Bentrok Berdarah di Warung Tuak


Dua Tewas

PALEMBANG — Bentrok berdarah di warung tuak milik Simatupang di Jl Pangeran Ratu, Kelurahan 15 Ulu, Kecamatan Seberang Ulu (SU) I, Palembang, Jumat (29/11) sekitar pukul 20.00 WIB, merenggut dua nyawa. Masing-masing Herman (54), warga Tepian Sungai Ogan, RT 31, Kelurahan 15 Ulu, Kecamatan SU I, dan Agus (28), warga tepian Sungai Kedukan, RT 46, Kelurahan 3-4 Ulu, Kecamatan SU I, Palembang.

DAri hasil visum di RSMH Palembang, Herman yang sudah mempunyai tiga orang cucu, tewas dengan sedikitnya delapan luka tusukan di punggung. Sedangkan Agus lebih mengenaskan lagi. Dari hasil visum di RS Bari, selain beberapa tusukan di dada dan perut kiri, Agus juga terluka bacokan di kening, alis, pipi kiri, dan telapak tangan kirinya robek.

Keduanya sengaja dibawa ke dua rumah sakit berbeda untuk divisum, untuk menghindari kemungkinan bentrok susulan dari dua kubu yang masih “panas” malam itu. “Pak Herman ini memang warga kami. Untuk permasalahannya saya kurang tahu persis, biarlah nanti polisi yang urus,” cetus Basri, ketua RT tempat tinggal Herman, yang ikut datang ke kamar jenazah RSMH Palembang.

Sementara keluarga dari alm Herman, masih histeris dan belum berkomentar. Senada dengan keluarga dari alm Agus, yang datang ke RS Bari. Hanya saja berdasarkan keterangan polisi dan yang dihimpun, peristiwa berdarah itu berawal anak alm Herman, CN (DPO) datang hendak membeli tuak di warung milik Simatupang tersebut.

Di sana, dia bertemu Agus dan ED (DPO). Sempat cekcok, tapi masih dapat dilerai pemilik warung. “Kau tau dak apo ini, kalu tau belarilah,” ujar sumber koran ini, menirukan ucapan ED kepada CN. Saat berbicara seperti itu, ED sambil menunjukkan sajam jenis samurai yang dibawanya.

Diduga tidak senang dengan kelakuan ED, CN yang pulang kemudian datang lagi bersama ayahnya, Herman, dan beberapa orang lainnya.“Siapo yang ganggu anak aku tadi,” ucap sumber tadi, menirukan ucapan Herman saat tiba di warung milik Simatupang. Niat awal hendak menyelesaikan masalah awal, yang terjadi justru bentrok fisik.

CN bersama rekannya, mengeroyok ED. Melihat teman di sampingnya dipukuli, Agus tidak tinggal diam. Dia menikam punggung Herman berulang kali, hingga tersungkur bersimbah darah. Melihat ayahnya tak bergerak lagi, CN dan rekan-rekannya balik menyerang Agus. Alhasil, Agus juga tewas dengan luka bacokan dan tusukan. Sedangkan ED si pemuci awal keributan, malah kabur.

Hingga kemarin, polisi masih memburu ED, termasuk CN dan empat rekannya. “Motifnya masih kami selidiki, dan belum dapat dipastikan siapa yang salah siapa yang benar. Namun, untuk saat ini kami telah amankan sebilah samurai dan pisau. Anggota juga telah melakukan identifikasi dan olah TKP di lokasi,” ujar Kapolsekta SU I Kompol M Hadiwijaya ST, dan Kanit Reskrim Iptu Iwan Gunawan SH.

Yang jelas, tambah Iwan, kejadian bermula dari selisih paham antara CN (anak alm Herman) dengan ED (teman alm Agus), di warung tuak milik Simatupang. Pantauan koran ini, kemarin warung milik Simatupang tertutup rapatdan sudah sepi. Sejumlah warga yang ditemui di sekitar warung semi permanen itu, juga tampak memilih bungkam. “Kalau masalah ribut itu aku dak tahu,” cetus seorang perempuan warga setempat. (aja/air/ce2)

Sumatera Ekspres, Minggu, 1 Desember 2013

About Iwan Lemabang
Aku hanya manusia biasa yang tak luput dari salah dan dosa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: