Kegigihan Rakyat Sumsel Melawan Penjajah


Palembang Dikepung, Perang Pecah

Kegigihan Rakyat Sumsel Melawan Penjajah
Sejarah: Peninggalan kaum penjajah baik Belanda maupun Jepang, hingga kini masih bsa dijumpai. Terutama bangunan penjara bawah tanah di Kodam II Sriwijaya serta ruang pemancar radio yang digunakan Jepang.

Pahlawan bukan hanya mereka yang berada di garis depan medan pertempuran. Namun, juga para pejuang yang tidak dikenal dan warga sipil yang menjadi korban kekejaman penjajah.

• • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • •

Selain monumen perjuangan, setiap negara yang pernah mengalam perang besar pasti memiliki tempat-tempat bersejarah yang menyimpan cerita kelam. Salah satunya adalah ladang pembantaian (killing fields).

Di Indonesia, selama ini yang banyak dibicarakan adalah ladang pembantaian Rawagede, Kerawang, Jawa Barat. Itu pun ramai diberitakan setelah pengadilan di Den Haag memutus pemerintah Belanda harus bertanggung jawab atas kejadian tersebut pada September 2011.

Kemenangan itu pun merupakan buah gugatan sebuah yayasan, bukan dilakukan pemerintah Indonesia. Rawagede hanyalah satu di antara sekian tragedi kelam yang tidak teperhatikan. Meskipun, negara ini sejatinya telah menikmati lebih dari 68 tahun kemerdekaan. Rakyat Indonesia harus mengetahui betapa banyaknya pengorbanan pejuang mempertahankan kemerdekaan.

Bagaimana dengan Kota Palembang. Ternyata, kota ini tak luput dari incaran Belanda. Ini wajar, mengingat letaknya yang sangat strategis. Secara geografis, memang didominasi oleh perairan. Kota yang dibelah dengan Sungai Musi ini, menyimpan sejarah betapa gagah beraninya para pejuang Sumsel mempertahankan kemerdekaan.

Ini terbukti dari peperangan dahsyat yang dikenal dengan “Pertempuran Lima Hari Lima Malam” Di Palembang, pada tanggal 1 hingga 5 Januari 1947. Perang tersebut melibatkan kekuatan darat, laut, dan udara. Belanda sangat berkepentingan untuk menguasai Palembang secara total karena tinjauan Belanda terhadap Palembang dari aspek politik, ekonomi, dan militer.

Peranan rakyat sangat besar dalam Pertempuran Lima Hari Lima Malam. Motivasinya perjuangan rakyat Indonesia umumnya dan khususnya para pejuang di daerah Sumatera Selatan yakni adanya sense to be a nation, rasa harga diri suatu bangsa yang telah merdeka. Semboyan “Merdeka atau Mati” yang berkumandang semasa periode Perang Kemerdekaan adalah wujud usaha untuk menjaga agar tetap berdirinya Negara Republik Indonesia.

Budayawan sekaligus sejarawan Sumsel M Syawalludin menjelaskan, pertempuran sengit terjadi di kota Palembang. Saat itu, Belanda sengaja mengincar kota tua di Indonesia ini. Banyak pejuang dan warga sipil menjadi korban dalam pertempuran.

“Pada masa agresi I dan II, Palembang terkenal dengan Perang Lima Hari Lima Malam. Dalam perang inilah terjadi perpecahan, bahkan tak hanya itu banyak masyarakat yang menjadi korban,” terangnya.

Saat itu, Palembang di kepung dari beberapa titik sehingga terjadilah perang dibeberapa lokasi sekaligus. Seperti di kawasan Mayor Ruslan, Cinde, Jembatan Ampera, daerah Pusri dan lainnya.

Dalam kondisi ini (tahun 1945), ada beberapa pahlawan modern gugur seperti Mayor Ruslan, Kapten A Rivai, Kolonel H Barlian, Dr AK Gani. “Ini menunjukkan bahwa peperangan di Palembang terjadi sangat sengit dari tahun 1942-1945 dan 1946-1948 (masa agresi),” terangnya. Lanjutnya, semangat merdeka, gotong-royong masyarakat Palembang khususnya dan Sumsel umumnya sangat besar, dengan protkoler yang benar. Namun, setelah Belanda masuk kembali dalam agresinya semangat itu kembali hilang.

“Paling nyata dalam kejadian tersebut hancurnya Kesultanan Palembang Darussalam karena kolonial Belanda, kemudian marga atau nama-nama yang awan di masyarakat diganti dengan nama-nama Belanda,” tandasnya. (nni/ce1)

• • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • •

Sempat Terdesak, Gencar Gerilya

Kegigihan Rakyat Sumsel Melawan Penjajah Sengitnya pertempuran kala itu, diakui Ketua Legiun Veteran Provinsi Sumsel, A Zawawi Tjik Molek mengatakan, banyak korban berjatuhan, baik dari kalangan pejuang hingga masyarakat sipil.

Terlebih, Palembang saat itu terkepung. “Saat itu Indonesia sudah merdeka, tinggal mepertahankan kemerdekaan melawan tentara Belanda. Saya tergabung dalam tentara pelajar,” kata pria kelahiran Babat Toman, 3 Agustus 1929 ini. Walau berbicara terbata-bata karena faktor usia, Tjik Molek masih terkenang ketika dalam sebuah kesempatan dalam perang tersebut ia dan rekan seperjuangannya terdesak di Jalan Ophir (sekarang Lapangan Hatta).

“Banyak warga dan pelajar yang ikut serta dalam Pertempuran Lima Hari Lima Malam, untuk menghadang tentara Belanda yang kembali Masuk ke Palembang,” ujar ayah delapan anak ini.

Pertempuran pertama terjadi pada Rabu, 1 Januari 1947. Belanda melancarkan serangan dan tembakan yang terus menerus diarahkan ke lokasi pasukan RI yang ada di sekitar RS Charitas. RS Charitas berada di tempat yang strategis karena berada di atas bukit sehingga menjadi basis pertahanan yang baik bagi Belanda. Basis strategis pertahanan di Front Seberang Ilir Timur terutama berlokasi di depan Masjid Agung. (roz/ce1)

Kronologi Singkat Perang Lima Hari Lima Malam

1 Januari 1947
Dari RS Charitas terjadi rentetan tembakan disusul oleh ledakan-ledakan dahsyat ke arah kedudukan pejuang Indonesia, bergerak dari pos di Kebon Duku (24 Ilir sekarang) mulai dari Jalan Jenderal Sudirman dan sekitarnya.

2 Januari 1947
Panser dan tank Belanda bermaksud menyerbu dan menduduki markas Tentara Indonesia di Masjid Agung Palembang. Pasukan Bataliyon Geni dibantu tokoh masyarakat bahu-membahu memperkuat barisan. Pasukan bantuan Belanda dari Talang Betutu gagal menuju Masjid Agung karena disergap pasukan Lettu Wahid Luddien.

3 Januari 1947
Pertempuran semakin sengit terjadi kembali memakan korban perwira penting Lettu Ahmad Rivai, yang tewas terkena meriam kapal Belanda di Sungai Jeruju. Keberhasilan gemilang diraih oleh Bataliyon Geni pimpinan Letda Ali usman yang sukses menghancurkan Tiga Regu Kaveleri Gajah Merah Belanda.

4 Januari 1947
Belanda mengalami masalah amunisi dan logistik akibat pengepungan hebat dari segala penjuru oleh tentara dan rakyat, sedangkan tentara Indoesia mendapat bantuan dari tokoh masyarakat dan pemuka adat.

5 Januari 1947
Pada hari kelima, panser Belanda serentak bergerak maju ke arah Pasar Cinde, namun belum berani maju karena perlawanan sengit dari Pasukan Mobrig tentara Indonesia pimpinan Inspektur Wagiman dibantu oleh Bataliyon Geni. Akibat kesulitan, tentara Belanda dibidang logositik dan kesulitan yang lebih besar pada pihak pejuang bidang amunisi akhirnya dibuat kesepakatan untuk mengadakan cease fire.

• • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • •

Masih Terlupakan, Minim Kesejahteraan

Kegigihan Rakyat Sumsel Melawan Penjajah
Lorong: Bangunan berupa lorong bawah tanah peninggalan penjajah Jepang saat menduduki Kota Palembang

Selama masa penjajahan, rakyat Indonesia sangat sengsara. Begitu banyak pengorbanan, tak hanya pikiran, melainkan air mata, tenaga, darah, hingga jiwa raga sekalipun.

Pada sejumlah daerah di tanah air, masih banyak dijumpai kehidupan pahlawan bangsa yang jauh dari tingkat sejahtera. Seperti halnya, korban kebrutalan serangan Belanda selama Agresi Militer I dan II yang masih hidup.

Kini mereka hanya menikmati masa tua. Perhatian pemerintah untuk “mengobati luka” yang membekas itu seolah hanya sebuah harapan. Ahmad Suwito, korban selamat dari tragedi Cannonade, Desa Candi, Kebumen mengatakan, dirinya tidak mendapatkan bantuan dari pemerintah.

Suwito kini memang bisa dkategorikan tidak mampu. Nyaris tidak ada perabotan berharga di rumahnya. Lantainya pun masih dari tegel batu. Di usia senja, Suwito hanya mencari pendapatan dari berjualan snack dan rokok di dalam rumahnya.

Sosok Bambang Sugeng juga bisa dikatakan terlupakan. Hingga kini Mayjen yang dulu gigih menyerang balik Belanda semasa agresi militer tersebut belum menjadi pahlawan nasional. Padahal, semua mengakui peran Bambang kala itu.

Atas kecintaannya kepada anak buah dan rakyat yang meninggal karena dibantai Belanda, KSAD era Presiden Soekarno itu pun tak mau di makamkan di Taman Makam Pahlawan. Dia meminta dikubrkan di samping Kali Progo.

Makam itu memang masih bisa dikatakan dirawat Pemkab Temenggung. Namun, upaya pemkab memprjuangkan gelar pahlawan untuk Bambang hingga kini tak terjawab. Ketua Komite Utang Kehormatan Belanda (KUKB) JM Pondang mengatakan, Indonesia memang sangat tidak meperhatikan korban dan pahlawan perang selama ini. (gun/ce1)

• • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • •

Sumatera Ekspres, Jumat, 15 November 2013

Advertisements

About Iwan Lemabang
Aku hanya manusia biasa yang tak luput dari salah dan dosa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: