Adopsi Konsep Kebun Raya Guangxi


Tema Utama Kebun Obat

Adopsi Konsep Kebun Raya Guangxi

Konsep Pendukung Kebun Raya Sriwijaya

Konsep rekayasa tapak
Konsep infrastruktur badan air
Konsep sirkulasi dan kegiatan
Konsep tata hijau

PALEMBANG — Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) sedang membangun Kebun Raya Sriwijaya. Lokasinya di kawasan eks Patra Tani, Perbatasan Ogan Ilir dan Muara Enim. Dalam masterplan, kebun ini bertemakan “Kebun Obat” mengadopsi Kebun Raya di Guangxi, China.

Saat ini, tim Badan Penelitian dan Pengembangan Inovasi Daerah (Balitbangnovda) Sumsel bersama LIPI sedang melakukan screen house. Nantinya, area ini dgunakan untuk pembibitan.

“Konsep ini merupakan yang pertama di Indonesia. Kita tlah melakukan penjajakan ke Guangxi dan akan melaksanakan kerja sama melalui MoU untuk Kebun Raya Sriwijaya ini,” kata Kepala Balitbangnovda Sumsel, Dr Ekowati Retnaningsih MKes.

Untuk pembibitan, pihaknya melakukan eksplorasi ke hutan yang ada di Sumsel. “Eksplorasi kami sudah menemukan sekitar 500 jenis tanaman khas. Diantaranya Bunga Raflesia yang katanya hanya ada di Bogor, ternyata ada juga di Semendo Barat walau ukurannya masih kecil,” tuturnya.

Kata Ekowati, pembangunan kebun raya ini memakan waktu cukup panjang. Butuh 3-4 tahun untuk melihat tumbuh-tumbuhannya indah. Namun untuk mencapai sempurna, butuh waktu sekitar 30 tahun ke depan.

Salah satu cara yang dapat dilakukan agar pembangunan bisa lebih cepat, yakni membangun kemitraan dengan pihak swasta. Sesuai Permenhut Nomor 63 tahun 2011, perusahaan memiliki tangung jawab menanam dalam rangka rehabilitasi. Penanaman pohon itu bisa di lokasi ataupun di luar lokasi perusahaan tersebut.

“Dengan begitu, kami akan mengajak semua perusahaan berperan serta menanam di kebun raya ini yang luasnya 100 hektare ini,” ucapnya. Ia optimis, kalau ada 50 perusahaan saja yang menanam pepohonan seluas 3-4 hektare, maka dalam waktu empat tahun kebun raya tersebut sudah bagus.

Selama ini ada permasalah perambahan hutan di areal yang akan dijadikan Kebun Raya Sriwijaya itu. “Alhamdulillah sudah beres. Pihak yang merambah hutan telah mengakui lahan tersebut merupakan milik negara,” ujar Ekowati.

Sekretaris Balitbangnovda, Herri Yuheri menambahkan, Kebun Raya Sriwjaya akan memiliki beberapa zona. Di antaranya, zona penerimaan terdiri dari visitor centre dan main hall. Ada zona pengelola yang mencakup lokasi rumah kaca dan pembibitan. “Struktur rumah kaca disesuaikan dengan kebutuhan lingkungan tanaman koleksi. Ada juga rumah paranet,” ungkap Harri. Di sana juga dibangun kantor pengelola serta laboratorium.

Lalu, ada subzona yang dilengkapi gedung serbaguna dan wisma tamu utama. Pembangunan gedung serbaguna dan wisma tamu ini mengadopsi arsitektur tradisional Sumsel. Ada juga timber deck yang akan menggunakan material kayu.

“Pada subzona rekreasi, ada area outbound. Fasilitasnya canopy track, flying fox, dan permainan lain. Di situ jga ada rumah tamu, dilengkapi dengan area bermain anak bernuansa edukatif dan healing garden berbentuk maze dilengkapi jalur refleksi,” bebernya.

Tumbuhan obat akan berada pada zona koleksi taman tematik. Terdiri dari kolesi tumbuhan obat lahan kering dan basah. untuk lahan kering, akan dibagi berdasarkan habitus dan kegunaan. “Nah, lahan basah terdiri dari tumbuhan gambut,” tukas Herri. (rip/ce4)

Sumatera Ekspres, Jumat, 27 September 2013

About Iwan Lemabang
Aku hanya manusia biasa yang tak luput dari salah dan dosa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: