Gong Tengkang


Gong TengkangOleh: Parekesit Kusuma

Dengan sekali tembak, peluru meriam itu mengenai tubuh Aji Kusuma hingga terlempar ke dalam Sungai Sepuak dan tewas seketika, bahkan, Gong Tengkang pun turut terjatuh ke sungai hingga menyebabkan banjir besar

• • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • •

Pada suatu zaman, di Gunung Kujau hidup pasangan Sabung Mengulur dari Pukat Mengawang yang hidup dari bercocok tanam bersama dengan ke enam anaknya yang masing-masing bernama, Belang Pinggang, Suluh Duik, Buku Labuk, Terentang Temanai, Putung Keempat, dan Bul Nasi — dan di antara keenam anaknya, hanya Putung Keempat yang perempuan — sementara, anak lelaki lainnya yang bernama Puyung Gana telah meninggal dunia ketika ia masih kecil.

Hingga pada suatu waktu, sang ayah mendapatkan firasat bahwa hidupnya tidak akan lama lagi. entah kenapa dan mengapa, ia sengaja merahasiakan hal itu kepada seluruh keluarganya. Dan ketika waktunya tiba, ia sengaja masuk ke dalam kapok sambil berpesan; “Segeralah kalian membuka ladang yang baru agar kalian bisa hidup dengan tenang!”

Semuanya hanya tersenyum, tak ada seorangpun yang mengindahkan pesan itu. Namun apa yang terjadi, walau hari menelang petang, tetapi, sang ayah belum juga keluar. Ketika semua anaknya masuk ke dalam kepok, Sabung Mangulur telah tidak ada dalam kapok itu, menghilang enta kemana. Mereka hanya melihat bermacam-macam bibit tanaman ada di dalam kapok itu.

Kini barulah mereka tersadar, bahwa sang ayah telah meninggalkan mereka untuk selama-lamanya. Sejak itu, mereka bekerja keras dan bergotong royong dengan cara bergiliran untuk mengolah, menanami, menjaga ladang untuk menghidupi keluarga itu selanjutnya.

Malam telah makin larut, Bui Nasi yang mendapat giliran menjaga ladang, tiba-tiba diserang oleh makhluk raksasa yang merupakan penjelmaan dari roh saudaranya yang telah meninggal, Puyung Gana, yang juga merasa berhak atas tanah itu. Perkelahian sengit pun langsung terjadi. Walau pagi telah datang, tetapi, keduanya belum ada yang mau mengaku kalah. Akhirnya, keduanya sepakat untuk berdamai, apalagi, setelah mengetahui bahwa mereka masih mempunyai hubungan tali saudara. Tak hanya itu saja, Puyung Gana bahkan mengajari Bui Nasi bagaimana cara-cara bercocok tanam.

“Adik, kalau hendak mengolah lahan, perhatikan gugusan bintang di langit. Bintang tiga adalah waktu yang baik untuk mengerjakan ladang, jika, bintang lima waktu untuk menebang kayu, sedang bintang empat menandakan padi dan tanaman akan diserang oleh babi hutan atau hama,” demikian kata Puyung Gana.

Bui Nasi pun mendangarkan baik-baik dan penuh seksama, dan segera memberitahu apa yang didengarnya dari Puyung Gana kepada para saudaranya yang lain. Semua saudarnya sepakat, untuk menjalankan apa yang diajarkan Puyung Gana dengan seksama — akhirnya, hasil ladang mereka pun menjadi berlimpah ruah. Mereka pun mengadakan pesta selama tujuh hari tujuh malam dan tak lupa mandi-mandi di sungai yang dikenal dengan sebutan mandi simburan dengan tujuan agar mereka terhindar dari berbagai macam penyakit.

Sayangnya, mereka lupa memercikkan air itu ke Putung Keempat, akibatnya, ia pun trkena penyakit kusta yang sangat menjijkan dan sulit untuk dsembuhkan. Akhirnya, kelima saudaranya pun sepakat untuk mengungsikan Putung Keempat dengan cara mendudukkannya di atas piring pusaka di atas rakit dan dibekali secukupnya, kemudian mereka menghanyutkannya ke Sungai Sapuak.

Tapi takdir rupanya berkehendak lain. Alih-alih Putung Keempat celaka, rakit yang ditumpangi Putung Keempat malah tersangkut pada bubu ikan milik Aji Melayu, salah seorang kaya yang bermukim di sekitar aliran Sungai Sapuak. Paginya, ketika Aji Melayu turun ke sungai, ia sangat terkejut melihat ada seorang gadis di atas rakit yang tersangkut oleh bubunya.

“Hai… siapa engkau dan kenapa ada di tempat ini?” tanya Aji Melayu. Belum sempat Putung Keempat menjawab, kembali Aji melayu bertanya; “Apa yang terjadi, dan kenapa engkau terserang penyakit kusta seperti ini?”

“Benar Tuan,” jawab Putung Keempat sambil menceritakan segala peristiwa yang menimpa dirinya. Iba dengan penderitaan sang gadis yang ada di depannya, Aji melayu pun membawa Putung Keempat untuk segera diobati. Singkat kata, Putung Keempat pun lambat laun berhasil sembuh bahkan kecantikannya pun kian memancar.

Melihat kecantikan Putung Keempat, hati Aji Melayu pun serasa bergetar, ia berniat untuk menikahi gadis yang cantik rupawan itu. Setelah melewati berbagai ujian yang disyaratkan oleh Putung Keempat, akhirnya, Aji Melayu pun berhasil mempersuntingnnya. Kabar tentan pernikahan keduannya pun terdengar oleh para saudaranya yang bermukim di Gunung Kujau — dan mereka sepakat untuk menemui saudaranya, Putung Keempat yang telah mereka asingkan.

Setelah terlebih dahulu memperkenalkan diri dan menyampaikan maksud kedatangannya, Aji Melayu pun tersenyum dan berkata; “Jika ingin bertemu dengan saudaramu, maka, kalia harus melalui beberapa ujian!”

Tak ada yang bisa menolak, malam itu, mereka harus tidur di atas selembar daun pisang dengan tanpa meninggalkan bekas apalagi sobek. Namun, berkat kesaktiannya, mereka semua berhasil melewati ujian itu dengan sempurna.

Paginya, setelah memuji kesaktian mereka, Aji Melayu berkata kepada mereka; “Sampai sekarang, aku sedang bermusuhan dengan Aji Kumbang yang bermukim di Batu Kantuk, di hulu Sungai Kapuas. Kalahkan dia, barulah kalian aku ijinkan untuk menemui saudara kalian, Putung Keempat.

“Kami terima, tetapi, jika berhasil, maka, kami akan membawa pulang Putung Keempat ke Gunung Kujau,” jawab Bui Nasi dengan mantap.

Permintaan itu pun dikabulkan oleh Aji Melayu. Kelimanya langsung mohon diri untuk ke Batu Kantuk. Sambil melakukan perjalanan menuju ke Batu Kantuk mereka pun menyusun rencana.

Singkat kata, berkat kesaktian dan strategi Bui Nasi dan keempat saudaranya untuk dapat mngalahkan Aji Kumbang di Batu Kantuk, Aji Kumbang pun akhirnya berhasil dikalahkan. Kelimanya kembali dengan perasaan riang sekaligus menagih janji Aji Melayu untuk membawa Putung Keempat yang sedang hamil tua pulang ke Gunung Kujau.

Setibanya di rumah, kelima bersaudara itu langsung memukul gong pusaka keluarga yang dikenal dengan nama Gong Tengkang sebagai tanda kegembiraan yang teramat sangat. Tetapi apa lacur, suara gong tersebut membuat kepala Putung Keempat pening sehingga mengakibatkannya jatuh sakit yang tak kunjung tersembuhkan.

Dalam keadaan sakit, Putung Keempat pun melahirkan putri pertamanya yang diberi nama Dayang Lengkong — dan selang beberapa waktu kemudian, mereka pun mengembalikan Putung Keempat kepada suaminya.

Setelah menyerahkan saudaranya, mereka pun kembali ke Gunung Kujau, sementara, Aji Melayu pun sibuk mengobati istrinya dengan penuh kasih sayang. Dan tak lama kemudian, Putung Keempat pun sembuh seperti sedia kala berkat rawatan Aji Melayu yang begitu telaten dalam merawat dan penuh kasih sayang pada Putung Keempat.

Pada suatu hari, sambil memperhatikan putrinya yang sedang bermain-main, Aji Melayu pun berkata pada istrinya; “Apa yang menyebabkan Dinda sakit ketika berada di Gunung Kujau?”

Putung Keempat pun dengan singkat menceritakan apa yang dialaminya. Mendengar pengakuan sang istri, Aji Melayu pun naik pitam dan akan memberi pelajaran kepada saudara Putung Keempat di Gunung Kujau. Esok harinya, ia pun pamit kepada istrinya untuk ke Gunung Kujau dengan menggunakan perahu.

Di tengah perjalanan, mendadak, ia merasa sangat rindu kepada istri dan anak. Karena tak kuasa menahan rindu, akhirnya, Aji Melayu pun membatalkan perjalanannya. Entah berapa kali hal itu berulang. Hingga suatu hari, Putung Keempat pun berkata; “Jika memang Kanda tak kuasa untuk berpisah dan selalu rindu pada kami, maka, pandangilah patung itu sebagai penggant dir kami berdua.”

Kata-kata itu benar-benar menyentak aji Melayu. Ia segera mengerahkan para pengukir terbaik untuk membuat patung istri dan anaknya. Sekali ini, walau berulang kali harus menatap kedua patung sebagai pengobat rindu, akhirnya, Aji Melayu berhasil sampai di Gunung Kujau dan bertemu dengan Bui Nasi dan para saudaranya.

Setelah sempat berdebat mempertahankan pendapat masing-masing, akhirnya, Aji Melayu dengan geramnya menyerang Bui Nasi dengan menggunakan senjata saktinya. Bui Nasi pun yang mendapatkan serangan itu, tidak tinggal diam. Ia segera membalas serangan Aji Melayu dengan sebuah meriam saktinya yang bernama Gegar Sepetang — peluru meriam yang ia muntahkan dari meriam langsung mengenai tubuh Aji Melayu, hingga membuat Aji Melayu terlempar ke dalam Sungai Sepuak dan tewas.

Seketika, air Sungai Sepuak pun mendadak meluap sehingga terjadilah banjir besar, bahkan Gong Tengkang pun ikut terjatuh ke dasar Sungai Sepuak. Sampai sekarang, jika musim kemarau tiba, ketika air Sungai Sepuak surut, Gong Tengkang itu masih dapat terlihat. (*)

(Dari berbagai sumber terpilih)

Sumber: Misteri Edisi 561 tahun 2013

About Iwan Lemabang
Aku hanya manusia biasa yang tak luput dari salah dan dosa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: