Asal Usul Wonogiri


Asal Usul WonogiriOleh: Widyatantri

Sebagai utusan raja yang telah melanggar keprcayaan dan amanat, maka, janganlah engkau berwujud sebagai manusia. Tetapi, jadilah Rusa Wulung penunggu hutan jati ini

• • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • •

Hatta, kerajaan Demak Bintara sedang mencapai zaman keemasannya, di salah satu gua yang termasuk dalam jajaran Pegunung Seribu, bermukim seorang pertapa sakti yang sangat akrab disapa dengan Ki Kesdk Kencana. Pegunungan yang dikelilingi hutan yang begitu lebet, membuat penguasa saat itu menjadkannya sebagai hutan wisata atau sebagai tempat raja, kerabat serta orang-orang terdekatnya melakukan perburuan binatang-binatang buas.

Oleh sebab itu, pada waktu-waktu tertentu, hutan tersebut akan sangat ramai disambangi oleh keluarga kerajaan lengkap dengan para pengawal untuk melakukan perburuan binatang, terutama rusa.

Biasanya, sebagian dari binatang tersebut dihabiskan di suatu tempat, sedangkan sisanya dibawa ke istana — sampai sekarang, tempat yang acap dipakai untuk bersenang-senang waktu menghabiskan daging rusa hasil buruan, menjadi sebuah desa yang sangat dikenal dengan sebutan Desa Senang.

Purnama pun terus berlalu, hingga pada suatu hari, Raden Panji, yang merupakan salah seorang kepercayaan Raja Demak datang menemui Ki Kesdik Kencana untuk menyampaikan betapa Sang Nata meminta beberapa ekor rusa untuk dijadikan sebagai bnatang peliharaan di istananya. Tanpa berlama-lama, Ki Kesdik Kencana pun menyanggupi permintaan Sang Nata itu.

Dengan kesaktian yang dmilikinya, tak lama kemudian, datang beberapa pasang rusa dan ia pun langsung memasukannya ke dalam bumbung bambu petung yang memang sudah disediakan dan langsung menyumbatnya kuat-kuat.

Ketika menyerahkan, Ki Kesdik kencana pun memberikan pesan khusus kepada Raden Panji; “Raden Panji, bumbung ini berisi rusa-rusa pesanan Sang Nata. Sengaja rusa-rusa ini aku masukan ke dalam bumbung agar Andika tidak repot membawanya…… ini aku lakukan mengingat jarak tempat kita ini ke keraton sangatlah jauh. Yang harus kau ingat satu pesanku, jangan sekali-kali kau membuka bumbung ini kecuali sudah sampai di kediaman dan di hadapan Sang Nata.”

“Baik… Ki Kesdik Kencana, hamba akan selalu mengingat pesan itu. Selanjutnya, perkenankanlah hamba untuk kembali ke istana sekarang juga,” kata Raden Panji.

“Silakan Raden Panji, ingat pesanku tadi dan doaku selalu menyertaimu,” jawab Ki Kesdk Kencana dengan senyum.

Dengan penuh tanda tanya, Raden Panji pun mengayunkan langkahnya menuju ke Demak Bintara. Berbagai pertanyaan pun melingkar-lingkar di dalam benaknya, tetaip, tak satu pun ia mampu menjawabnya dengan tepat.

Betapa tidak, sungguh suatu hal yang mustahil jika rusa-rusa yang dikehendaki oleh Sang Nata dapat dimasukkan ke dalam bumbung yang kecil itu. Hatinya pun mulai diliputi oleh keraguan yang menimbulkan niat untuk bisa membuka bumbung yang beris rusa-rusa pesanan Sang Nata.

Tetapi apa daya untuk membuktikan ia harus membuka tutup bumbung itu, tetapi mengingat pesan Ki Kesdik untuk tidak membuka bumbung itu, kecuali nanti setelah ia berada di depan Sang Nata. Ketika teringat pesan tersebut, Raden Panji pun berusaha sekuat hatinya untuk mengurungkan niatnya membuka bumbung bambu yang dibawanya itu.

Ketika lelah mulai mendera tubuhnya setelah seharian berjalan, Raden Panji pun beristirahat di suatu kawasan hutan jati yang tengah menghijau dan lebat. Sambil duduk di bawah sebuah pohn jati, ia terus saja menatap bumbung bambu petung yang dibawanya dengan perasaan penasaran. Akhirnya, ia pun tak kuasa lagi menahan gejolak hati penasarannya, dengan perlahan ia membuka bumbung tersebut untuk mengetahui issinya.

Bersamaan dengan terbukanya sumbat, sontak, Raden Panji pun hanya bisa tergugu. Betapa tidak, ia melihat suatu keajaiban yang benar-benar laur biasa — dari mulut bumbung, keluarlah hewan-hewan kecil berjumlah enam belas ekor yang makin lama makin membaesar dan berubah menjadi wujud rusa. Dan dalam hitung detik, kedelapan pasang rusa itu langsung langsung berlari dengan sangat gesitnya masuk ke dalam hutan jati yang sangat lebat itu.

Ketika Raden Panji tersadar, ia pun berusaha mengejar kedelapan pasang rusa itu hingga tanpa sadar, kopiah yang dikenakannya terjatuh di tanah. Walau telah berusaha sekuat tenaga, tetapi apa daya, Raden Panji tak berhasil mendapatkan rusa-rusa yang telah masuk jauh ke dalam hutan barang seekor pun.

Dengan langkah gontai dan perasaan yang mengharu-biru, Raden Panji pun menuruti kata hatinya dan terus melangkahkan kakinya tanpa arah — ia kini masalah besar seolah-olah memakan buah simalakama — Jika ia ke Demak bakal menerima hukuman dan murka Sang Nata, dan kembali ke Ki Kesdik Kencana pun pasti ia akan mendapatkan malu yang teramat sangat.

Nun jauh di sana, sebagai sosok yang waskita, Ki Kesdik Kencana telah mafhum dengan apa yang dialami oleh Raden Panji. Ia pun langsung menyusulnya, dalam perjalanan, Ki Kesdik Kencana pun menemukan kopiah Raden Panji yang terjatuh dan langsung memungutnya sambil berkata; “Hai bumi dan langit, saksikanlah, sejak saat ini, daerah ini kunamakan Wana Kethu.”

“Wana” mengandung arti hutan, dan “kethu” berarti kopiah.

Tak berapa lama kemudian, Ki Kesdik Kencana berhasil menemukan Raden Panji yang terlihat sedang berjalan dengan gontai dan perlahan.

Ketika berhadapan dengan Ki Kesdik, dengan tetap tertunduk karena malu, Raden Panji pun berkata; “Ampuni hamba karena telah melanggar janji sehingga mengakibatkan hewan yang ada di dalam bumbung keluar semua. Hamba siap untuk menerima hukuman yang bakal Andika jatuhkan.”

Mendengar pengakuan Raden Panji, sang pertapa sebenarnya merasa kasihan juga teta[i hukum harus tetap ditegakkan, yang bersalah tetap hars menerima hukuman.

“Sayang sekali, padahal sebaga uutusan seorang raja besar, seharusnya engkau harus mampu menjaga amanat tersebut. Oleh karena itu engkau harus tetap mendapatkan hukuman. Mulai sekarang jadilah engkau Rusa Wulung penunggu hutan jati ini,” kata Ki Kesdik Kencana.

Sontak, langit yang semula cerah berubah gelap dan kilat pun berlompatan saling menyambar-nyambar disertai hujan yang turun demikian lebat. Alam seolah menjadi saksi atas segala ucapan yang terlontar dari Ki Kesdik Kencana.

Bersamaan dengan berhentinya hujan dan mentari kembali menyinari bumi, di depan Ki Kesdik Kencana bersimpuh seekor rusa jantan berbulu hitam yang gagah edang meratapi nasibnya; “Ki Kesdik Kencana, rasanya hukuman ini terlampau berat hamba jalani… mohon Andika sudi untuk mencabutnya.”

Ki Kesdik Kencana hanya tersenyum, ia seolah mampu membaca takdir Rusa Wulung yang terus bersimpuh di hadapannya. Dan setelah memberikan sesanti jaya-jaya, kemudian, ia pun meninggalkan Rusa Wulung yang menjadi pemimpin dari kedelapan pasang yang dahulu terlepas dari bumbung bambu yang dibawanya.

Sesudah peristwa itu, Ki Kesdik Kencana pun naik ke atas bukit yang letaknya tak jauh dari tempat itu — sesaat, ia pun mengaggumi keindahan alam yang terhampar di bawahnya. “Bukit ini begitu indah, besok, jika tempat menjadi ramai, maka bukit ini aku namai dengan Gunung Giri. Sedang sungai yang mengalr di bawahnya aku namai Sungai Wahyu.

Seiring dengan perjalanan sang waktu, akhirnya, sungai itu lebih dikenal dengan sebutan Bengawan Solo. Selanjutnya pada kesempatan yang lain, dalam pengembaraannya melakukan syiar Islam Sunan Giri pun tiba di tempat yang dahulu didatangi Ki Kesdik Kencana.

Wali Allah ini juga begitu kagum dengan keindahan alam ciptaan-Nya yang berupa hutan demikian luas dan tanah yang berbukit-bukit. Akhirnya, Sunan Giri pun berkata; “Besok, bila hutan dan tanah yang berbuit-bukit ini sudah ramai, tempat ini aku namai Wonogiri.”

Secara harfiah, wana atau wono memiliki arti hutan, sedangkan Giri berart gunung. Dan samapi sekarang, tempat yang berhutan lebat dan bergunung-gunung itu dikenal dengan nama Wonogiri. (*)

(Dari berbagai sumber terpilih)

Sumber: Misteri Edisi 561 tahun 2013

About Iwan Lemabang
Aku hanya manusia biasa yang tak luput dari salah dan dosa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: