Palembang Dikepung PKL


Palembang Dikepung PKL
PKL — Sejumlah pedagang kaki lima menggelar dagangannya di samping Gedung Pasar 16 Ilir Palembang

Bertambah 10 Persen Tiap Tahun

PALEMBANG — Setiap tahun jumlah pedagang kaki lima (PKL) bertambah sekitar 5-10 persen. Meski belum terdataangka pasti, namun Dinas Perindustrian Perdagangan dan Koperasi Palembang memperkirakan ada sekitar 100 ribu PKL yang mangkal di beberapa pasar dan sudut jalan.

“Jumlahnya belum pasti, tapi memang setiap tahun ada pertumbuhan. Itu bisa dilihat dari beberapa sudut di Kota Palembang, seperti di kawasan TVRI,” terang Kepala Disperindagkop Kota Palembang, Ibnu Rohim, SE, MM, Kamis (20/6) dalam penyuluhan pedagang asongan dan kaki lima di Hotel Graha Sriwijaya.

Pengamatan wartawan koran ini, hampir seluruh titik jalan utama dalam kota ramai dengan PKL, apalagi kawasan pasar. Fenomena ini wajar, sebagai konsekwensi makin berkembangnya kota. Hanya saja memang perlu penataan, sehingga tak terkesan semrawut. “PKL memang terkadang dicari, tapi tak jarang juga dibendi karena menggangu lalu lintas atau pejalan kaki,” ujar Zulfikar, seorang pembeli baju di PKL yang menggunakan mobil di kawasan TVRI Palembang.

Menurut Ibnu Rohim, ramainya PKL tersebut memberikan nilai yang poitif. Karena berdasarkan pengalaman, PKL merupakan pelaku usaha paling eksis dalam kondisi apapun. Hanya saja banyak PKL akhirnya yang membuat kondisi di jalan terkesan kurang rapi. Sejumlah sudut kota dan jalan para PKL bertebaran, sehingga terkesan Palembang dikepung PKL.

Untuk itulah, pihak Disperindagkop ke depan akan mencari lokasi strategis untuk memfasilitasi pedagang asongan dan pedagang kaki lima ini. Ibnu menyebut, ada dua lokasi yang direncanakan, yakni di Seberang Ulu dan Jakabaring. Untuk itu pihaknya akan berkoordinasi dengan pemerintah provinsi dan pihak terkait lainnya.

Untuk merelokasi para PKL itu, nemurut dia, harus membutuhkan persiapan dan musyawarah yang matang. Karena dikhawatirkan jika langsung merelokasi, ada kendala yang dihadapi para pedagang, misalnya tempat tersebut sepi pembeli. Dia menyebut hanya ada beberapa lokasi legal bagi PKL, di antaranya pasar kuliner yang berada di Pasar 16 Ilir. “Ada perda mengenai ketertiban, itu agar bisa diketahui mana saja lokasi yang tidak mengganggu aktivitas lainnya,” terangnya.

Dengan ada aturan yang jelas, lanjut Ibnu, pihaknya dapat memberikan ruang yang tepat bagi PKL. Namun juga tetap mengindahkan segala aturan yang telah dibuat, serta tidak mengganggu kegiatan lain, seperti arus lalu lintas. Karena dari sisi lain, PKL memberikan serapan pekerjaan yang terbesar, yakni mencapai 60 persen.

Sebelumnya pengamat ekonomi Prof Dr Taufik Marwa, mengatakan fenomena gelar dagangan menggunakan mobil (PKL, red), bukan hal yang salah. Karena para pedagang telah memiliki pangsa pasar tersendiri. Biasanya PKL ini lebih memilih lokasi-lokasi yang strategis.

Menurtnya, pada prinsipnya semua yang berjualan tidak lain untuk mncari uang. Dia menyarankan, pedagang itu diwadahi, misalnya dengan memberi tempat khusus berjualan. Atau dengan cara memberikan jadwal khusus, misalnya hari Sabtu dan Minggu saja. Seperti di Bandung misalnya, ada pasar di Gazebo pas weekend. “Itu kan bagus, bisa jadi nanti Palembang juga jadi tujuan alternatif para wisatawan, khususnya untuk belanja,” katanya. (cw7)

Sriwijaya Post, Jumat, 21 Juni 2013

About Iwan Lemabang
Aku hanya manusia biasa yang tak luput dari salah dan dosa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: