Majelis Taklim Saran Pendidikan Kaum Ibu


Majelis Taklim Saran Pendidikan Kaum Ibu

Oleh: H Hendra Zainuddin MPd I
————————————————–
Wakil Ketua PW Nahdlatul Ulama Sumsel
• • • • • • • • • • • • • • • • • • • •

Sekitar tahun 1990-an, majelis taklim mulai menjamur di Tanah Air. Majelis taklim merupakan salah satu lembaga pendidikan keagamaan khas Islam yang tumbuh subur di tengah-tengah masyarakat. Lembaga ini hampir terdapat di setiap komunitas muslim yang keberadaannya telah banyak berperan dalam pengembangan dakwah Islam.

Melalui majelis taklim, masyarakat yang terlibat didalamnya dapat merasakan betapa keberadaan lembaga ini menjadi sarana pembinaan moral spiritual serta menambah pengetahuan keislaman guna meningkatkan kualitas sumber daya muslim yang beriman dan bertakwa kepada Allah SWT.

Jika dicermati, ternyata eksistensi majelis taklim sebagai sarana dakwah dan tempat pengajaran ilmu-ilmu keislaman memiliki basis tradisi sejarah yang kuat, yaitu sejak Nabi Muhammad SAW mensyiarkan agama Islam di awal-awal risalah beliau. Bahkan hingga kini keberadaan majelis taklim masih menjadi pilihan para penggiat dakwah sebagai sarana paling efektif dalam melanjutkan tradisi penyampaian pesan-pesan keislaman ke tengah-tengah umat tanpa terikat oleh suatu kondisi tempat dan maupun waktu.

Dalam pratiknya, proses pengajaran keislaman di majelis taklim sangat fleksibel, bersifat terbuka serta tidak terikat oleh suatu kondisi tempat dan waktu. Tempatnya bisa dilakukan di rumah, masjid, gedung, aula, halaman dan sebagainya. Demikian juga dengan waktu penyelenggaraan: bisa pagi, siang, sore maupun malam hari. Fleksibilitas inilah yang membuat majelis taklim mampu bertahan sebagai lembaga pendidikan yang paling kuat dan melekat dekat dengan dinamika masyarakatnya.

Majelis taklim juga merupakan wahana interaksi dan komunikasi antara masyarakat awam dengan mualim, dengan para ulama dan umara serta antara sesama jemaah majelis taklim itu sendiri. Sekat-sekat strata sosial lebur dalam situasi dan kondisi kepentingan dan hajat untuk bersama-sama mengikuti kegiatan pengajian yang diselenggarakan di majelis taklim.

Peran-Fungsi Majelis Taklim
Dengan merujuk buku yang berjudul “Regulasi Majelis Taklim; Pedoman Pembinaan Majelis Taklim” (Depag RI: 2009), kita akan melihat sejauhmana peran dan fungsi majelis taklim yang diyakini dapat merealisasikan cita-cita mulia Islam dalam mewujudkan tatanan masyarakat ideal sesuai tujuan kehadiran agama samawi ini sebagai rahmatan lil alamin, rahmat bagi semesta alam.

Selanjutnya, diharapkan dari peran dan fungsi yang melekat pada majelis taklim, akan menyadarkan kita, terutama yang berkepentingan terhadap upaya pembinaan umat Islam menuju khairu umah (umat terbaik) sebagaimana tersirat dalam ide profetis (nubuwah, kenabian) yang terkandung dalam ayat 110 surah Ali Imran yang artinya; “Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah.”

Adapun upaya memaksimalkan peran dan fungsi majelis taklim yang perlu dilakukan adalah: Pertama, memperkuat fungsi majelis taklim sebagai tempat pengajaran agama Islam secara luas, yang meliputi pengkajian tentang pokok-pokok ajaran Islam dan kaitannya dengan persoalan sehari-hari yang dihadapai umat Islam itu sendiri.

Kedua, mengembangkan fungsi konseling. Sebagai salah satu lembaga pendidikan non-formal, majelis taklim bertanggung jawab untuk pendidikan dan membantu jemaahnya untuk dapat beradaptasi dengan lingkungan masyarakatnya dan mampu memecahkan berbagai persoalan hidup yang dihadapi. Melalui kegiatan ta’lim muta’alim (belajar mengajar) yang dikemas sedemikian rupa diharapkan dapat membantu jemaah yang mengalami persoalan kehidupan, baik pribadi maupun sosial. Dalam situasi seperti inilah peran dan fungsi konseling akan terasa diperlukan oleh pihak yang terlibat di majelis taklim, terutama para jemaahnya.

Sumatera Ekspres, Jumat, 20 Desember 2013
• • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • •

Ketiga, menjadikan majelis taklim sebagi pusat pengembangan keterampilan atau skill jemaah. Setiap muslim idealnya bisa berperan ganda dalam kehidupannya, yaitu sebagai ‘abid (penyembah Allah) dan sekaligus sebagai sebagai khalifah fil ardh (orang yang memakmurkan bumi). Sebagai penyembah Allah SWT, seorang muslim mesti ikhlas menjadikan hidupnya sebagai media pengabdian diri kepada-Nya. Dan sebagai pemakmur di muka bumi, setiap muslim harus berperan dalam mencegah dan memperbaiki kerusakan-kerusakan yang terjadi di sekelilingnya.

Keempat, meningkatkan peran pemberdayaan masyarakat melalui pengembangan potensi ekonomi dan sosial. Sebagai tempat berkumpulnya jemaah, majelis taklim diharapkan bisa menjadi media sosial dalam mengkomunikasikan upaya-upaya pembangunan umat, baik secara lahir maupun batin. Melalui majelis taklim yang merupakan sarana efektif dalam interaksi sosial dapat disampaikan informasi yang dapat menggugah jemaahnya untuk berfikir dan melakukan langkah-langkah produktif dalam rangka pemberdayaan ekonomi dan sosial jemaah. Pemberdayaan ekonomi dapat berwujud dukungan dana, baik yang bersifat mandirimaupun menjalin kerjasama dengan donator, baik pemerintah maupun swasta.

Kelima, menjadikan majelis taklim sebagai wadah silaturrahmi dan rekreasi ruhani. Majelis taklim tidak hanya berfungsi sebagai tempat belajar agama Islam, namun juga mampu memberikan warna bagi jemaahnya dalam pembinaan solidaritas sosial yang kuat antar umat Islam melalui silaturrahmi. Selain itu juga, majelis taklim bisa memberikan ruang yang cukup lapang dalam menjalankan fungsi rekreasi ruhani melalui nasehat-nasehat dan pesan-pesan moral yang diajarkannya. Dalam situasi dan kondisi itulah, melalui majelis taklim akan tertanam harmoni sosial yang dapat dipetik oleh semua jemaah yang kemudian mengkondisikan suatu jalinan kebersamaan sebagai hamba-hamba Allah yang sama-sama mempunyai hajat mengisi ruang hati dengan siraman-siraman dakwah Islamiyah.

Keenam, menjadikan majelis taklim sebagai lembaga kontrol sosial (social control). Dengan fungsi kontrol ini. Eksistensi majelis taklim akan semakin diperlukan di tengah-tengah masyarakat. Majelis taklim berperan besar dalam transfer pengetahuan dari pengajar (mualim) kepada jemaahnya dan sekaligus berperan besar dalam memecahkan problematika sosial keagamaan yang dihadapi umat. Seperti misalnyadalam hal mengantisipasi aliran-aliran sesat, pendangkalan aqidah, kemaksiatan dan perilaku asosial lainnya yang selalu muncul dan mengancam sendi-sendi kehidupan umat manusia, khususnya umat Islam. Disinilah majelis taklim akan tampil efektif sebagai agen kontrol sosial melalui berbagai peranan dan fungsi yang dijalankannya.

Majelis Taklim Sarana Pendidikan Kaum Ibu
Kita patut bergembira majelis taklim semakin marak tumbuh dan berkembang dalam masyarakat Islam. Sebagai lembaga pembelajaran ajaran Islam bagi kaum ibu, majelis taklim telah efektif memberikan pendidikan dan pencerahan bagi kaum ibu. Di majelis ini, ibu-ibu dididik dan diberi pencerahan mengenai bagaimana menjadi ibu yang baik bagi anak-anaknya. Sebab ibu merupakan madrasah pertama mendidik anak-anak di rumah. Proses pendidikan yanf diberikan oleh seorang ibu sudah dilakukan sejak sang bayi masih dalam kandungan. Apa yang ibu dengarkan atau bacakan kepada bayi dalam kandungan, maka hal tersebut akan didengar pula oleh sang bayi. Emosional dan watak seorang ibu pun dapat ditularkan melalui perilaku seorang ibu selama mengandung dan mengasuh. Dalam sebuah penelitian, bagi seorang ibu yang mengandung selalu memiliki perasaan ingin marah-marah, maka sang anak pun kelak besar nanti akan memiliki penyakit jantung.

Pendidikan pun dapat diberikan dengan konta mata yang terjadi antara ibu dan anak. Setiap saat, dimanapun dan kapanun proses pendidikan tersebut dapat dilakukan. Seorang ibu memiliki tanggung jawab besar dalam menciptakan generasi muda yang kreatif, inovatif, prestatif, edukatif dan produktif. Adalah sebuah mimpi hal itu terwujud jika tidak dilukis oleh tangan-tangan lembut seorang ibu. Dan untuk mewujudkannya, tidak lain hanyalah melalui wanita shalihah yang berilmu, berakal dan bertakwa yang dapat melakukannya. Ulama besar mengatakan, bahwa wanita (khususnya seorang ibu) menjadi barometer baik buruknya sebuah masyarakat. Rusaknya akhlak wanita merupakan mata rantai yang saling bersambungan dengan kenakalan remaja, rapuhnya keluarga dan kerusakan masyarakat.

Jika seorang ibu dapat memahami dan mau melaksanakan tugas serta tanggung jawabnya dalam mendidik dan mengarahkan anak dengan baik, dengan segala tuntunan dan teladan pada anak. Insya Allah akan terlahirlah generasi yang shaleh, unggul dan mumpuni, mampu bertanggung jawab terhadap diri sendiri dan kehidupannya kelak.

Oleh karena itu, melalui pendidikan di majelis taklim marilah kita bersama-sama untuk segera memulai mendidik anak dengan cara yang baik, secara sungguh-sungguh dan penuh kesabaran. Jika tidak maka akan menjadi orang tua (ibu) yang paling merugi, yaitu ibu yang sedang menunggu waktu datangnya kesulitan yang bertubi-tubi. Karena memiliki anak durhaka boleh jadi merugikan banyak pihak, baik diri sendiri, orang tua dan orang lain. Mudah-mudahan majelis taklim yang mayoritas diikuti oleh ibu-ibu, mampu memberikan peningkatan kualitas pemahaman ajaran Islam dan sekaligus mampu mendidik anak-anaknya di rumah yang pada akhirnya mampu membentuk masyarakat yang bertakwa kepada Allah SWT. Selamat Hari Ibu Wassalam (*)

Sumatera Ekspres, Sabtu, 21 Desember 2013

About Iwan Lemabang
Aku hanya manusia biasa yang tak luput dari salah dan dosa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: