Menelusuri Jejak Baso Plembang


Menelusuri Jejak Baso Plembang
Foto: Sumeks Minggu

Tanpa Regenerasi, Diambang Kepunahan, Palembang sejatinya memiliki bahasa tersendiri. Dalam kehidupan sehari-hari, pejabat kerajaan, kesultanan hingga masyarakat luas menggunakannya. Bahasa yang merupakan percampuran Jawa serta Melayu ini diyakini telah digunakan sejak abad ke 16. Hingga akhir abad ke 20, bahasa tersebut mulai menghilang. Sekarang, hanya dikuasai segelintir orang-orang tua keturunan Palembang asli. Tanpa adanya regenerasi, baso (bahasa,red) Plembang ini diambang kepunahan.

• • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • •

“Hoi, nak kemano kau?” Kalimat seperti ini, bagi kito yang wong Plembang sudah sangat lumrah didengar. Biasanya diungkapkan dengan nada tinggi untuk bertanya kemana seseorang hendak pergi. Meski kesannya kasar, kalimat ini tentu saja bahaso Plembang yang kerap digunakan.

Namun tak banyak yang mengetahui, ada bahasa Palembang lain. Yang bisa digunakan dengan maksud yang sama, tetapi lebih halus, lembut dan sopan. Yakni dengan menggunakan kalimat, “Ayun kepundi niko?”. Atau saat hendak menanyakan kabar seseorang, bisa dengan “Napi kabar niko?

Bahasa seperti inilah, yang biasa disebut dengan bebaso, atau bahasa Keraton, bahasa Palembang Bari, bahasa kolu iki yang sejak abad ke 16 hingga pertengahan abad ke 20 digunakan masyarakat Palembang asli. Yang kini terjadi, hanya segelintir orang yang masih menguasai cara bebaso tersebut.

Salah satu orang yang masih menguasainya, RM Ali Hanafiah SH, Kepala UPTD Museum Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) II Palembang. Mang Amin, begitu ia sering dipanggil mempelajari bahasa tersebut dari orang tuanya, pasangan RM Husin serta RA Hasanah Rogaya.

Cerita pria berkacamata ini, sejak kecil ia dan tujuh orang saudaranya diajak orang tuanya untuk bebaso. Alasanya, anak muda harus bebaso (berbicara, red) kepada orang yang lebih tua. Karena bahasa tersebut dianggap jauh lebih sopan. Meski terkadang, orang tua sendiri bisa menjawabnya dengan bahasa Palembang sehari-hari.

Pada masa bebaso masih banyak digunakan, dianggap tercela anak muda yang tidak pandai bebaso. Apalagi jika hendak berbicara dengan orang tua, mertua, isteri terhadap suami dan lainya. Penuturanya pun dengan berirama, lagu dan posisi badan sedikit membungkuk. Terkesan janggal jika orang bebaso sedang marah. Menunjukan budaya Palembang saat itu termasuk halus.

Bebaso lanjutnya banyak mengadopsi bahasa Jawa yang dicampur bahasa Melayu. Awalnya digunakan di lingkungan kerajaan, keraton kemudian menyebar di masyarakat Palembang. Sedangkan bahaso Plembang yang kerap digunakan masyarakat saat ini sebenarnya sudah ada sejak zaman kesultanan.

Namun, bahasa seperti ini dulunya dianggap bahasa pasaran. Hanya digunakan masyarakat Palembang jika berinteraksi dengan masyarakat luar Palembang. Bahasa digunakan saat ini cenderung kepada bahasa Melayu. Penggunaanya pun tidak terlalu ribet hingga populer bahkan bisa dikatakan terus berkembang. Contoh kecil, bahaso Palembang yang benar itu “pacak” sekarang anak-anak muda lebih cenderung menggunakan kata “biso”. Ibarat bahasa Indonesia yang tinggal diganti dengan huruf “o”, yang khas Palembang.

Saat kecil, Ali Hanafiah mengatakan bebaso masih sering ia lihat, digunakan masyarakat Palembang. Saat masyarakat hendak mengundang tetangga untuk acara sedekah, atau saat lamaran pernikahan, bebaso hal wajib digunakan. “Karena bahasanya lebih sopan tadi?,” ungkap Mang Amin, panggilan akrab RM Ali Hanafiah.

Yang pernah ia rasakan, saat kecil ia berhasil meminjam perahu seroang tetangganya hanya karena bebaso. “Yai, kulo ayun nyambut baito?. “Itu artinya, Yai, boleh tidak saya pinjam perahunya. Soalnya, temen-temen lain kalau mau pinjem perahunya tidak pernah dikasih. Waktu saya pinjam sambil bebaso, aku langsung dipinjeminyo,” kenang Mang Amin yang kini tinggal di Jl Depaten Baru Kelurahan 27 Ilir, Kecamatan IB II.

Kenangan ini sulit dilupakan Mang Amin. Dengan perahu itu, Mang Amin mengatakan, ia bisa mengayuh sampan dari sungai Musi hingga ke kawasan kantor Palembang Square (PS) yang dulunya masih digenangi air dari Sungai Sekanak.

Masih Digunakan Dalam Wayang Palembang

Yang ada saat ini, bebaso jarang sekali digunakan. Jika pada era tahun 80 hingga 90, bebaso masih dijumpai di komunitas tertentu, seperti di 28 Iilir dan 22 Ilir, masuk tahun 2000, bebaso kini sudah sangat jarang terilhat digunakan. Mang Amin sendiri mengaku, hanya bebaso saat bertemu orang-orang tertentu. Pada keluarga dekat yang lebih tua serta kalangan Dewan Pembina Adat Palembang.

Hal ini tentu sangat disayangkanya. Dengan keadaan seperti ini, ketika generasi mereka habis, bahasa ini tentu saja bakal punah. Padahal, bahasa ini diketahuinya sudah digunakan kalangan keraton serta masyarakat Palembang secara luas sejak zaman Kesultanan Palembang Darussalam.

“Sekarang bebaso itu masih digunakan pada wayang Palembang. Bedanya, kalau dulu wayang Palembang seluruhnya masih bebaso, sekarang hanya pada situasi tertentu. Sudah dicampur dengan bahaso Plembang sehari-hari,” jelasnya.

Wayang Palembang yang masih menggunakan baso Plembang dibenarkan sang dalang, Wirawan. Warga Jl Pangeran Sidoing Lautan, Lrg Cek Latah, Rt 10, Kelurahan 36 Ilir, Kecamatan Gandus ini kepada Sumeks Minggu mengaku jika baso Plembang digunakan secara penuh saat era kakeknya, Abdul Rasyid tahun 1970-an.

Pada masa ayahnya, Rusdi Rasyid tahun 1980 an, baso Plembang keraton tersebut mulai dicampur dengan bahaso Plembang sehari-hari. Ini pula yang diikuti oleh Iwan, panggilan akrab Wirawan. “Alasanya, kalau sekarang kita pakai baso Plembang keraton penonton yang orang asli Palembang malah gak ngerti. Yang ngerti malah orang Jawa,” jelasnya.

Lanjut Iwan, punahnya baso Plembang ini lebih dikarenakan orang-orang tua. Yang dulunya tidak mengajarkan, mengajak anak-anaknya untuk menggunakan bahasa tersebut. Seperti dirinya sendiri, tidak diajarkan langsung oleh sang ayah. Baso tersebut didapatnya karena belajar sendiri. (wwn)

written by: Samuji | Sumeks Minggu

About Iwan Lemabang
Aku hanya manusia biasa yang tak luput dari salah dan dosa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: