesehatan. Ia meminta mereka dilayani meskipun belum mengantongi kartu tersebut. Selain masyarakat umum, ternyata dari pihak dokter pun masih belum melakukan pendaftaran Jaminan Kesehatan milik pemerintah ini. Dijelaskan oleh Ketua PB Ikatan Dokter Indonesia Zaenal Abidin, pihaknya masih disibukkan untuk melakukan pelayanan pada masyarakat sehingga masih belum sempat untuk mendaftar. Zaenal mengatakan akan segera mengingatkan rekan sejawatnya untuk segera ikut serta mendaftar menjadi anggota BPJS Kesehatan. Ia menilai, yang berhak mendapatkan pelayanan kesehatan yang baik bukan hanya masyarakat, pihak peberi layanan kesehatan juga berhak mendapatkan pelayanan terbaik.

Selain itu, Zaenal juga meminta agar seluruh pemangku kepentingan melakukan pengawasan penuh pada sistem baru ini. Jika memang diperlukan, lanjut dia, evaluasi bisa segera dilaksanakan. “Tidak perlu menunggu dua tahun untuk evaluasi, tiga bulan saja kalau menemukan banyak kendala bisa langsung dilakukan evaluasi,” ujarnya.

Sebelumnya, Menko Kesra Agung Laksono juga melakukan kunjungan ke kantor BPJS Kesehatan di Cempaka Putih, Jakarta Pusat. Di sana, Agung memeriksa jalannya koordinasi BPJS Kesehatan pusat dengan daerah. Ia juga sempat melakukan telekonferensi dengan perwakilan di Surabaya, Menado, Medan, dan beberapa wilayah lainnya. Pada kesempatan itu, BPJS Menado sempat mengeluhkan tentang kurangnya fasilitas yang mereka miliki. Dalam perbincangan tersebut, perwakilan BPJS Kesehatan Menado mengungkapkan bahwa masih ada satu rumah sakit di Sulawesi Utara yang belum bergabung dalam BPJS Kesehatan. (cj3/cj7/rip/fad/ran/mia/ce1)

Sumatera Ekspres, Jumat, 3 Januari 2014

About Iwan Lemabang
Aku hanya manusia biasa yang tak luput dari salah dan dosa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: