Aji Aji Selingkuh si Budak Iblis


Oleh: Tia Aweni D. Paramitha

Perempuan ini, batinku, kurang ajar betul. Dia sudah merusak rumah tanggaku, merusak hubungan harmonisku dengan suami, dia pula yang merebut cinta Mas Haris, tapi berani-beraninya pula dia berkata kasar dan menghembuskan asap rokok ke mukaku. Rasanya, ingin sekali aku menampar mukanya, atau merusak wajahnya yang cantik itu dengan pisau belati.

• • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • •

>Hati kecilku bertanya, mau apa sih sebenarnya Si Anita itu? Dia sudah punya suami, tiga anak, punya pekerjaan tetap dengan gaji besar, tapi kok masih mengejar suami orang? Dia gatol betul menguber suamiku, Haris Laksono, ayah dari dua anakku, Heidy dan Arlita, buah cinta kami yang sangat kami sayangi!

“Anita, maaf ya, apa sih sesungguhnya yang kamu cari dari suamiku? Kenapa sih kau terus menerus menggoda Mas Haris, bukankah kau sudah punya suami yang hebat, pejabat lagi dan kedudukanmu sendiri di perusahaan asing bagiku baik!” kataku, saat aku mengundangnya untuk bertemu di restoran Amigos Hill View di Kemang Jakarta Selatan.

Dengan tenang dan santai, sambil mengisap rokok Dunhill hijaunya dia berucap. “Karin, kau jangan resah dan tak perlu cemas dengan keadaan ini. Janganlah kau pikir hanya aku yang menguber suamimu, tapi tanyalah pada suamimu dari hati ke hati, apakah dia tidak menguber aku, apakah suamimu tidak mencintai aku. Tanya pula padanya, apakah dia tidak tidur denganku setiap usai acara makan siang bersama?” desis Anita, sambil tersenyum sinis.

“Jadi kalian sudah tidur?” tanyaku, dengan emosi meninggi dan dada bergemuruh karena dibakar cemburu. “Sekarang kau tak perlu tanya aku, tapi tanyalah pada suamimu, tanya dia, apakah tidak pernah hubungan intim denganku, setiap satu minggu sekali bobo-bobo siang denganku di hotel berbintang lima?” cetus Anita, semakin nyantai, menghisap rokok putihnya yang dalam, lalu seenaknya asapnya dihebuskannya ke mukaku.

Perempuan ini, batinku, kurang ajar betul. Dia sudah merusak rumah tanggaku, merusak hubungan harmonisku dengan suami, dia pula yang merebut cinta Mas Haris, tapi berani-beraninya pula dia berkata kasar dan menghembuskan asap rokok ke mukaku. Rasanya, aku ingin sekali menampar mukanya, atau merusak wajahnya yang cantik itu dengan belati. Tapi aku masih berpikir panjang, aku masih punya rasa malu, aku masih punya rasa risih dan jengah dengan tamu-tamu lain restoran Amigos Hill View di sekitar kami.

“Kau perempuan bejat, jahat dan laknat Anita, semoga Tuhan menghukummu sesuai kesalahan dan dosa-dosamu, kejahatanmu terhadap kemanusiaan, terhadap aku dan anak-anakku. Kau talh menghancurkan rumah tanggaku, menghancurkan biduk kebahagiaan rumah tangga kami, kau hancurkan kebahagiaan kedua anakku, kau manusia brengsek Anita, jahannam kau!” tekanku, sambil menahan suara kerasku.

Lalu aku mengancamnya dengan sengit. “Anita, bila kau masih meneruskan hubungan gilamu itu dengan suamiku, aku akan melaporkan hal ini kepada suamimu yang pejabat kementerian itu dan aku akan mengundang pers, melakukan press conference, akan kubongkar semua kejahatanmu ini dan keluarga besarmu akan malu oleh pemberitaan itu nanti. Lihat Anita, aku akan melakukan hal itu, sekali mandi biarlah basah sekalian, mari kita rusk-rusakan sekalian!” bentakku.

Tetap dengan nyantai Anita menantang balik. “Silakan elo lapor ke suamiku, silakan elo sebarkan masalah ini ke pers, gue malah senang, gue beken gara-gara diekspose oleh pers, koran-koran dan televisi, biar gue bisa ngetop dan jadi selebriti yang diperbincangkan dan menjadi buah bibir banyak orang. Horee, gue akan segera menjadi orang terkenal di negeri ini,” balas Anita, sambil cekikikan, suara tertanyanya yang keluar, mirip sekali suara kuntilanak.

Setelah membayar makan siang itu, aku terus menghambur ke mobilku dan malaju menuju rumahku di Rawamangun, Jakarta Timur. Sementara Anita juga keluar restoran dan memacu mobil sedan barunya, yang baru saja dibelikan oleh suaminya itu.

Pada malam harinya, menjelang tidur, pukul 24.00 tengah malam, aku mengajak Mas Haris bicara dari hati ke hati. Namun di luar dugaanku, Mas Haris acuh tak acuh dan menolak, lalu dia mengatakan bahwa dia sedang lelah dan tidak mau bicara malam itu.

“Apa yang akan kau bicarakan, aku sudah tahu semuanya dari Anita. Dia menelpon saya sore tadi!” desis Haris, sambil menguap lalu merebahkan dirinya di tempat tidur.

“Jadi betul Mas berhubungan cinta dengan Anita Sarnita itu?” tanyaku, dengan nada meninggi.

“Betul, aku betul berhubungan cinta dengannya dan aku akan segera menikahinya bila urusan perceraiannya dengan Hamid Syamsudin itu selesai di pengadian agam,” aku suamiku, Haris, enteng saja, sambil memeluk guling.

“Mas, kalau memang benar kau mau menikahi dia, Mas ceraikan aku dulu. Aku tidak akan menerima dimadu apalagi bermadu dengan perempuan iblis seperti dia itu,” kataku, penuh emosi.

“Bagus, kalau kau minta cerai dariku, aku akan segera mengurus perceraian kita, kita bercerai!” ungkap Haris, santai.

Jantungku berdebar hebat, kepalaku pusing tujuh keliling dan mataku pun berkunang-kunang. Rasanya kakiku tak kuat lagi menopang tubuhku, oleng dan akan terjatuh, tapi aku berusaha tegak dan tetap berdiri baik.

“Baiklah, cepat urus perceraian kita dan aku akan membawa dua anak kita ke kampung, mereka akan aku bawa ke Bantul. Yogyakarta dan bersekolah disana, aku akan tinggal dengan orang tuaku di sana,” kataku, sambil tak tahan lagi menahan tangisku yang meledak.

Perceraianku benar-benar diurus oleh Mas Haris. Aku yang menggugat cerai tapi Mas Haris yang menyelesaikan di peradilan agama Pulogadung, Jakarta Timur. Mediasi pernah dicoba, tapi tidak berhasil yang keputusan cerai pun berikut surat cerai kami pun keluar dalam waktu kurang dari sebulan.

Sementara itu, Anita juga bercerai dengan suuaminya lalu dia menikah resmi dengan suamiku setelah habis masa iddah. Anak-anak Anita tinggal bersama suaminya, lalu Anita tinggal sama suamiku di rumah kami di Rawamangun. Anita berhenti kerja dan mantan suamiku, lalu naik pangkat dan menjadi direktur eksekutif di perusahaan Amerika tempatnya bekerja.

Aku memulai hidup baru di kampungku, di Desa Sidodadi, Sewon, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Aku melamar kerja di perusahaan mebel rotan milik Pakde Harjono dan aku diterima sebagai pegawai karena kebetulan pegawai lama ke luar negeri. Pakde Harjono menggaji aku layak dan cukup untuk menopang kehidupan kami, termasuk biaya sekolah dua anakku yang baru masuk ke bangku SD.

Heidy dan Arlita bersekolah di SD Negeri Sewon, Bantul, berjalan kaki dari rumah kami yang berjarak hanya satu kilometer. Dua anakku itu sangat prihatin dan memahami keadaanku, sehingga mereka mau hidup sederhana di desa. Cuma, yang membuat saya sedih, kedua anakku itu secara diam-diam selalu kangen kepada bapak mereka di Jakarta, dan diam-diam keduanya selalu bercerita tentang kebaikan bapaknya. Tapi, agar mereka tidak terus terhanyut, aku gambarkan pada mereka bahwa bapaknya tidak sayang sama mereka, buktinya, dia tidak kangen dan tidak berusaha menemui mereka yang hidup susah di kampung.

Hidup terus menggelinding, kehidupan terus berputar bagaikan roda pedati yang terus berlari. Tidak teras, tanggal 23 November 2011 lalu, aku sudah setahun tinggal di Bantul. Tidak terasa pula, anak-anak sudah setahun berpisah dengan bapaknya. Bahkan, jangankan menemui, menelpon pun, tidak dilakukan Mas Haris untuk anak-anaknya.

Anak-anakku tentu saja bersedih akan kenyataan ini, tapi aku selalu membesarkan hati mereka Aku berharap agar mereka dapat melupakan ayah meraka, sampai kapanpun. Hal itu aku lakukan agar anak-anakku tudak berkecil hati, tidak kecewa dan sakit hati.

“Lebih baik lupakan ayah kalian itu, nanti, jika kalian sudah besar, carilah dia ke Jakarta dan dia pasti menerima kalian secara baik,” kataku, membesarkan hati dua anakku.

Setelah setahun menjadi janda, banyak pria yang mendekatiku, baik pria lajang maupun duda-duda , bahkan pria beristri. Tapi entah kenapa, hatiku belakangan ini menjadi dingin kepada kepada laki-laki. Yang ada di otak dan pikiranku hanyalah anakku. Dua buah hati yang menjadi jantung hidupku dan tumpuan harapanku.

Aku ingin mereka hidup bahagia, sukses di pendidikan dan sukses menapaki kehidupan mereka. Aku tidak lagi memikirkan kesenangan pribadiku, kebahagiaan pribadiku dan kepentingan pribadiku. Yang aku pikirkan hanyalah Heidy dan Arlita, dua gadis kecilku, yang kuharapkan kelak mereka menjadi apa yang mereka inginkan. Heidy bercita-cita menjadi seorang dokter sedangkan Arlita bercita-cita menjadi seorang insinyur.

Di luar dugaan, pada saat kami bersantai di rumah si Mbah, pada hari Minggu, sebuah mobil Jeep Mercy warna hijau tentara, masuk ke halaman rumah. Nomor polisi mobil itu berhuruf B, yang berarti kendaraan dari Jakarta, yang disetir oleh pria berkacamata hitam dengan jaket kulit warna coklat tua.

Pria itu tak lain adalah Mas Haris, mantan suamiku dan bapak dari dua anakku. Dua anakku menyambut Mas Haris dengan baik dan Mas Haris memeluk mereka berdua dengan erat. Aku berdiri di depan pintu rumah dan bergulat dengan batinku yang mumbuncah sejuta rasa, emosi jiwa dengan pancaran rasa gundah gulana.

Mulanya aku berpikir ada orang lain di mobil itu, batinku, bisa saja istrinya, Anita ikut serta. Setelah berpelukan lama dengan dua anaknya, Mas Haris berdiri menjabat tanganku. Tidak berapa lama ibu dan ayahku datang dari kebun belakang dan Mas Haris mencium tangan kedua orangtuaku, mantan mertuanya. Mas Haris dipersilakan masuk, lalu masuk sambil memegang tangan dua anaknya, Arlita dan Heidy.

Seelah meminta maaf kepada kedua orangtuaku, atas kesalahannya selama ini dan kedua orangtuaku memaafkan, Mas Haris menceritakan keadaan hidupnya, di mana dia telah bercerai resmi dengan istrinya Anita.

Anita ternyata berselingkuh lagi dengan suami orang, suami teman kerjanya lalu berencana juga menikah dengan suaminya itu. Aku berlagak tidak mendengarkan cerita ini dan lalu aku pergi ke dapur memasak opor, kebetulan ayam dan kelapa serta bumbu-bumbunya sudah aku beli dari pagi, di Pasar Bringharjo belakang Jalan Malioboro. Aku naik sepeda motor matic bebek, setiap hari kerja dan untuk bepergian.

Di luar dugaanku, Mas Haris kembali melamar aku, meminta aku untuk kembali menjadi istrinya lagi kepada kedua orangtuaku. Ayah dan ibuku setuju saja atas lamaran itu, tapi mereka menyerahkan semuanya kepadaku. “Yng bersangkutan dengan masalah ini adalah Karina, bukan kami maka itu mintalah kepada Karina,” kata ayahku nyantai saja kepada Mas Haris.

Mungkin karena hatiku masih terluka, trauma dan fobia atas kejadian masa lalu, maka aku tidak berniat sama sekali untuk menerima pinangan itu. Rasa benci dan rasa luka masih menggelayut batinku, utnuk itu aku menolak permintaan rujuk dari Mas Haris. “Tidak Mas, aku sudah betah hidup sendiri dan lebih nyaman dengan kesendirian ini, apalagi tinggal di kampung ini bersama dua anakku dan dekat dengan ayah dan ibu,” kataku singkat.

Mendengar penolakan ini, Mas Haris nampak kecewa dan bersedih, tapi aku acuh tak acuh saja dengan kesedihannya itu. “Sebaiknya Mas Haris pulang buru-buru ke Jakarta, biarkan kami di sini, kami yang sudah tenang dan hidup tentram serta sangat berbahagia di daerah ini,” kataku.

Tanpa kusadari, Mas Haris menagis dan menjatuhkan dirinya dikakiku lalu mencium kakiku, meminta maaf sebesar-besarnya dan berjanji tidak akan membuat kesalahan lagi. “Ayolah Karin, tolonglah aku, kembalilah bersamaku dan kita tinggal di Jakarta, dan sumpahlah aku dengan kitab suci bahwa aku bersumpah tidak akan berselingkuh lagi, Karin,” harapnya.

Tanpa kusadari, dua anakku sudah berdiri di dekatku, Heidy dan Arlita. Kedua anakku lalu terduduk bersama papa mereka, keduanya menangis tersedu, sambil mengharapkan agar aku menerima papa mereka untuk dijadikan suami lagi. Setelah itu, mereka berharap kami kembali ke Jakarta dan menempati rumah kami di Rawamangun yang telah kosong.

“Ayolah Ma, terimalah Papa, Papa bersumpah akan berubah dan Papa berjanji akan membahagiakan kita di Jakarta, ayolah Ma,” desis Arlita, sambil menangis. Setelah itu, Heidy juga berharap, juga menangis, menghendaki aku menerima ayah mereka dan kami kembali hidup rukun di ibukota.

Banyak hal yang bisa aku tolak di dalam kehidupan ini, tetapi ada satu hal yang paling tidak bisa aku tolak dalam hidup ini, yaitu adalah permintaan anak-anakku. Karena hal itu menjadi kehendak dan permintaan serius dua anakku, maka aku pun merubah pikiran.

Aku berusaha untuk menerima kembali Haris sebagai suami, walaupun dengan hati yang masih sangat berat. Aku lalu dipeluk oleh kedua anakku dan mereka menciuam pipiku bertubi-tubi pertanda senang hati, karena aku mau menerima ayah mereka untuk menjadi suami lagi.

Karena sudah nyaman bekerja dan tenang di Bantul, maka aku meminta kepada Mas Haris agar kami untuk sementara tetap di Bantul, sedangkan dia tetaplah di Jakarta. Setiap hari Jumat sore, menjelang liburan kerja, dia datang ke Bantul. Setelah diresmikan menikah lagi, rujuk, Mas Haris pulang ke Jakarta, lalu untuk selanjutnya dia pulang pergi Jakarta-Yogya untuk menjenguk kami.

Tanggal 17 Agustus 2012 lalu, di tengah bulan puasa, kami semua datang ke Jakarta. Niat kami, selain menengok rumah kami dulu di Rawamangun, kami juga mau jalan-jalan ke Dunia Fantasi, Ancol, dan Taman Mini. Begitu sampai di rumah kami di Rawmangun, tetangga kami Bu Endang datang menjengukku. Kami saling kangen dan berpelukkan erat dengan berurai airmata.

Bu Endang bukan seperti orang lain, dia sudah seperti saudaraku sendiri karena kami saling bantu membantu dan tolong menolong selama ini.. Semua keluarga besarnya dekat dengan aku, begitu juga anak-anakku, semuanya dekat dengan Bu Endang. Diam-diam, selama Anita menjadi istri Mas Harisdi rumah itu, Bu Endang mengintip kehidupan Anita, wanita yang telah tega merebut cinta suamiku itu.

Setiap malam Jumat, Anita pergi sendirian ke laut selatan tanpa sepengetahuan Haris. Bersama seorang dukun mumpuni, Ki Mandau Tajamah, 56 tahun, Bu Endang menerawang apa yang dilakukan oleh Anita di pantai selatan Banten itu. Syahdan, maka terkejutlah aku. rupanya untuk mendapatkan kecantikan dan resep awet muda, Anita memuja setan, memuja iblis dan bersekutu dengan makhluk terkutuk itu.

Kata Ki Mandau, makin banyak Anita berselingkuhdengan suami orang, maka makin awet medalah dia. Makin banyak berselingkuh dengan laki orang, maka makin cantiklah dia. Perjanjian dengan iblis itu bernama Janji Keramat Malam, suatu janji untuk merusak rumah tangga orang agar kecantikannya, didigjayaan serta awet mudanya terus berlangsung.

Bila sudah sampai 100 laki orang yang direbut, maka Anita tidak akan tua-tua. Kulitnya akan semakin kencang bagaikan remaja terus dan kecantikannya terus bersinar bagaikan bidadari malam. Semua pria akan terkagum dengan keseksian tubuh, kekuningan kulit serta kecantikannya yang mahasempurna karena Janji Keramat Malam dengan iblis tersebut.

Ternyata, diam-diam, karena kasihan denganku, solider denganku, Bu Endang meminta Ki Mandau untuk meritual suamiku, melepaskan aji-aji iblis oleh Anita yang tersangkut padanya, hingga setelah sadar, dia langsung melepaskan Anita sebagai istri. Pantas saja, Mas Haris sekarang ini bukan saja benci, tapi mau muntah hanya mendengar nama Anita, mantan istrinya yang pemuja setan itu. Bahkan, kini, Anita menikah dengan seorang pria muda, suami dari seorang bintang film.

“Targetnya seratus pria beristri yang harus dirusak, sesuai perintah iblis yang jadi pujaannya,” kata Bu Endang, sambil memelukku. Duh Gusti, aneh sekali seorang seperti Anita itu, yang cantik dan awet muda karena memuja setan, bersekutu dengan iblis demi keadaan lahiriyahnya yang sebenarnya sangat sementara. Tapi, jalan itu telah ditempuhnya dan ternyata membuatnya bahagia, walau pun neraka Jahannam telah menunggu di depan mata, di mana dia akan nyemplung ke api neraka, yang membakar hidupnya selamanya. (*)

Sumber: Misteri, Edisi 550, tahun 2013

About Iwan Lemabang
Aku hanya manusia biasa yang tak luput dari salah dan dosa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: