Atlet Pencak Silat yang Jadi Anggota Sat Pol-PP


Atlet Pencak Silat yang Jadi Anggota Satpol-PP

Dikejar Anak Punk sampai Disiram Air

Bagi atlet pencak silat Kota Palembang, Oktavianti dan Yuni Fitriwasi, bergabung di Satuan Polisi Pamong Praja (Sat Pol-PP) bukan perkara mudah. Keduanya harus berhadapan dengan masyarakat untuk menegakan peraturan daerah (perda). Bahkan, sempat kocar-kacir dikejar anak Punk hingga disiram air. Berikut penuturannya.

================================
================================

Kantor Sat Pol-PP di kompleks Sriwijaya Promotion Center (SPC) Jakabaring terlihat berbeda. Kantor yang biasanya sepi tersebut kemarin ramai dikunjungi warga. Ini lantaran, antusiasme warga yang ingin menyaksika pertandingan partai final tinju. Di bagian depan, berdiri kios dan lapak menawarkan berbagai dagangan, seperti batik, kaos yang identik dengan event Islamic Solidarity Games (ISG), makanan khas Palembang, dan lainnya.

“Ya, ada apa dek, saya Okta,” kata perempuan bernama Oktavianti yang ternyata atlet pencak silat. Sosok Okta yang ramah dan disiplin menjadi gambaran sekilas perempuan yang akrab disapa Okta tersebut.

Perempuan kelahiran Palembang, 5 Oktober 1985 tersebut mengatakan, dirinya bergabung dengan Sat Pol-PP sejak 2005 atau tepat saat dirinya menamatkan bangku SMA dan keenam rekannya berhasil memborong delapan medali di kejuaraan Walikota Linggau Cup.

“Setelah berhasil memboyong juara umum. Kami ditawari mantan wali kota Palembang, Eddy Santana Putra, untuk menjadi pegawai di Pemkot,” ucap anak pasangan Sufrowi Alitiar dan Fatmawati tersebut sembari mengatakan, tawaran tersebut langsung disambut baik.

Dikatakannya, menjadi anggota Sat Pol-PP bukan hal yang mudah. Pasalnya, dirinya harus membagi waktu antara tugas kantor di bagian Linmas dan tugas kuliah. Namun karena institusi dan keluarga mendukung, hingga saat ini keduanya tetap berjalan seirama. “Saya tetap menomorsatukan kewajiban saya. Untungnya, ketika ada ursan kampus yang mendesak, selalu mendapatkan dispensasi,” ucapnya.

Kemampuan pencak silat, kata Okta, memberikan banyak manfaat untuk dirinya meski dirinya tidak langsung berhadapan. “Tidak sulit untuk bergabung dengan institusi yang dinilai orang keras, karena orang di sini sangat baik dan mengayomi,” papar lulusan SMAN 3 Palembang itu.

Okta mengatakan, keputusannya untuk menggeluti pencak silat awalnya ditentang orang tuanya, karena pencak silat dinilai olahraga yang keras, apalagi tidak satu pun keluarganya yang terjun ke atlet. Namun setelah melihat keseriusan dan berbagai medali yang disabet, akhirnya keluarga mendukung penuh. “Saat ini, tetap rutin latihan di perguruan, namun tidak lagi intens, karena berbagai kesibukan,” papar perempuan yang tergabung dalam Perguruan Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) ini.

Soal medali, sambung Okta, ada puluhan medali yang disabet, seperti Pekan Olahraga Pelajar Nasional (Popnas) di Palembang, 2 perak pada 2001, Pekan Olahraga Mahasiswa Tingkat Nasional (Pomnas) di Makasar menyumbang 1 perak pada 2003, Pekan Olahraga Nasional (PON) 2004 di Palembang Pomnas di Palembang 2009 menyabet 1 perak, Pekan Olahraga Wilayah (Porwil) di Batam 2011 1 emas dan perak, PON Kaltim 2008, dan PON Batam.

Sementara itu, Yuni Fitriwasi, atlet pencak silat yang juga bergabung dengan Sat Pol-PP ini mengatakan, dirinya bergabung sejak 2005 lalu dan termasuk ketujuh orang yang direkrut. “Saya sama Okta,” kata perempuan kelahiran Jakarta, 6 Juni 1986 itu.

Saat ini, masih kata Yuni, dirinya bertugas di bagian Sumber Daya Aparatur. Sebelumnya, bagia Provost dan Staf Operasional. “Pendek kata, dirinya bertugas dan bersentuhan dengan masyarakat untuk menegakan peraturan daerah (perda),” ucapnya.

Dikatakan perempuan yang memang sangat senang dengan olahraga ini, kemapuan pencak silat memberikan banyak manfaat, terutama saat dirinya harus turun ke lapangan, seperti penertiban di depan Dika 2005. Kemudian, saat dirinya berlari kocar-kacir di kejar beberapa anak Punk di lampu merah, disiram air oleh pedagang kaki lima (PKL). “Banyak ekali pengalaman unik dan mengesankan,” kenangnya sembari tertawa.

Yuni mengakui sangat mencintai olahraga penck silat, apalagi pencak silat merupakan olahraga tradisional Indonesia yang tdak hanya sebatas olahraga, namun memiliki nilai seni yang tinggi. “Saya sangat cinta pencak silat. Pernah, saya mencoba olahraga lain seperti kempo, karate, taekwondo namun tidak pernah lama. Hanya olahraga pencak silat yang membuat betah,” paparnya. Ketiga adiknya pun ikut pencak silat.

Karena keseriusannya, membuat Yuni berhasil mengoleksi 31 medali, baik perunggu, perak maupun emas yang didapat paertandingan tingkat kota, provinsi maupun nasional. Bahkan, bergabung dengan Sat Pol-PP. “Saya masih sering turun di kejuaraan pencak silat, namun memang tidak intens lagi,” tukas Yuni. (*/ce4)

Sumatera Ekspres, Kamis, 26 September 2013

About Iwan Lemabang
Aku hanya manusia biasa yang tak luput dari salah dan dosa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: