Macet Ibarat Minum Obat


Macet Ibarat Minum Obat
Langganan Macet: Beberapa titik jalan protokol di kawasan Seberang Ilir jadi langganan macet. Kawasan Km 5, depan Telkom dan Kodam, kawasan Sekolah Balayudha, Jembatan Ampera dan Jl Jenderal Sudirman kawasan arah BAM

2019, Palembang Diprediksi Macet Total

PALEMBANG — Sebagai ibukota Provinsi Sumsel, pembangunan Kota Palembang memang makin menggeliat. Perekonomian dan tingkat kesejahteraan masyarakat juga makin membaik. Imbasnya, kepemilikan kendaraan bermotor terus tumbuh.

Sayangnya, kondisi infrastruktur, khususnya pertumbuhan jalan tak seimbang. Problem yang muncul adalah kemacetan. Akhir-khir ini, intensitas dan kualitas kemacetan makin tinggi. Untuk waktu macet, ibaratnya seperti minum obat, tiga kali sehari. Pagi saat jam pergi sekolah dan berangkat kerja. Siang saat jam pulang sekolah dan sore saat jam pulang kerja. Siski Pratiwi, mahasiswa salah satu perguruan tinggi swasta di Palembang berharap pemerintah cepat mengurangi kemacetan yang terjadi.

”Memang saat ini sedang dibangun flyover simpang Jakabaring dan underpass simpang Patal. Tapi pelebaran jalan sangat diperlukan,” katanya. Kemacetan yang tiap hari terjadi membuat warga gerah. Arianto, warga Sukabangun mengeluhkan makin banyaknya titik macet. Ia mencontohkan di ruas Jl Kol H Barlian sering terjadi macet di kawasan Km 5. “Parkir mobil sampai berlapis tiga di kawasan Balayudha hingga depan RS Bhayangkara pasti memacetkan jalanan,” tuturnya.

Selain karena parkir mobil berlapis tiga, ulah sopir angkot dan bus kota menaikturunkan penumpang di kawasan itu membuat arus lalu lintas benar-benar tersendat. “Pagi saat pelajar masuk sekolah, siang saat pulang sekolah, tiap hari macet,” cetus Arianto. Belakangan ini, jalan-jalan protokol makin sering macet. Di Jl Kol H Barlian, selain di Km 5, macet sering juga terjadi di perputaran Km 8. Di Jalan Jenderal Sudirman, titiknya di kawasan sekolah Balayudha, lalu depan Telkom dan Kodam II Sriwijaya, dan yang mengarah ke Bundaran Air Mancur (BAM).

Macet Ibarat Minum ObatJembatan Ampera kini jadi langganan macet tanpa mengenal waktu. Pengendara motor sekalipun tak jarang harus menghabiskan waktu sekitar 30 menit bahkan lebih untuk bisa lepas dari kemacetan yang sering terjadi hingga ke Simpang Jakabaring. Di Jl A Yani, saat pulang sekolah macet terjadi di depan RS Muhammadiyah dan kampus Bina Dharma.

Kepala Bidang (Kabid) Transportasi Massal dan Rel Dishub Palembang, Agus Supriyanto, mengungkapkan, kemacetan di seberang UKB terjadi karena maraknya keberadaan taksi gelap. “Kami sudah berulang kali menertibkannya tapi tetap saja masih ada karena mereka beroperasi kucing-kucingan,” bebernya. Taksi gelap pelat nopol hitam itu tidak ada izin trayek dan tidak mengantongi surat resmi operasional sebagai travel. Dishub dan pihak terkait hanya bisa menilang dan member sanksi pidana karena telah melanggar ketertiban dan ketentraman saja. “Sayangnya, denda dan sanksi ini rupanya belum memberikan efek jera bagi travel gelap tersebut,” cetus Agus.

Menurut Sekretaris Dinas PU BM Provinsi Sumsel, Basyaruddin Akhmad, prediksi pihaknya, pada 2019 akan terjadi kemacetan total di Palembang. “Karena itu pembangunan butuh solusi untuk memecahkan sumber kemacetan yang ada,” jelas Basyaruddin. Tak heran, Gubernur Sumsel H Alex Noerdin menilai pembangunan beberapa infrastruktur seperti Jembatan Musi III, IV maupun monorel adalah solusi cepat untuk mencegah terjadinya kemacetan yang lebih parah. (cj6/rip/yun/ce1)

Banyak Macet Insidentil

Macet Ibarat Minum ObatBanyaknya titk macet di wilayah Palembang diakui Kasat Lantas Polresta Palembang, Kompol Arief Fitrianto SIk. Untuk titik macet yang lama terindentifikasi pada tiga titik, yakni flyover Jakabaring, underpass Patal, dan sekitar Musi II. “Macetnya karena pada tiga titik itu terjadi penyempitan jalan karena adanya proyek pembangunan di sana. Lebar jalan yang seadanya tak sebanding dengan volume kendaraan yang tinggi,” ungkapnya.

Selain itu, ada sejumlah titik macet lain dengan lokasi menyebar. Titik macet ini kebanyakan di persimpangan dan perputaran kendaraan. “Sifatnya insidentil. Terjadi macet pada jam sibuk, pagi dan sore. Setelah itu biasanya akan normal kembali,” tutur Arief. Untuk mengurai kemacetan itu, Polresta menyiagakan 20 personel yang akan mengurai penumpukan kendaraan. Termasuk menyediakan jalur alternatif dan menutup perputaran (U-Turn) jika dianggap perlu. Satlantas Polresta Palembang menerapkan sistem buka tutup jika memang dibutuhkan. “Setiap mendapatkan laporan dari masyarakat adanya kemacetan, kami segera turunkan personel,” tegasnya. Ia mengimbau, masyarakat bisa aktif membantu kepolisian menginformasikan titik yang terjadi kemacetan.

Soal taksi gelap yang parkir di trotoar jalan di kawasan seberang Universitas Kader Bangsa ditegaskan Arief kalau itu selalu mereka tertibkan. “Kalau ada kendaraan yang parkir di badan jalan, langsung kami tertibkan. Kemacetan di sana (Seberang UKB, red) karena penyempitan jalan,” tukasnya. Sedangkan untuk parkir kendaraan berlapis di depan Polda diyakini tidak memunculkan kemacetan karena memang bukan termasuk titik macet. (yun/ce1)

Sumatera Ekspres, Jumat, 27 Desember 2013

About Iwan Lemabang
Aku hanya manusia biasa yang tak luput dari salah dan dosa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: