Ki Ageng Pengging


Ki Ageng PenggingOleh: Rankyan Parikesit

Walau tidak memiliki bala tentara, tetapi semua senopati, perwira dan prajurit Kerajaan Pengging yang telah menjadi petani bertekad akan bela pati bila Tlatah Pengging atau Ki Ageng Pengging diusik.

• • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • •

Warta berkisah, pada suatu ketika, ebagai Senopati Kerajaan Demak, Sunan Kudus mendapatkan tugas untuk mengingatkan Ki Ageng Pengging yang memiliki nama Kebo Kenanga agar bersedia tunduk kepada panggilan Raden Patah yang kala itu memangku jabatan sebagai Raja Demak Bintara. Menurut catatan, Ki Kebo Kenanga atau Ki Ageng Pengging yang merupakan murid dari Syekh Siti Jenar itu merupakan cucu dari Raja Pengging yang bernama Prabu Handayaningrat yang juga menantu dari Raja Majapahit.

Mulanya, Patih Wanasalam dari Demak pernah datang dan mengingatkan sikap Ki Ageng Pengging — namun, Patih Wanasalam mesih memberikan kesempatan selama tiga tahun agar yang bersangkutan mau merenungkan sikap pembangkangannya selama ini.

Ternyata, tiga tahun tidak membuat Ki Ageng Pengging tetap bersikukuh pada pendiriannya. Tidak mau menghadap ke Kerajaan Demak — hal itulah yang membuat kenapa Raden Patah akhirnya mengutus Sunan Kudus untuk datang ke Pengging.

Sejatinya, masalah yang menyungkupi Ki Ageng Pengging tergolong rumit. Dalam kesehariannya, sosok ini lebih dikenal sebagai petani sekaligus guru agama yang berfahamkan pada “Manunggaling Kawula Gusti.” Oleh karena itu, tak pantas rasanya Sunan Kudus membawa prajurit kecuali tujuh orang santri pilihannya dengan mengenakan pakaian sebagaimana orang kebanyakan.

Padahal di balik itu semua, walau tidak memiliki bala tentara yang begitu kuat, namun, semua senopati, perwira dan prajurit Kerajaan Pengging yang telah menjadi petani bertekad akan bela pati bila Tlatah Pengging atau Ki ageng Pengging diusik.

Hari terus berganti, dan sepuluh hari sebelum Sunan Kudus datang ke Pengging, Ki Ageng Tingkir yang merupakan saudara Ki Ageng Pengging meninggal dunia. Akibatnya, Ki Ageng Pengging pun larut dalam suasana duka cita yang mendalam, dan akhirnya membuat Ki Ageng Pengging lebih banyak mengurung diri di dalam kamarnya.

Sementara itu, Sunan Kudan dan ke tujuh orang santrinya telah tiba di sebelah utara Kali Cemara. Karena hari telah malam, maka, Sunan Kudus pun segera langsung memerintahkan para santrinya untuk mnginap di dam hutan. Seiring dengan malam yang semakin tua, Sunan Kudus memerintahkan salah seorang santrinya untuk membunyikan Bunde Kyai Sima — pusaka peninggalan mertua Sunan Kudus yang jika dibunyikan dapat menimbulkan suara auman layaknya ribua harimau mengaum secara bersamaan.

Dan benar, suara auman itu terdengar sampai ke desa-desa yang terdapat di sekitarnya. Sontak, semua penduduk terserang rasa takut yang teramat sangat — esoknya, semua peduduk pun akhirnya bergerak ke dalam hutan untuk membunuh harimau yang dianggap bakal mengancam dan merusak ketentraman desa mereka.

Alih-alih harimau yang mereka temui, mereka hanya bertemu dengan Sunan Kudus dan ke tujuh santrinya. “Apakah Andika semalam mendengar suara harimau?” Demikian tanya tetua desa.

“Tidak,” jawab Sunan Kudus. “Andai kami bertemu dengan harimau, maka, lebih baik kami memilih menginap di desa dari pada di hutan.”

“Padahal, semalam kami semua tidak ada yang bisa tidur mendengar aumannya,” imbuh tetua desa dengan penuh nada keheranan.

“Kalau begitu, namakan desamu sebagai Desa Sima (Sima, harimau-JW),” lanjut Sunan Kudus.

Semua yang ada mengangguk tanda setuju, dan setelah itu, Sunan Kudus pun melanjutkan perjalanan ke Pengging.

Ketika sampai di sungai yang airnya keruh, salah seorang santri Sunan Kudus bermaksud meminum air sungai tersebut karena kehausan. “Jangan diminum, airnya terlalu butek,” demikian clarang Sunan Kudus.

Sampai sekarang, aliran sungai atau kali itu dikenal dengan sebutan sungai atau Kali Butek. Kemudian perjalanan pun dilanjutkan. Tak lama kemudian, tibalah rombongan kecil itu di Desa Pengging — Sunan Kudus langsung menuju ke rumah Ki Ageng Pengging, sementara, para santrinya berhenti di pinggiran desa.

Setibanya di pintu rumah Ki Ageng Pengging, Sunan Kudus disambut oleh salah seorang pelayanan wanita yang langsung menanyakan keperluannya.

“Saya utusan Tuhan yang datang dari Kudus hendak bertemu dengan Ki Ageng Pengging,” demikian kata Sunan Kudus.

“Sayang, Andika harus menunggu entah sampai kapan karena saat ini Ki Ageng Pengging tidak dapat menemui siapa pun,” ujar si pelayan wanita.

“Jika Ki Ageng Pengging sudah masuk Islam, ia pasti tidak akan menolak tamu yang datang. Bahkan, akan menghormati setiap tamu yang datang…. katakan hal ini kepadanya,” kata Sunan Kudus.

Untuk kesekian kalinya pelayan wanita itu masuk untuk menyampaikan pesan Sunan Kudus. Singkat kata, akhirnya, Ki Ageng Pengging bersedia menerima Sunan Kudus di ruang tamunya. Setelah saling uluk salam, Sunan Kudus pun menyampaikan maksud kedatangannya dengan bahasa kiasan. “Wahai Ki Ageng, saya diutus Sultan Demak untuk menanyakan nama yang kau pilih…. di luar atau di dalam? Di atas atau di bawah?”

Makna kalimat di atas adalah, Ki Ageng Pengging diminta untuk menyetakan ketegasan sikapnya, apakah ia berada di dalam wilayah kekuasaan Demak atau ke luar dari kekuasaan Demak — sedang kata-kata di atas atau di bawah mengandung arti Ki Ageng Pengging disuruh menjawab apakah ia lebih suka menjadi raja atau menjadi rakyat yang harus tunduk kepada kekuasaan Demak.

“Sangat membingungkan, kalau saya disuruh memilih, luar dalam, atas bawah, adalah milikku. Saya terpaksa memilih semuanya,” sahut Ki Ageng Pengging.

“Itu serakah,” sahut Sunan Kudus.

“Terserah,” kata Ki Ageng Pengging.

“Bila kau pikir aku ini Allah, memang aku ini Allah. Bila kau anggap aku ini santri, aku memang santri. Bila kau anggap aku ni raja, aku memang keturunan raja. Bila kau anggap aku ini rakyat, aku memang rakyat jelata.”

Dalam perdebatan itu tak ada yang mau mengalah. Akhirnya Ki Ageng Pengging pun harus menerima hukuman dari Sultan Demak dan juga keputusan para wali, yaitu menghilangan ajaran Syekh Siti Jenar. Ki Ageng Pengging ditusuk dengan keris kecil pada sikunya. Tak ada darah yang mengalir, tetapi Ki Ageng Pengging menemui ajalnya dalam keadaan sedang duduk bersila.

Ketika istri Ki Ageng Pengging datang untuk menghidangkan jamuan utnuk para tamu suaminya, ia pun sangat terkejut karena mendapatkan suaminya sedang duduk bersila tapi sudah tidak bernapas lagi.

Sementara itu, Sunan Kudus mengajak para santrinya pulang ke Demak. Jeritan Nyai Ageng Pengging akibat kematian suaminya membuat seluruh Pengging menjadi gempar. Para penduduk yang bekas prajurit dan senopati Ki Ageng Pengging segera mengejar Sunan Kudus.

Mengetahui dirinya sedang dikejar oleh orang banyak, Sunan Kudus bukannya lari menghindar, malah berhenti di bawah sebuah pohon dan segera membunyikan Bende Kyai Sima. Keajaiban pun terjadi, tiba-tiba saja muncul dari beberapa arah ribuan prajurit Demak yang berjalan ke arah barat dan ke arah utara.

Tetapi, para penduduk Pengging tidak merasa takut. Mereka terus saja mengejar, sehingga Sunan Kudus pun berkata. “Kalian rakyat tidak perlu kut campur…. ini semua karena junjungan kalian sengaja memberontak terhadap Demak Bintoro.

Setelah itu, Sunan Kudus memerintahkan ribuan prajurit yang berasal dari Bende Kyai Sima bergerak ke timur dan tak lama kemudian raib bak ditelan bumi.

Penduduk Pengging merasa bingung, bahkan, sebagian besar kehilangan akal sehatnya. Karena tak sampai hati, Sunan Kudus langsung mengembalikan keadaan mereka seperti semula. Dan setelah sadar, mereka pun kembali ke Pengging. (*)

(Dari berbagai Sumber terpilih)

Sumber: Misteri Edisi 562 Tahun 2013

About Iwan Lemabang
Aku hanya manusia biasa yang tak luput dari salah dan dosa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: