Puasa dan Gejolak Harga Pangan


Puasa dan Gejolak Harga Pangan Oleh: Yuli Afriyandi

Seluruh umat di dunia menjalankan ibadah puasa Ramadhan dengan menahan rasa lapar dan haus, serta mengendalikan hawa nafsu, memperbanyak amal shaleh, dan ibadah agar lebih mendekatkan diri kepada sang Pencipta. Dengan begitu, bagi umat muslim, tidak ada bulan dan hari-hari yang penuh dengan keistimewaan selain bulan suci Ramadhan.

• • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • •

Untuk itu sudah menjadi pemandangan lazim jika di bulan istimewa ini masjid-masjid penuh sesak oleh jemaah yang menjalankan kegiatan ibadah. Namun, sayangnya di tengah kekhusyukan menjalankan ibadah, masyarakat khususnya rakyat kecil di usik oleh terus melonjaknya harga komoditas kebutuhan pokok. Kenaikan kebutuhan pokok ini menjadi beban berat bagi rakyat kecil. Tidak makan dan minum bisa saja bukan karena hanya menjalankan perintah dalam ritual puasa di bulan Ramadhan, akan tetapi lebih karena keterpaksaan karena kebutuhan hidup yang melonjak.

Hal ini tetntu saja berbanding terbalik kepada kaum berada. Karena pangan bukan lagi masalah perut, melainkan telah menjadi citra dan gaya hidup. Pangan bagi mereka kaum berada, merupakan pelambangan dari citra dan status sosial. Sehingga tidak heran jika kita lihat menu dan tempat mereka berbuka puasa sengaja dipilih yang eksekutif dan prestise. Adapun mereka aum miskin, makan dengan menu seadanya saja merupakan suatu hal yang sangat disyukuri. Alih-alh mencari menu yang bergizi seperti susu, daging, telur dan sebagainya,mereka hana bisa gigit jari karena lonjakan harga yang kian meroket. Lalu, siapa yang peduli dengan keadaan mereka? Pemerintah kita? Ah, seperti biasa pemerintah tdak lagi mampu berbuat banyak.

Beberapa informasi baik media cetak dan online menyebutkan bahwa ada beberapa komoditas pangan yang harganya kian meroket. Berdasarkan informasi Komisi Pengawasan Persaingan Usaha (KPPU) menyebutkan bahwa beberapa komoditas cabai rawit yang mengalami kenaikan 63 persen, bawang merah 49 persen, daging ayam ras 19,5 persen, telur ayam ras 9,32 persen, dan daging sapi naik hingga 41 persen. Dalam teori sederhananya harga terbentuk karena pengaruh supplay (penawaran) dan demand (permintaan). Semakin tinggi desakan permintaannya akan menyebabkan harga akan terus meningkat. Namun jika kita melihat situasi terakhir, supplaydan demand tidak sepenuhnya dipengaruhi kelangkaan produksi dan peningkatan permintaan semata. Ada indikasi bahwasanya peran para spekulan sangat dominan dalam pengendalian harga pasar.

Dan parahnya lag, alih-alih pemerintah serius menyelesaikan persoalan spekulan ini. Akhir bulan lalu, pemerintah justru bertindak instant dengan kembali membuka kran impor beberapa komoditas hortikultura yang mencapai 260.064 ton. Inilah bentuk bagaimana tidak becusnya pemerintah melalui kementerian terkait dalam menangani gejolak harga pangan. Kejadian melonjaknya harga pangan menjelang Ramadhan dan biasanya akan berlanjut menjelang hari raya umat Islam menjadi tradisi rutin yang sangat buruk.

Pmerintah seakan lalai dan abai, bahkan dengan sinis saya mengatakan bahwa kementerian terkait sudah mandul dan inpoten, tidak bisa menyelesaikan persoalan pangan ini. Walaupun alasan yang sering diangkat misalnya kenaikan harga jual disebabkan informasi soal gagal panen atau kekurangan pasokan dan lain sebagainya. Namun, alasan-alasan ini terkadang hanya diselesaikan instant dan bersifat spontanitas, seperti membuka kran impor itu. Padahal, urusan pangan bukan hanya kebutuhan dasar masyarakat, tetapi dijadikan sebagai kekuatan politik atau kepentingan suatu kelompok negara. Bahkan muncul satu istilah yang mengatakan bahwa pangan sesungguhnya identik dengan senjata (weapon).

Walaupun dalam misi penegakan kedaulatan pangan istilah ini sangat dilarang. Namun, persoalan pangan ini memang lebih cenderung kepada persoalan politik. Sehingga sangat bergantung kepada begaimana pemimpin politik mengatasi persoalan dan mampu menyusun kebijakan yang tepat. Dengan melihat pertumbuhan penduduk di Indonsia yang setiap tahun hampir mencapai 1,3 persen tentu saja kebutuhan pangan Indonesia dipastikan akan terus meningkat. Puncaknya adalah menjelang Ramadhan dan Lebaran yang akan meningkat secara siknifikat.

Untuk itu, kini kedaulatan pangan harus menjadi solusi bagi negara seperti Indonesia yang berpenduduk besar, melebihi 240 juta jiwa. Karena kedauatan pangan juga merupakan prasyarat dari ketahanan pangan (food security). Akan sangat mustahil tercipta ketahanan pangan kalau suatu bangsa dan rakyatnya tidak memiliki kedaulatan atas proses produksi dan konsumsi pangannya.

Selain itu, mewujudkan kedaulatan pangan merupakan strategi dalam menanggulangi krisis pangan beserta rentetannya seperti lonjakan harga dan lain sebagainya. Sangatlah ironis bagi negara agraris yang tanahnya subur dan gemah ripah loh jinawi namun kebutuhan pangannya masih ketergantungan impor.

Kita harus mengingat bahwa kedaulatan pangan adalah hak dasar tiap orang, masyarakat, dan negara untuk mengakses dan mengontrol aneka sumber daya produktif serta menentukan dan dan mengendalikan sistem (produksi, distribusi, dan konsumsi) pangan sendiri, sesuai kondisi sosial ekologis, ekomoni dan budaya khas masing-masing (Hines, 2005). Persoalannya kini, apakah pemerintah kita sungguh-sungguh serius membangun kedaulatan pangan bagi masyarakat kita? Jika iya, harapan ke depan, lonjakan harga setiap momentum puasa atau hari-hari raya lainnya tidak terjadi lagi.(*)

• • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • •

Penulis adalah mahasiswa pascasarjana UII Yogyakarta, aktif di LSPM Pinbuk DI Yogyakarta

• • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • •

Sumber: Jembatan Imformasi, Selasa, 30 Juli 2013

About Iwan Lemabang
Aku hanya manusia biasa yang tak luput dari salah dan dosa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: