Keseharian Atlet ISG di Wisma Atlet


Keseharian Atlet ISG di Wisma Atlet

Kasur Kekecilan, Senang Pintu Wisma Berhadapan

Sebagian atlet dan ofisial peserta Islamic Solidarity Games (ISG) III Suoth Sumatera 2013 tinggal di Wisma Atlet, Jakabaring Sport City (JSC). Keluhan bermunculan, terutama menyangkut fasilitas yang mereka nikmati. Seperti apa?

================================
================================

Tiga gedung megah berada di tengah-tengah kawasan olahraga JSC. Ya, di tempat dengan 369 kamar itu, seminggu terakhir menjadi ramai. Terutama, setelah para atlet ISG III, mulai masuk 16 September lalu. Tak terkecuali para atlet panahan dari Iran yang mengingap di lantai empat gedung B.

Terik matahari kemarin siang, juga tak menyurutkan canda tawa para atlet. Dari kejauhan terlihat mereka tetap beraktivitas di sekitar Wisma Atlet. Tidak seperti biasanya, penjagaan di eks tempat tinggal atlt SEA Games XXVI Indonesia 2011 itu, juga sangat ketat. Selain kepolisian dan satuan pengamanan (satpam) wisma, para tamu harus melewati metal detector yang diterapkan layaknya di sebuah bandara internasional.

“Tolong masukan tas dulu Pak agar diperiksa,” ujar seorang polisi sambil tersenyum kepada wartawan koran ini. Lolos pemeriksaan, tatkala menginjakkan kaki di gedung B, wajah-wajah khas Timur Tengah yang ditemani liassion officer (LO) sudah menyambut dengan ramah.

“Ya, Mas. Saya LO negara Iran untuk cabor (cabang olahraga) panahan. Mau ketemu siapa?” sapa Fikriansyah, LO dari IAIN Raden Fatah. Wartawan koran ini pun diantar menemui pelatih kepala panahan Dr Mansour Kordi d lantai empat.

Begitu bertemu, Dr Mansour dengan santai meladeni pertanyaan seputar keseharian tim mereka di Wisma Atlet. “Tempatnya (wisma atlet) cukup bagus dan terawat,” katanya mengawali pembicaraan. Akses untuk mengetahui informasi, katanya, gampang didapat. “Saya lebih senang lagi pintu disetiap wisma berhadap-hadapan dengan pintu negara lain. Jadi kita saling sapa dan terjadi keakraban baik siang maupun malam hari,” jelasnya lagi.

Tidak hanya itu, dinning hall tempat makan para atlet dan ofisial sangat strategis. “Kalau kita mau sesuatu tinggal panggil LO. Posisi wisma memang tepat karena berada di tengah-tengah venue. Jadi ke venue cukup dengan jalan kaki, walaupun masih pakai kendaraan saat menuju venue panahan untuk latihan dan bertanding,” paparnya lagi.

Hanya saja, Mansour mengeluhkan kamar tidur wisma dengan kapasitas 4 orang perkamarnya. Terutama, tempat tidur yang tidak sesuai dengan ukuran orang Timur Tengah. Tidak terkecuali kontingen Iran. “Kami butuh tempat tidur lebih besar dan lebih panjang sesuai dengan ukuran badan orang Iran. Kalau yang ada ukurannya kekecilan,” unkapnya sambil bercanda.

Walaupun wisma atlet sangat luas dan bisa menampung ribuan atlet, shower kamar mandi juga menjadi persoalan. Saat dihidupkan, air tidak keluar dengan deras. “Ruangan juga agak sempit. Harusnya, keadaan di wisma itu seperti hotel berbintang. Sebab, atlet butuh istirahat dengan pelayanan yang cukup usai latihan maupun bertanding,” ujarnya.

Meskiupn begitu, Mansour melihat wisma atlet secara keseluruhan sudah baik dan bertaraf internasional terutam Stadion Gelora Sriwijaya Jakabaring. “Di Kota Taheran (Iran) kami juga punya kawasan olahraga seperti stadion megah Azadi. Di sana juga pusat lahraga Iran, seperti adanya lapangan tembak, balap sepeda, stadion sepakbola yang lebih besar Stadion Gelora Sriwijaya Jakabaring.

Ia menjelaskan, Stadion Azadi sudah dibangun 35 tahun lalu untuk perhelatan olehraga Asian Games pada 1972 lalu. “Stadion kebangga orang Iran,” singkatnya.

Untuk masalah cuaca, Iran tidak mengkhawatirkan cuaca yang ada di Indonesia, khusunsya Kota Palembang. Katanya, panas Kota Palembang masih kalah dengan cuaca di Kota Taheran, Iran. “Di sana ada banyak padang pasir. Panasnya sangat tering dan kering, saya kira Indonesia beriklm tropis, tapi masih sedikit basah,” katanya lagi.

Dalam olahraga panahan, Iran menerjunkan 12 atlet dengan kekuatan penuh. Terdiri dari 6 atlet putri/putri untuk nomor Compound, dan 6 atlet putra/putri di nomor Recurve. “Kami ingin ambil semua medali emas di cabor ini, karena yang dibawa semuanya atlet senior panahan andalan Iran,” tutupnya. (cj5/nur/ce1)

Sumatera Ekspres, Rabu, 25 September 2013

Keseharian Atlet ISG di Wisma Atlet

Tunda Santap Pempek, Hindari Makanan Berminyak

Wisma atlet menyediakan berbagai makanan bagi atlet dan ofisial peserta Islamic Solidarity Games (ISG) III South Sumatera 2013. Tidak terkecuali panganan khas Palembang, seperti pempek dan model. Namun tidak semua atlet cicipi makanan itu. Mengapa?

================================
========================================

Memasuki pintu utama gedung C di kawasan wisma Atlet Jakabaring, terlihat tiga polisi wanita berseragam duduk sembari berbincang-bincang. Tampak di sebuah meja, seorang satpan wanita duduk dan menulis daftar pengunjung wisma.

Mereka tak lain pihak keamanan wisma atlet putri yang bertugas dari pukul 07.00 WIB-15.00 WIB. Menengok lurus ke depan dari pintu masuk, ada sebuah meja billiar dengan dua orang pegawai wisma atlet sedang bermain memukul bola biliar di meja datar itu. Suaranya pun terdengar jelas dan seakan menggema di dalam ruang tersebut.

“Tar…” suara bola biliar yang disodok oleh kedua pemain itu terdengar cukup keras. Beralih pandangan dari biliar, di samping kiri, ada empat kursi tamu, dua di antaranya sudah diisi oleh dua orang atlet berpakaian merah dengan bertuliskan United Arab Emirates. Salah satu atlet menyilakan wartawan koran ini, duduk.

“Okay, please seat here,” ungkapnya. Usai perkenalan barulah diketahui ternyata wanita itu bernama Betlhem, atlet asal Uni Emirat Arab yang mengisi posisi sebagai atlet cabang olahraga atletik di ajang pertandingan ISG III 2013. Sementara satu temannya lagi hanya diam dan asyik memainkan handphone miliknya.

Betty, sapaan akrab Betlhem , selalu menjawab setiap pertanyaan yang diajukan. Gaya bicaranya halus dan bertutur. Wartawan Supatera Ekspres terus menggali cerita-cerita yang sudah dilalui dan dialami Betty selama mengikuti ISG ini. Tak terkecuali soal menu makanan. “Kalau makanan saya tidak banyak pilih, lebih fokus ke daging, ikan, nasi sama sayur saja. Karena memang itu menu wajib atlet,” ujarnya mengawali perbincangan.

Diakuinya, jika dia belum berani mencoba pempek dan makanan khas Palembang lainnya. “Nanti setelah selesai tanding pasti akan saya makan semua. Sekarang saya masih fokus jaga pola makan, agar lebih maksimal dalam mempersiapkan diri menghadapi kejuaran,” tambah dia.

Gadis berusia 21 tahun itu mengaku ajang pertandingan ISG merupakan pertama kali diikutinya. Ia sudah menjajal berbagai pertandingan tingkat dunia lain, seperti Asia Champion dan Arab Championship. “Ya, untuk ajang pertandingan persahabatan yang melibatkan negara-negara Islam dan anggota OKI baru kali pertama ini. Dan di ajang ini saya bisa merasakan pertama kali juga menginjakan Indonesia,” ujarnya lagi.

Diakuinya, sejak hari pertama datang (23/9), setiap pagi dan sore, ia latihan running mengelilingi wisma, tempat ia tinggal. Setelah itu ia menuju ke venue untuk bisa latihan sesi yang lain. “Running di sekitar sini sangat asyik dan nyaman, karena tempatnya indah,” tukasnya. Area di sekitar wisma, menurutnya, sangat memberikan penglihatan yang mengesankan.

Kondisi wisma sendiri ramai. Hanya, saat naik di lantai 2 suasananya jadi senyap. Bahkan kemarin siang hanya ada dua orang Turki yang duduk sambil berbincang. Kebetulan ada pelatih taekwondo putra Arab untuk kategori tim Poomsae, Zulhair Hanan Abu Al Raha yang juga duduk santai. “Kami sebenarnya sangat respek, tetapi saat kami membutuhkan berbagai informasi, kebanyakan orang Indonesia menghindar karena tidak bisa berbicara bahasa Inggris kecuali LO yang hanya bisa kami hubungi,” jelasnya langsung.

Ia melanjutkan, mereka sudah empat hari di wisma atlet. Secara keseluruhan, wisma sangat bagus dan sudah bertaraf internasional walaupun masih ada beberapa yang harus diperbaiki. Untuk jenis-jenis makanan kata dia, semua makanan di Indonesia sama seperti yang ada di Arab Saudi. “Apa saja saya makan asal bergizi,” ungkapnya.

Mengingat, makanan para atlet harus baik dan terhindar dari minyak serta lemak. Ia mengungkapkan, makanan yang ada di dinning hall banyak jenisnya dan sudah baik untuk dikonsumsi serang atlet. “Karena itu saya tidak suka makanan yang digoreng,” terang dia. (*/ce2)

Sumatera Ekspres, Kamis, 26 September 2013

Advertisements

About Iwan Lemabang
Aku hanya manusia biasa yang tak luput dari salah dan dosa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: