Muslim Tionghoa Sulit Dilacak


Muslim Tionghoa Sulit Dilacak
Pusat Pembinaan Muslim Tionghoa: Masjid Cheng Ho Jakabaring terus menggelar berbagai kegiatan pembinaan pengajian dan bimbingan ibadah (fiqh)

PALEMBANG — Keberadaan etnis Tionghoa di Sumsel semakin diterima. Selain beragama Buddha, cukup banyak bangsa ras kuning yang memeluk Islam. Berdasarkan pendataan yang dilakukan Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI), jumlah warga muslim Tionghoa di Sumsel mencapai lebih dari enam ribu.

“Jumlah itu (lebih enam ribu muslm Tionghoa, red), total yang ada di Sumsel. Mereka tersebar di kabupaten/kota. Namun, yang aktif mengikuti kegiatan agama di masjid ini (Masjid Cheng Ho Jakabaring, red) hanya ratusan umat,” ungkap pengurus PITI Sumsel Drs H Herwansyah MAg, saat memperingati Nuzulul Qur’an, Kamis malam lalu.

Menurut Herwansyah, jumlah warga muslim Tonghoa di Sumsel teris bertambah setiap tahunnya. Namun, PITI sulit melacak keberadaan mereka lantaran sering berpindah alamat.

“Saat masuk Islam, sebagian mengikrarkan kalimat syahadat di luar sepengetahuan kami. Ada yang di masjid lain, kantor agama, atau melalui tokoh masyarakat (ulama). Kami kadang dapat informasi dari Kementerian Agama bahwa ada warga Tionghoa masuk Islam,” bebernya.

Kata Herwansyah,, bagi warga Tionghoa di bawah pengelolaan PITI Sumsel, diberikan sertifikat (ijazah). Selain masuk dalam database PITI, sertifikat tersebut sebagai bukti dan kepentingan administratif bagi para mualaf. “Yang pasti kami terus mendata jumlah dan dimana saja keberadaan warga muslim Tionghoa di Sumsel ini. Kami akan terus berkoordinasi dengan Kanwil Kemenag Sumsel dan kabupaten/kota,” ujarnya.

Dari sis pembinaan, ungkapnya, PITI terus menggelar berbagai kegiatan pembinaan pengajian dan bimbingan ibadah (fiqh) di Masjid Cheng Ho. Pada kegiatan tersebut, para mualaf tidak hanya diajarkan mengaji, tetapi juga cara shalat, berwudhu dan tauhid. Selain itu, mengenalkan budaya atau tradisi Islam seperti makan cedara halaqah atau bersama-sama.

“Cara makan halaqah ini sedikit unik menggunakan alat saji berupa nampan besar yang sudah diisi dengan berbagai menu seperti nasi, lauk-pauk, buah-buahan, dan air minum. Semua disajikan dalam satu wadah yang dinikmati 3-5 orang,” ujar Hafidzul, pengurus Masjid Cheng Ho. (wia/eg/ce3)

Sumatera Ekpsres, Sabtu, 27 Juli 2013

About Iwan Lemabang
Aku hanya manusia biasa yang tak luput dari salah dan dosa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: