Melihat Perkembangan Investasi Sumsel


2014, Pacu Industri Hilir

Melihat Perkembangan Investasi Sumsel
Tanam Sawit: Beberapa petani kepala sawit melakukan penanaman bibit di Krawo Betung, Banyuasin. Perkebunan sawit paling banyak dilirik investor untuk berinvestasi, selain perkebunan karet, pertambangan, jasa, an perdagangan.

Peluang investasi di Sumsel masih sangat prospektif untuk digarap. Terutama sektor pertambangan, perkebunan, maupun jasa dan perdagangan. Sebab, cadangan sumber daya alam (SDA) yang ada seperti batu bara maupun migas (minyak dan gas) sangat besar, lahan perkebunan memadai, dan berkembangnya sektor trading maupun jasa.

• • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • •

Nilai investasi di Sumsel periode Januari-September 2013 mencapai Rp 13,34 triliun dari target 2013 sebesar Rp 17,02 triliun. “Dari jumlah tersebut, 62 perusahaan asing dengan nilai PMA (penanaman modal asing) sebesar US$ 12.170 atau growth 45,48 persen dari periode yang sama tahun lalu sebesar US$ 9.052,53,” ungkap Kepala Bidang Pelayanan Perizinan dan Penanaman Modal Daerah (BP3MD) Provinsi Sumsel, Ir Permana, kepada wartawan koran ini, Senin (11/11).

Sementara PMDN (penanaman modal dalam negeri) hanya sebear Rp 1,175 triliun dengan 39 perusahaan domistik. Ini mengalami pertumbuhan 20,47 persen dibanding periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 976 miliar. Sehingga total perusahaan yang terdaftar di BP3MD hingga saat ini sebanyak 177 perusahaan produktif, rinciannya 78 perusahaan asing dan 99 perusahaan lokal,” tuturnya. Perusahaan tersebut bergerak di sektor nonmigas, bukan perbankan, portofolia, maupun asuransi.

Nah, saat ini ada 328 perusahaan sedang dalam proses pengajuan, meliputi 235 perusahaan asing dan 93 lokal. “Investasi PMA meningkat sejak 2010 silam, lantaran banyaknya event di Sumsel yang membuat investor tertarik masuk provinsi ini,” cetus dia.

Ini berbeda dengan perusahaan lokal yang sempat stagnan pertumbuhannya pada 2010-2012. “Baru tahun ini bertumbuh,” tuturnya. Dia merinci, baik perusahaan PMA maupun PMDN terbagi menjadi tga jenis investasi. Yang pertama primer, meliputi perkebunan, kehutanan, perikanan, dan peternakan.

Kedua, investasi sekunder mencakup produk kepala sawit, karet, pertambangan, geotermal, kimia, dan sebagainya. “Sedangkan investasi tersier pada sektor jasa meliputi perdagangan, pertambangan minyak an gas bumi,” ungkapnya. Nah, dari ketiga sektor tersebut, banyak investor melirik investor sektor pertambangan, perkebunan, dan jasa perdagangan, serta ekspor hasil komoditas kepala sawit dan karet. “Tapi, sayangnya bergerak di industri hulu, seperti perusahaan penghasil CPO (crude palm oil) dan karet (bahan mentah, red) lalu diekspor ke pasar internasional,” tuturnya.

Padahal, jauh lebih baik jika yang dekspor itu bukan hanya bahan mentah, tetapi barang jadi. “Artinya, industri hilir harus dipacu untuk meningkatkan nilai plus dari hasil produk bahan mentah. Selain itu, menyerap tenaga kerja lokal, dan menambah pendapatan daerah. Ini akan kami upayakan tahun depan. Setiap investor akan kami tawarkan,” tegasnya.

Seperti karet, produk karet Sumsel ini sangat besar. “Dengan komoditas yang melimpah ini, jangan hanya diekspor bahan mentah saja. Tetapi diekspor menjadi barang jadi seperti ban. Kita menyambut baik, tahun depan ada perusahaan asing asal Belarus yang mau membangun industri hilir di Sumsel. Perusahaan ini akan memproduksi sarung tangan dan ban,” kata dia.

Dia mengakui, saat ini memang sudah ada industri hilir, tetapi jumlahnya belum banyak, terutama yang mengolah komoditas. Industri itu memproduksi keramik, pulp, dan lainnya. Agar jumlah investasi yang masuk semakin besar, pihaknya akan meningkatkan aparatur bidang pelayanan dan perizinan sehingga proses perizinan sederhana cepat dan tidak birokratis. “Kita akan konsolidasi dan menginventarisai untuk diintergrasikan ke PTSP (pelayanan terpadu satu pintu),” terangnya. (cj9/fad/ce6)

• • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • •

Ciptakan Pasar dalam Negeri

Melihat Perkembangan Investasi Sumsel
Sadap Karet: Petani karet sedang melakukan
penyadapan pohon karet. Sayangnya, industri
karet yang ada di Sumsel banyak mengekspor
bahan mentah, bukan bahan jadi

PALEMBANG — Keberadaan industri hilir untuk meningkatan laju perekonomian Sumsel memang sangat diharapkan. Bagi industri hulu seperti produsen karet, ini bukan masalah. “Kami menyambut baik hadirnya industri hilir sebab akan menciptakan pasar dalam negeri. Kami tak perlu lagi mengekspor bahan karet olahan ke pasar internasional,” ungkpa Ketua Gabungan Perusahaan Karet Indonesia (Gapkindo) Sumsel, Alex Kurniawan Edy, kepada koran ini, kemarin.

Dikatakan, ada 27 pabrik karet di Sumsel. “Sekitar 80 persen karet hasil produksi diekspor ke negara luar, seperti Amerika, Eropa, Timur Tengah, Jepang, India, dan Cina,” ungkap dia. Sisanya dijual ke perusahaan lokal (pasar domestik) yang mengolah bahan karet menjadi barang jadi, seperti pabrik ban.

Itu lantaran tak banyak industri hilir di Indonesia, khususnya Sumsel. “Kalau jumlahnya banyak, kita tak perlu jual ke pasar internasional. Kita senang saja bisa menjual jika bisa menjual karet ke industri hilir lokal. Sebab, kita jual sesuai dengan harga FOB karet dengan sistem kontrak. Harga FOB ini mengacu kepada harga internasional karena karet merupakan komoditas dunia,” tuturnya.

Menurutnya, memang ada upaya pemerintah untuk memacu pertumbuhan industri hilir karet. Dengan pertimbangan, daripada mengekspor bahan mentah, lebih baik mengekspor barang jadi sehingga punya nilai plus.

“Peran pemerintah untuk menarik minat investor mendirkan industri hilir di Sumsel,” kata dia. Gapkindo sendiri, lanjut Alex, tak bisa mengembangkan usahanya ke industri hilir. “Kita tak punya keahlian untuk mengolah karet menjadi barang jadi,” tegasnya. Jadi, pemerintah harus mendorong investor baru yang bergerak di industri hilir masuk Sumsel.

Kepala Bidang Pengolahan dan Pemasaran Dinas Perkebunan Sumsel, Benyamin, menjelaskan, produksi karet Sumsel mencapai 1,1 juta ton per tahun dari 1,2 hektare lahan perkebunan karet. Sementara kepala sawit sebanyak 2.203.276 ton per tahun dengan lahan 820.878 hektare.

“Karet dan sawit yang paling besar lahan dan produksinya, dari total area perkebunan Sumsel 2.400.344 hektare dengan jumlah produksi 3.555.942 ton per tahun,” tuturnya. Di Indonesia, kontribusi karet Sumsel mencapai 25 persen. Namun sayang, 85 persen komoditas ini banyak diekspor dalam bentak bahan mentah, sisanya diolah industri hilir dalam negeri.

Peneliti Balai Penelitian Sembawa Sumsel, Dr Didin, mengatakan, pihaknya belum berani bicara hilirisasi. “Prioritas kita menjaga kebersihan karet petani agar bisa bersaing dengan negara penghasil karet lain seperti Thailand dan Malaysia. Daya jualnaya menjadi tinggi,” tuturnya. Kadar kotor karet Sumsel mencapai 5 persen dari standar maksimal 2 persen. (cj9/fad/ce6)

Sumatera Ekspres, Kamis, 14 November 2013

Advertisements

About Iwan Lemabang
Aku hanya manusia biasa yang tak luput dari salah dan dosa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: