Gerandong di Rel Lempuyang Janti


Gerandong di Rel Lempuyang JantiOleh: Pun Widodo

Penghuni gaib rel sering membuat buta dan tuli sesaat bagi siapa saja yang berada di sekitar rel. Akibatnya kalau mereka terlena, maka jwa mereka menjadi kosong, hampa dan segera timbul hasrat untuk mengakhiri hidup di atas rel kereta api tersebut.

• • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • •

Rel kereta api di Gowok memakan 2 korban lagi. Begitulah tulisan headline beberapa surat kabar lokal di Yogyakarta, tak hanya disitu, tabloid-tabloid nasional wanita pun heboh memuat berita yang sama, bahkan televisi juga tak mau ketinggalan turut menayangkan berita tersebut. Berita tersebut memang sangat menghebohkan, karena salah satu korbannya adalah seorang event organiser yang bernama Yoga. Yang meninggal karena bunuh diri dengan menyongsong kereta api yang mau lewat. Akibatnya bisa dibayangkan, badannya hancur tergilas kereta api Sri Tanjung pada sekitar pukul 7 pagi waktu itu.

Esok harinya 300 meter ke timur dari rel yang memakan korban Yoga, meninggal lagi seorang wanita penduduk sekitar yang juga bunuh diri dengan melindaskan dirinya di kereta api tepat di bawah Jembatan Layang Janti. 2 korban dalam waktu berdekatan dengan lokasi yang berdekatan pula, menimbulkan satu pertanyaan; ada apakah gerangan di lintasan rel kereta api itu?

Aku adalah seorang warga yang tinggal di sekitar lokasi kejadian. Sejak kecil rel di sekitar lokasi itu memang sering memakan korban jiwa. Setiap tahun pasti ada saja yang menjadi korban bunuh diri. Sekedar pembaca tahu, rel yang sering memakan korban itu, membentang dari Stasiun Lempuyangan ke timur menuju ke Pasar Talok, Kampung Sapen, Kampung Gendeng, Kampung Ngentak, melewati jembatan Terowongan Telu, Kampung Gowok, Kampun Jomblang dan berakhir di sekitar Jembatan Layang Janti, yang kalau diukur jaraknya ada sekitar 5 kilo meter.

Karena saking seringnya melihat orang yang mati bunuh diri atau terlindas kereta api, aku menjadi jenuh menyaksikan pemandangan orang-orang yang mati terlindas kereta api. Kebanyakan tubuh mereka hancur tak berbentuk, seperti usus dicacah-cacah, dan bau amis darah yang bececeran. Dan terpotong-potong. Sehingga setiap ada orang yang tewas terlindas kereta api, banyak penduduk yang setelah kejadian selalu mencari potongan anggota tubuh yang terpotong bisa ditemukan lagi, karena mungkin telah hancuroleh kereta api yang melindasnya.

Masih terekam jelas dalam memoriku kejadian saat aku masih berumur sekitar 5 tahu. Saat itu aku masih dalam gendongan emakku diajak menyaksikan sepasang kekasih yang meninggal gantung diri di sebuah pohon sukun yang letaknya tidak jauh atau tepat di samping rel. Saat itu, di sekitar rel membentang luas sawah yang menghijau.

Rel tersebut melintasi sebuah jembatan angker yang oleh warga sekitar diberi nama dengan Jembatan Terowongan Telu karena di bawah jembatan mengalir Sungai Gajah Wong dengan dengan 3 terowongan yang airnya dulu sangat jernih, tidak seperti sekarang sangat berbau, berwarna coklat dan banyak si kuning berlayar alias banyak kotoran manusianya.

Lokasi pohon sukun itu tepat di samping utara dan berdiri kokoh menancap tegak di pinggiran Sungai Gajah Wong. Di bawah pohon sukun ini terdapat mbelik yang sering digunakan oleh warga untuk mandi dan mencuci. Tinggi pohon itu sekitar 20 meter dengan diameter bawah batang kira-kira 1,5 meter. Besar sekali menurut ukuranku aat itu.

Mayat sepasang kekasih itu diketemukan oleh seorang penduduk saat mau mandi. Mayat tersebut saling berpelukan dan bergelantungan. Banyak orang dari media massa yang meliputnya saat itu. Bahkan peristiwa itu menjadikan tempat tambah semakin mencekam, apalagi bila malam hari. Usai peristiwa gantung diri , beranjak ke arah barat rel, tepatnya di ebelah timur perlintasan kereta api Jl Timoho. Pagi sekitar jam 7, seorang buruh pembuat besi beton ditemukan tewas dengan tubuh berserakan karena terlindas kereta yang sedang melintas.

Setahun kemudian dalam waktu yang hampir bersamaan tewas lagi 2 orang laki-laki yang satu adalah pengembala kambing yang tewas terserempet di kepalanya oleh kereta api di perlintasan kereta Pengok tepatnya pas di utara kompleks Polri Brimob. Korban yang satunya adalah warga sekitar yang bunuh diri karena depresi.

Selanjutnya kejadian tepat di sebelah utara Pasar Talok. Kali ini korbannya adalah seorang nenek bersama cucunya yang baru pulang dari sekolah. Mereka terlindas kereta kerena telinga mereka ditulikan oleh penghuni gaib rel tersebut yang sehari ebelumnya marah-marah dengan jalan menggoyang-goyangkan sebuah pohon mangga yang terletak di dekat Pasar Talok. Tanpa ujud, tanpa kelihatan , pohon tersebut bergoyang-goyang kesana-kemari tanpa ada orang yang terlihat ada di dekatnya.

Kejadian-kejadian kematian di rel tersebut datang silih berganti. Banyak sekali orang berkata, bahwa penghuni gaib rel tersebut sering membuat buta dan tuli sesaat bagi siapa saja yang berada di sekitar rel. Akibatnya kalau mereka terlena, maka jiwa mereka menjadi kosong, hampa dan segera timbul hasrat untuk mengakhiri hidup di atas rel kereta api itu. Setelah mengalami sendiri, kejadian tersebut di atas, akhirnya aku dan bersama beberapa temanku ingin mengungkapkan misteri setan apa yang membuat hal seperti itu bisa terjadi secara brulang-ulang.

Malam itu aku bersama 10 orang temanku dengan didampingi oleh seorang yang linuwih—sebut saja Ki Darpo—mencoba membuka tabir setan apa yang menjadi penunggu lintasan rel dari Stasiun Lempuyangan — Jembatan Janti.

Ki Darpo berkata; “Kalian akan kuleleti dengan minyak misik, selanjutnya untuk melihat makhluk apa yang bersemayam di rel ini, aku akan bacakan surat Al-Jin.”

“Dengarkanlah dengan khusyuk dan berkonsentrasi sampai kalian bisa menyaksikan makhluk apa yang selama ini bersemayam di lintasan rel kereta api itu, dan sangat ingin kalian ketahui.”

Ki Darpo lalu membaca ayat suci Al-Qur’an, yaitu surat Al-Jin sampai selesai. Setelah itu, kami dapat saksikan banyak seali arwah-arwah yang belum sempurna di sepanjang rel Stasiun Lempuyangan — Jembatan Janti. Tiba-tiba muncul bayangan putih terbang dengan kecepatan tinggi. Makhluk ini wajahnya dipenuhi lumuran darah. Kulitnya sudah keriput. Rambutnya menjuntai panjang utih, berbaju seperti jubah yang berwarna putih dan berlumuran darah. Matanya mencorong hijau dengan tatapan yang terlihat sangat kejam dan sangat bengis.

Masih banyak lagi penampakan di sana. Kepala tanpa badan, tangan yang berjalan di atas rel dan berlumuran darah, mata yang bisa melompat-lompat dan lain-lain yang menurutku sebagai pemandangan yang aneh juga mengerikan. Aku hanya bisa terdiam. Takut dan merinding menyaksikan penampakan yang mengerikan itu. Untuk beberapa saat lamanya memang rel itu tak memakan korban lagi. Tapi setelahnya pasti minta tumbal lagi dengan jumlah dua kali lipat.

Sebagai warga di sekitar TKP aku hanya berpesan berhati-hatilah jika melewati rel di sepanjang timur Stasiun Lempuyangan — Jembatan Janti, jangan sekali-kali berjalan di atas rel di sana. Sebab jika Anda melamun sedikit saja, nyawa Anda juga akan melayang sia-sia. Karena pada saat Anda melamun itulah, jiwa Anda akan segera dimasuki makhluk bermata mencorong, merongos, dan penuh bersimbah darah.

Hindarilah daerah ini di malam hari karena pernah suatu kali, ada seorang simbok-simbok yang lewat daerah ini di tengah malam, tiba-tiba girab-girab kakinya seperti dililit usus yang amat panjang. Jika ada pembaca yang melintas Jembatan Terowongan Telu, berdoalah sebisanya. Karena konon di situlah tempat tinggalnya kuntilanak, tepatnya di depan Terowongan Telu. Bagi mata batinnya yang tajam bisa melihat kehidupan dunia lain, maka di situ mereka lihat adanya sebuah rumah limasan yang berdiri sangat indah. Kini keadaan rel di situ sudah tenang seperti sedia kala. Semoga tidak ada lagi korban yang berjatuhan mati sia-sia karena ketabrak kereta. (*)

Sumber: Msteri Edisi 562 Tahun 2013

About Iwan Lemabang
Aku hanya manusia biasa yang tak luput dari salah dan dosa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: